4

Rabun Membaca Lumpuh Menulis (+1)

esti November 29, 2012

 

Saat ini sedang mati lampu di sekolah saya, sehingga kegiatan saya untuk mengisi materi di akun Edmodo ( akun yang saya pergunakan untuk berinteraksi secara online bersama siswa saya) agak terhambat, kebetulan saat saya melihat kedalam isi tas saya terdapat buku karangan Om Jay yang bertitlekan mengenai ” Menuliskan Setiap Hari dan Buktikan Apa Yang Terjadi”" yang baru saja saya baca beberapa hari lalu setelah membelinya dalam kegiatan Pelatihan Menulis minggu lalu. Saya bawa buku itu ke perpustakaan sekolah dengan harapan saya dapat menikmati isi bacaan itu dengan lebih tenang.

Akhirnya, saya memulai untuk membaca buku tersebut, dan pada saat tiba di halaman 25, terdapat judul tulisan “Rabun Membaca Lumpuh Menulis” agak terdiam saya melihat judul tulisan tersebut dan lantas teringat bahwa judul itu menjadi salah satu tema dalam kegiatan lomba menulis yang diberikan pada saat kegiatan Pelatihan Menulis itu berlangsung.

Pada saat, saya membaca tulisan tersebut, ternyata saya melihat bahwa tema itu tidak muncul begitu saja, melainkan ada hal yang melatarbelakangi saat tema itu diambil. ” Rabun Membaca Lumpuh Menulis” kalimat itu saya baca melalui buku Om Jay. Beliau mendapatkan kata-kata tersebut dari Pak Taufik Ismail, pada kegiatan siaran langsung pengumuman pemenang lomba naskah buku pengayaan tingkat nasional tahun 2009. Yang mana lomba tersebut diadakan oleh Pusat Perbukuan kemendiknas saat itu. Dimana inti daripada tema tersebut berisikan mengenai suatu bentuk kelumpuhan menulis atau akan sedikit sekali guru yang menulis bila guru -guru rabun membaca, atau dalam artian malas membaca. Dan akibatnya bila guru sudah rabun membaca, menjadi lumpuh dalam menulis, dan bila sudah demikian, maka ilmu pengetahuan menjadi tidak beragam lagi.

Guru yang rajin membaca tentunya akan memiliki pengetahuan yang luas, dam mampu mengkonstruksikan kembali dalam bentuk tulisan sehingga dapat memberikan manfaat dari apa yang sudah dibacanya kepada orang lain sehingga yang terjadi adalah guru tidak lumpuh menulis dan mampu memberikan manfaat atau membagikan pengetahuan yang dibacanya kepada orang lain.

Sehingga saya pun tertarik untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan mengenai apa yang sudah saya baca di perpustakaan saat mati lampu di sekolah saya. Apa yang sudah saya baca, saya berusaha lakukan dan tuangkan melalui tulisan. Sehingga minimal bagi saya, hal ini merupakan sebuah saluran informasi yang saya mau tuangkan ke media lain selain ke dalam diri saya sehingga minimal saya sudah merekam kegiatan saya saat di sekolah, dan bisa saya baca pada saat nanti saya ingin membacanya lagi, atau syukur bisa menjadi sebuah inspirasi untuk tidak rabun membaca dan tidak lumpuh menulis buat orang yang membaca artikel yang saya tulis ini .

Akhirnya saya sudah membaca sebanyak 66 halaman sebelum saya harus masuk ke kelas untuk mengajar lagi. Banyak sekali ide-ide yang saya dapatkan melalui buku tersebut dan memotivasi saya untuk menuliskannya melalui media kompasiana( kebetulan menulis melalui kompasiana juga ada dalam buku tersebut), hal yang saya dapatkan adalah dengan membaca buku dapat dan menuliskan apa yang sudah dibacanya dapat membuat pengetahuan jadi beragam. Sehingga pengetahuan tersebut dapat bermanfaat dan disalurkan kepada yang membaca tulisan yang dibuatnya. Bagi saya membaca adalah jendela ilmu pengetahuan dan menulis adalah media atau sarana bagi kita untuk berbagi dengan orang lain, dan syukur bila memberikan manfaat buat orang yang membacanya lagi. Sehingga pengetahuan menjadi semakin beragam dan memberikan bentuk pembelajaran buat orang lain

Don Bosco, Cikarang 28 November 2012
 

1,024 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (4)

  1. Pada dasarnya, hidup itu adalah membaca. Orang dulu bisa beradaptasi dengan lingkungan barangkali juga karena membaca, meski dalam bentuk yang lain. Membaca keadaan bisa jadi sangat penting juga untuk kemudian bisa menuangkannya dalam bentuk tulisan. Salam!

  2. betul pak, membaca keadaan sehingga bisa beradaptasi dengan lingkungan yang sedang dihadapi atau akan dihadapi, dan untuk saat ini, dapat langsung dituangkan dalam media tulisan, sehingga keadaan yang dihadapi dapat juga dirasakan oleh orang yang turut membaca tulisan tersebut.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar