14

Sepenggal Kenangan Belajar/Mengajar di Malaysia (+8)

Bu Etna @gurutematik February 7, 2014

Selamat Pagi Guraru. Kemarin ketika saya duduk di sebuah bus, terdengar sebuah lagu nostalgia sedang mengalun merdu. ‘Sepanjang jalan kenangan.’ Ehmm … Tety Kadi … ya saya ingat penyanyi aslinya. Sambil memejamkan mata, duduk bersandar dengan kaki lurus ke depan, saya ikut menyanyikan lagu itu dalam hati. Tak terasa saya telah menembus lorong waktu dan … ingatan saya berhenti pada suatu kejadian yang tak kan terlupakan. He he he saya tersenyum sendiri, untung penumpang bus ini tak terlalu banyak hingga saya dari tadi duduk sendiri. Sebuah kenangan ketika belajar/mengajar di pulau Penang Malaysia.

Lagu Tety Kadi ini mengingatkanku saat kami guru-guru Indonesia, perwakilan instruktur dari beberapa propinsi di kirim ke Penang Malaysia untuk mengikuti kursus reguler pada bulan Juni – Juli 1983. Nyanyian ini mengingatkan saya, saat kami berenam (6)  sedang berjalan-jalan menuju kedai untuk makan malam. Walaupun kami tinggal di Students’ Hall, namun makannya membeli sendiri di luar kampus.

Ketika kami berjalan-jalan, dua guru pandai menyanyi. Mereka berdua menyanyikan lagu ‘sepanjang jalan kenangan’ di sepanjang jalan menuju simpang selera. Tempat ini sangat terkenal, makanannya mirip sekali dengan masakan Padang. Namun rasanya cenderung seperti kare, rempahnya sangat terasa seperti makanan orang India. Hehe saya tak begitu suka.

Sampai pada kalimat ‘hujan yang rintik-rintik ….’ Eh ternyata hujan beneran, alhamdulillah. Tak satupun dari kami yang membawa payung. Ya sudah kami tetap saja berjalan dengan santai. Sesampai di simpang selera, kami langsung mengambil minum hangat dan meminta makanan sesuai selera masing-masing. Di Malaysia ini, banyak orang yang suka makan daging. Guru-guru juga banyak yang suka membeli rendang daging. Memang masakan ini yang paling cocok dengan lidah kami. Saya lebih suka sayur, acar ikan dan kentang rasa kare, sedikit nasi, dan buah.

Kenangan itu tergambar kembali dengan jelas. Kami berada di Penang selama 10 minggu. Saat di kampus kami di kelompokkan dengan guru-guru dari negara yang berbeda. Kelompok besar ini di bagi lagi menjadi kelompok kecil, hanya 2 (dua) orang per kelompok. Saya berdua dengan Yen Hong dari Singapura. Kami membuat satu set perangkat pembelajaran modul, kemudian mengajar di sekolah-sekolah yang ada di Penang dalam bahasa Inggris. Kami menyiapkan lesson plan (RPP), lembar evaluasi, format penilaian sikap, praktik, dan kognitif, modul lengkap dengan panduan untuk guru dan siswa, serta kartu permainan. Setiap modul harus mengandung kegiatan praktik dan educational games. Semua dicetak sangat bagus dan memakai hard cover. Modul dicetak sejumlah siswa dan guru. Banyak nilai tambah yang saya peroleh. Semua modul kami terapkan di negara masing-masing. Modulnya up to date. Ketika membina guru RSBI pun modul itu amat bermanfaat. Kelengkapan modul sama dengan modul yang digunakan di Indonesia.

Yen Hong selalu berbahasa Inggris, namun bahasanya mudah dimengerti. Saat kami berdua mempersiapkan pembelajaran, saya bernyanyi perlahan-lahan ‘Sepanjang jalan kenangan.’ Hehehe dia bertanya :

“Etna, which song do you sing?”

“Hahaha, … I’m sorry Yen Hong, it’s Indonesian song.”

“Oh … Would you teach me that song?”

“Hah? Do you want me to teach you? Really?”

“I like the way you sing that song. Perhaps I can sing that song like you. From your face I can predict your good feeling during you are singing.”

“Hah? Can you predict something from my face?”

“I thought not only from your face, Etna, hehehe. From your behave too. I felt perhaps we are so closed. How about you Etna?”

“Ehmm … I think so. Okay then, would you like to sing this song right now?”

“Yes Etna, please teach me.”

Namun apa yang terjadi? Hahaha … saya terpingkal-pingkal, lidahnya dan mimiknya itu lucu sekali, sekitar 20 menit satu kalimat tidak tuntas-tuntas. Akhirnya kami tertawa terbahak-bahak berdua.

Itulah cuplikan nostalgia di Malaysia. Setiap lagu itu terdengar, saya selalu teringat saat belajar/mengajar di Malaysia, termasuk ketika Yen Hong belajar menyanyikan satu kalimat dari lagu Tety Kadi di atas. Ayo Guraru, bernostalgia di saat senggang, hehehe. Cerita nostalgia yang lucu atau sejenisnya yang tak terlupakan. Yah … sekedar buat selingan. Hehehe. Bagaimana Guraru?

2,324 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

About Author

Bu Etna @gurutematik

Saya guru kimia di SMAN 16 Surabaya sejak tahun 1973 hingga Desember 2011. Saya sudah purna tugas sebagai PNS, namun Insya Allah saya tetap mengajar untuk melayani bangsa hingga akhir hayat. Pembelajaran yang saya lakukan dapat melalui blog, sms, email, atau yang lain. Saya selalu berupaya untuk mengajar kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sebagian dari pengalaman ini sudah saya tulis di blog saya. Insya Allah saya dapat menulis secara rutin, termasuk permintaan pengguna blog.

View all posts by Bu Etna @gurutematik →

Comments (14)

  1. Hehehe iya pak Tri begitulah. Wah bpk pandai memainkan gitar? Senang skl saya mendengar suara gitar. Putriku yg pandai gitar di AS. Isabella? Hehehe senang ya ketika bisa mengingat hal-hal indah yg pernah dinggah flm kehidupan kita. Thx responnya. Salam nostalgia, hehehe.

  2. Ibu tahun 1983 saya masih kuliah di UNS, ibu hebat ya.. Saya dulu hampir dapat kesempatan sort course 9 bulan di Australia, tapi ngga jadi diambil karena penganten baru dengan 3 anak dari suami yang harus saya rawat.

    Kenangan itu pasti berkesan sekali ya Bu..

  3. Ehmm … begitukah bu Sri? Memang belum waktunya ya bu, semua itu kehendak Allah SWT. Insya Allah di lain kesempatan, mungkin dalam bentuk yg berbeda. Karya ibu begitu banyak, wawasan sangat luas, amin. Semua adachikmahnya. Thx responnya, salam sukses.

  4. Semoga cepat sembuh cucunya ya Bu. insyaallah tgl 14-24 Feb saya ke Turki Bu Etna just traveling with my brother and sister sekalian nengok keponakan saya yang kuliah dapat bea siswa disana.
    Segala sesuatunya mengalir begitu saja dan saya syukuri.

  5. Kenangan yang membekas di hati ya bun. Saya sendiri belum pernah ke Malaysia. he..he…he…kenangan saya baru di Tangerang dan Jakarta sewaktu dulu menimba ilmu. Jauh dari orang tua dan saudara, begitu prihatin. Namun, saya terpacu dengan keprihatinan itu dan bersemangat dalam menuntut ilmu. Selalu berusaha dan sabar.

    Terimakasih atas sharingnya bun. Saya berikan “VOTE”,

  6. Ya pak Sukanii, suatu kenangan indah sering tak terlupakan, apalagi mengenai sesuatu yg panting dlm hdp. Di Malay pertamakali saya ke luar negeri dan belajar intensif serta mengajar dg bhs Inggris. Awalnya canggung, namun setelah terbiasa alhamdulillah lancar. Insya Allah cerita ini memacu bpk utk terus berjuang. Thx respon dan votenya. Salam perjuangan, doaku menyertai bpk. Amin.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar