0

Saya Bangga Padamu, Nak (0)

Andi Ardianto August 11, 2018

Seperti keyakinan saya, anak ini bisa berubah. Lebih baik. Dulu dia sangat pemarah. Apa saja yang tidak sreg di hatinya akan menjadi sumber kemarahan. Melempar barang. Memukul kepala. Menguji kekuatan tembok dengan tangannya. Pernah, dia melukai tangan dan wajahnya dengan kuku. Dicakar sampai berdarah. Luka.

Tapi kini… anak ini banyak berubah. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyeruak di dada. Berdesir. Kuat. Allah… ini kebahagiaan sejati seorang guru. Melihat sendiri bagaimana muridnya tumbuh dan bertahap menjadi lebih baik.

Inilah kebahagiaan yang, seperti dulu saya bilang, tidak bisa diganti dengan uang.

Anak ini banyak berubah.

Tidak perlu memaksanya bangun pagi. Dengan sendirinya dia akan bangun. Memang, belum secepat yang lain, tapi kenyataan tidak perlu dibopong dari tempat tidur adalah sesuatu yang tidak kalah membahagiakan.

Cukup beri waktu dia meregangkan badan sebentar. Hitung mundur sepuluh kali. Atau beri dia satu menit. Badannya akan beranjak dari tempat tidur, menuju tempat dia mensucikan tubuhnya.

Tidak perlu memaksanya untuk shalat. Cukup beri tahu saja bahwa waktunya sudah masuk. Dia akan berangkat meski seringnya belum dengan baju koko dan peci rapi seperti yang lain.

Ya… dia hanya butuh dipercaya. Diberi keyakinan bahwa dirinya mampu berbuat seperti yang lain. Karena sejatinya memang laki-laki lebih sering berbuat di luar ekspektasi jika kepercayaan disematkan padanya.

Kali ini saya melihatnya. Kali ini saya saksinya.

Ibunya, suatu waktu bertanya. Dengan nada yang agak malu-malu. “Bagaimana urusan buku sekolahnya? Apakah masih dibantu”

Pertanyaan wajar karena ternyata di rumah dia terus saja dipilihkan buku sesuai jadwal sekolah esok harinya.

Dan.. saya jawab bahwa saya tidak pernah membantunya memilih buku. Bukan. Bukan karena saya malas membantunya. Bukan karena tidak suka padanya. Bukan karena capek ngurusi dia. Justru saya selalu merasa ini ladang yang banyak pahalanya. Tapi ini karena dia sudah bisa sendiri. Mendengar jawaban itu, ada rasa seolah tidak percaya, dari ibunya.

“Ya Allah… alhamdulillah.. padahal kalau di rumah selalu dijadwalkan. Ternyata dia bisa. Mungkin karena kami terlalu memanjakannya ya…”

Dia hari ini tidak perlu khawatir tidak mau minum air putih. Jika dulu sedikit muntah, kali ini dia sudah terbiasa. Ambil sendiri, saat merasa dirinya butuh.

Kebahagiaan itu.. kembali datang.

Yakin. Bisa. Itu yang selalu saya sematkan di kepala. Dan hati. Tanpa keyakinan akan perubahan pada dirinya, mungkin saya akan resah. Tanpa keyakinan itu saya pasti sudah menyerah membimbingnya. Menyerahkan pada orang lain.

Dan.. jauh di atas semua itu adalah kemauan anak itu untuk berubah.

Kini tahap baru telah mulai. Semoga istiqomah dan selamat terus berbenah. Saya bangga padamu, nak.

Andi Ar

433 total views, 9 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar