0

Saya adalah…. (+3)

Lusia Gayatri Yosef April 15, 2014

Halo para orang tua, guru,pendidik anak!

Apa kabar?

Semoga kita semua masih dalam suasana bersemangat untuk membuat keadaan menjadi lebih baik dan semakin baik.
Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi mengenai pengalaman saat memberikan bimbingan pembentukan karakter kepada anak-anak. Terutama dalam hal mengajak anak membuat definisi “Saya adalah..” Definisi tersebut tampak sederhana namun ketika anak ditanya atau diminta untuk menggambarkan dirinya, anak membutuhkan waktu untuk memberikan jawaban.
“Saya adalah…” merupakan bentuk konkrit dari konsep diri. Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi, sosial dan fisis (Rakhmat, 1996). Definisi persepsi adalah individu menyadari apa yang dilihat, atau apa yang didengar, atau apa yang diraba, yaitu stimulus yang diterima melalui alat indera (Walgito, 2010).

Berdasarkan pernyataan di atas maka dalam kesempatan ini penulis mengajak para orang tua untuk menggunakan kata-kata emosional untuk mengajak anak berfikir dalam menemukan definisi “Saya adalah…” Khususnya membentuk pandangan (persepsi) anak mengenai dirinya sendiri. Kata-kata emosional adalah kata yang sengaja dipergunakan untuk menimbulkan perasaan (Gieles, n.d).
Seperti yang diungkapkan oleh Yuwono (n.d) bahwa dengan berfikir, manusia seakan-akan berbicara dengan dirinya sendiri, ia mengerjakan pengetahuan yang telah dimiliki, ia menganalisa isi pikiran, menguraikan dan membandingkan dan menyusun kembali, ia menarik kesimpulan yang berarti kemajuan bagi pengetahuan yang ada. Yuwono (n.d) mengungkapkan bahwa pemikiran lurus merupakan syarat dan jalan untuk mencapai kebenaran (= kesesuaian dengan kenyataan).

Berdasarkan pernyataan di atas maka berikut tahap-tahap dialog yang dapat dilakukan oleh orang tua, guru, pendidik anak dalam membantu anak membentuk definisi “Saya adalah…”

1. Tentukan lingkungan yang akan dibahas, apakah lingkungan sekolah, rumah, tempat les, tempat latihan, tempat lain sebagainya. Contoh: tempat latihan bulu tangkis.

2. Anak diajak membahas mengenai persepsi yang diterima. Contoh: saat saya bermain bagus di tempat latihan, pelatih menepuk pundak saya sembari berkata “bagus!”

3. Berdasarkan pengalaman tersebut, orang tua, guru, pendidik anak dapat memberi pertanyaan: Menurut adik/kakak/nama anak dari pengalaman tersebut apabila digambarkan dengan 1 kalimat “Saya adalah…” maka jawabannya adalah?

4. Apabila anak merasa bingung, malu, atau merasa tidak yakin dalam mengungkapkan jawaban maka anak dapat diberi contoh seperti “Di tempat latihan bulu tangkis, saya adalah atlet yang gigih!”

5. Anak dapat dibiasakan dalam memperkuat hubungan antara “Saya adalah…” dengan pengalaman yang dialami.

Kemudian, timbul pertanyaan bagaimana kalau pengalaman yang dialami anak merupakan pengalaman negatif? Sebagai contoh: Anak tidak boleh mengikuti kelas menggambar karena tidak membawa alat gambar di sekolah. Orang tua, guru, pendidik anak maka dapat berkata:

1. Ketika adik/kakak/nama anak tidak membawa alat gambar, alat tulis, ada buku yang tertinggal maka adik/kakak/nama anak dapat berkata “Saya adalah…”

2. Sebagai contoh anak memberikan jawaban “Saya adalah siswa yang tidak teliti.”

3. Ketika anak mampu memberikan gambaran terhadap dirinya dihubungan dengan pengalaman yang tidak mengenakkan maka orang tua, guru, pendidik anak dapat memberikan bimbingan kepada anak untuk membentuk gambaran diri yang positif. Sebagai contoh: “Adik/kakak/nama anak adalah siswa yang tidak teliti karena sering lupa membawa alat tulis ke sekolah maka adik/kakak/nama anak besok perlu melakukan apa agar tidak lupa?”

4. Ketika anak mampu memberikan solusi kemudian melakukan perubahan yang baik pada waktu berikutnya. Orang tua, guru, pendidik anak dapat berkata “Sekarang adik/kakak/nama anak sudah tidak lupa lagi dalam membawa alat tulis ke sekolah. Jadi sekarang, saya adalah…”

5. Anak dapat diminta untuk mengatakan definisi “Saya adalah…” setelah terlibat dalam proses untuk merubah perilaku. Apabila proses pengolahan pengalaman tidak mengenakkan tersebut belum mengalami perubahan perilaku maka anak dapat diarahkan atau dibimbing dengan berkata hal yang positif mengenai dirinya. Sebagai contoh “Saya adalah siswa yang sedang mengalami kesulitan untuk tidak lupa membawa alat tulis ke sekolah. Saya sedang belajar untuk selalu membawa alat tulis ke sekolah dan tidak merepotkan teman-teman di kelas.”

Proses dialog di atas dapat dikembangkan dan dimodifikasi oleh orang tua, guru, pendidik anak sesuai dengan kebutuhan dilapangan. Hal yang perlu diperhatikan dan diperkuat adalah proses persepsi dari pengalaman yang menyenangkan/tidak menyenangkan – pengolahan persepsi dengan pembentukan definisi “Saya adalah…” – solusi atau bimbingan apabila anak memiliki definisi “Saya adalah…” yang negatif akibat dari pengalaman yang tidak menyenangkan.

Mudah-mudahan tahap sederhana ini dapat mendukung anak untuk menciptakan gambaran dirinya yang positif dan mengolah gambaran dirinya yang negatif. Harapannya pandangan diri mengenai “Saya adalah…” dapat mendukung anak sendiri untuk menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu memberi kontribusi yang positif terhadap dirinya dan lingkungan sekitar.

Salam hangat & sukses selalu!

Daftar pustaka:
Gieles, Th. (n.d). Logika atau ilmu pikir. Edisi ke-2. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Rakhmat, J. (1996). Psikologi komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Walgito, B. (2010). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: Penerbit ANDI OFFSET.
Yuwono, SP. (n.d). Pengantar logika. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

1,546 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar