4

SEMESTA DUNIANYA (+5)

Andi Ardianto May 8, 2015

Dunia anak-anak adalah semesta yang sangat luas. Dunia mereka jauh lebih besar melebihi ukuran tubuhnya. Dunia yang sering menjebak para guru dan orangtua pada kemarahan tidak berdasar.

 

Sering para guru dibuat marah dengan tingkah laku murid-muridnya. Kehebohan di kelas, terlambat, membuang sampah sembarangan, dan tidak memperhatikan pelajaran adalah pemandangan yang sering dialami guru di beberapa tempat. Banyak guru yang kelabakan dan akhirnya mengundurkan diri. Kasus guru mengundurkan diri ini terjadi di sekolah saya. Waktu itu, sekolah butuh seorang guru matematika untuk mendampingi kelas enam yang sebentar lagi ujian sekolah. Maka dibukalah pendaftaran penerimaan guru baru. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk mendapat pelamar, dan setelah melalui rangkaian tes beliau pun diterima.

 

Hari pertama sebagai guru lebih banyak untuk observasi dan mendampingi guru lain mengajar. Hal ini dilakukan agar ada penyesuaian dengan murid-murid kelas enam yang memang dikenal heboh. Hari berikutnya, barulah beliau beraksi di depan para murid. Namun siapa sangka, selesai mengajar beliau ke kantor guru dan menyampaikan pada beberapa guru tentang kebiasaan kelas enam yang tidak mau tenang. Akhirnya materi ujian pun tidak tersampaikan dengan baik. Hari berikutnya beliau menemui kepala sekolah. Dan apakah yang terjadi? Surat pengunduran diri diajukan kepada pimpinan tertinggi sekolah. Ya, beliau mundur karena merasa tidak sanggup menghadapi kelas enam.

 

Cerita di atas hanyalah potret kecil bahwa begitu banyak guru yang sering dituntut berfikir keras oleh murid-muridnya. Memang tidak semua sekolah mengalami hal ini. Ada sekolah yang semua muridnya sudah bisa diajak belajar dengan baik. Namun sebenarnya jika lebih sabar dan bertahan beberapa lama lagi beliau bisa menyesuaikan dan mengendalikan murid. Beliau bisa belajar dari pengalaman guru-guru yang sudah lama di situ sekaligus menyiapkan strategi yang pas untuk anak didiknya. Namun, keinginan mundur tidak bisa ditawar. Tidak ada jalan lain bagi sekolah kecuali mengizinkannya mundur. Padahal sebelumnya kepala sekolah sudah mengusulkan untuk ganti mengajar kelas lain yang lebih kondusif.

 

Saya sendiri pernah mengalami kejadian semacam itu. Sebagai guru pindahan pasti butuh proses adaptasi mengenal murid dengan baik, tidak beda dengan guru matematika tadi. Minggu-minggu bahkan bulan-bulan awal menjadi guru juga terasa menyiksa karena belum begitu mengenal para murid. Hingga suatu ketika sedang menerangkan pelajaran di kelas 5, ada satu murid yang membuat gaduh. Tidak jarang dia memukul dan mencaci temannya. Dia merasa sok berkuasa sehingga sering memerintah teman sekelas seenaknya sendiri. Pun perlakuannya terhadap guru, tidak ada rasa hormat sama sekali. Memukul dan mencaci guru pun sudah biasa.

 

Saya mendekati dan menyuruh tenang sambil mengajaknya duduk di kursi. Saat itu dia tiduran di lantai. Bukannya duduk, dia justru marah dan tiba-tiba memukul tembok. Dengan suara kasar dan keras dia berujar, “Bajingan kamu! Guru baru saja macam-macam. Saya bilangin bapakku biar kamu dibunuh nanti. Awas ya, saya ambilkan pisau. Saya bunuh kamu” Setelah itu dia lari meninggalkan kelas dan berusaha kabur dari sekolah. Saya dan teman-teman sekelasnya hanya diam. Kalau mau jujur ada perasaan takut ketika dia ngomong mau melapor ke bapaknya. Saya takut permasalah ini berujung panjang. Sekelabat bayangan guru yang harus berurusan dengan polisi karena ada masalah dengan muridnya muncul tapi segera saya tepis karena sadar saya tidak salah.

 

Saya membiarkan Gani, nama murid itu, pergi. Namun justru teman-temannya yang berhamburan mengejar. Dibantu guru olahraga yang berbadan besar, kami akhirnya berhasil menghalangi Gani kabur. Setelah itu dia dibawa ke masjid dan dipanggilkan orangtuanya. Jarak sekolah dan rumah yang tidak jauh membuat ibunya sampai tidak lama setelah ditelepon. Saya mendekati ibunya, menjelaskan duduk permasalahan. Dari cerita ibunya saya baru tahu kalau Gani memang sering seperti itu. Jangankan kepada gurunya, kepada ibunya pun dia sering memaki dan marah-marah. Hanya pada bapaknya saja dia tidak melawan karena kalau berani, dia bakal ditendang dan dipukul. Saya sedikit paham mengapa Gani sering memukul temannya. Itu semua adalah efek pendidikan keluarganya yang sering menghukum anak dengan kekerasan. Pukulan sang bapak, tendangan, cacian menjadi hal biasa bagi Gani. Dan memang anak yang dibesarkan dengan kekerasan dia akan mudah terpancing emosinya.

 

Gani masih berdiri dengan tangan mengepal menunjukkan kemarahannya belum padam. Beberapa guru datang membantu menenangkan. Ada pula guru yang meledek Ganis untuk tersenyum karena sudah hampir satu jam ini dia masih menahan marahnya.

 

Sang ibu akhirnya memutuskan pulang dan menyerahkan perasalahan pada pihak sekolah. Sudah lewat satu jam tapi penjaga gawang andalan tim sepakbola sekolah kami ini belum juga tersenyum. Akhirnya, karena capek berdiri dia memutuskan duduk. Saya gelitik perutnya. Ada tawa yang ditahan dan tidak marah-marah seperti sebelumnya. Sudah ada celah batinku. Kutawarkan beberapa makanan dan minuman yang terhidang di meja. Mungkin karena haus, satu gelas teh habis diteguknya dalam hitungan detik.

 

Sembari menunggunya reda saya bertanya pada guru-guru yang sudah lama di situ tentang kepribadian dan kebiasaannya. Beberapa guru menasihati untuk meninggalkan Gani sendiri, “Nanti juga hilang marahnya” Kata salah satu guru perempuan. Dan benar saja, lepas sepuluh menit berbincang dengan guru, saya kembali ke tempat Gani. Eh, dia sudah tertawa bersama guru olahraganya. Gani dan guru olahraga memang ada kedekatan mengingat selain gurunya di sekolah, beliau juga guru di sekolah sepak bola yang diikutinya. Dari situ saya berkesimpulan bahwa untuk bisa menaklukan murid harus ada kedekatan emosi terlebih dahulu. Kalau sudah terjalin ikatan mudah bagi kita menasihati dan memberi materi.

 

Hari-hari berikutnya saya selalu berhati-hati dalam bersikap dan berkata pada Gani. Sebisa mungkin saya tidak mengeluarkan kata yang bisa membuatnya tersinggung. Tidak jarang saya mengelus rambut dan memuji agar dia merasa ada yang memperhatikan. Prestasinya di bidang sepakbola sering saya sanjung sembari mendo’akan menjadi kiper hebat di masa depan. Dalam pembuatan soal ulangan pun nama Gani tidak luput dimasukkan. Jika sudah begitu dia akan tersipu malu dan bertanya, “Pak, kok nama saya ada di soal?” “Tidak apa-apa mas Gani. Itu semacam do’a bapak agar Gani rajin belajar. Semoga nanti tidak hanya di soal, tapi beneran di kelas” Jawabku. Ternyata pujian dan namanya yang tercantum di soal belum bisa melunakkan hatinya. Lamanya waktu untuk bisa membuat Gani mendekat dan menuruti perkataan bukan berarti membuat saya menyerah. Semakin dia tidak bisa disentuh hatinya, semakin semangat saya belajar dan berusaha.

 

Hingga suatu ketika tidak ada hujan tidak ada badai, Gani tiba-tiba mendekat. “Pak saya minta diajari pelajaran yang tadi. Nanti pas istirahat saya ke ruang bapak ya?” Kata Gani tiba-tiba. Allahu akbar Gani ingin belajar bahkan rela menggunakan waktu istirahat untuk menemuiku. Kesempatan baik ini tidak saya lepasken begitu saja. “Ya Ni, tapi kalau bisa di masjid saja biar kita lebih bebas dan tidak mengganggu guru lain. Gmana?” Tanyaku. “Terserah bapak saja” Jawabnya. Alhamdulillah, ada kesempatan berbagi ilmu dengan Gani.

 

Setelah bel istirahat berbunyi saya segera ke masjid menunggu Gani. Tidak lama berselang dia pun datang sambil mengucapkan salam dan mencium tangan, sesuatu yang di luar kebiasaannya. Ya Allah, Engkau yang mengerakan hatinya hingga seperti ini. Proses belajar tambahan di waktu istirahat pertama berlangsung hingga beberapa pekan. Selama waktu itu meski harus mengurangi waktu istirahat tapi hati saya benar-benar berbunga.

 

Namun Allah pula yang menggenggam hati setiap manusia. Belum genap sebulan belajar bersama, dia kembali berulah dan tidak mau lagi belajar tambahan. Tingkah lakunya pun tidak jauh dari sebelumnya; memukul, mencaci teman, mengambil mainan teman, dan marah-marah pada guru. Ya, betapa pun besarnya keinginan untuk merubah murid, Allah juga lah penentunya. Yang bisa saya lakukan saat ini adalah terus berusaha menasihati dan mendo’akan agar hatinya mudah tersentuh kebenaran. Pernah juga ketika Gani tidak masuk sekolah, kami berdo’a bersama di akhir pelajaran meminta kebaikan dan perubahan bagi Gani. Mungkin belum sekarang, tapi semoga suatu saat nanti cahaya kelembutan menyinari hatinya. Amin.

 

 

“Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

 

965 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (4)

  1. Ya, betapa pun besarnya keinginan untuk merubah murid, Allah juga lah penentunya. Yang bisa saya lakukan saat ini adalah terus berusaha menasihati dan mendo’akan agar hatinya mudah tersentuh kebenaran. Pernah juga ketika Gani tidak masuk sekolah, kami berdo’a bersama di akhir pelajaran meminta kebaikan dan perubahan bagi Gani. Mungkin belum sekarang, tapi semoga suatu saat nanti cahaya kelembutan menyinari hatinya. Amin.

    ini dari perjuangan kita adalah DO’A … semoga Gani jadi anak yang baik ….. masih 2 bulan … sabarya …. nunggu minimal 3 bulan 🙂

  2. kelas 6 banyak guru yang takut pak karena materinya yang agak rumit nah solusi pembelajaran buka saja webnya :ayomendidik.wordpress.com atau rekan yang lain, beliau banyak pengalaman dan hasilnya kelulusan bagus,tentang kenalan siswa dapat didekati dan koordinasi deangan orang tua serta tak lupa saya sependapat dengan m.Subakrei berdoa semuga cepat tertasi amin
    Mungkin hanya saya yang dihadang clurit orang tua murid

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar