4

Pesan untuk Ibu di Hari Ibu (+4)

M. Rasyid Nur December 22, 2014

PESAN Untuk Ibu dari Jauh, adalah sebait puisi yang saya tulis beberapa waktu lalu. Malam ini, tidak sengaja saya menemukannya di file lama ketika saya mencari-cari tulisan-tulisan lama. Ketika coretan ini saya ulang baca, dan kebetulan pada hari Senin (22/ 12) ini adalah hari bersejarah buat ibu: inilah Hari Ibu yang setiap tahun diperingati selalu.

Setelah berpikir sejenak, saya memutuskan untuk dipublish kembali di blog guru kesayangan ini. Sebagai mengetuk hati sendiri untuk terus mengenang jasa-jasa ibu, maka saya posting puisi ini. Tentu saja saya berharap, pengakuan akan betapa besarnya jasa ibu ini dapat mengetuk hati siapa saja. Ibu adalah guru utama buat siapa saja. Selamat menikmati:

pesan untuk ibu di hari ibu
tidak pernah aku lupa pada
jasa-jasa yang tiada duanya
ketika aku tiada menjadi ada
karenanya
emak yang kini renta di desa
nun jauh di sana

bertahun-tahun emak memelihara
merawat menyuapi dan membelai kami
malam siang dan pagi hari
tiada henti karena apa pun terjadi
memandikan kami di kali
walau jauh dari gubuk kami
emak berjalan kaki membawa kami
ke tepian mandi nan jernih

emak terkadang tidak makan nasi
yang ada hanya ubi
tanaman yang disiram keringat setiap hari dari pagi ke pagi
adalah pengganti nasi

emak tidak juga berhenti
emak tetap bekerja untuk kami lima orang anaknya
emak tetap berdoa untuk ayah yang meninggalkannya dan kami anak-anaknya

kini aku sudah pergi meninggalkan emak dan adik-adik
bertahun-tahun sudah tidak serumah lagi
di gubuk lapuk yang dulu membesarkan kami
emak hanya kudengar suaranya dari henpon tetangga
aku tidak jua mengirimkan henpon untuknya sendiri

jika ada kumpulan recehan yang berlebih
dari menjual barang rongsokan dan besi karatan
atau dari koran bekas yang dikumpulkan
uang itu itu tidak cukup untuk menambah
hasil kebun yang ditanam bersama

adik-adikku juga sudah tidak lagi bersekolah
membantu ibu mencangkul karena sudah tamat sekolah
masuk SMA apa lagi kuliah tiada biaya

hari ini
seharusnya aku mencium emakku
tapi emak sangat jauh di sana
aku tidak bisa pulang karena ongkos tiada
aku juga tidak bisa mengirimkan uang untuk membantu emak di sana
maafkan anakmu, ibu
maafkan karena belum bisa juga berterima kasih
sebagaimana pesan ibu bapak guru, dulu
oh ibu, jangan tutup pintu syurga yang emak simpan itu
anakmu akan kembali entah berapa tahun lagi

680 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

About Author

Avatar of M. Rasyid Nur
M. Rasyid Nur

Menjadi guru (honorer) sejak tahun 1980, ketika masih mahasiswa. Selanjutnya menjadi PNS (aktif) sejak 1985 dengan SK TMT 01.03.1984 dan terus menjadi guru hingga sekarang. Insyaallah akan purna bakti pada 11.04.2017. Obsesi, "Berharap kehebatan murid melebihi kehebatan gurunya."

View all posts by M. Rasyid Nur →

Comments (4)

  1. Avatar of M. Rasyid Nur

    Sama-sama, Bu Etna. Sudah lama kita tak kontak via blog kesayangan ini. Puisi itu adalah ungkapan perasaan yang pasti dirasakan oleh setiap kita. Masa kecil kita adalah masa-masa kita begitu mesra dengan ibu kita. Kesulitan dan kjemiskinan tidak akan mengurangi kasih-sayang ibu kepada kita. Salam hormat penuh buat Bunda Etna dan Ibu-ibu lainnya. Salam sukses selalu.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!