0

Rehabilitasi 100.000 Korban Narkoba Sebagai Taubat Nashuha Dan Pageu Gampong Untuk Antisipasinya Oleh: Muhammad Yani* (+1)

Muhammad Yani June 27, 2015

Menyikapi permasalahan narkoba di Indonesia dan Aceh pada khususnya, hingga saat ini masih menjadi masalah serius dan masalah besar bagi generasi bangsa. Selain masalah para pengedar yang masih bebas berkeliaran mulai dari jaringan Internasional, Nasional, antar Propinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan hingga pelosok Desa. Disamping mereka pengedar selaku pembisnis haram, juga masalah yang tidak kalah penting khususnya  dengan mereka sebagai pemakai dari berbagai kalangan mulai dari usia remaja, pemuda juga orang dewasa dan tingkat ekonomi miskin hingga kaya yang perlu diselamatkan melalui beragam kegiatan pembinaan dan bimbingan untuk mengembalikan jati diri sebagai insan beriman dan ta’at terhadap aturan baik oleh masyarakat  sebagai tataran kecil, begitu juga halnya dengan pemerintah khususnya lembaga yang menangani terkait dengan pencegahan narkoba.

Bapak Joko Widodo selaku Presiden Republik Indonesia telah menetapkan sejak 31 Januari 2015 sebagai gerakan rehabilitasi 100.000 terhadap penyalahgunaan narkoba di Indonesia yang diperintahkan kepada Badan Narkotika Nasional (BNN) juga BNNP disetiap Provinsi sebagai leading sector dalam permasalahan narkoba di seluruh Indonesia, tentunya perlu mendapat dukungan semua pihak, baik secara lembaga maupun masyarakat Indonesia seluruhnya. Komjen Anang Iskandar selaku Ketua BNN Pusat, menyampaikan bahwa peredaran gelap narkoba yang terus meningkat dan adanya stigma negatif masyarakat terhadap pengguna narkoba. Padahal menurut Anang, seharusnya mereka diselamatkan dan dibimbing agar pulih dan mempunyai masa depan yang lebih baik. Menurut penulis selain kegiatan rehabilitasi yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah pada tahun 2015 ini bagi mereka penyalahgunaan narkoba atau sebagai korban narkoba, namun antisipasi jauh lebih penting agar tidak bermunculan korban-korban baru terutama bagi remaja/pemuda sebagai generasi emas bangsa untuk masa depan, maka “mencegah lebih baik dari mengobati” sebagaimana slogan yang tidak asing terdengar dalam dunia kesehatan dan sudah membumi diseluruh penjuru dunia. Jadi rehabilitasi wajib didukung sepenuhnya untuk tetap dijalankan, langkah antisipasi sebagai wujud nyata yang tidak boleh dikesampingkan.

 

Rehabilitasi  100.000 Korban Narkoba Sebagai Taubat Nashuha

Kegiatan pembinaan dan bimbingan terhadap penyalahgurnaan narkoba atau rahabilitasi yang ditargetkan hingga 100.000 seluruh Indonesia, sebagai langkah positif dari pemerintah dalam rangka mengembalikan anak bangsa ke jalan yang benar. Karena narkoba atau nabza selain sebagai musuh Negara juga bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku juga sebagai sebuah kemaksiatan dalam agama bagi mereka yang terlibat di dalamnya. Larangan memproduksi, mengedar dan mengkonsumsi narkoba ini tidak hanya dilarang dalam agama Islam, akan tetapi jika ditelusuri lebih jauh dalam semua ajaran agama resmi di Negara Indonesia ini juga berlaku sama, artinya sebagai salah satu perbuatan yang berimplikasi kepada maksiat yang bernilai dosa. Bahkan dalam pribahasa Aceh sering disampaikan oleh para muballig dalam ceramah Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) disetiap kesempatan bahwa “si sak bajoe, si mad taloe, sidoek kedroe sama rata – artinya bahwa semua bersekutu dengan pelanggaran itu sama salahnya

Prosesi rehabilitasi dengan cara melaporkan sendiri, menurut pengamatan penulis hingga saat ini masih belum mengembirakan akan ketercapain tujuan program mulia ini. Walaupun  sudah dilakukan dengan berbagai macam sosialisasi baik melalui media cetak maupun elektronik atau melalui spanduk-spanduk pada tempat-tempat umum bahkan tidak dari pihak keamanan, khususnya oleh kepolisian sudah melakukannya dalam sosialisasi baik pada lembaga pendidikan sekolah/madrasah, perguruan tinggi juga dalam desa/gampong dengan mengumpulkan masyarakat di menasah/masjid  untuk mengajak para pemakai atau penyalahgunaan narkoba ini untuk bersedia direhabilitasi dalam istilah penulis sebagai “taubat nashuha”. Alasan klasik kurang terlaksana program ini karena secara psikologi kecenderungan untuk mengakui kesalahan masih sangat sulit di terima oleh masyarakat kita, kecuali sudah tertangkap tangan atau terbukti dengan cara-cara tertentu yang rasional dapat mereka terima.

Pada tataran awal kegiatan sosialisasi dengan berbagai cara tentunya sebagai langkah positif dalam menyebarluaskan informasi akan keterlaksanaan program kegiatan, akan tetapi langkah praktis terhadap program itu sendiri merupakan hal yang paling penting sebagai acuan untuk sebuah tindakan. Jika benar asumsi penulis terhadap belum berjalan dengan maksimal program rehabilitasi penyalahgunaan narkoba dengan cara menyerahkan diri secara ikhlas dan sukarela untuk dilakukan rehabilitasi, maka penulis menawarkan beberapa langkah yang menurut pendapat penulis sebagai peningkatan ketercapaian tujuan program kegiatan rehabilitasi untuk semua kalangan melalui konsep jemput bola, yaitu: Perlu adanya kerjasama dengan lembaga pendidikan baik sekolah/madrasah atau pendidikan tinggi untuk melakukan tes urine untuk semua kalangan baik peserta didik, pendidik/dosen atau tenaga kependidikan; Kerjasama dengan kepala desa/gampong serta tokoh masyarakat dan orang tua untuk memberikan data akurat keadaan remaja atau pemuda maupun orang dewasa yang berat dugaannya sebagai pemakai atau penyalahgunaan narkoba diganti dalam bahasa yang halus sebagai korban narkoba, karena dalam pandangan penulis penggunaan bahasa sebagai satu motivasi bagi mereka untuk kembali kejalan yang benar. Bahkan melalui kerjasama ini tidak tertutup kemungkinan mereka yang memproduksi, mengedar atau yang sering disebut sebagai bandar mulai dari kelas teri, kelas kakap  hingga kelas hiu akan segera tercium busuknya.

 

Pageu Gampong Untuk Antisipasinya

Program rehabilitasi sebagai langkah mengembalikan mereka menuju taubat nashuha untuk tidak mengulangi lagi jalan yang tidak diridhai baik secara Agama, Negara dan aturan-aturan lainnya yang telah disepakati dalam masyarakat sebagai sebuah adat. Karena secara umum semua larangan itu tentunya untuk menghindari dampak buruknya dan mengedapankan akan manfaatnya. Sebagaimana pandangan penulis dalam penjelasan di atas terhadap pentingnya antisipasi bagi korban-korban baru agar tidak mengikuti jejak yang sama, maka sebagai solusi berikutnya semua pihak perlu ikut terlibat dalam mewujudkan Negara bersih dari narkoba, tidak hanya pemerintah atau leading sektor tertentu yang bertugas terhadap permasalahan pencegahan narkoba, akan tetapi pada tataran kecil juga perlu dilibatkan dengan aktif, seperti gampong/desa dalam setiap kecamatan dalam Kabupaten/Kota.

Disadari atau tidaknya bahwa kesalahan dan pelanggaran itu di awali dari komunitas kecil, mulai dari masing-masing anggota keluarga. Perwakilan keluarga-keluarga inilah yang akhirnya membentuk komunitas besar sehingga menjadi masyarakat pada umumnya. Solusi dalam rangka mengantisipasi terhadap permasalahan narkoba ini untuk tataran Kabupaten/Kota dalam Provinsi Aceh tentunya harus di awali mulai dari Gampong/Desa. Artinya lembaga yang selama ini berperan dan bertanggung jawab dalam memerangi narkoba hingga ke akar-akarnya sudah saatnya melibatkan kepala Desa/Gampong dan tokoh masyarakat untuk menyusun aturan yang sama atau qanun Gampong/Desa se Kabupaten/Kota dalam Provinsi Aceh yang disebut dengan Qanun Gampong Lawan Narkoba atau Qanun Gampong Anti Narkoba atau dengan nama yang lain. Melalui qanun ini selain memuat tentang peranturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia  (NKRI) tentang penyalahgunaan narkoba serta jenis-jensinya, juga didalamnya memuat tentang peran dan tanggung jawab kepala desa/gampong bersama tokoh gampong; Peran orang tua/wali agar berkewajiban melakukan pembinaan dan bimbingan terhadap masing-masing anaknya, khususnya untuk tidak terlibat baik sebagai bandar, pengedar dan pemakai narkoba; Melibatkan pemuda sebagai pegeu gampong (penjaga gampong) secara nyata dalam mewujudkan generasi anti narkoba. Adanya sanksi tegas dan keras bagi siapa saja yang melakukannya atau merahasiakan keterlibatan anggota keluarganya.

Akhirnya melalui rehabilitasi sebagai taubat nashuha bagi mereka korban narkoba, juga perlu adanya solusi nyata akan pembuktian bagi mereka, seperti tes urine menyeluruh bagi mereka yang besar dugaanya sebagai bagian dari korban narkoba, karena untuk menyerahkan diri secara ikhlas dan sukarela rasanya masih sulit untuk dapat diwujudkannya. Rehabilitasi tetap dikumandangkan tidak hanya untuk tahun 2015 ini akan tetapi apabila setelah dievaluasi masih jauh dari kenyataan maka tahun 2016 kiranya tetap dilanjutkan dengan melibatkan masyarakat khususnya kepala Desa/Gampong dan tokoh-tokohnya serta pengurus organisasi kepemudaan dalam setiap Desa/Gampong dan perlu disusun qanun Gampong/Desa sebagai pegeu gampong untuk menyelamatkan generasi bangsa dari dampak buruknya narkoba. Ayo taubat nashuha melalui rehabilitasi dari narkoba, mari antisipasi dengan qanun desa, karena pageu gampong sebagai langkah yang nyata untuk menyelamatkan korban berikutnya.

 

*Penulis adalah Guru PAI SMAN 1 Peukan Bada Aceh Besar

1,024 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar