0

SEKOLAH CALON ORANG TUA (0)

Kusnandar Heru Prasojo July 13, 2017

Melihat kondisi generasi muda kita saat ini sungguh memprihatinkan. Tawuran menjadi hal biasa, bahkan belum lama ini tawuran terjadi di malam takbiran seperti yang diberitakan di harian Kompas (25/06/2017), yang tentu saja sudah menodai kesucian ibadah umat islam. Geng-geng bermotor yang lebih banyak mengganggu ketertiban masyarakat bermunculan. Seperti yang terjadi di Kabupaten Gowa, Sulawesi Sekatan, dimana mereka menyerang rumah warga (Kompas, 08/06/2017).

Belum lagi kasus korupsi yang rupanya sudah menghinggapi generasi muda. Seperti yang dikatakan Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPKFebri Diansyah yang menyebut, sekitar 71 orang yang berada dalam rentang usia 31 hingga 40 tahun diproses hukum oleh KPK karena kasus korupsi (Kompas, 10/06/2017).

Tidak heran melihat kondisi yang demikian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun dengan gencar mensosialisasikan Program Penguatan Pendidikan Karakter dengan harapan anak didik memiliki karakter yang baik. Saya percaya dengan komitmen yang tinggi dari semua pihak program tersebut akan berhasil, paling tidak akan mengurangi kenakalan/kejahatan dari generasi muda kita.

Ada yang mengganjal di benak saya, bukankah akan lebih berhasil program penguatan pendidikan karakter tersebut manakala orang tua lebih khusus calon orang tua juga mendapatkan pendidikan sebagai orang tua yang lebih baik. Karena saya percaya, banyak dari kita sebagai orang tua di dalam mendidik anak hanya mendasarkan dari pendidikan apa yang kita terima dari orang tua kita. Dan hal tersebut yang saya alami dan rasakan sendiri, bahwa kita sebagai orang tua boleh dikatakan mendidik anak hanya sekedar naluri, mendidik anak sesuai pendidikan apa yang kita terima dari orangtua. Tidak heran kalau banyak orang mengatakan bahwa menjadi orang tua itu tidak ada sekolahnya. Sekolahnya ya dari melihat orang tua kita mendidik kita, belajar dari keluarga yang kita pandang berhasil dalam mendidik anak-anaknya, serta belajar dari teman atau buku-buku bagaimana cara menjadi orang tua yang baik. Yang ada adalah belajar sambil jalan.

Tidak heran karena belajar sambil jalan, maka penerapan yang kita jalankan kadang-kadang hasilnya menjadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kita lupa kalau anak kita beda dengan anak tetangga, kok kita mau menyamakan cara mendidik anak tetangga dengan anak kita. Beda jaman pula, kok kita mau menyamakan pendidikan ke anak kita dengan cara orang tua kita dulu mendidik kita. Tentu kurang pada tempatnya.

Teka-teki lama ayam atau telur yang lebih dahulu ada sudah ada jawabannya, para ilmuwan sudah berhasil mengungkap teka-teki ini. Menurut hasil riset tim ilmuwan dari Sheffield dan Warwick University di Inggris, ayam lebih duluan ada daripada telur. Penjelasan singkatnya begini, bahan pembentuk cangkang telur adalah protein yang hanya dapat ditemukan di indung telur ayam. Dalam sejarah manusia penciptaan Adam AS dan istrinya Hawa diciptakan terlebih dahulu untuk melahirkan keturunan-keturunannya. Dan Tuhan sudah membekali Adam dengan pengetahuan yang cukup untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Menurut saya akan lebih baik kalau Kemendikbud disamping memberikan program pendidikan penguatan karakter pada anak didik secara bersamaan juga meningkatkan pendidikan bagi calon orang tua melalui lembaga/kursus perkawinan bekerja sama dengan Kemenag.

Perencanaan yang baik akan menghasilkan output yang yang kita harapkan atau paling tidak lebih mendekati. Pendidikan kepada calon orang tua tersebut dengan harapan bahwa di dalam menjalani bahtera rumah tangga calon orang tua akan lebih siap. Masing-masing calon orang tua akan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai suami istri dan sebagai orang tua. Di dalam kurikulum tidak hanya diberikan materi-materi yang menyiapkan calon pasangan secara mental fisik tetapi juga mengenai cara mendidik yang baik bagi keturunannya kelak. Karena pendidikan yang pertama kali di terima seorang anak adalah dari kedua orangtuanya. Bahkan pendidikan tersebut bisa diberikan sejak bayi masih dalam kandungan. Sehingga semakin dini kita memberikan pendidikan bagi anak tentu disesuaikan dengan tingkat usia anak akan semakin baik.

Pendidikan bagi calon orang tua diharapkan juga bisa menekan angka perceraian yang dalam beberapa tahun ini meningkat seperti diberitakan dalam harian Kompas (30/06/2015). Jadi, sekolah untuk orang tua itu ada kok dan penting untuk dilaksanakan.

Sumber Pustaka:

Tawuran dan Kebakaran pada Malam Takbiran di Jakarta.” Kompas. 25 Juni 2017. Web. 12 Juli 2017. <http://megapolitan.kompas.com/read/2017/06/25/06434501/tawuran.dan.kebakaran.pada.malam.takbiran.di.jakarta/>

 “KPK: Hingga 2016, 71 Anak Muda Diproses Hukum karena Kasus Korupsi.” Kompas. 10 Juni 2017. Web. 12 Juli 2017. <http://nasional.kompas.com/read/2017/06/10/20592981/kpk.hingga.2016.71.anak.muda.diproses.hukum.karena.kasus.korupsi/>

“Terjatuh dan Ditertawai Saat “Freestyle”, Geng Motor Serang Warga.” Kompas. 08 Juni 2017. Web. 12 Juli 2017. <http://regional.kompas.com/read/2017/06/08/06195141/terjatuh.dan.ditertawai.saat.freestyle.geng.motor.serang.warga/>

 “Kasus Perceraian Meningkat, 70 Persen Diajukan Istri.” Kompas. 30 Juni 2015. Web. 12 Juli 2017. <http://lifestyle.kompas.com/read/2015/06/30/151500123/Kasus.Perceraian.Meningkat.70.Persen.Diajukan.Istri/>

“Teka-Teki Ayam dan Telur: Mana yang Lebih Dulu Ada?”Sainsme. 5 Mei 2013. Web. 12 Juli 2017. <https://sains.me/2013/05/05/teka-teki-ayam-dan-telur-mana-yang-lebih-dulu-ada/>

767 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar