0

‘Pungli’ ke Guru di Bantul: Belasan Tahun Terjadi, Berkedok Uang Syukuran (+1)

Johanes Gultom October 20, 2016

Modus untuk melakukan pungli beragam cara. Dari sekadar menjanjikan kemudahan, prioritas hingga mempersingkat urusan. Tapi ada modus lain lagi yang ternyata juga membudaya yakni modus syukuran. Paling tidak itu terjadi di dunia pendidikan Kabupaten Bantul. Dinas Pendidikan Menengah dan Non Formal (Dikmenof) menerima “upeti” dari para guru Taman Kanak-kanak yang menerima tunjangan sertifikasi. Uang dari para guru TK itu digunakan untuk makan-makan pegawai Dikmenof.

Pungli bermodus syukuran itu terungkap saat sejumlah pejabat di Dikmenof dipanggil Forum Pemantau Independen (Forpi) Kabupaten Bantul, Selasa (18/10/2016). Dalam pertemuan di Sekretariat Forpi komplek Kantor Inspektorat, pejabat Dikmenof mengakui adanya setoran dari para guru TK. Kasie PAUD dan TK, Hartanto tidak mengelak adanya ‘budaya’ yang sudah berlangsung selama belasan tahun di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul.

Menurut Hartanto, uang dan makanan sudah menjadi budaya di dunia pendidikan Kabupaten Bantul. Bahkan, meski tak sepakat, ia mengaku setiap kali menerima sertifikasi ia juga harus mengeluarkan uang syukuran.

“Saya mau memperbaiki (sistem) tapi jika sendirian, pasti saya roboh. Maka saya pernah mengajukan pengunduran diri dari jabatan kasie, itu bisa dilihat di dokumen dikmenof (tapi ditolak),” katanya.

Pengakuan secara implisit juga disampaikan Catur Retno Widati selaku Kabid Pengembangan Pendidikan Non Formal. Namun menurutnya, tidak pernah ada anjuran kepada guru untuk memberikan dana syukuran dan bahkan beberapa kali dalam sosialisasi pihaknya telah menyampaikan larangan.

“Tapi memang amplop (uang) itu memang ada dan saya tidak menerimanya, dan saya meminta uangnya itu digunakan untuk makan-makan,” terangnya.

Temuan adanya praktek pungli ini pada awalnya terungkap setelah Forpi menerima aduan dari salah satu guru yang menyebut adanya pemotongan yang dilakukan oknum Dikmenof terkait cairnya dana Biaya Operasional Pendidikan TK. Berdasar data yang didapat, masing-masing sekolah ditarik Rp 250 ribu oleh dua oknum dinas yang selalu berkeliling setiap kali BPO cair. Namun saat diklarifikasi, keduanya mengelak melakukan pungutan.

“Mereka justru cerita adanya setoran hasil potongan sertifikasi. Dan uang itu sudah dalam bentuk amplop terpisah, untuk kabid, kasie dan sekretariat Dikmenof,” kata Koordinator Divisi Pengaduan Forpri Bantul, Abu Sabikhis.

Berdasar pengakuan itu, Forpi selanjutnya menindaklanjuti dengan mengumpulkan keterangan dari beberapa guru TK. Forpi mendapat data masing-masing guru ditarik Rp 100 sampai 200 ribu rupiah per guru. Biaya syukuran ini harus mereka berikan karena khawatir tunjangan sertifikasi berikutnya tidak akan cair.

“Jadi mereka ini seperti ditakut-takuti. Semacam akan dipersulit dalam mendapatkan dan mengurus sertifikasi. Dihembuskan, hingga tingkat bawah.” ujarnya. jackpot online

Abu mencontohkan, pengalaman pahit pernah dialami seorang guru yang pernah menolak dipungut dan harus menerima konsekuensi tidak diberi jam pelajaran penuh sebagai prasarat cairnya tunjangan.

“Jadi sejak di sekolah, guru yang tidak mau setor itu sudah dilingkari. Padahal guru ini pantas mendapat jam penuh, dia S2 juga”, tambahnya.

Dari hasil klarifikasi terhadap pejabat Dikmenof, lembaga pengawas pakta integritas bentukan Pemkab Bantul ini belum dapat menyimpulkan apakah uang dari para guru itu termasuk pungli atau gratifikasi.

“Kalau dilihat latar belakangnya, kalau yang BOP itu jelas pungli. Tapi kalau yang uang potongan sertifikasi itu bisa pungli bisa juga gratifikasi. Tapi kalau dilihat kan di situ ada upaya sistematis dengan menakut-nakuti dan mempersulit. Tapi di satu sisi, berdasar pengakuan yang kita panggil, mereka sekadar menerima setoran,” kata Abu.

756 total views, 3 views today

Tagged with: ,

Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!