3

SAMPLING YANG DIPERKOSA (+3)

kasmadi November 16, 2014

Tulisan ini tidak bermaksud provokatif atau bahkan mengaja pembaca berpikir cabul. Tulisan ini terinspirasi dari ucapan yang terlontar dari seorang guru atau lebih tepatnya dosen berkaitan penggunaan sample yang mubazir setelah seseorang melakukan peneliian tetapi ada data yang tidak digunakan karena aturan yang membelenggu. Dan, secara spontan ia berujar setengah berteriak : “sampling yang diperkosa!” dengan logat makassarnya.

Hakekat sampling yang diperkosa
Pada sebagian penelitian, ada beberapa perlakuan dari objek yang menjadi penelitian dijadikan sampel. Pengolahan sampel yang telah dipilih secara acak atau random tersebut menghasilkan data mentah. Pada saat pengolahan dan analisa data tersebut, peneliti bisa saja menjadikan data yang diperoleh menjadi data sepenuhnya sebagai bahan analisanya untuk membuktikan hipotesis yang telah dia tetapkan.

Kasus penelitian mengenai pengaruh penilaian otentik dan kreatifitas misalnya dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kemampuan pemecahan masalah pada mata pelajaran matematika. Seorang peneliti akan membuat kriteria kreatifitas yang berujung pada tingkatannya. Kreatifitas terbagi atas tingkatan tinggi dan rendah. Data yang diperoleh dibagi atas 30% kreatifitas tinggi dan 30% kreatifitas rendah. Pada sebagian akademisi, saat membimbing mahasiswanya selalu membagiya seperti itu. Pertanyaannya, lantas bagaimana dengan data yang menunjukkan kreatifitas sedang ? Apakah tidak berguna? Nah, hal inilah yang dikritisi dosen tersebut, sampai akhirnya ia mengeluarkan kalimat tersebut.

Budaya Berfikir Kritis
Sejatinya, ia mengajak mahasiswanya untuk berfikir kritis, bahwa penelitian-penelitian yang dilakukan jangan pepesan kosong. Hal ini yang harus dibangun sebagai akademisi. Klise memang, tetapi seharusnya memang demikian. Budaya berfikir kritis harus selalu dibangun dengana didasari oleh ilmu yang mendukung sehingga apa yang kita kritisi menjadi lebih baik di masa depan. Budaya berfikir kritis mengajarkan kita untuk tidak asal bunyi.

Hari ini menjadi lebih sumringah dengan senyum kritisinya yang khas dan bahasanya yang vulgar dan blak-blakan gaya makasar.

1,131 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar