0

Perkembangan TIK di Beberapa Negara (0)

wijaya kusumah September 27, 2016

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Malaysia

Perkembangan TIK di Malaysia bisa dikatakan cukup pesat. Di Asia tenggara Malaysia menempati peringkat ke-2 setelah Singapura. TIK di Malaysia mulai berkembang pesat ketika mereka mulai memiliki satellite sendiri setelah bertahun-tahun menyewa satelite Palapa milik Indonesia. Mereka mempunyai satellite pada tahun 90an di era Mahathir Mohamad. Mahathir dikenal dengan visi Malaysia 2020-nya. Beliau sangat perhatian terhadap perkembangan Teknologi Informasi dan infrastruktur serta segala sesuatu yang berkenaan dengan ruang angkasa.

Ini terbukti dengan peluncuran 2 satelit-nya Measat 1 dan 2 serta dilanjutkan dengan Measat 3 dan 4. Terbukti pula Malaysia berhasil mengirimkan astronotnya ke ruang angkasa, padahal ini seharusnya sudah dilakukan Indonesia pada 1986 kalau saja tidak terjadi kecelakaan pesawat ulang-alik.

Berikut table perkembangan TIK di Malaysia.

Tahun

 

Pendapatan dari Sektor TIK

 

% Produk domestik netto

 

Perusahaan IT

 

Pekerja IT

 

2001

 

$ 2.137 Juta

 

2,4

 

5.431

 

141.610

 

2005

 

$ 3.739 Juta

 

3,36

 

7.374

 

224.967

 

Berikut saya akan ulaskan beberapa perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Malaysia menurut jenisnya :

Televisi dan Radio

Perkembangan TIK di Malaysia sangat berkaitan erat dengan televisi dan radio. Radio pertama kali siaran pertama di Malaysia pada tahun 1946 yaitu radio Malaya yang disiarkan dari Singapura. Kemudian disirkan di kuala lumpur pada tahun 1959. Dan sampai sekarang Malaysia telah mempunyai puluhan stasiun radio yang resmi. Sedangkan stasiun televise di Malaysia berjumlah 6 stasiun. Stasiun televise itu antara lain TV1, TV2, TV3, NTV7, 8TV, dan TV9. Stasiun TV1 dan TV2 merupakan stasiun televisi milik Kerajaan (Pemerintah) di bawah kendali Radio Televisyen Malaysia (RTM). TV1 menayangkan acaranya dalam bahasa Melayu, dan TV2 dalam bahasa Inggris, China, Tamil, dan juga Melayu. Dengan berslogan sebagai “Saluran Inforia”, TV1 lebih banyak menayangkan program acara warta/berita, dan sukan (olahraga) sebagai sajian utamanya. Sedangkan TV2 dengan slogan “Saluran Famili Anda”, selain menyiarkan program acara warta, lebih banyak menampilkan sajian utama berupa hiburan (entertaintment), muzik, cereka pilihan (drama), kartun & kanak-kanak.

Stasiun televisi lainnya, merupakan stasiun TV swasta. Sebagaimana layaknya TV swasta, sajian utamanya adalah hiburan, drama, musik, film, kartun & kanak-kanak. TV3 dan TV9 menyajikan program acaranya sebagian besar dalam bahasa Melayu, selain juga dalam bahasa China, Tamil, dan Inggris. Sedangkan stasiun 8TV dalam bahasa China dan Inggris, dan NTV7 lebih banyak dalam bahasa Inggris.

Ada satu catatan yang patut diperhatikan, dalam beberapa acara yang disajikan dengan bahasa Melayu hampir selalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam format teks di layar kaca TV dan sebaliknya. Hal ini sedikit banyak bermanfaat, karena pemirsa khususnya anak-anak bisa ikut belajar memperdalam bahasa Inggris dengan mendengar dalam format bahasa Melayu dan membaca terjemahannya dalam bahasa Inggris atau sebaliknya.

 E-learning

Perkembangan TIK di Malaysia juga dilengkapi dengan Pendidikan Jarak Jauh atau e-learning. e-learning di Malaysia bisa dibilang sangat difasilitasi. Di Malaysia pengguna e-learning dapat berkomunikasi dengan pengguna e-learning lainnya dan pengajar dengan jaringan super cepat. Di Malaysia sudah banyak jaringan kabel serat optic yang dibangun pemerintah guna mendukung perkembangan dunia TI yang begitu cepat. E-learning pun dapat digunakan dengan cepat dan nyaman.

TIK dalam Industri Percetakan

Industri Percetakan di Malaysia juga saat ini berkembang cukup baik. Dilihat dari banyaknya majalah, surat kabar, Koran, dll. Yang memiliki desain-desain grafik dan tulisan bagus ditunjang dengan desain-desain format majalah yang di desain oleh para desainer-desainer jebolan perguruan tinggi di Malaysia.

TIK dalam Industri Pariwisata

Indusitri Pariwisata di Malaysia dibilang cukup inovatif dan kreatif. Ditunjang dengan dana besar dan perkembangan Teknologi seperti televise dan internet, pariwisata Malaysia mulai exist ke berbagai Negara dengan mengiklankan daerah-daerah pariwisata di Malaysia.

Sekarang di Indonesia juga banyak iklan Malasysia seperti Visit Malaysia, Tourism Malaysia, dan Sirkuit Balap Sepang. Berikut ini adalah contoh data-data yang umumnya dibutuhkan dalam pengembangan pariwisata dengan TIK:

  1. Data rencana pengembangan

  • Kebijakan pembangunan, arah pembangunan, dan pengembangan wilayah; wilayah

          perencanaan  dan wilayah yg lebih luas (mikro-makro).

  • Karakteristik kepariwisataan di daerah; ideologi, politik, sosial-budaya, hukum,

          ekonomi, pertahanan, dan keamanan.

  • Ketersediaan daya tarik wisata, aksesibilitas, fasilitas dan komunitas, regulasi dan

          kebijakan, sumber daya manusia, manajemen, dan informasi.

  • Segmen pasar: wisman (wisatawan mancanegara) dan/atau wisnus (wisatawan

          Nusantara).

  1. Data wisatawan

  • Jumlah kunjungan (wisnus, wisman).

  • Jumlah perjalanan (wisnus, wisman).

  • Jumlah pengeluaran (wisnus, wisman).

  • Pendapatan devisa (wisman).

  • Profil wisatawan:

  • Tinjauan geografis: daerah asal dan tujuan Wisata;

  • Tinjauan demografis: jenis kelamin, umur, pekerjaan, dan sebagainya;

  • Tinjauan psikografis: minat, tujuan, dan sasaran berwisata;

  • Tinjauan perilaku: kepuasan dan pengalaman berwisata.

  1. Data industri pariwisata

  • Database hotel dan akomodasi.

  • Database agen dan biro perjalanan wisata.

  • Database usaha jasa makanan dan minuman.

  • Database jasa konsultan.

  • Database jasa transportasi

  1. Data destinasi pariwisata

  • Fokus (tematik/clustering).

  • Lokus.

  • Daya tarik (alam, budaya, minat khusus).

  • Fasilitas (hotel, restoran, biro perjalanan, dan sebagainya).

  • Aksesibilitas (transportasi).

  • Komunitas (penduduk yang berada di sekitar obyek wisata).

  • Kebijakan dan regulasi.

  • Manajemen destinasi.

  • Komunikasi dan informasi.

  1. Analisis

  • Kebijakan pembangunan yang ada (sektoral dan regional).

  • Potensi kewilayahan; untuk mengetahui potensi wilayah dalam mendukung

          pengembangan pariwisata.

  • Aspek ketersediaan (supply) dan perhitungan kebutuhan pengembangan.

  • Aspek pasar dan proyeksi wisatawan.

  1. Hasil Analisis

  • Pengembangan pemasaran.

  • Pengembangan destinasi pariwisata.

  • Pengembangan sumber daya manusia.

  • Pengembangan kelembagaan.

  • Pengembangan tata ruang pariwisata.

  • Pengembangan lingkungan (alam dan budaya).

  • Pengembangan investasi.

  • Perumusan diarahkan pada tujuan dan sasaran pembangunan yang akan dicapai.

Hasil pengumpulan, pengolahan, dan pemanfaatan data ditampilkan melalui website.

Website Pariwisata

Pemanfaatan internet di dunia pariwisata dalam bentuk website/portal sangat beragam mulai dari sekedar pemberian layanan informasi dan promosi sampai layanan yang lebih kompleks, misalnya: reservasi online (hotel, paket wisata, transportasi, dan lain-lain), sistem pembayaran online, pengelolaan database pariwisata daerah, dan proses interaksi serta transaksi lainnya.

Telekomunikasi

Perkembangan TIK Malaysia sangat dipengaruhi bidang Telekomunikasi. Di bidang ini perkembangannya begitu sangat pesat. Ini terlihat dari sudah banyaknya pengguna handphone yang sampai 23 juta orang. Baik prabayar maupun pascabayar. Penggunaan SMS sebagai cara untuk berkomunikasi semakin digemari, malah kini menjadi aktiviti paling popular pengguna handphone . Untuk 3 bulan pertama 2006 saja, lebih 7 ribu juta SMS telah dikirim oleh pengguna-pengguna handphone di Malaysia. Persentase pengguna telekomunikasi di Malaysia. Telepon tetap 16,79 persen, telepon bergerak 75,17 persen dan pengguna internet 39,71 persen atau sebesar 10,040,000  pengguna pada Desember 2005.

Perusahaan Jasa TI

Perkembangan TIK Malaysia juga tidak lepas dari Perusahaan Jasa TI. Meski menghadapi persaingan yang ketat, seperti perang harga dan semakin berkurangnya life-cycle teknologi-teknologi terbaru, pasar jasa TI Malaysia tetap menjanjikan pertumbuhan yang tinggi. Menurut laporan IDC, akibat stagnasi pasar, perusahaan-perusahaan jasa TI di Malaysia mendapat tekanan untuk bergeser dari pola system integration (SI), yang mendapatkan pemasukan berbasis jumlah man-month, ke model layanan yang mendapatkan kompensasi berbasis nilai (valuebased) dan memperluas marjin keuntungannya dalam lingkungan TI yang dinamis.

Katherine Chan, analyst, Services Research, IDC Malaysia, mengatakan bahwa di pasar SI Malaysia, permintaan aplikasi enterprise, baik dalam bentuk paket atau yang sudah dikustomisasi, akan tetap tumbuh dua dijit dengan pertumbuhan tahunan sekitar 11,6 persen. Menurut dia, selain didorong munculnya teknologi-teknologi dan delivery model baru, peluang pertumbuhan pasar juga bakal muncul dari aplikasi implementasi RFID ( Radio Frequency Identifi cation ), aplikasi virtualisasi dan aplikasi-aplikasi lainnya. “Selain itu, network consulting dan network integration akan terus mendorong pertumbuhan pasar ini, khususnya ketika konsep ubiquitous computing mulai melekat di komunitas pengguna,” ujarnya.

Berdasarkan riset IDC, pasar jasa TI Malaysia tahun 2004 mencapai 801,81 juta dolar, atau tumbuh 29 persen dibanding tahun 2003. Dari jumlah itu, pasar konsultasi dan integrasi sistem TI merupakan pangsa pasar jasa TI tertinggi dengan pangsa 42 persen, diikuti pasar support dan training TI sebesar 33 persen dan alihdaya 25 persen. “Didorong dengan kuatnya permintaan jasa alihdaya, pasar jasa TI Malaysia diperkirakan akan tumbuh 16,3 persen dalam kurun waktu 2004-2009,” kata IDC.

Menurut IDC, dalam jangka panjang, proyek-proyek alihdaya akan meningkat. Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan juga akan semakin banyak memanfaatkan alihdaya untuk merasionalisasikan investasi TI-nya, misalnya dengan memanfaatkan sistem sharing, menggunakan jasa application service provider (ASP), pengalihdayaan manajemen pengoperasian infrastruktur sistem, dan seterusnya.

Di segmen IT deployment and support, pertumbuhan perawatan perangkat keras dan piranti lunak akan semakin berkurang. Menurut IDC, perusahaan-perusahaan akan semakin banyak yang menoleh ke para value-added service provider. Tawaran layanannya lebih dinamis dengan mengambil alih tanggung jawab maintenance menggunakan model managed service , bukan pola tradisional seperti model annual maintenance service.

Kesimpulan

Perkembangan TIK di Negara Malaysia dapat dikatakan sudah cukup baik dilihat dari berbagai factor diatas. Mengapa demikian karena sekarang Negara Malaysia dijadikan sebagai Second base beberapa perusahaan TI berskala dunia. Antara lain Microsoft yang buka kantor di Twin Tower, Intel (perusahaan Prosesor) dan AMD (perusahaan Prosesor) di Cyberjaya. Negara Malaysia dapat menjadi Macan Asia dalam beberapa tahun mendatang apabila rencana rencana Malaysia menjadi Negara yang berpengaruh dalam dunia IT sejagat dengan pondasi-pondasi yang telah di bangun sekarang dilanjutkan pembangunannya dan diperbaharui menjadi lebih baik.

PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DI NEGARA SINGAPURA

  1. Teknologi Informasi dan Komunikasi di Negara Singapura

Berbicara tentang teknologi informasi maupun teknologi komputer, AS dikenal sebagai negara yang sarat teknologi tinggi. Namun, pelaku-pelaku utama bidang teknologi informasi dan komputer sebagian besar berasal dari

negara-negara di kawasan Asia, seperti India, Cina, Korea Selatan, Taiwan, Jepang, Singapura dan lainnya, yang memang memiliki dasar pendidikan yang kuat.

Kelihatannya, pengaruh pendidikan dasar dan menengah sangat dominan untuk kemajuan suatu bangsa. Itulah yang menentukan jalannya perputaran orang-orang pintar dan berpengaruh di dunia teknologi informasi, khususnya di kawasan Asia.

Kepandaian bangsa Asia dalam mengimplementasikan teknologi terlihat sangat mencolok. Dimulai dari kebangkitan bangsa Jepang yang mulai meniru perangkat atau mesin-mesin apa saja yang ada di dunia, yang saat itu dikuasai oleh negara-negara Barat. Diikuti Taiwan yang sangat piawai dalam dunia teknologi komputer, terutama setelah Apple II diperkenalkan oleh duet Steve Wozniak dan Steve Jobs. Kemudian diikuti Korea yang mencontoh dan modifikasi dengan menyesuaikan diri pada kondisi di Korea. Dan, terakhir raksasa besar yang baru bangun dari tidurnya, Republik Rakyat Cina.

Kalau kita perhatikan seluruh daratan Asia, terlihat kalau dominasi teknologi komputer dan informasi dikuasai oleh empat besar saja, Cina, Taiwan, Singapura, dan Korea. Sementara Jepang berkutat di produksi barang-barang elektronik umumnya, walaupun ada banyak perusahaan yang punya spesialisasi dalam teknologi informasi seperti Toshiba, Fujitsu, NEC, dan lainnya. Sedangkan India sangat kuat di pengembangan perangkat lunak dan sistem.

Singapura mempunyai sifat yang agak spesifik, karena mereka memang tidak mempunyai alternatif lain untuk bisa hidup menghadapi negara-negara sekelilingnya, yang kebanyakan kaya akan hasil bumi. Dengan memusatkan perhatian pada kemajuan teknologi informasi, Singapura mendudukkan dirinya menjadi teratas di lingkungan Asia Tenggara. Sebetulnya kalau kita perhatikan, kelebihan Singapura dalam dunia teknologi informasi hanya pada dua hal, infrastruktur yang baik dan lokasinya yang cukup strategis.

Kemajuan Singapura juga ditunjang penuh oleh negara-negara besar seperti Malaysia dan Indonesia. Karena dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit dan pangsa pasar yang kecil, agak aneh melihat Singapura merupakan pemimpin teknologi informasi di kawasan Asia Tenggara.

Kehebatan macan Asia (Cina, Taiwan, Singapura, dan Korea) tersebut adalah kemampuan melihat peluang yang ada, kemampuan untuk memasarkan produknya ke berbagai negara, dan sudah tentu kemampuan untuk melakukan riset tambahan khusus untuk menjual produknya lebih banyak dan murah.

Kalau kita bandingkan dengan produk buatan AS, produk dari empat macan Asia ini sangat kompetitif sekali. Contohnya, sebuah router yang bermerk sangat terkenal dari AS, bisa dijual oleh sebuah produsen di Cina hanya senilai 40 persen dari harganya. Tentu dengan kemampuan dan kualitas yang setara.

Komputer rakitan yang disebut juga Komputer Generik, bisa dijual 20 persen lebih murah dari yang ada mereknya. Walaupun pada kenyataan, hampir semua komputer bermerek di dunia, dibuat dan dikembangkan di empat negara tersebut.

Pengalaman berbisnis dengan mitra di antara ke empat negara ini membuktikan, kita betul-betul harus angkat topi akan usaha yang sudah mereka lakukan, sehingga dapat membuat barang dengan jumlah banyak, memangkas dana untuk promosi agar dapat dijual dengan harga lebih murah dan mutu yang memadai.

Kenyataan yang tidak bisa diperdebatkan adalah komputer PC, di mana IBM PC yang mencetuskan ide dan sekaligus merancang sistem komputer yang dikenal sekarang ini. Tetapi, kalau kita lihat, saat ini pemain utama perangkat komputer PC yang berasal dari teknologi yang dikembangkan IBM, sekarang dikuasai oleh Taiwan, Singapura, Korea Selatan, dan Jepang. Kenapa bisa terjadi hal ini? Sebagian besar disebabkan oleh cara kerja orang Asia yang relatif lebih mementingkan unjuk kerja ketimbang show-off, menampilkan hal-hal yang semestinya tidak perlu.

Perangkat yang diberi merek terkenal, harganya akan relatif lebih mahal karena butuh biaya untuk beriklan, untuk layanan purna jual, dan untuk penelitian dan pengembangan sistemnya. Katakan satu set komputer IBM, selisih harganya 20-30 persen lebih mahal ketimbang buatan Taiwan dan bahkan dengan unjuk kerja yang mungkin lebih rendah ketimbang bikinan Taiwan.

Dengan kemajuan teknologi yang pesat, ditambah penelitian dan pengembangan yang didukung pemerintahnya, Taiwan, Singapura, dan Korea Selatan tidak kalah dalam pengembangan sistemnya. Bahkan ada kecenderungan perusahaan-perusahaan komputer besar meminta negara macan Asia tersebut untuk membantu pembuatannya, agar biayanya bisa ditekan dengan kualitas yang tetap prima.

  1. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Negara Singapura

Menceritakan tentang perkembangan dan pemanfaaatan teknologi informasi (TI) di Singapura memang tidak akan ada habisnya. Masyarakat di negara bekas pendudukan Inggris tersebut kebutuhan akan bandwidth Internet-nya sangat dilayani, kalau tidak ingin disebut dimanjakan, oleh pemerintahnya.

Salah satunya adalah program layanan Internet wireless hotspot yang berjejuluk Wireless@SG. Program tersebut, menurut Menteri Kominfo Singapura Lee Boon Yang ketika membuka ajang CommunicAsia 2007 pada Selasa (19/6/2007), bertujuan untuk menyelimuti sebagian besar sentra bisnis dan perumahan Singapura dengan akses Internet.

“Saat ini telah terpasang lebih dari 3400 titik wireless hotspot di wilayah Singapura. Per September tahun ini akan ditambah 1600 titik lagi,” ujar Boon Yang. Menurut Boon Yang, saat ini sudah sekitar 430 ribu orang yang mendaftar dan langsung bisa menikmati layanan broadband wireless secara cuma-cuma tersebut.

Program Wireless@SG untuk pertamakalinya diinisiasi oleh pemerintah Singapura, dan kemudian dijalankan oleh iCELL Network, QMax Communications dan Singtel. Kali pertama mendaftar, pengguna akan bisa menikmati layanan tersebut gratis selama tiga tahun.

Cukup dengan satu username dan password, penggunanya akan bisa menikmati Internet hotspot di berbagai tempat semisal pusat perkantoran, rumah sakit, sentra makanan, pusat perbelanjaan, obyek wisata, hotel, dan bahkan hingga ke sejumlah kawasan perumahan umum.

IT 2000 Sectoral Group:

  1. Tourist & Leisure Services. g. Transportation.

  1. Retail, Wholesale & Distribution. h. Government

  1. Education & Training. i. Financial Services.

  1. Media Publishing & Information Services. j. Manufacturing.

  1. IT Industry. k. HealthCare.

  1. Construction & Real Estate.

Some Singapore’s Initiatives:

  1. Trade-Net f. Establishment of Data Hubs.

  1. Student’s & Teacher’s Workbench. g. Internet for Schools.

  1. Construction and Real Estate NETwork. h. Legal Services – Court Vision 21.

  1. Helthcare MediNet i. Electronic Road Pricing (ERP)

  1. TourNet j. Borderless Library Network.

Singapore’s TradeNet:

  1. Customs. h. Wholesalers.

  1. Distributors. i. Retailers.

  1. Importers / Exporters. j. Freight Forwarders.

  1. Shipping Agents. k. Carriers.

  1. Transport Companies. l. Banks.

  1. Information Providers. m. Insurance Companies.

  1. Air Cargo Agents. n. Other Gov’t Agencies.

TradeNet Key Factor:

¨ Human Resource.

¨ Electronic Data Interchange (EDI).

Singapore’s Data Hub:

¨ Land Hub

Physical land-related data including lot boundaries, buildings, utilities, roads.

¨ Estab Hub

Business information like name, registration number, paid-up capital, directors information.

¨ People Hub

Personal data like name, NRIC, address, sex, date of birth etc.

Data Hubs Benefits:

¨ Reduced effort in data collection and processing.

¨ Minimise redudancy and duplication of data storage.

¨ Less of a bother for the citizen to fill up common information already known.

¨ More timely, accurate and consistent data.

  1. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan komunikasi dalam Bidang Pendidikan di Negara Singapura

Dunia telah berubah. Dewasa ini kita hidup dalam era informasi/global. Dalam era informasi, kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi telah memungkinkan terjadinya pertukaran informasi yang cepat tanpa terhambat oleh batas ruang dan waktu (Dryden & Voss, 1999). Berbeda dengan era agraris dan industri, kemajuan suatu bangsa dalam era informasi sangat tergantung pada kemampuan masyarakatnya dalam memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan produktifitas. Karakteristik masyarakat seperti ini dikenal dengan istilah masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Siapa yang menguasai pengetahuan maka ia akan mampu bersaing dalam era global.

 

Kita bandingkan dua kalimat berikut! ”Learning to Use ICTs vs Using ICTs to Learn”. Secara sederhana, mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran sama maknanya dengan menggunakan TIK untuk belajar (using ICTs to learn) sebagai lawan dari belajar menggunakan TIK (learning to use ICTs). Belajar menggunakan TIK mengandung makna bahwa TIK masih dijadikan sebagai obyek belajar atau mata pelajaran.

Sebenarnya, UNESCO mengklasifikasikan tahap penggunaan TIK dalam pembelajaran kedalam empat tahap sebagai beirkut:

Emerging, Menyadari akan pentingnya TIK untuk pembelajaran dan belum berupaya untuk menerapkannya.

Applying, Satu langkah lebih maju dimana TIK telah dijadikan sebagai obyek untuk dipelajari (mata pelajaran).

Integrating, TIK telah diintegrasikan ke dalam kurikulum (pembelajaran).

Transforming, Merupakan tahap yang paling ideal dimana TIK telah menjadi katalis bagi perubahan/evolusi pendidikan.

TIK diaplikasikan secara penuh baik untuk proses pembelajaran (instructional purpose) maupun untuk administrasi (administrational purpose).

 

Secara ideal, kondisi yang seharusnya terjadi adalah TIK sudah diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh, mari kita perhatikan salah satu bentuk pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran yang ditunjukkan dalam oleh suatu rencana pembelajaran (lesson plan) yang pernah dibuat oleh beberapa guru SMA di negara singapura adalah sebagai berikut.

 

Rencana pembelajaran menunjukkan secara jelas bahwa melalui pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran, disamping tujuan pembelajaran tercapai ada suatu agenda terselubung (hidden agenda) penting yang dapat dicapai pula, yaitu ICTs Literacy, seperti siswa dapat melakukan browsing informasi melalui internet, berkomunikasi melalui e-mail, membuat laporan dengan aplikasi pengolah kata (MSWord), atau mempresentasikan sesuatu dengan MSPowerpoint. Inilah yang dimaksud dengan mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran. Fryer (2001) mengatakan bahwa penggunaan TIK dalam pembelajaran bertujuan untuk melatih keterampilan menggunakan TIK dengan cara mengintegrasikannya ke dalam aktifitas pembelajaran, bukan mengajarkan TIK tersebut sebagai mata pelajaran yang terpisah. Jadi, sudah saatnya TIK diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran dan bukan hanya sekedar menjadi mata pelajaran yang terpisah.

UNESCO (2002) menyatakan bahwa pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran memiliki tiga tujuan utama:

1) untuk membangun ”knowledge-based society habits” seperti kemampuan memecahkan masalah (problem solving), kemampuan berkomunikasi, kemampuan mencari, mengoleh/mengelola informasi, mengubahnya menjadi pengetahuan baru dan mengkomunikasikannya kepada oranglain;

2) untuk mengembangkan keterampilan menggunakan TIK (ICT literacy); dan

3) untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran.

   

Mengapa demikian? Karena secara teoretis TIK memainkan peran yang sangat luar biasa untuk mendukung terjadinya proses belajar yang:

Active ;            memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan bermakna.

Constructive ; memungkinkan siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.

Collaborative ; memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi masukan untuk sesama anggota kelompoknya.

Intentional ; memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Conversational ; memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu proses sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.

Contextualized ; memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (real-world) melalui pendekatan ”problem-based atau case-based learning”

Reflective ; memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh Norton et al (2001)).

 

Dengan kata lain, TIK memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik (dePorter et al, 2000). TIK memungkinkan pembelajaran disampaikan secara interaktif dan simulatif sehingga memungkinkan siswa belajar secara aktif.

 

TIK juga memungkinkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving, pengambilan keputusan, dll.) serta secara tidak langsung meningkatkan ”ICT literacy” (Fryer, 2001). Jangan heran jika melihat anak-anak sekolah dasar di Singapura tidak canggung memanfaatkan komputer atau laptop, telepon seluler, internet, whiteboard interaktif, hingga peralatan canggih laboratorium. Maklum, dalam pembelajaran sehari-hari mereka sudah memanfaatkan secara optimal teknologi informasi dan komunikasi. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bukan untuk memperumit pembelajaran. Justru pelajaran-pelajaran yang sulit atau susah menjadi mudah, menarik, dan menyenangkan bagi siswa. Melalui pemanfaatan TIK, misalnya, disajikan game, suara, dan animasi sehingga siswa mudah mengerti materi pelajaran.

 

Perkembangan TIK yang diyakini akan mentransformasi proses belajar dan mengajar di sekolah masa depan inilah yang mewarnai pelaksanaan International Conference on Educational and Technology (ICET) 2007 di Singapura, 21-22 November lalu. Chang Hwee Nee, Wakil Sekretaris Bidang Kebijakan, Kementerian Pendidikan Singapura, mengatakan, dalam kaitannya dengan pendidikan, perkembangan TIK seharusnya mampu mendorong guru untuk memanfaatkan TIK. Bukan cuma game, tetapi blog yang dijuluki sebagai bukutulis harian online, mailing list, juga dimanfaatkan optimal sehingga proses

belajar menjadi lebih interaktif.

 

“Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi akan mengubah proses belajar dan mengajar di sekolah ke arah pendidikan yang mendorong inovasi dan eksperimen. Hal ini memerlukan komitmen kuat dari guru untuk memanfaatkan teknologi, baik hardware, software, maupun e-learning untuk membuat belajar jadi mudah bagi siswa,” kata Chang Hwee Nee dalam pembukaan ICET Ke-4 yang diikuti sekitar 1.200 peserta dan 40 perusahaan TIK untuk pendidikan. Chang mengatakan, Pemerintah Singapura mendorong penggunaan TIK secara nasional.

 

Rencana induk pemanfaatan TIK untuk pendidikan pertama yang dibuat

tahun 1997 yang menekankan pada ketersediaan infrastruktur TIK telah

diubah. Rencana induk kedua mulai tahun 2002 diarahkan guna

memaksimalkan teknologi di era digital untuk membuat Singapura menjadi bangsa cerdas yang disebut Intelligent Nation by 2015 (IN2015). Berdasarkan survei Badan Pengembangan Informasi dan Komunikasi Singapura (Infocomm Development Authority/IDA of Singapore) tahun lalu, 78 persen keluarga di negara ini memiliki minimal satu komputer, umumnya mereka yang memiliki anak usia sekolah. Penggunaan internet untuk aktivitas pendidikan dan belajar juga cukup tinggi. Kemudahan mengakses internet di ruang publik cukup didukung.

 

Agustus 2007 ini tercatat 5.600 hotspot yang melayani 520.000 pelanggan internet di Singapura. Ronnie Tay, Kepala Badan Pengembangan Informasi dan Komunikasi Singapura, mengatakan, pemanfaatan TIK dalam pendidikan membuat siswa belajar secara mandiri. Mereka selama ini terbiasa mengekspresikan diri dengan menggunakan blog, foto, maupun video di situs web yang menyediakan layanan ini. Akhirnya, peran guru pun lebih banyak sebagai fasilitator yang mendorong siswa terus kreatif dengan memanfaatkan media digital yang interaktif. Pemerintah Singapura juga sudah membentuk model sekolah masa depan atau future school salah satunya adalah Classroom of The Future di National Institute Education. “Mengenalkan anak-anak dengan lingkungan digital yang baru berkembang berarti kita menyiapkan mereka masuk ke dunia masa depan dan berkontribusi di dunia yang akan semakin bergantung pada teknologi, “kata Ronnie Tay.

 

Amerika Serikat risau karena nilai matematika dan sains muridnya tidak masuk peringkat atas, jauh dibawah sejumlah negara di Asia. Singapura menjadi rujukan.

SINGAPURA PERINGKAT 1

Singapura memang pantas berbangga. Adalah hasil studi yang digelar Third International Mathematics and Science Study (TIMMS) pada 1999 dan 2003 yang menunjukkan kehebatannya. Riset ini diikuti 180.000 murid dari 38 negara. Singapura mengikutkan 5.000 muridnya.

Pada 1999, dari 38 negara yang menjadi obyek survei terhadap murid kelas 8, Singapura menduduki peringkat nomor 1. Ini mengulangi hasil yang dicapai Singapura pada 1995. Survei terakhir dilangsungkan pada 2007, namun hasilnya baru diumumkan Desember mendatang.

Dari nilai maksimal 1.000, murid Singapura mendapatkan rata-rata 604, jauh di atas capaian Amerika Serikat. Indonesia menduduki peringkat 34, di bawah Thailand maupun Malaysia. Survei yang dilakukan terhadap murid kelas 4 di 38 negara menunjukkan hasil serupa. Singapura nomor satu.

Yang membuat Singapura bangga, menurut hasil riset itu, murid-muridnya memang menyukai matematika dan sains. Nilai tinggi ini didapat karena kedua pelajaran itu memang disukai para murid.

INTELLIGENT NATION 2015

SINGAPURA tak henti-hentinya menjaga keunggulan siswa di bidang teknologi dan matematika. Proyek besarnya dirancang oleh Departemen Informasi dan Komunikasi, dengan menggulirkan program “Intelligent Nation 2015”, biasa disingkat iN2015. Melalui proyek ini, Singapura ingin mengutamakan penggunaan teknologi informasi di berbagai bidang: ekonomi, pendidikan, dan pembelajaran. Untuk mendukung kegiatan itu, sekolah mengadakan program “FutureSchool@Singapore”.

Akhir Juli lalu, pemerintah Singapura mengumumkan empat konsorsium yang menang tender perangkat lunak bagi 15 sekolah perintis. Setelah hasilnya bagus, perangkat lunak itu disebarkan ke sekolah lainnya. Di antara pemenangnya adalah Civica, perusahaan penyedia program khusus pendidikan, yang sudah lama buka kantor di Singapura. Anggotanya SingTel, ST Electronics, dan HewlettPackard. Nilai proyeknya cukup besar, Sin $80 juta, lebih dari Rp 400 milyar, dilaksanakan selamat empat tahun hingga 2012.

Masing-masing anggota konsorsium memiliki tugas sendiri. Civica, misalnya, mendapat perintah untuk membuat program komputer pelajaran interaktif 3D di bidang lingkungan di SMP Jurong. Dengan proyek ini, pemerintah Singapura berharap, keunggulan negaranya di bidang matematika dan sains terus bertahan.

PERKEMBANGAN TIK DI SINGAPURA

  1. TIK di Singapura

Dewasa ini kita hidup dalam era informasi/global. Dalam era informasi, kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi telah memungkinkan terjadinya pertukaran informasi yang cepat tanpa terhambat oleh batas ruang dan waktu (Dryden & Voss, 1999). Berbeda dengan era agraris dan industri, kemajuan suatu bangsa dalam era informasi sangat tergantung pada kemampuan masyarakatnya dalam memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan produktifitas. Karakteristik masyarakat Dunia telah dikenal dengan istilah masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society seperti ini). Siapa yang menguasai pengetahuan maka ia akan mampu bersaing dalam era global.

Oleh karena itu, setiap negara berlomba untuk mengintegrasikan TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) untuk semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegaranya untuk membangun dan membudayakan masyarakat berbasis pengetahuan agar dapat bersaing dalam era global. Apa akibatnya? Negara yang telah maju dan mampu mengintegrasikan teknologi tersebut secara sistemik/holistik, melompat berkali lipat jauh lebih maju. Beberapa contoh yang telah maju dan jauh meninggalkan diantaranya adalah Singapura, Jepang dan Korea. Sementara itu, negara-negara berkembang lain yang belum mampu mengintegrasikan teknologi tersebut secara komprehensif semakin berkali lipat jauh tertinggal. Kondisi seperti ini dinamakan kesenjangan digital (digital divide).

  1. Perkembangan TIK

Jangan heran jika melihat anak-anak sekolah dasar di Singapura tidak canggung memanfaatkan komputer atau laptop, telepon seluler, internet, whiteboard interaktif, hingga peralatan canggih laboratorium. Maklum, dalam pembelajaran sehari-hari mereka sudah memanfaatkan secara optimal teknologi informasi dan komunikasi. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bukan untuk memperumit pembelajaran. Justru pelajaran-pelajaran yang sulit atau susah menjadi mudah, menarik, dan menyenangkan bagi siswa.

Melalui pemanfaatan TIK, misalnya, disajikan game, suara, dan animasi sehingga siswa mudah mengerti materi pelajaran.

Perkembangan TIK yang diyakini akan mentransformasi proses belajar dan mengajar di sekolah masa depan inilah yang mewarnai pelaksanaan International Conference on Educational and Technology (ICET) 2007 di Singapura, 21-22 November lalu.

Chang Hwee Nee, Wakil Sekretaris Bidang Kebijakan, Kementerian Pendidikan Singapura, mengatakan, dalam kaitannya dengan pendidikan, perkembangan TIK seharusnya mampu mendorong guru untuk memanfaatkan TIK. Bukan cuma game, tetapi blog yang dijuluki sebagai buku tulis harian online, mailing list, juga dimanfaatkan optimal sehingga proses belajar menjadi lebih interaktif.

“Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi akan mengubah proses belajar dan mengajar di sekolah ke arah pendidikan yang mendorong inovasi dan eksperimen. Hal ini memerlukan komitmen kuat dari guru untuk memanfaatkan teknologi, baik hardware, software, maupun e-learning untuk membuat belajar jadi mudah bagi siswa,” kata Chang Hwee Nee dalam pembukaan ICET Ke-4 yang diikuti sekitar 1.200 peserta dan 40 perusahaan TIK untuk pendidikan.

  1. Pemanfaatan TIK dalam pendidikan

Chang mengatakan, Pemerintah Singapura mendorong penggunaan TIK secara nasional. Rencana induk pemanfaatan TIK untuk pendidikan pertama yang dibuat tahun 1997 yang menekankan pada ketersediaan infrastruktur TIK telah diubah. Rencana induk kedua mulai tahun 2002 diarahkan guna memaksimalkan teknologi di era digital untuk membuat Singapura menjadi bangsa cerdas yang disebut Intelligent Nation by 2015 (IN2015).

Sekolah masa depan

Berdasarkan survei Badan Pengembangan Informasi dan Komunikasi Singapura (Infocomm Development Authority/IDA of Singapore) tahun lalu, 78 persen keluarga di negara ini memiliki minimal satu komputer, umumnya mereka yang memiliki anak usia sekolah. Penggunaan internet untuk aktivitas pendidikan dan belajar juga cukup tinggi.

Kemudahan mengakses internet di ruang publik cukup didukung. Agustus 2007 ini tercatat 5.600 hotspot yang melayani 520.000 pelanggan internet di Singapura.

Ronnie Tay, Kepala Badan Pengembangan Informasi dan Komunikasi Singapura, mengatakan, pemanfaatan TIK dalam pendidikan membuat siswa belajar secara mandiri. Mereka selama ini terbiasa mengekspresikan diri dengan menggunakan blog, foto, maupun video di situs web yang menyediakan layanan ini. Akhirnya, peran guru pun lebih banyak sebagai fasilitator yang mendorong siswa terus kreatif dengan memanfaatkan media digital yang interaktif.

Pemerintah Singapura juga sudah membentuk model sekolah masa depan atau future school salah satunya adalah Classroom of The Future di National Institute Education.

“Mengenalkan anak-anak dengan lingkungan digital yang baru berkembang berarti kita menyiapkan mereka masuk ke dunia masa depan dan berkontribusi di dunia yang akan semakin bergantung pada teknologi,” kata Ronnie Tay.

“Software” Indonesia

Di tengah canggihnya kemajuan TIK di bidang pendidikan di Singapura dan negara-negara lain, ternyata Indonesia juga tetap mampu berkontribusi untuk mentransformasi pendidikan di dalam kelas.

Perusahaan software pendidikan Indonesia yang mampu bersaing dengan perusahaan TIK bidang pendidikan dari negara-negara lain tersebut adalah PT Pesona Edukasi atau orang asing mengenalnya sebagai AmazingEdu. Perusahaan ini mampu menciptakan software pendidikan fisika dan matematika dengan kekuatan animasi.

Sayangnya, penghargaan negara lain terhadap software Amazing Physics dan Amazing Mathematics produksi Indonesia ini belum mendapat perhatian yang luas dari dalam negeri, termasuk pemerintah. “Kami berjuang sendiri mengembangkan software yang memudahkan guru mengajarkan Fisika dan Matematika yang rumit di kelas karena concern kami kepada pendidikan,” kata Hary Sudiyono Candra, Direktur PT Pesona Edukasi.

Perusahaan ini sudah berkecimpung dalam pengembangan software pendidikan sejak tahun 1986. Sejumlah penghargaan internasional juga diraih. Dengan sajian animasi yang menarik dan pembelajaran interaktif, software ini sudah dipakai di 22 negara dan 1.500 sekolah di Indonesia.

“Tantangan dari pemanfaatan TIK di pendidikan ini justru bagaimana membuat materi pelajaran di sekolah yang susah dan tidak disenangi siswa menjadi menarik. Departemen Pendidikan seharusnya menekankan pemanfaatan TIK di Indonesia itu ke arah content sehingga siswa Indonesia menemukan kegembiraan dalam belajar,” kata Hary.

Penggunaan ICT untuk pendidikan, kata Hary, bukanlah memindahkan teks buku ke internet atau media lain. Justru yang harus dilakukan bagaimana membuat materi pelajaran itu sangat mudah dicerna. Ini bisa mudah dikembangkan dengan menggunakan animasi yang benar-benar bisa disenangi dan dipahami siswa.

Perangkat lunak ini, misalnya, bisa menjelaskan gaya gravitasi dengan sajian animasi helikopter yang hendak terbang dan suara desing baling-baling.

Peranti lunak fisika dan matematika ini dipakai secara berlangganan untuk sekolah-sekolah dalam kurun waktu tertentu. Douglas Osheroff, peraih Nobel Fisika tahun 1996 dari Amerika Serikat, menyatakan kekagumannya dengan isi software fisika yang dilihatnya. Software ini dibeli Osheroff saat berkunjung ke Indonesia tahun 2005 dan memakainya di Universitas Stanford, Amerika Serikat.

Jadi sayang kalau semua fasilitas dan potensi yang ada tidak dimanfaatkan optimal. Kini, memang sudah zamannya siswa SD akrab dengan internet dan TIK.

MENGINTEGRASIKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) KE DALAM PROSES PEMBELAJARAN

MENGINTEGRASIKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) KE DALAM PROSES PEMBELAJARAN:

Apa, Mengapa dan Bagaimana?

Abstrak

Hidup dalam era informasi di abad 21 ini merupakan kenyataan. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan era global saat ini. Untuk mendorong kesiapan SDM di era global melalui pendidikan di sekolah, pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran perlu dilakukan untuk:

1) mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa;

2) mengembangkan keterampilan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi (ICT literacy) itu sendiri; dan

3) untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi dan kemenarikan proses pembelajaran.

Dalam prakteknya, belum semua guru memahami apa yang dimaksud dengan mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran. Makalah ini memaparkan tentang apa, mengapa dan bagaimana integrasi TIK dilakukan dalam proses pembelajaran di sekolah.

“In a global economy, it is education, not location, that determines the standard of living.”

-Albert Hoser, CEO of Siemens- http://www.wtvi.com/teks/tia

“Technology is a tool. A Means to end. Not the end in itself.”

http://www.wtvi.com/teks/integrate/tcea2001/powerpointoutline.pdf

Pendahuluan

berubah. Dewasa ini kita hidup dalam era informasi/global. Dalam era informasi, kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi telah memungkinkan terjadinya pertukaran informasi yang cepat tanpa terhambat oleh batas ruang dan waktu (Dryden & Voss, 1999). Berbeda dengan era agraris dan industri, kemajuan suatu bangsa dalam era informasi sangat tergantung pada kemampuan masyarakatnya dalam memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan produktifitas. Karakteristik masyarakat Dunia telah dikenal dengan istilah masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society seperti ini). Siapa yang menguasai pengetahuan maka ia akan mampu bersaing dalam era global.

Oleh karena itu, setiap negara berlomba untuk mengintegrasikan TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) untuk semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegaranya untuk untuk membangun dan membudayakan masyarakat berbasis pengetahuan agar dapat bersaing dalam era global. Apa akibatnya? Negara yang telah maju dan mampu mengintegrasikan teknologi tersebut secara sistemik/holistik, melompat berkali lipat jauh lebih maju. Beberapa contoh yang telah maju dan jauh meninggalkan diantaranya adalah Singapura, Jepang dan Korea. Sementara itu, negara-negara berkembang lain yang belum mampu mengintegrasikan teknologi tersebut secara komprehensif semakin berkali lipat jauh tertinggal. Kondisi seperti ini dinamakan kesenjangan digital (digital divide).

Indonesia, perlu segera mengurangi kesenjangan digital ini dengan mengintegrasikan TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) secara sistemik untuk semua sektor pemerintahan seperti perdagangan/bisnis, administrasi publik, pertahanan dan keamanan, kesehatan dan termasuk pendidikan. Dalam makalah ini, penulis ingin mengupas masalah pengintegrasian TIK dalam pendidikan. Tapi, penulis membatasi pembahasan hanya pada masalah yang lebih mikro, yaitu pengintegrasian TIK dalam lingkup pembelajaran (ruang kelas). Sementara itu, yang dimaksud dengan teknologi informasi dan komunikasi disini meliputi teknologi cetak maupun non-cetak (seperti teknologi audio, audio-visual, multimedia, internet dan pembelajaran berbasis web).

Beberapa permasalahan yang penulis ingin coba dibahas dalam makalah ini meliputi: 1) apa yang dimaksud dengan pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran? 2) seperti apakah contoh bentuk pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran?; 3) mengapa TIK perlu diintegrasikan dalam pembelajaran?; 4) pendekatan seperti apa yang dapat digunakan dalam mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran?; dan 5) pertimbangan apa sajakah yang perlu dilakukan dalam mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran?

Apa yang Dimaksud dengan Mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran?

Mari kita bandingkan dua kalimat berikut! ”Learning to Use ICTs vs Using ICTs to Learn”. Secara sederhana, mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran sama maknanya dengan menggunakan TIK untuk belajar (using ICTs to learn) sebagai lawan dari belajar menggunakan TIK (learning to use ICTs). Belajar menggunakan TIK mengandung makna bahwa TIK masih dijadikan sebagai obyek belajar atau mata pelajaran.

Sebenarnya, UNESCO mengklasifikasikan tahap penggunaan TIK dalam pembelajaran ekdalam empat tahap sebagai beirkut:

Tahap emerging, baru menyadari akan pentingnya TIK untuk pembelajaran dan belum berupaya untuk menerapkannya. Tahap applying, satu langkah lebih maju dimana TIK telah dijadikan sebagai obyek untuk dipelajari (mata pelajaran). Pada tahap integrating, TIK telah diintegrasikan ke dalam kurikulum (pembelajaran). Tahap transforming merupakan tahap yang paling ideal dimana TIK telah menjadi katalis bagi perubahan/evolusi pendidikan. TIK diaplikasikan secara penuh baik untuk proses pembelajaran (instructional purpose) maupun untuk administrasi (administrational purpose).

Apa yang terjadi dalam praktek pembelajaran di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, TIK masih dijadikan sebagai obyek atau mata pelajaran. Sebagian besar, TIK masih dijadikan sebagai obyek belajar atau mata pelajaran di sekolah-sekolah. Bahkan di tingkat perguruan tinggi atau akademi, banyak dibuka program studi yang berkaitan dengan TIK, seperti teknik informatika, manajemen informatika, teknik komputer, dan lain-lain.

Secara ideal, kondisi yangs seharusnya terjadi adalah TIK sudah diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh, mari kita perhatikan salah satu bentuk pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran yang ditunjukkan dalam oleh suatu rencana pembelajaran (lesson plan) yang pernah dibuat oleh beberapa guru SMA sebagai berikut:

Tabel 1:

Contoh Rencana Pembelajaran yang Mengintegrasikan TIK¡

No.

Topics

Grade

Level

Objectives

Instructional Activities and ICT Used

01.

The Creation of Universe

1st

Students will be able:

  • to describe the theories of universe creation

to compare theories of universe creation among each other

  • students watch video shows (VCD) of the universe creation
  • given a book of universe creation, students (in group) analyze the differences among theories of universe creation
  • each group write their report using word processor application (e.g. MS Word).

each group present and discuss their works in front of class.

02.

Square Equation

1st

  • to determine the root of square equation using factor and abc’ formula (rules)

to use discriminant to solve the square equation problems

  • student studying the equation of square from CD-ROM
  • teacher discussing them and explain how to use the rule of square equation more deeply using MS Powerpoint
  • students solving problems given by teacher
  • as a follow up, students assign to solve the problems related to the square equation and write the equation using equation facilities on MS Word

students submit their homework via e-mail to the teacher

06.

Narrative Monolog Discourse : “Aspect of Love”

1st

to write a monologue discourses related to the theme of “Aspect of Love” in the form of poetry.

  • students choose a project related to the theme of “Love” from http://www.iearn.org/
  • students studying the project description and procedures the choosen
  • students write their own poetry related to the theme of “Love” according to the project procedure suggested using MS Word or MS Power Point.

Students send their poetry to the teacher and their friends in the world through mailing list (group) on http://www.iearn.org/ to have some comments or feedback.

Rencana pembelajaran di atas menunjukkan secara jelas bahwa melalui pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran, disamping tujuan pembelajaran tercapai ada suatu agenda terselubung (hidden agenda) penting yang dapat dicapai pula, yaitu ICTs Literacy, seperti siswa dapat melakukan browsing informasi melalui internet, berkomunikasi melalui e-mail, membuat laporan dengan aplikasi pengolah kata (MSWord), atau mempresentasikan sesuatu dengan MSPowerpoint. Inilah yang dimaksud dengan mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran. Fryer (2001) mengatakan bahwa penggunaan TIK dalam pembelajaran bertujuan untuk melatih keterampilan menggunakan TIK dengan cara mengintegrasikannya ke dalam aktifitas pembelajaran, bukan mengajarkan TIK tersebut sebagai mata pelajaran yang terpisah. Jadi, sudah saatnya TIK diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran dan bukan hanya sekedar menjadi mata pelajaran yang terpisah.

Mengapa Pengintegrasian TIK ke dalam Proses Pembelajaran Penting?

Jawabannya sangat berkaitan erat dengan mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia untuk siap memasuki era masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Tahun 2020 Indonesia akan memasuki era perdagangan bebas (AFTA). Pada masa itu, masyarakat Indonesia harus memiliki ICT literacy yang mumpuni dan kemampuan menggunakannya untuk meningkatkan produktifitas (knowledge-based society). pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan ICT literacy, membangun karakteristik masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society) pada diri siswa, disamping dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran itu sendiri.

UNESCO (2002) menyatakan bahwa pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran memiliki tiga tujuan utama: 1) untuk membangun ”knowledge-based society habits” seperti kemampuan memecahkan masalah (problem solving), kemampuan berkomunikasi, kemampuan mencari, mengoleh/mengelola informasi, mengubahnya menjadi pengetahuan baru dan mengkomunikasikannya kepada oranglain; 2) untuk mengembangkan keterampilan menggunakan TIK (ICT literacy); dan 3) untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran.

Mengapa demikian? Karena secara teoretis TIK memainkan peran yang sangat luar biasa untuk mendukung terjadinya proses belajar yang:

  • Active; memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan bermakna.
  • Constructive; memungkinkan siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.
  • Collaborative; memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi masukan untuk sesama anggota kelompoknya.
  • Intentional; memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
  • Conversational; memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu proses sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.
  • Contextualized; memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (real-world) melalui pendekatan ”problem-based atau case-based learning”
  • Reflective; memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh Norton et al (2001)).

Dengan kata lain, TIK memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik (dePorter et al, 2000). TIK memungkinkan pembelajaran disampaikan secara interaktif dan simulatif sehingga memungkinkan siswa belajar secara aktif. TIK juga memungkinkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving, pengambilan keputusan, dll.) serta secara tidak langsung meningkatkan ”ICT literacy” (Fryer, 2001).

Dari rencana pembelajaran di atas terlihat jelas bahwa melalui mata pelajaran Fisika, Biologi atau Bahasa Inggris misalnya, secara tidak langsung ICT literacy siswa berkembang. Disamping itu, dengan metode pembelajaran yang lebih bersifat konstruktif (contructivisme) secara tidak langsung keterampilan berpikir tingkat tinggi (seperti berpikir kritis, problem solving, dll.) dan keterampilan berkomunikasi dengan TIK pada diri siswa juga meningkat. Dengan kata lain, pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran dapat membangun karakteristik masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society) pada diri siswa. Jika pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran dilakukan sejak saat ini, maka siswa-siswi tahun 2005 misalnya, akan siap menjadi bagian dari masyarakat global pada masa diberlakukannya AFTA tahun 2020 mendatang. Penulis merasa bahwa pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran merupakan masalah yang ”urgent” untuk mempersiapkan sumber daya manusia berbasis pengetahuan (knowledge-based human resources) yang sangat diperlukan di abad ke-21 ini.

Tidaklah heran kalau seorang futurolog, Eric Ashby (1972) seperti dikutip oleh Miarso (2004) menyatakan bahwa perkembangan TIK yang semakin mutakhir saat ini telah membawa revolusi pendidikan yang keempat. Revolusi pertama terjadi ketika orang menyerahkan pendidikan anaknya kepada seorang guru. Revolusi kedua terjadi ketika diguanakannya tulisan untuk keperluan pembelajaran. Revolusi ketiga terjadi seiring dengan ditemukannya mesin cetak sehingga materi pembelajaran dapat disajikan melalui media cetak. Revolusi keempat terjadi ketika digunakannya perangkat elektronik seperti radio, televisi komputer dan internet untuk pemerataan dan perluasan pendidikan.

Bagaimana Mengintegrasikan TIK ke dalam Proses Pembelajaran?

Dari sisi pendekatan, Fryer (2001) menyarankan dua pendekatan yang dapat dilakukan guru ketika merencanakan pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, yaitu: 1) pendekatan topik (theme-centered approach); dan 2) pendekatan software (software-centered approach).

  • Pendekatan Topik (Theme-Centered Approach); Pada pendekatan ini, topik atau satuan pembelajaran dijadikan sebagai acuan. Secara sederhana langkah yang dilakukan adalah: 1) menentukan topik; 2) menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai; dan 3) menentukan aktifitas pembelajaran dan software (seperti modul. LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, dll) yang relevan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Rencana pembelajaran yang dicontohkan di atas merupakan salah satu contoh penggunaan pendekatan ini.
  • Pendekatan Software (Software-centered Approach); menganut langkah yang sebaliknya. Langkah pertama dimulai dengan mengidentifikasi software (seperti bku, modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, dll) yang ada atau dimiliki terlebih dahulu. Kemudian menyesuaikan dengan topik dan tujuan pembelajaran yang relevan dengan software yang ada tersebut. Sebagai contoh, karena di sekolah hanya ada beberapa VCD atau mungkin CD-ROM tertentu yang relevan untuk suatu topik tertentu, maka guru merencanakan pengintegrasian software tersebut untuk mengajar hanya topik tertentu tersebut. Topik yang lainnya terpaksa dilaksanakan dengan cara konvensional.

Sedangkan dari sisi strategi pembelajaran, ada beberapa pendekatan yang disarankan untuk membangun keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa, diantaranya adalah: 1) resource-based learning; 2) case-based learning; 3) problem-based learning; 4) simulation-based learning; dan 5) collaborative-based learning (http://www.microlessons.com/).

  • Resources-based learning memiliki karakteristik dimana siswa diberikan/disediakan berbagai ragam dan jenis bahan belajar baik cetak (buku, modul, LKS, dll) maupun non cetak (CD/DVD, CD-ROM, bahan belajar online) atau sumber belajar lain (orang, alat, dll) yang relevan untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Kemudain siswa diberikan tugas untuk melakukan aktifitas belajar tertentu dimana semua sumber belajar yang mereka butuhkan telah disediakan. Sebagai contoh, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai adalah siswa dapat membandingkan beberapa teori penciptaan alam semesta. Untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran tersebut, guru telah mengidentifikasi dan menyiapkan berbagai bentuk dan jenis sumber belajar yang berisi informasi tentang teori penciptaan alam semesta berupa buku, VCD, CD-ROM, alamat situs di internet dan mungkin seorang narasumber ahli astronomi yang diundang khusus ke kelas. Kemudian siswa ditugaskan untuk mencari minimal dua teori tentang penciptaan alam semesta secara individu atau kelompok baik dari buku, VCD, maupun internet sesuai dengan seleranya. Siswa juga diminta untuk menganalisis perbedaan dari berbagai segi tentang teori-teori tersebut dan membuat laporannya dalam MSWord yang kemudian dikirim ke guru dan teman lainnya melalui e-mail.
  • Case-based learning memiliki karakteristik dimana siswa diberikan suatu permasalahan terstruktur untuk dipecahkan. Dengan case-based learning solusi pemecahan masalahnya sudah tertentu karena skenario sudah dibuat dengan jelas. Tapi, dalam problem-based learning kemungkinan solusi pemecahan masalahnya akan berbeda. Misal, dua orang siswa diberikan satu permasalahan dengan pendekatan problem-based learning. Maka solusi yang diberikan oleh siswa yang satu dengan siswa yang lain mungkin berbeda.
  • Simulation-based learning memiliki karakteristik dimana siswa diminta untuk mengalami suatu peristiwa yang sedang dipelajarinya. Sebagai contoh, siswa diharapkan dapat membedakan perubahan percampuran warna-warna dasar. Maka, melalui suatu software tertentu (misal virtual lab) siswa dapat melakukan berbagai percampuran warna dan melihat perubahan-perubahannya. Dan ia dapat mencatat laporannya dalam bentuk tabel dengan menggunakan MSExcell atau MSWord. Atau kalau perlu mempresentasikan hasilnya dengan menggunakan MSPowerpoint.
  • Colaborative-based learning memiliki karakteristik dimana siswa dibagi kedalam beberapa kelompok, melakukan tugas yang berbeda untuk menghasilkan satu tujuan yang sama. Sebagai contoh, untuk mencapai tujuan pembelajaran dimana siswa dapat membedakan beberapa teori penciptaan alam semesta, siswa dibagi ke dalam tiga kelompok. Masing-masing kelompok ditugas kan mencari satu teori penciptaan alam semesta. Kemudian ketiga kelompok tersebut berkumpul kembali untuk mendiskusikan perbedaan teori tersebut dari berbagai segi dan membuat laporannya secara kolektif. Salah seorang siswa dapat ditunjuk untuk menyajikan hasilnya.

Beberapa Pertimbangan yang Perlu Diperhatikan dalam Mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran

Ada beberapa hambatan yang perlu digaris bawahi berkaitan dengan pemanfaatan TIK untuk pembelajaran. Hambatan-hambatan tersebut diantaranya adalah: 1) penolakan/keengganan untuk berubah (resistancy to change) khususnya dari policy maker (kepala sekolah dan guru); 2) kesiapan SDM (ICT literacy dan kompetensi guru); 3) ketersedian fasilitas TIK; 4) ketersediaan bahan belajar berbasis aneka sumber; dan 5) keberlangsungan (sustainability) karena keterbatasan dana.

Penolakan atau keengganan untuk berubah, khususnya dari para pembuat kebijakan sekolah dan guru merupakan hal yang wajar mengingat TIK masih dapat dikatakan sebagai suatu inovasi (hal baru). Sikap para pengambil kebijakan atau guru terhadap TIK sebagian besar masih rendah disebabkan karena kurangnya pengetahuan terhadap TIK dan peran pentingnya bagi pembelajaran. Disamping itu, sikap keengganan/penolakan inipun didukung oleh karena redahnya melek teknologi (ICT literacy). Sehingga, kesiapan guru dan kompetensi guru untuk memanfaatkan TIK dalam pembelajaran menjadi lemah. Walhasil, fasilitas TIK di sekolahpun menjadi terbatas sehingga keberlangsungan pemanfaatan TIK di sekolah juga masih dipertanyakan. Terlebih-lebih, ketersediaan bahan belajar berbasis aneka sumber (resources-based learning packages), seperti modul, buku paket, VCD pembelajaran, CD-ROM pembelajaran, maupun bahan belajar online masih terbatas.

Sebagai sumbang saran, dalam rangka mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran (kelas), penulis merekomendasikan beberapa hal berikut untuk dipecahkan secara sistemik dan simultan:

  • Dukungan Kebijakan; sekolah mengeluarkan kebijakan untuk mengedepankan pengintegrasian TIK untuk pembelajaran. Misalnya melalui pencananagan visi, misi, peraturan dan rencana induk/rencana strategis sekolah ke depan.
  • e-Leadership; Kepala sekolah dan atau beberapa guru panutan di sekolah menyadari penuh pentingnya peran TIK untuk pembelajaran dan berupaya untuk terus mempelajari dan menerapkannya di sekolah.
  • Penyiapan SDM; sekolah mengembangkan ICT literacy para guru dan kompetensi guru dalam mengintegrasikan TIK kedalam pembelajaran (termasuk berbagai strategi/metode pembelajaran yang efektif). Bila perlu guru mengadopsi atau mengadaptasi strategi pembelajaran yang telah terbukti efektif dan mengkomunikasikannya dengan kolega. Bila perlu mengembangkan sendiri. Hal ini dpat dilakukan melalui pelatihan, pengiriman mengikuti loka karya atau seminar, terlibat aktif dalam komunitas jaringan sekolah dan lain-lain. Disamping itu, sekolah juga harus menyiapkan tenaga teknis dalam bidang TIK untuk pembelajaran.
  • Penyiapan fasilitas; sekolah menyiapkan fasilitas yang kondusif agar terjadinya belajar berbasis aneka sumber dengan menyiapkan beberapa fasilitas seperti perpustakaan (cetak dan non-cetak), komputer yang terhubung dengan LAN, koneksi internet, VCD/DVD player plus televisi, serta komposisi ruang kelas.
  • Penyediaan software pembelajaran; penyediaan software pembelajaran seperti buku, modul, LKS, program audio cassette, VCD/DVD, CD-ROM interaktif, dan lain-lain dapat dilakukan dengan cara membeli produk yang telah ada di pasar atau memproduksi sendiri.
  • Penyiapan tenaga teknis; fasilitas TIK yang ada di sekolah hendaknya didukung oleh beberapa tenaga teknis yang memiliki keahlian atau keterampilan dalam mengelola dan memlihara peralatan tersebut.

Kesimpulan dan Harapan

Sebagai kesimpulan, akankah pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran dalam konteks kondisi Indonesia saat ini dapat berjalan dengan baik? Fakta nyata menunjukkan bahwa ada upaya secara sporadis dari beberapa sekolah-sekolah, baik sekoalh negeri maupun swasta di beberapa kota besar di Indonesia yang telah berupaya mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran. Walaupun mungkin belum sempurna, tapi telah menunjukkan adanya perbedaan baik bagi hasil belajar maupun apresiasi siswa, orang tua maupun guru.

Contoh kecil tersebut, penting untuk dijadikan sebagai catatan. Ke depan, upaya beberapa sekolah yang secara sporadis ini perlu mendapat dukungan secara nasional sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan. Oleh sebab itu, pemerintah diharapkan dapat mengakomodasi masalah penting ini dengan secara top-down mengeluarkan suatu kebijakan pemanfaatan TIK untuk pendidikan (e-education) yang disertai dengan dukungan infratsruktur teknologi informasi yang memadai. Akankah pendidikan Indonesia berjalan di tempat, sementara negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Fhilipina dan Thailand melesat jauh kedepan melalui visi e-education-nya yang jauh lebih terarah? MUDAH-MUDAHAN TIDAK!

Referensi:

Dryden, Gordon; dan Voss, Jeanette; (1999), ”the Learning Revolution: to Change the Way the World Learn”, the Learning Web, Torrence, USA, http://www.thelearningweb.net/.

Fryer, Wesley A.; (2001), “Strategy for effective Elementary Technology Integration”, http://www.wtvi.com/teks/integrate/tcea2001/powerpointoutline.pdf

NIE, Singapore, “General Typology of Teaching Strategies in Integrated Learning System”, http://www.microlessons.com/.

Norton, Priscilla; dan Spargue, Debra; (2001), “Technology for Teaching”, Allyn and Bacon, Boston, USA.

UNESCO Institute for Information Technologies in Education (2002), “Toward Policies for Integrating ICTs into Education” Hig-Level Seminar for Decision Makers and Policy-Makers, Moscow 2002.

Yusufhadi Miarso; (2004). ”Menyemai Benih Teknologi Pendidikan” Prenada Media, Jakarta.

¡ Contoh ini diambil dari hasil Pelatihan Perancangan Pembelajaran Berbasis TIK yang dihasilkan oleh guru-guru SMA rintisan South-east Asia Schoolnet (SEA-Schoolnet) Program, kerjasama antara Pustekkom dengan UNESCO-Bangkok, 2004). Pelatihan ini juga dilaksanakan oleh delapan negara di Asia Tenggara yang tergabung dalam program tersebut. Sengaja dikutip sesuai aslinya dalam Bahas

Pemanfaatan TIK di Negara Amerika dalam Bidang Pendidikan

Pemanfaatan TIK di Negara Amerika dalam Bidang Pendidikan___________________________________

  1. Pendahuluan

Siapa yang tidak tahu Negara Amerika? Negara Adikuasa yang mampu menguasai berbagai bidang di dunia ini. Namun saat ini Negara tersebut sedang mengalami krisis ekonomi yang sangat berdampak bagi ekonomi dunia yang kita sebut dengan ekonomi global. Jika dilihat dari jarak antara Negara Indonesia dan Amerika tentunya sangatlah jauh. Lalu bagaimana berita yang sedang menerpa di Negara paman sam ini dapat dengan mudah sampai ke berbagai penjuru di dunia ini. Tentunya hal ini memerlukan suatu alat yang sangat canggih yang mampu menempuh jarak yang jauh dengan waktu yang sangat singkat. Kiranya alat apa yang mampu memberikan transfer informasi secepat ini?

Jawabannya adalah internet, telepon selular, email, dan alat komunikasi canggih lainnya yang mamapu memberikan kemudahan dalam layanannya. Kita tidak dapat mengakses internet tanpa mengguankan alat yang dinamakan komputer. Alat modern yang canggih ini tentunya tidak bisa langsung hadir disisi kita tanpa suatu proses perjalanan yang panjang. Lalu muncullah pertanyaan dibenak kita siapakah penemu komputer itu?

Hasil temuan Howard Aiken menurut Ardoni (1998) yang bernama komputer semakin hari semakin canggih. Bila pada mulanya komputer berukuran besar hanya dapat digunakan sebagai alat hitung, sekarang komputer berujuran kecil dapat dipakai untuk berbagai keperluan. Bila pada mulanya komputer hanya dapat memindahkan informasi yang diolahnya ke media cetak atau bahkan hanya ke layar monitornya saja sendiri, sekarang komputer dapat dipakai untuk memindahkan sejumlah besar informasi, menempuh jarak yang jauh daam waktu singkat. Semua itu karena kecanggihan komputer “menumpang” kecanggihan alat komunikasi. Dengan kata lain komputer merupakan alat penting dalam menjadikan teknologi informasi dan komunikasi yang menjadi andal, murah, dan praktis.

  1. Bagaimana TIK di Negara Amerika

2.1 Sejarah TIK di Amerika

Sebelum kita membahas jauh mengenai bagaimana sebenarnya TIK di Negara Amerika, kita akan mengulas sedikit mengenai sejarah TIK itu sendiri di Negara yang bisa disebut sebagai Negara adikuasa tersebut.

Awalnya internet berasal dari Negara Amerika yang bermula dari proyek pertahanan Amerika Serikat 1969 yang diberi nama ARPA. Tujuan awal di bangunannya proyek ini adalah untuk kepentingan pertahanan militer. Proyek ARPA yang disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency Network) tersebut bertujuan untuk menghubungkan komputer dalam suatu bentuk jaringan sehingga informasi dapat dipindahkan dari satu komputer ke komputer yang lainnya. Pada saat itu Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US Department of Defense) membuat sistem jaringan komputer yang tersebar dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan.

2.2 Perkembangan TIK di Amerika

Berkat kegigihan dan keberhasilan Pertahanan Amerika Serikat denagn membuat system computer menjadikan hasil proyek ini menjadi cikal bakal pembangunan protokol baru yang sekarang dipakai untuk Internet yaitu TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol). Pada mulanya APARNET hanya menghubungkan 3 situs saja Stanford Research Institute, University of California, Santa Barbara, University of Utah, di mana mereka membentuk satu jaringan terpadu di tahun 1969, dan secara umum ARPANET diperkenalkan pada bulan Oktober 1972. Tidak lama kemudian proyek ini berkembang pesat di seluruh daerah, dan semua universitas di negara tersebut ingin bergabung, sehingga membuat ARPANET kesulitan untuk mengaturnya. Sehingga, ARPANET dipecah manjadi dua, yaitu “MILNET” untuk keperluan militer dan “ARPANET” baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer seperti, universitas-universitas. Gabungan kedua jaringan akhirnya dikenal dengan nama DARPA Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi Internet. Bermula dari sinilah kemudian internet dapat berkembang ke berbagai Negara.

Perkembangan TIK di Amerika dapat terlihat dari tabel di bawah ini :

No Tahun Perkembangan Komputer

1 1957 Uni Sovyet (sekarang Rusia) meluncurkan wahana luar angkasa, Sputnik.

2 1958 Amerika Serikat dalam meluncurkan wahana luar angkasa, dibentuklah sebuah badan di dalam Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Advanced Research Projects Agency (ARPA).

3 1962 J.C.R. Licklider menulis sebuah tulisan mengenai sebuah visi di mana komputer-komputer dapat saling dihubungkan antara satu dengan lainnya secara global agar setiap komputer tersebut mampu menawarkan akses terhadap program dan juga data. Di tahun ini juga RAND Corporation memulai riset terhadap ide ini (jaringan komputer terdistribusi), yang ditujukan untuk tujuan militer.

4 Awal 1960-an Teori mengenai packet-switching dapat diimplementasikan dalam dunia nyata.

5 Pertengahan 1960-an

ARPA mengembangkan ARPANET ke berbagai universitas

6 1965

Istilah “Hypertext” dikeluarkan oleh Ted Nelson.

7 1968 Jaringan Tymnet dibuat.

8 1971

Anggota jaringan ARPANET bertambah menjadi 23 buah node komputer, yang terdiri atas komputer-komputer untuk riset milik pemerintah Amerika Serikat dan universitas.

9 1972

Sebuah kelompok kerja yang disebut dengan International Network Working Group (INWG) dibuat untuk meningkatkan teknologi jaringan komputer dan juga membuat standar-standar untuk jaringan komputer, termasuk di antaranya adalah Internet.

10 1972-1974

Beberapa layanan basis data komersial seperti Dialog, SDC Orbit, Lexis, The New York Times DataBank, dan lainnya, mendaftarkan dirinya ke ARPANET melalui jaringan dial-up.

11 1973

ARPANET ke luar Amerika Serikat: pada tahun ini, anggota ARPANET bertambah lagi dengan masuknya beberapa universitas di luar Amerika Serikat yakni University College of London dari Inggris dan Royal Radar Establishment di Norwegia.

12 1974

Bolt, Beranet & Newman (BBN), perusahaan kontraktor untuk ARPANET, membuka sebuah versi komersial dari ARPANET yang mereka sebut sebagai Telenet, yang merupakan layanan paket data publik pertama.

13 1977

Sudah ada 111 buah komputer yang telah terhubung ke ARPANET.

14 1978

Protokol TCP dipecah menjadi dua bagian, yakni Transmission Control Protocol dan Internet Protocol (TCP/IP).

15 1979 penggunaan Usenet

16 Awal 1980-an

BITNET (Because It’s Time Network) dimulai, dengan menyediakan layanan e-mail, mailing list, dan juga File Transfer Protocol (FTP).

17 1982

Istilah “Internet” pertama kali digunakan, dan TCP/IP diadopsi sebagai protokol universal untuk jaringan

2.3 Penemuan Terbaru TIK di Amerika

Kemudian,pada April 2008 melalui Global Grid Forum dalam ‘Red Button Day’, muncullah satu konsep yang merupakan evolusi terbaru internet yaitu Grid atau Internet2. Konsep Grid sebenarnya dibawa dari komputer terdistribusi yaitu konsep untuk mengkoneksikan superkomputer menjadi metakomputer. Kata Grid diambil dari Electricity Grid (jaringan listrik) yaitu alat elektronik dicolokkan ke jala tersebut (grid), akan memperoleh resource yang sama dengan mengabaikan dari mana resource tersebut berasal.

Ciri-ciri konsep Grid Computing yaitu:

  1. Sistem tersebut melakukan koordinasi terhadap sumberdaya komputasi yang tidak berada dibawah suatu kendali terpusat.
  2. Sistem tersebut menggunakan standard dan protokol yang bersifat terbuka (tidak terpaut pada suatu implementasi atau produk tertentu).
  3. Sistem tersebut berusaha untuk mencapai kualitas layanan yang canggih, (nontrivial quality of service) yang jauh diatas kualitas layanan komponen individu dari komputasi grid tersebut.

Sampai tulisan ini dibuat, Grid belum masih dikembangkan dan masih dalam studi laboratorium dan untuk komunitas tertentu serta perusahaan provider yang menguji cobanya. Kemungkinan akan dipublish 1 sampai 2 tahun mendatang ke masyarakat internet. Konsep Grid, rencananya akan di coba pertama kali di Amsterdam mengingat Amsterdam adalah kota dengan koneksi jaringan terpadat dan menjadi rumah dari konseptor internet. Internet Engineering Task Force.

Di Amerika sendiri pemanfaatan TIK telah merambah keberbagai bidang, mulai dari politik, social, pertahanan, ekonomi, terutama pada bidang pendidikan dan masih banyak lagi yang lainnya.

  1. Pemanfaatan TIK di Bidang Pendidikan

Guru memiliki keterbatasan dalam mengajar siswa, walaupun masih banyak hal-hal positif juga yang dapat diperoleh darinya. Di Amerika Serikat, istilah “guru” sering diidentikkan sebagai orang yang memiliki kecakapan di bidangnya, misal kecakapan spiritual, kecanggihan teknologi dan lain-lain. Beberapa keterbatasan itu, di antaranya interaksi yang terbatas karena umumnya kelas diisi banyak siswa.

Di Amerika ada anggapan bahwa siswa akan mmapu mengaktifkan semua indera dan sensitifnya melalui melihat, mendengarkan, dan membaca. Komputer dianggap sebagai alat yang mampu membantu siswa Karena dapat diatur atau diformat sesuai dengan kemampuan siswa sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa pula.

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pemanfaatan komputer di pra-sekolah dasar dan sekolah tentang ICT dan anak-anak muda. Ada laporan penelitian pendidikan keuntungan yang timbul dari anak-anak muda menggunakan ICT dalam berbagai situasi belajar. Ada juga laporan dari kedua pemerintah dan badan-badan independen pada jumlah dan jenis menggunakan komputer di rumah dan di school. Selama tujuh tahun terakhir ini anak-anak di kelas dalam kota, sekolah telah menggunakan komputer multimedia berbasis perangkat lunak sederhana untuk memecahkan masalah dan menghasilkan produk-produk elektronik di tingkat kognitif yang sesuai.

Saat ini di Amerika telah berjalan proyek yang disebut OLPC (One Laptop Per Child). Melalui program OLPC ini, anak-anak berkesempatan untuk mengakses data dan informasi secara langsung dan mandiri.

Selain itu saat ini di Amerika pun telah berjalan program belajar jarak jauh dimana siswa bisa sekolah tanpa harus berada ditempat yang sama dengan guru ataupun bisa berada pada jarak yang sangat jauh sekali. hal ini menggunakan alat bantu berupa internet dimana siswa dan guru dapat berkomunikasi dan bertatap muka langsung lewat internet. Program ini dianggap sangat berhasil karena mampu melakukan kegiatan belajar mengajar tanpa lagi harus mempermaslahkan jarak dan waktu. Belajar seperti ini dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun.

  1. Alasan Pemanfaatan TIK

4.1 Bidang-bidang yang memanfaatkan TIK

Dikarenakan TIK di Amerika mampu memberikan kontribusi yang lebih baik dan menguntungkan. Maka di Amerika sendiri pemanfaatan TIK telah merambah keberbagai bidang, mulai dari politik, sosial, pertahanan, ekonomi, terutama pada bidang pendidikan dan masih banyak lagi yang lainnya.

Saat ini bidang yang sedang mengalami pertumbuhan ynag pesat adalah di bidang hiburan terutama dilima regional yang difokuskan di Amerika di antaranya :

1) E-commerce bidang komersial ( iklan)

2) Produk-produk perangkat lunak dan jasa computer

3) Multimedia

4) Internet

5) peralatan Telekomunikasi-Telekomunikasi dan networking

4.2 Permasalahan yang sering terjadi

Tentunya pemanfaatan TIK di Negara Amerika ini tidak luput dari permasalahan ataupun kendala yang menghadang diantaranya saja adalah :

  1. Masalah biaya

Biaya yang dibutuhkan untuk pencapaian program OLPC ini tidak sedikit. Apalagi untuk pemerataan fasilitas pendidikan ke berbagai pelosok wilayah Amerika.

  1. Masalah SDM ( tingkat keahlian )

Belum semua orang ammpu menguasai computer maka perlu diadakan pelatihan-pelatihan. Terutama pada guru sebagai pengajar diharuskan mampu menguasai computer dan internet sebagai bahan untuk membuat suasana belajar menjadi menyenangkan.

  1. Masalah Sosial

Dengan menggunakan computer banyak orang yang lebih senang berdiam diri dirumah memainkan computer mereka dan lebih senang berinteraksi lewat layanan internet ketimbang bertatap muka langsung dengan yang bersangkutan sehingga membuat orang jarang berinteraksi langsung dan lebih bersifat individualis.

  1. Perawatan Peralatan

Tentunya semua peralatan yang telah dibeli itu harus dijaga kualitasnya, saat ini banyak sekali perangkat computer yang hanya bertahan beberapa waktu saja karena mengalami kerusakan tetapi tidak diambil cara untuk memperbaiki ataupun mengatasinya. Kebanyakan mereka memilih untuk membeli peralatan baru daripada memperbaikinya.

4.3 Desain Dasar Laboraturium Komputer

Tata letak laboraturium ataupun ruangan belajar yang menggunakan computer di Amerika adalah seperti gambar di bawah ini :

Jadi posisi tempat duduk adalah melingkar hal ini dimaksudkan adanya transfer dua arah antara guru dan murid serta pembelajaran tidak hanya dilakukan pada satu ruangan saja tetapi didesain untuk dapat dilihat dari berbagai arah.

  • Latar Belakang Sebenarnya permasalahan inti pada dunia pendidikan sangat komplek Berbagai hal dapat saja dipersalahkan sebagai pokok masalah yang menghambat kemajuan dunia pendidikan di Indonesia. Namun demikian, kecacatan yang dengan jelas dapat kita temukan adalah proses belajar mengajar yang masih menggunakan sistem konvensional yang mengandalkan tatap muka antara guru dan murid, dosen dengan mahasiswa, pelatih dengan peserta latihan, bagaimanapun merupakan sasaran empuk yang paling mudah menjadi sasaran bagi suara-suara kritis yang menghendaki peningkatan kualitas pada dunia pendidikan. Sehingga diperlukan solusi yang tepat dan cepat dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan mutu pendidikan sekarang. kemajuan teknologi khususnya dengan mengoptimalkan fungsi teknologi informasi. Seiring perkembangan zaman, penggunaan sistem konvensional sudah tidak efektif sebab dianggap sangat lambat dan tidak seiring dengan perkembangan teknologi informasi dimana pertukaran informasi menjadi semakin cepat dan instan.Sehingga ketidakefektifan adalah kata yang paling cocok untuk sistem ini. Sistem konvensional seharusnya sudah ditinggalkan sejak ditemukannya media komunikasi multimedia sebagai bentuk kemajuan teknologi informasi.e-Education, istilah ini mungkin masih asing bagi bangsa Indonesia. e-education (Electronic Education) ialah istilah penggunaan teknologi informasi di bidang pendidikan. Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat, tepat waktu dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputeryang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Banyak aspek dapat diajukan untuk dijadikan alasan untuk mendukung pengembangan dan penerapan teknologi informasi untuk pendidikan dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan nasional Indonesia.Salah satu aspeknya ialah kondisi geografis Indonesia dengan banyak pulau yang terpencar-pencar dan kontur permukaan buminya yang seringkali tidak bersahabat. Teknologi informasi sangat mampu dan dijagokan agar menjadi fasilitator utama untuk meningkatkan dan meratakan pendidikan di bumi Nusantara, sebab teknologi informasi yang mengandalkan kemampuan pembelajaran jarak jauhnya tidak terpisah oleh ruang, jarak dan waktu sehingga semua yang diperlukan akan dapat disediakan secara online sehingga dapat diakses kapan saja. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa pengaruh terhadap bidang pendidikan dalam proses pembelajaran. Penggunaan TIK dalam proses pembelajaran sudah bukan hal yang asing lagi dalam era globalisasi seperti sekarang ini. Adanya Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi malasah lagi. Adanya internet memungkinkan kita untuk belajar kapan dan di mana saja dengan lingkup yang sangat luas. Misalnya, dengan fasilitas email, chatting, e-book, e-library dan dan sebagainya, kita dapat saling berbagi informasi tanpa harus bertatap muka langsung dengan sumber informasi tersebut. Karena semua informasi yang kita inginkan dapat kita peroleh hanya dengan mengakses internet lewat komputer, tablet, maupun smarthphone. Kerjasama antar dosen dan juga dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah. Beberapa penerapan teknologi informasi yang mungkin digunakan di kampus diantaranya adalah: Jaringan Komputer Lokal (Local Area Network), Koneksi ke Internet, Laboratorium Komputer, Sistem Informasi yang berkaitan dengan kegiatan kampus seperti Perpustakaan, Data kemahasiswaan, Bahan Perkuliahan, dan lain-lain. Dari penjelasan diatas dengan semakin pentingnya TIK dalam kegunaannya menunjang proses perkuliahan baik itu dari segi administrative, data informasi, kommunikasi dan sumber informasi maka dari itu kami dari kelompok orkakom merasa perlu menangkatnya dalam sebuah makalah yang berjudul “ Pentingnya Peran TIK dalam Mengembangkan Dunia Pendidikan” 1.2 Rumusan Masalah : 1. Apa yang dimaksud dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam dunia pendidikan? 2. Mengapa TIK dibutuhkan dunia pendidikan? 3. Apa yang menjadi faktor diperlukannya TIK dalam dunia pendidikan Indonesia? 4. Apa saja pemanfaatan TIK didalam perguruan tinggi? 5. Apa saja peranan dan keuntungan dari teknologi TIK dalam dunia pendidikan? 6. Apa kendala-kendala dalam memanfaatkan TIK dalam dunia pendidikan?. 1.3 Kajian Teori : Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka (Mukhopadhyay M., 1995). sedangkan Bishop G. (1989) meramalkan bahwa pendidikan masa mendatang akan bersifat luwes (flexible), terbuka, dan dapat diakses oleh siapapun juga yang memerlukan tanpa pandang faktor jenis, usia, maupun pengalaman pendidikan sebelumnya. Tony Bates (1995) menyatakan bahwa teknologi dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan bila digunakan secara bijak untuk pendidikan dan latihan, dan mempunyai arti yang sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi. Dari pandangan teori para ahli di atas dapat kita disimpulkan bahwa dengan masuknya pengaruh globalisasi, pendidikan masa mendatang akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam. Suatu pendidikan jarak jauh berbasis web antara lain harus memiliki unsur sebagai berikut: (1) Pusat kegiatan siswa; sebagai suatu community web based distance learning harus mampu menjadikan sarana ini sebagai tempat kegiatan mahasiswa, dimana mahasiswa dapat menambah kemampuan, membaca materi kuliah, mencari informasi dan sebagainya. (2) Interaksi dalam grup; Para mahasiswa dapat berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan materi-materi yang diberikan dosen. Dosen dapat hadir dalam group ini untuk memberikan sedikit ulasan tentang materi yang diberikannya. (3) Sistem administrasi mahasiswa; dimana para mahasiswa dapat melihat informasi mengenai status mahasiswa, prestasi mahasiswa dan sebagainya. (4) Perpustakaan digital; Pada bagian ini, terdapat berbagai informasi kepustakaan, tidak terbatas pada buku tapi juga pada kepustakaan digital seperti suara, gambar dan sebagainya. Bagian ini bersifat sebagai penunjang dan berbentuk database. (5) Materi online diluar materi kuliah; Untuk menunjang perkuliahan, diperlukan juga bahan bacaan dari web lainnya. Karenanya pada bagian ini, dosen dan siswa dapat langsung terlibat untuk memberikan bahan lainnya untuk di publikasikan kepada mahasiswa lainnya melalui web. Teknologi informasi serta Komunikasi dewasa ini berkembang cepat menurut deret ukur. Dari tahun ke bulan, dari bulan ke minggu, dari minggu ke hari, dari hari ke jam, dan dari jam ke detik! Oleh karena itulah para cerdik-cendekia sepakat pada suatu argumen, bahwa: informasi memudahkan kehidupan manusia tanpa harus kehilangan kehumanisannya. Manusia tidak bisa lepas dari pendidikan yang sebenarnya juga merupakan kegiatan informasi, bahkan dengan pendidikanlah informasi ilmu pengetahuan dan teknologi dapat disebarluaskan kepada generasi penerus suatu bangsa. Pengaruh dari Teknologi informasi dan komunikasi terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan Teknologi informasi dan komunikasi ada lima pergeseran di dalam proses pembelajaran yaitu: • Pergeseran dari pelatihan ke penampilan, • Pergeseran dari ruang kelas ke di mana dankapan saja, • Pergeseran dari kertas ke “on line” atau saluran, • Pergeseran fasilitasfisik ke fasilitas jaringan kerja, • Pergeseran dari waktu siklus ke waktu nyata. Sebagai media pendidikan komunikasi dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb.Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Dengan adanya teknologi informasi sekarang ini guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa.Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet. E-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu: • E-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi, • Pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar, • Memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional. (Rosenberg 2001; 28) BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi di Dunia Pendidikan Teknologi informasi dan komunikasi mencakup dua aspek, yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi, mencakup segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan, teknologi komunikasi mencakup segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Maka, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah suatu kesatuan yang tidak terpisahkan yang mengandung pengertian luas tentang segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan dan transfer/pemindahan informasi antar media. Pengertian TIK bagi dunia pendidikan yaitu tersedianya sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan. Namun mengenai pemanfaatan TIK di Indonesia baru memasuki tahap pembelajaran. Telkom menyatakan akan terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas infrastruktur jaringan telekomunikasi yang diharapkan dapat menjadi tulang punggung bagi pengembangan dan penerapan TIK untuk pendidikan di Indonesia. Bahkan, saat ini telkom mulai mengembangkan teknologi untuk memfasilitasi penyelenggaraan konferensi jarak jauh sebagai salah satu aplikasi pembelajaran jarak jauh. Banyak aspek dapat diajukan untuk dijadikan sebagai alasan-alasan untuk mendukung pengembangan dan penerapan TIK untuk pendidikan. Kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan nasional. TIK sangat mampu dan dijagokan agar menjadi fasilitator utama untuk meratakan pendidikan di bumi Nusantara, sebab TIK yang mengandalkan kemampuan pembelajaran jarak jauhnya tidak terpisah oleh ruang, jarak dan waktu. Demi penggapaian daerah-daerahyang sulit tentunya diharapkan penerapan ini agar dilakukan sesegera mungkin. 2. Alasan Mengapa Teknologi Informasi dan Komunikasi Dibutuhkan Dunia Pendidikan Banyak hal yang dapat dijadikan alasan mengapa TIK sangat dibutuhkan dunia pendidikan, diantaranya: 1. Adanya perkembangan TIK yang menjadi jembatan ilmu. Salah satu peran TIK di era globalisasi ini adalah sebagai media informasi, misalnya internet. mahasiswa dapat mengeksplorasi informasi yang ada di seluruh dunia dengan lebih efisien dan efektif hanya dengan mengakses internet. 2. Selain peran TIK sebagai media informasi, perkembangan TIK dapat pula dimanfaatkan mahasiswa sebagai media komunikasi. Misalnya, memanfaatkan jaringan internet untuk chatting dan mailing, mahasiswa dapat berkomunikasi dengan saling bertukar informasi tentang apa yang sedang dibahas. Tidak hanya komunikasi antara mahasiswa, mahasiswa dengan dosen atau para ahli pun dapat dilakukan. Dengan cara ini, dosen akan dengan cepat mendapatkan ide dan pengalaman dari berbagai kalangan. 3. Dengan adanya perkembangan TIK, belajar menjadi jauh lebih efisien. Proses pembelajaran tidak harus selalu dengan bertatap muka seperti jaman dahulu. Kini, proses pembelajaran dapat dilakukan memanfaatkan perkembangan TIK yang ada, sehingga kita juga dapat efisien dalam menggunakan waktu. Untuk di Indonesia sendiri, disebabkan oleh kondisi geografis yang merupakan negara kepulauan, TIK sangat mampu menjadi fasilitator utama untuk meratakan pendidikan di Indonesia, karena TIK yang memiliki kemampuan untuk memungkinkan pembelajaran jarak jauh. Inilah sebabnya mengapa perkembangan TIK disebut dengan penghilang batas ruang dan waktu. Adanya fakta bahwa mahasiswa lebih termotivasi untuk belajar dengan metode belajar yang menggunakan fasilitas multimedia daripada metode belajar konvensional. 4. Berkembangnya TIK juga berperan dalam hal mengelola institusi pendidikan. Peran yang dimaksud adalah memudahkan institusi pendidikan untuk menyediakan layanan informasi untuk para mahasiswa, seperti informasi tentang biaya pendidikan, kurikulum, pembimbing, dan sebagainya. Serta untuk megelola manajemen operasional dengan lebih efisien, efektif, dan optimal. 3. Faktor-faktor Diperlukannya Teknologi Informasi dan Komunikasi di Indonesia Berikut adalah faktor-faktor mengapa TIK diperlukan dalam pendidikan Indonesia: Keterbatasan kualitas dan kuantitas sumber daya pendidikan di Indonesia. Beberapa contoh keterbatasan yang dimaksud adalah terbatasnya jumlah guru,dosen atau tenaga pendidikn dan terbatasnya jumlah referensi pendidikan yang dapat digunakan siswa maupun mahasiswa, terbatasnya jumlah perpustakaan yang dapat diakses, dan terbatasnya jumlah sarana dan prasarana pendidikan lainnya yang dapat menunjang kemajuan pendidikan. Ketidakmerataan kesempatan dalam memperoleh pendidikan yang merupakan hak setiap manusia. Permasalahan yang terkait dengan pemerataan kesempatan dalam memperoleh pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia dapat segera terwujud, dengan adanya konsep Universitas Terbuka yang mampu menjangkau daerah terpencil dapat segera diikuti dengan konsep “sekolah terbuka” atau “perpustakaan terbuka”, selama mahasiswa bersemangat untuk belajar dan institusi pendidikan mau merubah model pendidikannya. Maka, dengan bantuan TIK segala keterbatasan akan dapat diatasi. Model dan pendekatan pendidikan yang kurang relevan. Semakin cepatnya perkembangan dalam segala aspek di dunia ini, maka setiap manusia dan institusi pendidikan dituntut untuk terus selalu memperbaharui dirinya sesuai dengan kebutuhan perkembangan dunia. 4. Pemanfaatan TIK didalam Perguruan Tinggi Pesatnya perkembangan IT, khususnya internet, memungkinkan pengembangan layanan informasi yang lebih baik dalam suatu perguruan tinggi. Dilingkungan perguruan tinggi, pemanfaatan IT lainnya yaitu diwujudkan dalam suatu sistem yang disebut electronic university (e-University). Pengembangan University bertujuan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan, sehingga perguruan tinggi dapat menyediakan layanan informasi yang lebih baik kepada komunitasnya, baik didalam maupun diluar perguruan tinggi tersebut melalui internet. Layanan pendidikan lain yang bisa dilaksanakan melalui sarana internet yaitu dengan menyediakan materi kuliah secara online dan materi kuliah tersebut dapat diaksesoleh siapa saja yang membutuhkan. Hal ini juga tentunya sangat membantu bagi calon mahasiswa maupun mahasiswa atau bahkan alumni yang membutuhkan informasi tentang biaya kuliah, kurikulum, dosen pembimbing, atau banyak yang lainnya. Disamping lingkungan pendidikan, misalnya pada kegiatan penelitian kita dapat memanfaatkan internet guna mencari bahan atau pun data yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut melalui mesin pencari pada internet. 5. Peranan dan manfaat Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia Pendidikan TIK memiliki peranan yang cukup banyak dalam sektor pendidikan, diantaranya: 1. TIK sebagai pendukung manajemen pembelajaran. TIK sangat mendukung dalam hal mengelola pembelajaran, karena pada dasarnya tiap individu memerlukan dukungan pembelajaran yang tanpa henti. 2. TIK sebagai sistem pendukung keputusan. Dalam mengambil sebuah keputusan, setiap individu memiliki alasan tersendiri. Oleh sebab itu, diperlukan informasi berdasarkan fakta yang ada dalam mengambil sebuah keputusan. 3. TIK sebagai keahlian dan kompetensi. Maksudnya, penggunaan TIK harus proporsional atau TIK bisa masuk ke semua lapisan masyarakat tapi sesuai dengan porsinya masing-masing. 4. TIK sebagai infratruktur pembelajaran. Infrastruktur pembelajaran di sini maksudnya adalah tersedianya bahan belajar dalam format digital, jaringan adalah sekolah, sehingga belajar bisa dijangkau di mana saja dan kapan saja. 5. TIK sebagai sumber bahan belajar. Hal ini mengenai buku dan bahan belajar yang diperbaharui secara kontinyu dengan menggunakan teknologi. Karena tanpa teknologi, pembelajaran yang up-to-date membutuhkan waktu yang cukup lama. 6. TIK sebagai alat bantu dan fasilitas pembelajaran. Seperti yang kita ketahui, fasilitas TIK sangat membantu proses pembelajaran. Contohnya, dalam menyampaikan informasi, dengan menggunakan fasilitas multimedia informasi akan cepat sampai ke mahasiswa dengan lebih akurat karena dengan adanya berbagai fasilitas multidedia tersebut, mahasiswa lebih termotivasi untuk belajar dan mengeksplorasi pengetahuannya secara lebih luas Mewujudkan ide dan keinginan di atas dalam suatu bentuk realitas bukanlah suatu pekerjaan yang mudah tapi bila kita lihat ke negara lain yang telah lama mengembangkan web based distance learning, sudah banyak sekali institusi atau lembaga yang memanfaatkan metode ini. Bukan hanya skill yang dimiliki oleh para engineer yang diperlukan tapi juga berbagai kebijaksanaan dalam bidang pendidikan sangat mempengaruhi perkembangannya. Jika dilihat dari kesiapan sarana pendukung misalnya hardware, maka agaknya hal ini tidak perlu diragukan lagi. Hanya satu yang selalu menjadi perhatian utama pengguna internet di Indonesia yaitu masalah bandwidth(nilai hitung atau perhitungan konsumsi transfer data telekominikasi yang dihitung dalam satuan bit perdetik atau biasa disebut bps dalam jaringan komputer, tentunya dengan bandwidth yang terbatas ini mengurangi kenyamanan khususnya pada non text based material. Di luar negeri, khususnya di negara maju, pendidikan jarak jauh telah merupakan alternatif pendidikan yang cukup digemari. Metode pendidikan ini diikuti oleh para mahasiswa, karyawan, eksekutif, bahkan ibu rumah tangga Beberapa tahun yang lalu pertukaran materi dilakukan dengan surat menyurat, atau dilengkapi dengan materi audio dan video. Saat ini hampir seluruh program distance learning di Amerika, Australia dan Eropa dapat juga diakses melalui internet. Studi yang dilakukan oleh Amerika, sangat mendukung dikembangkannya e-learning, menyatakan bahwa computer based learning sangat efektif, memungkinkan 1. pendidikan lebih baik, 2. waktu lebih singkat, dan 3. biaya lebih murah. Bagi sebagian besar mahasiswa di dunia, uang kuliah untuk memperoleh pendidikan yang terbaik umumnya masih dirasakan mahal. Amat disayangkan apabila ada mahasiswa yang pandai di kelasnya tidak dapat meneruskan sekolah hanya karena tidak mampu membayar uang kuliah. Informasi beasiswa merupakan kunci keberhasilan dapat menolong mahasiswa yang berpotensi tersebut. 6. Usaha Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia Pendidikan di Indonesia TIK dalam dunia pendidikan digunakan untuk menunjang proses pembelajaran. Berikut adalah beberapa pemanfaatan TIK dalam pembelajaran: 1. Memanfaatkan fasilitas multimedia yang sudah tersedia untuk mempermudah kegiatan yang dilakukan selama proses pembelajaran. Misalnya, untuk presentasi. Jika dahulu presentasi hanya menggunakan media OHP yang monoton, sekarang presentasi sudah dapat ditampilkan dengan LCD projector dan dibuat lebih kreatif dengan menampilkan berbagai konten multimedia, seperti gambar, video, suara, dan sebagainya. 2. Memanfaatkan internet untuk proses pembelajaran jarak jauh (kelas virtual). Kelas virtual ini sudah menjadi tren di era globalisasi sekarang. Karena kelas virtual mmiliki beberapa keuntungan, seperti: mahasiswa dapat mengekspresikan diri, bersosialisasi, saling berbagi pengetahuan, meningkatkan kreativitas, dan menumbuhkan cara belajar yang mandiri. 3. Memungkinkan mahasiswa untuk berdemonstrasi dengan perangkat multimedia yang ada. Misalnya, menampilkan suatu kegiatan eksperimen dengan tujuan untuk memperlihatkan bagaimana cara yang dilakukan dalam eksepimen tersebut. 6. Usaha Yang Dilakukan untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi di Indonesia Berikut adalah berbagai macam usaha yang dilakukan guna meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia dengan memanfaatkan perkembangan TIK: 1. Adanya siaran televisi pendidikan di Indonesia. Pada tahun 1982, Indonesia telah memiliki perlengkapan studio yang sudah profesional beserta tenaga ahli yang terampil dalam memproduksi dan mengembangkan prototype program televisi pendidikan. Setahun kemudian, barulah muncul serial televisi pendidikan pertama di Indonesia berjudul Aku Cinta Indonesia. Namun sungguh disayangkan program edukasi seperti ini tidak terus berkembang. Padahal televisi sudah dapat kita sebut sebagai kebutuhan primer, karena hampir setiap rumah memiliki televisi. Dan mahasiswa pun suka menonton televisi. Hanya saja yang kita rasakan sekarang ini jarang sekali terdapat siaran edukasi di televisi lokal Indonesia. 2. Pengadaan infrastruktur TIK ke lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Hal ini bertujuan agar mahasiswa dapat belajar menggunakan dan memanfaatkan teknologi sebaik mungkin agar tidak tertinggal dengan perkembangan zaman yang semakin pesat. 3. Adanya satelit komunikasi yang dimiliki Indonesia, yang bernama SKSD PALAPA I yang sudah mulai beroperasi pada tahun 1976. Satelit komunikasi ini terus berkembang sampai sekarang dengan dasar pertimbangan untuk keperluan pendidikan, penerangan, hiburan, pemerintahan, bisnis, perindustrian, dan pertahanan keamanan. Sekarang sedang beroperasi SKSD Palapa yang sudah mencapai generasi III, dalam waktu dekat ini diharapkan dapat beroperasi satelit siaran langsung yang dioperasikan oleh pihak swasta. Selain itu, antena parabola sudah menjamur dalam masyarakat yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi dari luar negeri. Namun, kita harus selektif dalam memilih informasi. Karena tidak dapat dipungkiri dampak positif dan negatif suatu informasi mengalir semakin deras. 7. Keuntungan Adanya Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia Pendidikan Munculnya TIK membawa beberapa keuntungan, terutama di sektor pendidikan. Berikut adalah keuntungan yang dirasakan dunia pendidikan dengan adanya TIK: 1. dimanfaatkan orang lain di penjuru dunia dengan cepat. 2. Konsultasi dengan para ahli, konsultasi dangan para ahli di bidangnya dapat dilakukan dengan mudah walaupun terpisah jarak yang jauh. 3. Perpustakaan online (e-library), perpustakaan dalam bentuk digital ini memungkinkan kita agar mudah dalam mencari referansi buku yang kita inginkan. Jadi kita tidak harus mengunjungi perpustakaan dan mencari buku yang kita inginkan secara manual. 4. Diskusi online, diskusi yang dilakukan melalui internet berupa chat, e-mail, dan forum. Kemudian keuntungan yang dirasakan dunia pendidikan dengan adanya TIK bagi mahasiswa, antara lain: 1. Dapat mengakses berbagai informasi dan memperoleh sumber ilmu pengetahuan dengan mudah. 2. Akses ke para ahli lebih mudah karena tidak dibatasi jarak dan waktu. 3. Materi perkuliahan dapat disampaikan interaktif dan menarik. 4. Melalui belajar jarak jauh dapat menghemat biaya dan waktu. Lalu keuntungan yang dirasakan dunia pendidikan dengan adanya TIK bagi penyelenggara pendidikan, antara lain: 1. Dapat berbagi informasi dan hasil penelitian dengan lembaga pendidikan lain. 2. Dapat memberi layanan yang lebih baik kepada para mahasiswa. 3. Dapat menjangkau ke tempatnya sangat jauh. 4. Melalui perpustakaan online, dapat menekan biaya untuk menyediakan buku. 8. Kendala dalam Usaha Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia Pendidikan Indonesia Perkembangan TIK memang memiliki banyak manfaat, khususnya dibdang pendidikan. Oleh sebab itu, banyak orang yang ingin segera bisa memanfaatkannya. Namun, tidak bisa dipungkiri pemanfaatan TIK di dalam sektor pendidikan memiliki beberapa kendala, di antaranya: 1. Kurangnya pengadaan infrastruktur TIK. Hal ini disebabkan sulit dijangkaunya beberapa daerah tertentu di Indonesia, sehingga penyebarannya tidak merata. Masih banyak daerah yang sulit dijangkau oleh alat transportasi. Untuk mencapai daerah yang dituju, hanya dapat ditempuh dapat dengan jalan kaki. Sedangkan dengan berjalan kaki, tidak memungkinkan untuk membawa berbagai peralatan multimedia. 2. Masih digunakannya perangkat multimedia bekas di lembaga-lembaga pendidikan yang terdapat di daerah pedesaan. Perangkat multimedia bekas ini tentunya masih menggunakan spesifikasi yang sudah tertinggal jamannya. Sehingga penggunaannya tidak mampu bersaing dengan laju perkembangan TIK yang begitu pesat. 3. Kurangnya infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukum yang mengaturnya. Sebab, Cyber Law belum diterapkan di dunia hukum Indonesia. 4. Mahalnya biaya pengadaan dan penggunaan fasilitas TIK. Hal ini dikembalikan lagi kepada pemerintah. Dapat kita lihat pemerintah masih pelit mengalokasikan dana untuk pengadaan fasilitas TIK yang dapat menunjang pendidikan Indonesia. Sebagai contoh, pengadaan fasilitas di daerah pedesaan masih sangat minim. Sementara di kota sudah hampir merata, terutama di lembaga-lembaga pendidikan unggulan. Ada beberapa kendala yang menyebabkan TIK dan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin. Kesiapan pemerintah terutama menteri pendidikan dan juga menteri informasi dan komunikasi yang masih patut dipertanyakan dalam hal ini. Salah satu kendala utamanya : kurangnya ketersediaan sumber daya manusia untuk melakukan proses transformasi teknologi, dan menyediakan infrastruktur telekomunikasi beserta perangkat hukumnya yang mengaturnya. Selain itu masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi yang merupakan prasyarat terselenggaranya TIK untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) masih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia. Untuk itu perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itu tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolah, bahkan melalui warung Internet. Hal ini tentunya diperhadapkan kembali kepada kesiapan pihak pemerintah maupun pihak swasta; Yang pada akhirnya pemerintahlah yang memegang kunci keberhasilan penerapannya. BAB III PENUTUP Perkembangan teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, sehingga akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Perkembangan teknologi informasi memperlihatkan bermunculannya berbagai jenis kegiatan yang berbasis pada teknologi ini.Keadaan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan yang sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan elektronik.Pemanfaatan teknologi informasi juga telah merambah dalam bidang pendidikan.Teknologi ini sangat pantas digunakan dalam lingkungan akademis karena dapat memberikan berbagai bantuanyang sangat bermanfaat dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.Fungsi dari teknologi informasi untuk pendidikan adalah untuk menjamin kualitas pendidikan di Indonesia. Pemanfaatan teknologi informasi dalam proses pendidikan, dengan sasaran yang secara cermat dipilih, bahan ajar yang berkualitas, serta metodologi pengajaran yang tepat, akan mampu mendukung proses pemerataan dan mengurangi kesenjangan antar daerah. Pencapaian tujuan ini mampu mendukung proses pemerataan dan mengurangi kesenjangan antar daerahDari penjelasan yang telah dipaparkan, dapat kita tarik kesimpulan bahwa teknologi informasi dan komunikasi (TIK) membawa pengaruh yang begitu besar bagi setiap aspek kehidupan, terutama pendidikan. Kekurangan dan hambatan yang ada dalam proses pembelajaran dapat diatasi dengan memanfaatkan perkembangan TIK.

Sistem Pendidikan Dan Pengembangan Teknologi Jepang  Maret 22, 2010

Filed under: kebudayaan jepang — Tangguh Alamsyah @ 2:26 am

PENDIDIKAN

1.1. Sejarah

Sebelum Restorasi Meiji, Jepang melaksanakan pendidikannya berdasarkan sistem masyarakat feodal, yaitu pendidikan untuk samurai, petani, pedagang, serta rakyat jelata. Kegiatan ini dilaksanakan di kuil dengan bimbingan para pendeta Buddha yang terkenal dengan sebutan Terakoya (sekolah Kuil).

Namun, semenjak Restorasi Meiji dikibarkan, bagai bola salju, pemerintah Jepang terus “menggelindingkan” aneka ragam kebijaksanaannya dengan mulai giat menerjemahkan dan menerbitkan pelbagai macam buku, diantaranya mengenai ilmu pengetahuan, sastra, dan filsafat. Para pemuda banyak dikirim ke luar negeri untuk belajar sesuai dengan bidangnya masing-masing, tujuannya jelas yaitu mencari ilmu dan menanamkan keyakinan bahwa Jepang akan dapat “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah” dengan kemajan bangsa Barat.

Dari upaya tersebut lahirlah tokoh modernisasi pendidikan Jepang era Meiji seperti Fukuzawa Yukichi, yang punya gagasan cemerlang. Gagasan tersebut tercetus dalam bukunya yang berjudul Gakumon no Susume (Jepang: di antara Feodalisme dan Modernisasi) menyatakan pada bagian pendahulan buku tersebut “Sebagai jalan yang paling ampuh untuk mencapai tujuan negara adalah melalui pendidikan sebab Tuhan tidak menempatkan manusia yang lain. Kalau kenyataan dalam masyarakat ada yang bekedudukan yang lebih tinggi dan ada pula yang berkedudukan lebih rendah. Prebedaan ini disebabkan karena yang berkedudukan tinggi telah mementingkan pendidikan, sedangkan yang rendah sebaliknya”.

Kemajuan bangsa Jepang bertambah tajam sesudah tentara pendudukan Amerika Serikat (AS) –setelah Jepang kalah perang pada PD II- banyak memberikan dorongan pada bangsa Jepang untuk mencurahkan perhatiannya pada bidang pendidikan. Struktur baru pendidikan itu mencakup empat hal pokok.

Pertama, sekolah dasar (SD) wajib selama enam tahun dan tidak dipungut biaya. Bertujuan untuk menyiapkan anak menjadi warga negara yang sehat, aktif menggunakan pikiran, dan mengembangkan kemampuan pembawaannya. Kedua, setelah SD ada sekolah lanjutan pertama selama tiga tahun, punya tujuan untuk mementingkan perkembangan kepribadian siswa, kewarganegaraan, dan kehidupan dalam masyarakat serta mulai diberikan kesempatan belajar bekerja. Ketiga, sekolah lanjutan atas selama tiga tahun. bertujuan untuk menyiapkan siswa masuk perguruan tinggi dan memperoleh keterampilan bekerja. Keempat, universitas harus berperan secara potensial dalam mengembangkan pikiran liberal dan terbuka bagi siapa saja, bukan pada sekelompok orang.

Munculnya struktur baru pendidikan di Jepang yang dikembangkan Amerika Serikat merupakan bentuk “revisi” dari struktur pendidikan lama yang sudah ada sebelum PD II.

Kegiatan Jepang dalam mencerdaskan bangsanya telah menuai hasil yang signifikan. Korelasi antara majunya pendidikan Jepang dan kemajuan industrinya benar-benar terwujud. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberhasilan bangsa Jepang tumbuh menjadi negara industri utama di Asia, yang kedudukannya sejajar dengan bangsa Barat lain seperti Inggris maupun Perancis.

1.2. Sistem Pendidikan Jepang

Jepang adalah salah satu negara yang memiliki standar pendidikan tertinggi di dunia dan merupakan negara yang memiliki rata-rata kemampuan menulis dan membaca tertinggi di dunia. Sekitar 93% siswa Jepang masuk Sekolah Menengah Atas, dan hampir seluruhnya lulus.

Pada dasarnya, sistem pendidikan Jepang merupakan perpaduan sistem pendidikan Inggris, Perancis, dan AS. Alur dasar pendidikan di Jepang adalah:

Taman kanak-kanak (遊地園)

Sekolah Dasar (小学校)

Sekolah Menengah Pertama (中学校)

Sekolah Menengah Atas (高校;高等学校)

Universitas (大学)

Pascasarjana (大学院)

Akan tetapi, setelah sekolah lanjutan pertama, ada beberapa pilihan sekolah lanjutan.

Untuk lebih jelasnya, alur pendidikan Jepang dapat dilihat pada bagan sepeti dibawah ini:

Japanese Education System

(sumber: situs Kementerian Pendidikan, Budaya, Olah raga, Sains dan Teknologi Jepang)

1.3. Sekolah Jepang

Sekolah Jepang hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama hampir semuanya merupakan sekolah negeri (kurang dari 5% merupakan swasta). Sampai SMP, siswa belajar di sekolah yang terdekat dengan rumahnya. Namun, SMA mencakup area yang lebih luas lagi: yang artinya ada persaingan diantara sekolah untuk mendapatkan pelajar terbaik di area tersebut, dan diantara pelajar untuk mendapatkan sekolah terbaik. Lebih dari ¼ SMA merupakan sekolah swasta. Yang menunjukan persaingan lebih ketat dalam pendidikan yang lebih tinggi di Jepang: orang tua akan mengeluarkan biaya yang lebih bagi pendidikan anaknya.

Sudah diketahui secara luas bahwa kehidupan masyarakat Jepang sangat ditentukan oleh universitas tempat dia belajar. Dengan masuk universitas yang tepat, akan membawanya pada pekerjaan dengan gaji yang baik pada salah satu perusahaan besar terbaik. Namun, meningkatnya persaingan diantara sekolah berarti tekanan ini maju kedalam tingkatan yang lebih dini lagi dan sekarang banyak yang berpendapat bahwa masa depan seseorang ditentukan mulai usia 12 atau 15 tahun dengan masuk SMP yang tepat.

Tekanan yang besar tersebut bagi sebaian besar siswa merupakan hal yang sangat memberatkan, sehingga pada masa sekarang ini tak jarang terjadi banyak gangguan sosial dan psikologis yang melanda para siswa.

1.3.1. Taman Kanak-Kanak

Meski merupakan sekolah pilihan, pada tahun 2000, siswa yang masuk Sekolah Dasar 63% diantaranya merupakan lulusan Taman Kanak-Kanak. Hal ini menunjukan bahwa lebih dari setengah jumlah anak-anak di Jepang memulai pendidikannya lebih awal daripada yang diharuskan oleh negara. Pemerintah Jepang menargetkan untuk menambah jumlah TK, sebagai bagian dari program agar para ibu dapat bekerja. Tren pendidikan sangat dini ini meningkat dengan adanya tambahan mata pelajaran khusus termasuk bahasa Inggris. Namun, fakta bahwa jumlah anak yang lulus dari TK dan SMP telah menurun sebanyak ¼ selama sepuluh tahun terakhir menunjukan masalah kependudukan Jepang di masa yang akan datang.

1.3.2. Sekolah Dasar

Mulai usia 6 tahun hingga usia 12 tahun, merupakan tingkat pertama dari wajib belajar di Jepang. Hampir semua anak-anak Jepang masuk tahap pendidikan ini. Seragam yang digunakan merupakan standar di seluruh Jepang, maka anak kecil dengan topi baseball kuning, payung kuning cerah, jas hujan kuning cerah, dll. Berjalan di sepanjang kota di Jepang semuanya adalah siswa Sekolah Dasar. Biasanya terlihat seperti kawanan besar yang berjalan berpasangan sambil berpegangan tangan atau kelompok kecil yang saling bertukar kartu Pokemon.

1.3.3. Sekolah Menengah Pertama

Dari usia 12 tahun hingga 15 tahun, merupakan tahap yang sangat penting bagi anak-anak Jepang. Tergantung pada SMP yang dipilih, dapat membantunya masuk SMA yang baik dan selanjutnya Universitas yang baik dan karir yang cemerlang. Pada masa ini anak biasanya tetap di sekolah hingga larut, sibuk dengan kegatan klub yang beragam atau belajar di Juku.

1.3.4. Sekolah Menengah Atas

Merupakan puncak tekanan bagi siswa dalam sistem pendidikan Jepang dari usia 15 tahun hingga 18 tahun, untuk masuk SMA dilakukan dengan sistem ujian masuk. Persiapan menghadapi ujian tersebut, tentu saja dengan cara masuk Juku yang baik. Untuk dapat masuk universitas yang terbaik, tentu saja harus melalui SMA yang tepat, maka ujian masuk SMA merupakan momen paling besar  dalam karir masa depan seorang siswa. Dengan jumlah sekolah swasta yang makin banyak (saat ini seperempat diantaranya merupakan sekolah swasta) dan tekanan untuk mendapatkan yang terbaik makin bertambah, biaya pendidikan makin membebani orang tua lebih banyak lagi. Tekanan ini lambat laun bergeser menjadi mulai dari tingkat SMP. Meski bukan pendidikan wajib, lebih dari 90% dari seluruh siswa lulusan SMP masuk SMA.

SMA paruh waktu

Dalam beberapa kasus, dimana siswa bekerja, mereka diperbolehkan untuk masuk kelas sore dibandingkan sekolah normal. Kelas ini dimulai pada sore hari, dan membutuhkan waktu 4 tahun untuk menyelesaikan pendidikan SMA-nya, dibandingkan 3 tahun seperti SMA pada umumnya.  Kelas biasanya berlangsung hingga jam 9 malam atau lebih, dibandingkan siswa SMA biasa, siswa SMA paruh waktu secara sosial lebih dewasa dan perhatian pada pendidikannya – mungkin dikarenakan sekolah malam merupakan kegiatan sukarela dan sebuah komitmen diperlukan untuk menyelesaikan program tersebut, dimana SMA biasa lebih dikarenakan kehendak orang tua.

Juku (Sekolah Bimbingan)

Tekanan pada sistem pendidikan di Jepang amatlah tinggi, dan masa depan seorang anak sangat ditentukan oleh sekolah dan universitas pilihannya dimulai pada usia sangat muda (dalam beberapa kasus dimulai dari usia 10 tahun) kehidupan sekolah seorang anak tidak berakhir dengan bel sekolah. Setelah latihan piano dan biola, basket atau sepak bola, kendo atau judo, memanah atau bahasa Inggris, matematika atau seni atau salah satu dari lusinan klub lainnya yang terdapat di sekolah, banyak siswa yang mengikuti bimbingan belajar yang disebut “Juku”. Yang memberi dorongan bagi siswa cemerlang atau membantu siswa lainnya agar tak tetinggal. Kelas ini biasanya berlangsung hingga larut malam, dan 12 jam sehari bukan merupakan hal yang aneh bagi siswa di Jepang (sebelum ditambah oleh pekerjaan rumah).

Sekolah Lain

Terdapat banyak sekali pilihan, termasuk Seimon Gakkou (sekolah teknik atau kejuruan), pendidikan diploma, dan yang lainnya. Seimon Gakkou memberikan kesempatan untuk mengabungkan pelajaan SMA dengan program keahlian – yang umumnya adalah mekanik motor, tata rambut, arsitektur dan sebagainya-. Biasanya berlangsung selama 4 tahun, dan dimulai setelah SMP. Beberapa Seimom Gakkou sangat kompetitif. Akademi menawarkan pendidikan gaya universitas yang ditempuh selama 2 tahun. Hampir 90% mahasiswa Akademi adalah wanita, sementara hanya 40% mahasiswa universitas adalah wanita, satu dari beberapa ketidakseimbangan sistem pendidikan di Jepang.

1.3.5. Universitas dan Pascasarjana

Universitas sebagai suatu pusat pendidikan bertujuan untuk menyelenggarakan pengajaran dan studi untuk bidang-bidang professional dan seni serta memberi pengetahuan luas dan mengembangkan intelektual, moral dan kemampuan berpraktek. Universitas melaksanakan program empat tahun disebut sebagai program sarjana.  Pada prinsipnya mereka yang sudah menyelesaikan pelajaran di tingkat sekolah menengah atau yang telah menyelesaikan sekolah selama dua belas tahun sebagai program yang biasa dilakukan, mempunyai kualifikasi untuk melamar ke universitas.

Program Pascasarjana di Jepang seperti juga di negara maju lainnya bertujuan untuk menyelenggarakan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi (advanced) tentang teori dan penerapan dari suatu bidang keahlian, menguasai secara mendalam bidang keahlian tersebut dan memberikan kontribusi terhadap pengembangan budaya.

Pendidikan Pasca sarjana terdiri atas Program Magister (Sushi Katei) selama dua tahun dan Program Doktor (Hakushi Katei) selama tiga tahun.

1.4. Kurikulum

1.4.1. Penyusunan Kurikulum

Di Jepang kurikulum disusun oleh sebuah komite khusus dibawah kontrol Kementerian Pendidikan (MEXT).  Komisi Kurikulum terdiri dari wakil dari Persatuan Guru, praktisi dan pakar pendidikan, wakil dari kalangan industri, dan wakil MEXT.  Komisi ini bertugas mempelajari tujuan pendidikan Jepang yang terdapat dalam Hukum Dasar Pendidikan (Kyouiku kihonhou), lalu menyesuaikannya dengan perkembangan yang terjadi baik di dalam maupun luar negeri.

Pembaharuan kurikulum di Jepang berlangsung setiap 10 tahun sekali, dan kurikulum yang diterbitkan di tahun 1998 adalah pembaharuan ketujuh sejak kurikulum yang diterapkan pada Perang Dunia II.

Kurikulum 1998 membawa angin baru dalam dunia pendidikan Jepang.  Kurikulum ini berbeda dengan kurikulum sebelumnya berdasarkan konsep yang dibawanya yaitu pendidikan yang berorientasi kepada pengembangan beragam kepribadian siswa, bukan seperti sebelumnya yaitu common education, atau pendidikan yang sama untuk semua siswa.

Guru-guru di Jepang sejak perang percaya bahwa pendidikan harus bersifat massal dan sama, bahkan pendidikan yang menjurus kepada kekhasan tertentu atau menerapkan pola/metode yang lain daripada yang lain dianggap salah.  Guru-guru Jepang senantiasa menjaga imej bahwa semua siswa harus memiliki prestasi yang sama, kedisiplinan yang sama dengan sistem pendidikan yang serupa.  Namun adanya kurikulum baru menyadarkan mereka bahwa setiap anak punya potensi yang berbeda dengan lainnya, dan inilah yang harus dibina.

Kurikulum yang baru bersifat fleksibel dan memungkinkan sekolah untuk meramu kurikulum sendiri berdasarkan kondisi daerah, sekolah dan siswa yang mendaftar. Sebagai contoh, di SMP, selain mata pelajaran wajib, siswa juga ditawarkan dengan mata pelajaran pilihan.

Dengan adanya kurikulum baru ini, training besar-besaran dilakukan untuk mengubah pola pikir guru-guru Jepang.  MEXT juga merevisi beberapa buku pelajaran, dan secara hampir bersamaan mengusulkan pemberlakuan 5 hari sekolah dan adanya jam khusus untuk pengembangan jiwa sosial siswa melalui integrated course atau sougoteki jikan.

Kurikulum di level sekolah disusun dengan kontrol penuh dari Komisi Pendidikan di Tingkat Prefektur dan municipal (distrik).  Karena kedua lembaga ini masih terkait erat dengan MEXT, maka pengembangan kurikulum Jepang masih sangat kental sifat sentralistiknya.  Namun rekomendasi yang dikeluarkan oleh Dewan Pendidikan Pusat (chuuou shingi kyouiku kai) pada tahun 1997 memungkinkan sekolah berperan lebih banyak dalam pengembangan kurikulum di masa mendatang.

Beberapa hal berikut harus diperhatikan ketika sekolah menyusun kurikulumnya :

  1. Mengacu kepada standar kurikulum nasional
  2. Mengutamakan keharmonisan pertumbuhan jasmani dan rohani siswa
  3. Menyesuaikan dengan lingkungan sekitar
  4. Memperhatikan tahap perkembangan siswa
  5. Memperhatikan karakteristik pendidikan/jurusan pada level SMA

Secara garis besar penyusunan kurikulum sekolah adalah sebagai berikut :

  1. Menetapkan tujuan sekolah
  2. Mempelajari standar kurikulum, dan korelasinya dengan tujuan sekolah
  3. Menyusun mata pelajaran wajib dan pilihan untuk SMP dan SMA
  4. Mengalokasikan hari efektif sekolah dan jam belajar.

1.4.2. Penerapan Kurikulum

Kurikulum sekolah di Jepang meliputi tiga aspek yaitu, Mata Pelajaran (kamoku), Pendidikan Moral (doutoukukyouiku) dan ekstra kurikuler. Mata pelajaran terdiri dari mata pelajaran wajib di SD, dan mata pelajaran wajib dan pilihan di SMP dan SMA. Pendidikan moral bukan berupa mata pelajaran khusus seperti di Indonesia, tetapi berupa guidance dan konseling selama 1 jam pelajaran dalam seminggu yang dilakukan oleh guru wali kelas. Tidak ada penilaian atau nilai raport untuk mata pelajaran ini.  Ekstra kurikuler berupa kegiatan olah raga, seni, kegiatan OSIS, atau event sekolah.

Angka di dalam kurung menunjukkan jumlah jam pelajaran per tahun yang berlaku sejak tahun 2002 hingga saat ini.

Studi terpadu juga bukan pelajaran khusus yang akan diujikan kepada siswa, tetapi dalam laporan hasil belajar ada penjelasan tentang apa saja kegiatan yang telah dilakukan/diajarkan kepada siswa selama jam-jam tersebut.

Beberapa SMP dan SMA menawarkan pelajaran pilihan kepada siswa, sesuai dengan minat mereka, tetapi pelajaran pilihan ini tidak diwajibkan kepada sekolah untuk menyelenggarakannya.

1.5. Kegiatan sekolah

1.5.1. Tahun ajaran Baru

Tahun ajaran baru dimulai pada bulan April dan berakhir pada bulan Maret tahun berikutnya. Orang tua yang memiliki anak yang telah atau akan berusia 6 tahun pada bulan April tahun tersebut, pada sekitar bulan Januari akan mendapat surat pemberitahuan masuk sekolah lewat surat dari Komisi Pendidikan setempat, isinya tentang nama sekolah dan tanggal masuk.

Selama masa wajib belajar, tiap orang tua siswa dibebaskan dari biaya pendidikan dan buku. Tetapi biaya karyawisata, kegiatan klub, dan sebagainya harus dibayar sendiri.

Ada liburan 2 minggu pada akhir/awal tahun dan musim semi, kemudian ada liburan musim panas sekitar 40 hari dari akhir Juli hingga akhir Agustus.

1.5.2. Hari Pertama

Pada umumnya, hari pertama sekolah diisi oleh sambutan kepala sekolah. Seluruh siswa, guru, dan staf sekolah berkumpul dalam sebuah lapangan atau gedung oleh raga untuk mendengarkan sambutan awal tahun yang dilakukan oleh Kepala Sekolah atau guru yang berwenang.

1.5.3. Seragam

Dalam satu tahun ajaran, siswa Jepang memiliki 2 macam seragam sekolah. Yaitu seragam musim panas dan seragam musim dingin. Seragam musim panas biasanya berbahan ringan dan modelnya cenderung lebih pendek. Seragam musim dingin merupakan jenis seragam yang paling lama dipakai, yaitu mulai tanggal 1 Oktober hingga tanggal 31 Mei.

1.5.4. Fasilitas sekolah

Hampir semua sekolah, mulai dari SD hingga SMA, bahkan perguruan tinggi, memilki sarana dan fasilitas yang sangat lengkap. Seluruh sekolah memiliki lapangan olahraga, gedung olah raga dan kesenian, kantin, laboratorium, gedung pemeliharaan tumbuhan, dan lain sebagainya.

Dikarenakan hal tersebut, jarang sekali sebuah sekolah berdiri dalam sebidang tanah yang sempit (seperti yang terjadi di Indonesia).

Yang unik dari sekolah Jepang adalah setelah pintu masuk sekolah, terdapat sebuah aula besar dengan rak sepatu yang berjajar. Di aula tersebut setiap orang melepas sepatu yang mereka pakai dan menggantinya dengan sandal khusus. Tujuannya adalah selain untuk menjaga kebersihan sekolah, juga sebagai media untuk membuat seluruh warga sekolah merasa memiliki derajat yang sama tanpa membedakan kaya-miskinnya seseorang.

1.5.5. Makan Siang

Di sekolah dasar, para siswa makan siang bersama dalam kelas mereka, menikmati makanan yang disiapkan oleh sekolah atau oleh “pusat makan sekolah”. Makan siang sekolah mengandung beragam macam makan yang sehat dan begizi, dan para siswa menanti-nantikan waktu makan siang mereka.

Namun jika dirasa makanan yang disediakan sekolah membosankan, para siswa diperkenankan untuk membawa sendiri bekal makanan mereka dari rumah yang dikenal dengan istilah “bento”. Yang cukup menarik menegnai makan siang di sekolah adalah sekelompok kecil siswa secara bergiliran menyiapkan makan siang untuk teman sekelasnya.

1.5.6. Festival Kebudayaan dan Olah Raga

Jepang memiliki banyak hari peringatan dan festival. Seperti di Indonesia, sekolah Jepang pun tidak ketinggalan dalam memperingati hari besar tersebut.

Setiap sekolah mengadakan festival kebudayaan , setiap kelas dan klub berlomba-lomba membuat acara atau mendekor kelasnya sebaik mungkin. Pada hari itu banyak orang tua murid yang datang untuk melihat. Jika diibaratkan, hari kebudayaan sama dengan Open House sekolah tersebut.

Pada hari olah raga, setiap sekolah mengadakan pertandingan olah raga antar kelas. Pertandingan yang diadakan, namun tidak mutlak, meliputi; tarik tambang, lari berpasangan dengan tiga kaki, lari estafet, kuda-kudaan, memasukan bola dalam keranjang, dan banyak lagi yang lainnya.

1.5.7. Kegiatan Klub

Meskipun tidak bersifat wajib, hampir semua siswa di Jepang mengikuti kegiatan klub yang ada di sekolahnya.

Terdapat banyak sekali klub yang bisa diikuti oleh para siswa. Mulai dari klub yang umum seperti: kendo, judo, tenis, melukis, musik, sepak bola, drama, fotografi hingga klub-klub “unik” seperti: manga, pecinta bunga, pecinta film, klub makan, kelompok penggemar artis.

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI

Sejak Perang Dunia II, Pembangunan teknologi dibagi atas beberapa tahap. Akhir tahun 1940-an hingga tahun 1950-an, pembangunan ditekankan pada pembangunan infrastruktur, seperti pembangunan tempat-tempat riset dan sebagainya, dan pengumpulan teknologi dari luar negeri. Pada saat inilah banyak pemuda-pemuda Jepang yang dikirim ke luar negeri untuk belajar. 10 tahun berikutnya adalah tahap mencoba untuk melakukan riset sendiri. Pada tahun 1970-an, Jepang memusatkan pada masalah teknologi yang bersifat ramah lingkungan dan juga penghematan energi. Dan mulai tahun 1980-an, penekanan pembangunan dilakukan pada kreativitas dalam sains dan teknologi itu sendiri.

Jepang merupakan negara yang banyak mengeluarkan dana untuk riset dan pembangunan teknologi. Pada tahun 1993 tercatat dana yang dikeluarkan untuk riset dan teknologi mencapai 13.7 trilyun yen. Angka ini merupakan 2.9% dari total GNP negara ini pada saat itu. Dari persentase ini, 79% dikeluarkan dari sektor swasta.

Beberapa proyek teknologi yang berskala besar di Jepang saat ini:

  1. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Pada tahun 1995, Jepang memiliki 45 reaktor nuklir pembangkit listrik. Reaktor-reaktor ini menyediakan sekitar 46 juta kilowatt per tahun, atau sekitar 33% dari total energi yang dibutuhkan Jepang per tahunnya. Pada saat ini penelitian dan pengembangan pada bidang ini masih tetap dilakukan sehingga ditargetkan pada tahun 2010, pembangkit listrik tenaga nuklir akan mensuplai 71 juta kilowatt, atau sekitar 41% dari total listrik yang diperlukan per tahunnya.

  1. Kereta

Jepang merupakan negara yang maju dalam hal perkeretaan. Untuk kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, hampir seluruh tempat di kota ini yang bisa dicapai dengan menggunakan kereta. Untuk kereta antar kota, disamping kereta biasa tersedia pula kereta ekspress, shinkansen. Shinkansen pertama kali diluncurkan pada tahun 1964, berbarengan dengan diadakannya olimpiade di Tokyo. Hal itu merupakan bukti kesiapan Jepang dalam menjadi tuan rumah olimpiade pada saat itu. Dengan kecepatan yang mencapai 300 km/jam, dalam waktu yang singkat dapat menempuh waktu yang jauh. Tidak hanya itu, saat ini Jepang sedang melakukan riset dan tes uji coba tahap akhir kereta super cepat, Maglev. Kereta ini dapat menempuh kecepatan 500 km/jam.

  1. Teknologi Antariksa

Pada tahun 1995, Jepang telah meluncurkan 58 satelit ke luar angkasa untuk bermacam-macam tujuan. Observasi cuaca, komunikasi, dan lain-lain. Walaupun demikian, Jepang belum pernah menerbangkan pesawat antariksanya sendiri walau astronot-astronotnya sudah beberapa kali terbang ke luar angkasa. Karena itulah pada saat ini penelitian di bidang ini sedang digalakkan. Salah satu contohnya adalah proyek yang diberi nama ‘Hope’, tujuannya adalah pada awal abad ke 21 ini, Jepang akan menerbangkan pesawat antariksanya ke luar angkasa.

2.1. Karakteristik Infrastruktur Jepang

Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1993 mengidentifikasaikan baik teknologi infrastruktur tingkat lokal maupun nasional di Jepang memiliki beberapa karakteristik, seperti:

  • Asosiasi industri membuka forum bagi orang-orang industri untuk bertemu
  • Masyarakat profesional menerbitkan jurnal dan mengadakan pertemuan teknis serta membentuk komisi standardisasi.
  • Nota kesepahaman R&D memungkinkan perusahaan-perusahaan secara bersama-sama mengembangkan dan mengelola teknologi.
  • Kelompok publik dan swasta menggabungkan teknologi menjadi perusahaan skala kecil atau menengah.
  • Firma konsultan memberi informasi teknis kepada perusahaan.
  • Jaringan (seperti jaringan ahli mesin regional) memfasilitasi komunikasi diantara profesional.
  • Program pendidikan dan pelatihan mentransfer teknologi dan membantu organisasi agar menyerap teknologi lebih baik lagi.
  • Organisasi pemerintah, seperti pusat informasi sains dan teknologi Jepang, secara gencar memberi informasi teknis.
  • Database teknis membuat informasi terkini menjadi mudah diakses.

Dukungan pemerintah bagi perkembangan teknologi di Jepang telah berlangsung setidaknya empat dekade. Tahun 1952, Kelompok Industri Bagi Sains dan Teknologi (AIST)  di rombak ulang keorganisasiannya dan diubah namanya menjadi Kementerian Perdagangan dan Industri Internasional (MITI) untuk mengkoordinasi perkembangan teknologi Jepang. Dua undang-undang utama telah disahkan – undang-undang industri mesin tahun 1956 dan undang-undang industri elektronik tahun 1957 – untuk mempromosikan riset eksperimental dan memulai produksi, juga untuk mempromosikan rasionalisasi industrial bagi peralatan mesin dan teknologi elektronik. Berdasarkan hukum ini, subsidi bagi riset dan pengembangan (R&D) dimungkinkan, dengan pinjaman khusus dan pajak insentif bagi  perusahaan untuk pengembangan atau penggunaan teknologi produksi lanjutan. Tahun 1980, Jepang menjadi pemimpin  dunia dalam bidang peralatan mesin bagi produksi komponen dan penggunaan robot dalam perakitan.

Di Jepang, sekitar seperlima dana riset dan pengembangan teknologi bersumber dari pemerintah. Kebijakan pemerintah bagi R&D di Jepang memberi pemahaman bahwa riset dasar seharusnya dilakukan oleh universitas dan laboratorium nasional, dan lebih banyak lagi dana pemerintah yang dikeluarkan untuk mendukung riset dasar. Sebagai tambahan, pada dasarnya, pemerintah bermaksud untuk menstimulasi R&D di industri yang penting bagi kelangsungan teknologi industri nasional dimasa yang akan datang. Kebijakan pemerintah utamanya memberi arahan strategis dan bertindak sebagai katalis bagi investasi R&D mandiri. Pasar utama Jepang mendukung investasi jangka panjang  bagi teknologi, pelatihan, dan kegiatan lain yang meningkatkan potensi pertumbuhan jangka panjang.

Kebijakan pemerintah Jepang memberi arahan dan mempromosikan investasi swasta bagi pengembangan teknologi lanjutan yang membutuhkan komunikasi yang sangat baik antara industri dan pemerintah untuk mencapai tujuan riset dan pengembangan Jepang. Dalam beberapa hal, kebijakan pemerintah Jepang berfungsi sebagai sarana pendukung dan menimbulkan saling ketergantungan diantara industri teknologi tinggi.

2.2. Strategi Pengembangan Teknologi Jepang

Budaya Jepang melihat teknologi sebagai alat untuk membuat produk yang dapat dijual. Teknologi produksi merupakan pusat pandangan dan menjadikannyn sebuah kekuatan yang jelas dalam pengembangan kemampuan kompetitif bagi industri raksasa Jepang, seperti terlihat pada gambar 1.

(Gambar 1: Keberhasilan strategi pengembangan produksi Jepang )

Pandangan yang efektif dari produk generasi-mendatang dipadukan dengan penyempurnaan produk yang terus menerus menjadikan Jepang penguasa teknologi dunia. Fokus Jepang pada perlengkapan produksi dan penyempurnaan proses diarahkan langsung untuk menekan biaya dan proses produksi: berarti, fokus Jepang adalah menciptakan proses untuk meningkatkan produktivitas, meningkatkan kualitas, dan menekan biaya; menciptakan strategi agar para insinyurnya dapat mempercepat penyelesaian produk; mengembangkan perangkat lunak yang digunakan untuk meningkatkan otomasi pabrik; dan membangun metode pengelolaan yang efektif yang terkait dengan semua hal diatas.

Berikut adalah hal-hal yang dapat kita temukan mengenai riset dan pengembangan teknologi di Jepang.

  • Jepang menggunakan sistem patennya untuk memfasilitasi penyebaran kekayaan intelektual, bukan melindunginya.

Sistem paten Jepang dibuat sebagai sarana pendidikan. Yang memungkinkan suatu teknologi berkembang secara cepat. Namun pada aplikasinya, paten Jepang membuat suatu produk menjadi mungkin untuk ditiru oleh kompetitor. Hasilnya, sulit bagi perusahaan untuk mengkaji secara mendalam teknologinya sendiri. Banyak sekali kejadian perusahaan-perusahaan Jepang membanjiri pasar dengan produk-produk yang mirip.

  • Perusahaan Jepang mempekerjakan sejumlah besar manager terlatih untuk mengelola perusahaannya.

Sebuah penelitian menyatakan bahwa 75% dari CEO perusahaan manufaktur memiliki gelar Doktor dalam bidang manajemen.

  • Perusahaan Jepang menanam modal besar bagi pengembangan teknologi otomasi.

Perusahaan Jepang berkonsentrasi pada teknologi pengembangan proses dan peralatan  yang memungkinkan kemampuan kompetitif.

  • Perusahaan Jepang memiliki departemen R&D yang terpisah antara R&D untuk pengembangan teknologi produksi dan R&D untuk pengembangan produk.

2/3 dana digunakan untuk R&D pengembangan teknologi produksi, 1/3 sisanya digunakan oleh R&D pengembangan produk.

  • Perusahaan Jepang melakukan identifikasi kebutuhan konsumen sebagai dasar bagi pengembangan produk baru dan membuat peta pasar.

Di Jepang, kebutuhan akan produk membawa aktivitas pengembangan teknologi lanjutan menjadi perlu. Untuk menekan harga, perusahaan Jepang menggunakan teknologi yang telah terbukti dan teruji sebelumnya yang kemudian dikembangkan. Teknologi baru digunakan ketika pilihan lain tidak berhasil.

  • Perusahaan Jepang membuat komitmen jangka panjang bagi pengembangan produk baru, komponen, perlengkapan, dan teknologi.

Terdapat banyak sekali contoh komitmen perusahaan Jepang mengenai pengembangan jangka panjang, seperti program 13 tahun Sony untuk memperkenalkan gambar charge-couple device (CCD) yang digunakan dalam camcorder. Pengembangan baterai dan keramik bagi otomobil telah dilakukan sejak 1960-an. Lisensi Sharp untuk teknologi Liquid Cristal Display (LCD) RCA telah menghabiskan milyaran dolar selama satu dekade dalam pengembangan sebelum akhirnya diluncurkan ke pasar.

  • Perusahaan Jepang menggunakan tim yang punya kesamaan pandangan sebagai dasar kegiatannya.

Sebuah tim yang berdedikasi dan terlatih merupakan prosedur operasi standar di Jepang. Anggota tim mengerti semua sistem bagaimana sebuah produk akhirnya akan dibuat, yang menghasilkan suatu produk akan terlihat dan berfungsi seperti dirancang oleh satu orang.

  • Perusahaan Jepang memiliki habungan riset yang terbatas dengan universitas.

Hanya ada beberapa contoh hubungan riset yang kuat antara universitas dan industri.

  • Pemerintah lokal mendukung aktivitas riset industri.

Untuk mendukung aktivitas pengembangan komunitas lokal, hampir sebanyak 160 buah Institut Riset Industri Lokal (MIRI) telah didirikan berkat kerjasama antara industri lokal dan pemerintah kota. Fasilitasnya mengagumkan, laboratorium penelitian berperlatan lengkap dan perpustakaan. Sebuah MIRI Nagoya memiliki staf 100 orang, termasuk diantaranya Doktor bidang teknik. Mereka menyediakan konsultasi, pengujian, analisis, riset, informasi teknis, seminar, dan pelatihan bagi industri lokal.

  • Perusahaan Jepang membangun program pengembangan paralel untuk penyempurnaan produk jangka pendek dan jangka panjang.

Departemen-depatemen sering mengembangkan dua hingga lima teknologi secara berkesinambungan untuk memastikan bahwa mereka bisa memperkenalkan produk generasi selanjutnya dalam satu jangka waktu tertentu. Pusat riset korporasi secara langsung ikut andil pada pengembangan produk generasi selanjutnya, sementara divisi-divisi berperan dalam penyempurnaan produk dalam skala satu tahun sekali. Gambar 2 menunjukan bahwa perusahaan Jepang membangun peluncuran yang sistematis bagi pengembangan produk jangka panjang.

Unit bisnis bertanggung jawab pada operasi yang sedang berlangsung dan peningkatan kemampuan kopetitif yang dibutuhkan untuk mempertahankan posisi pasar yang sedang diraih. Bagi sebagian besar produk, perubahan kecil dilakukan tiap tahun, untuk produk seperti Sony Walkman, perubahan terjadi tiap 6 bulan atau kurang. Tim produk tingkat korporasi bertanggung jawab pada penyempurnaan produk mendasar sebelum didahului oleh pesaingnya. (bagi Sony berarti camcorder yang makin mungil.)

(Gambar 2: sistematika peluncuran produk)

  • Perusahaan jepang memiliki pandangan dan pemahaman yang jelas dalam kegiatan pengembangan produknya.

Para manager memasang tujuan yang besar bagi perusahaannya. Manajemen memiliki komitmen untuk meningkatkan “peningkatan skala global bagi industri dan budaya” dengan mengejar “kualitas menyeluruh dan kepuasan konsumen, dengan secara berkesinambungan memperkenalkan produk-produk inovatif dalam teknologi yang saling berintegrasi dan berhubungan satu sama lain yang membuat perusahaan, pekerja, konsumen dan rekanan lain, serta komunitas untuk tumbuh dan berkembang dengan saling menunjukan kebanggaan dan kepercayaan yang saling menguntungkan.

Strategi pengembangan produk dimulai dengan mengenali keinginan pasar, dan bergerak dengan memasang tujuan pengembangan produk, menentukan konsep riset dan pengembangan, serta otomasi sistem dan perlengkapan pabrik. Hasilnya adalah produk yang berkualitas. Ukuran, bentuk, harga, dan fungsi produk secara jelas disesuaikan dengan sasaran pasar.

2.3. Keuntungan Kompetitif Dalam Teknologi Komponen

Teknologi komponen menyajikan kesempatan terbesar bagi perusahaan Jepang untuk mengaplikasikan keahlian manufaktur yang dimilikinya, karena komponen mekanik dan elektronik bagi kebanyakan produk untuk konsumen memiliki daur hidup yang panjang. Sony mengembangkan CCD dan Sharp dengan LCD-nya pada pertengahan 1980-an. Sementara desain luar suatu produk, seperti warna, bentuk, dan fitur berubah setidaknya setiap enam bulan bagi Sony Walkman atau tiap tahun bagi Sharp Viewcam, kemajuan besar dalam teknologi komponen terjadi tiap tiga hingga lima tahun sekali. Sebagai contoh, selama periode tersebut Sony telah memeprkenalkan lebih dari 160 model Walkman, sementara hanya ada lima pengubahan pada peningkatan komponen mekanis.

2.4. Pentingnya Proses Peningkatan Teknologi

Terdapat pergeseran pasar yang jelas dari ketika suatu produk inovasi diperkenalkan, dengan pengembangan produk yang terus menerus untuk memenuhi keinginan konsumen. Pada tahap pertama, kosumen tertarik pada suatu produk sebagian besar dikarenakan kekhasannya, dan untuk sementara si pembuat tak tersaingi dalam pasar. Pada tahap kedua, timbul kesadaran konsumen mengenai harga dan kualitas produk, dan banyak pesaing yang memasuki pasar; maka kebutuhan untuk mengembangkan produk lebih penting daripada menciptakan teknologi yang baru.

Camcorder, telepon selular, walkman, CD-ROM, dan komputer personal semuanya dipaksa untuk lebih matang dalam perkembangan-proses-produksi suatu industri. Yang menghasilkan kompetisi yang lebih ketat dalam pasar. Terdapat tekanan yang makin meningkat dalam hal harga yang lebih rendah, peningkatan daya kerja, membuat suatu produk lebih mudah dipakai, dan lain sebagainya.

Pasar Dinamic Random Access Memory (DRAM) yang diciptakan oleh Intel sekarang ini didominasi oleh banyak perusahaan yang lebih inovatif dan berdaya saing tinggi, seperti dari Jepang (Fujitsu, NEC, dan lain-lain) atau Korea (Samsung, Gold Star, dan lain-lain). Pasar VCR, yang merupakan teknologi fundamental buatan Ampex, sekarang didominasi oleh Matshushita dan Sony.

Kegiatan pengembangan teknologi manufaktur Jepang ditujukan untuk menarik konsumen. Posisi pasar yang dominan dimiliki oleh perusahaan yang paling mengerti bagaimana menemukan dan meningkatkan kebutuhan pasar. Kriteria sukses ditentukan oleh perhatian serius terhadap detail, mengerti secara jelas kebutuhan konsumen, dan pelaksanaan yang tepat. Secara jelasnya, dengan adanya perakitan elektronik kapasitas-tinggi, konsumen menginginkan harga yang lebih murah, fungsi yang makin lengkap, ukuran yang lebih kecil, dan berat yang lebih ringan, terutama bagi produk-produk mobilitas. Pengemasan, komponen, dan dan pengembangan teknologi proses Jepang diarahkan oleh paremeter tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Tanpa nama. 2007. School in Japan. http://bakaaaa.wordpress.com/2007/12/27/schools-in-japan.html. diakses tanggal 20 Mei 2008.

Tanpa nama. 2008. Sistem pendidikan di Jepang. http://japan05.multiply.com/journal/item/2.html. diakses tanggal 20 Mei 2008.

Boulton, William R..1995. Japan’s technology and manufacturing infrastructure. http://www.wtec.org/loyola/ep/c3s1.html. diakses tanggal 20 Mei 2008.

Meieran, Eugene S..1995. Japan’s technology development strategy. http://www.wtec.org/loyola/ep/c3s2.html. diakses tanggal 20 Mei 2008.

Tanpa nama. 2001. The Japanese education system. http://educationjapan.org/education_system.html. diakses tanggal 20 Mei 2008.

Ramli, murni. 2008. Kurikulum SD dan SMP di Jepang. http://murniramli.wordpress.com/2008/02/16/kurikulum-sd-dan-smp-di-jepang-2.html. diakses tanggal 20 Mei 2008.

The Pittmeister. 2007. Uniform switcharoo!. http://thedailylaundry.blogspot.com/2007/06/most-junior-high-and-high-schools-in.html. diakses tanggal 20 Mei 2008.

Ramli, murni. 2008. Penyusunan kurikulum sekolah di Jepang. http://murniramli.wordpress.com/2008/02/15/penyusunan-kurikulum-sekolah-di-jepang-1.html. diakses tanggal 20 Mei 2008.

Tanpa nama. 2001. Japanese school. http://educationjapan.org/school_system.html. diakses tanggal 20 Mei 2008.

Perbandingan Penerapan TIK dalam Pendidikan di Korea Selatan dan Indonesia

Penerapan TIK dalam pendidikan di korea selatan sudah sangatlah baik, terlihat dari pelaksanaan dan pemerataan pengaksesan internet bagi semua warga negaranya. Sebagai contoh adanya kerjasama APEC dengan Cyber Education milik korea ICT Korea telah maju dan tingkat penggunaannya cukup tinggi. Informatisasi pendidikan melalui jaringan-jaringan informasi kecepatan-sangat-tinggi merubah pendidikan dari gaya produktif massal yang seragam yang ada sekarang ke gaya yang mengakui individualitas, yang menciptakan lingkungan yang optimal untuk menghasilkan manusia-manusia berkualitas yang akan memimpin masa depan.

            Cyber education diluncurkan setelah Presiden Kim Daejung menekankan pentingnya proyek-proyek ‘e-education’ untuk mengurangi kesenjangan dalam IT di antara anggota-anggota Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) pada pertemuan puncak ke-7 APEC yang diselenggarakan di New Zealand pada bulan September 1999. Tujuannya ialah untuk memfasilitasi informasi dan ‘know-how’ (pengetahuan) dalam pemanfaatan ICT dalam bidang pendidikan dan untuk menghasilkan guru-guru yang berkualitas yang memiliki latar belakang kuat dalam ICT yang dituntut oleh sistem ekonomi baru. Sekarang Korea menduduki posisi ketua dalam APEC ACEC Consortium yang terdiri atas 4 negara (Korea, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Hongkong).

            Di Indonesia ada beberapa kendala yang menyebabkan TIK  dan Internet belum dapat digunakan seoptimal mungkin. Kesiapan pemerintah Indonesia masih patut dipertanyakan dalam hal ini. Penyebab utamanya antara lain adalah:

Kurangnya ketersediaan sumber daya manusia, proses transformasi teknologi, infrastruktur telekomunikasi dan perangkat hukumnya yang mengaturnya. apakah infrastruktur hukum yang melandasi operasional pendidikan di Indonesia cukup memadai untuk menampung perkembangan baru berupa penerapan IT untuk pendidikan ini.

Sebab perlu diketahui bahwa Cyber Law belum diterapkan pada dunia Hukum di Indonesia.

Kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi yang merupakan prasyarat terselenggaranya IT untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) di Indonesia masih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia. Untuk itu perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itu tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet. Hal ini tentunya dihadapkan kembali kepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; walaupun pada akhirnya terpulang juga kepada pemerintah. Sebab pemerintahlah yang dapat menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan.

Berikut Tabel perbandingan TIK dalam pendidikan di Korea Selatan dan Indonesia:

TABEL 1

Perbandingan Penerapan Tik dalam Pendidikan di Korea Selatan dan Indonesia :

NO

 

INDIKATOR

 

KOREA SELATAN

 

INDONESIA

 

1 Awal masuknya Internet dan Komputer

 

Tahun 1970 dengan program Cyber 21 dan White Paper di Institusi Komputer Korea

 

Tahun 1990 dengan program Radio paket internet di ITB

 

2 Aplikasi TIK kedalam pendidikan

 

 

 

Juli 1970 (Rancangan), Juli 1996 (Aplikasi Framework act TIK).

1999 (Enforcement Plan TIK pendidikan)

 

Tahun 2000an diperkenalkan di dalam Distance learning program. Teleconference dengan ISDN dan ASDL

 

3 Program Program TIK

 

 

 

KERIS, RISS, EDUNET, NEIS dan  NABIS

 

e-Learning, e-Library, JARDIKNAS, Distance Learning, dll.

 

4 Pemerataan Jaringan internet

 

 

Jaringan internet ultra high-speed sejak tahun 2005 yang bisa diakses dimanapun.

 

Jaringan Home Internet, via telepon rumah, Modem/USB,yang masih memakai jasa produk GSM/CDMA.

 

5 Pemakaian TIK dalam Pendidikan

 

 

Menyeluruh Mulai dari kegiatan belajar siswa, guru, sekolah dan orang tua.

 

Terbatas pada fasilitas tambahan dalam kegiatan belajar mengajar

 

6 Akses internet oleh siswa dalam pembelajaran Disetiap jenjang pendidikan, baik negeri atau pun swasta

 

Lebih tinggi pada jenjang SMA saja.

 

7 Peran Pemerintah

 

 

Sangat Dominan

 

Contoh : Bekerjasama dengan organisasi APEC untuk dana TIK dalam pendidikan

 

Tidak Optimal

 

Contoh: Kurikulum TIK yang belum begitu baik, organisasi jaringan yang hanya untuk akses pengajar saja.

 

 

8 Sarana, alat, dan Fasilitas Belajar di kelas

 

 

Setiap kelas terkoneksi internet dengan kecepatan 6-10 Mbps mulai tahun 1997.

 

5 siswa 1 PC laptop/PDA.

 

1 sekolah  1 departemen ICT.

 

Ada pendidikan karir untuk guru ICT.

Jaringan internet Terbatas bahkan lambat sekali.

 

1 kelas 1 PC laptop/Proyektor.

 

Guru TIK kadang tidak Berkualifikasi pendidikan TIK .

 

9 Ranking dunia pemakaian TIK dalam pendidikan

 

 

Urutan 10 dalam top 10 negara pengaplikasi TIK versi IDI (ICT development Indeks) tahun 2010.

 

Peringkat ke 1 dalam PISA tahun 2009.

 

Pemenang UNESCO Raja Hamad Bin Isa Al-Khalifa Prize tahun 2006.

 

Peringkat ke 53 dalam penerapan e-learning versi elearning readiness rankings tahun 2009.

 

Peringkat ke 73 dalam pemakain jaringan internet dalam pendidikan versi networking world tahun 2004.

 

10 Kepemilikan Website dan email

 

 

Setiap warga negara wajib memiliki 1 akun website dan email pada jejaring pendidikan yang telah disediakan pemerintah terutama untuk para guru dan pelajar.

 

Tidak ada ada kewajiban punya akun dan email.

 

Penggunaan jejaring sosial pada masyarakat indonesia sangat  tinggi pada aspek  jejaring Pertemanan saja.

 

 

Pembahasan :

Di Indonesia yang notabenenya sebagai negara berkembang dimana ketersediaan infrastruktur komunikasi yang masih minim mengakibatkan kesempatan setiap orang untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan menjadi terbatas. Ketersediaan infrastruktur ini sangat terasa di daerah-daerah yang proses memperoleh informasinya masih terbatas. Hal ini dikarenakan di Indonesia penyebaran teknologi informasi dan komunikasi belum merata, sekarang ini hanya di kota-kota besar sajalah yang sudah dengan mudah menikmati dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Dengan demikian perkembangan pendidikan pun menjadi terhambat dan juga tidak merata. Salah satu wadah yang dirasa paling berperan dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia saat ini adalah internet. Di Indonesia terutama yang berada di kota-kota besar sudah banyak masyarakat yang mempunyai akses internet, sehingga pemanfaatan internet sebagai salah satu media pembelajaran dan pencarian informasi dan pengetahuan dapat lebih maksimal walaupun akses internet di Indonesia belum sepenuhnya dapat dirasakan semua orang.

Pemerintah diharapkan dapat membantu daerah-daerah yang penyampaian proses informasinya masih minim dan tidak hanya fokus pada daerah atau kota-kota besar saja seperti yang terjadi pada saat sekarang ini, karena pada kenyataannya peran daerah dalam mendukung perkembangan teknologi informasi dan perkembangan pendidikan di Indonesia sangatlah penting.

Dengan belum meratanya penyebaran teknologi informasi akan berpengaruh terhadap proses perkembangan pendidikan. Hal ini dikarenakan peran teknologi informasi di dunia pendidikan sangatlah penting. Dengan adanya teknologi informasi segala macam ilmu pengetahuan dan informasi dapat diterima dan didapatkan dengan mudah dan cepat. Dalam kehidupan kita dimasa mendatang, sektor teknologi informasi dan komunikasi merupakan sektor yang paling dominan.

Di Korea Selatan, sejak pendidikan komputer pertama kali diperkenalkan pada tahun 1970, pemerintah Korea telah membentuk suatu usaha penyesuaian pendidikan dengan perkembangan waktu. Memberikan perubahan aliran-aliran sosial, sejalan denngan pemahaman baru bahwa pendidikan da budaya berlangsung sesuai perkembangan sosial dan persaingan global. Penyesuaian pendidikan sesuai dengan perkembangan waktu diserahkan untuk mengubah seluruh sistem pendidikan yaitu, infrastruktur fisik, keterlibatan dalam berorgaisasi, suasana ruang kelas dan pemikiran manusia. Spesifikasi dari sumber penghasilan manusia berdasarkan pada pendidikan sosial meliputi: keterampilan berfikir kreatif, Pembentukan diri pada pendidikan seumur hidup, efektivitas menganalisis informasi, cara dalam memecahkan masalah dan efektivitas dan responsibilitas dalam memecahkan suatu masalah.

Berdasarkan hasil penelitian 2006 tentang Program Penilaian Pelajar Internasional dari OECD, Korea Selatan menempati urutan pertama dalam pemecahan masalah, urutan ketiga dalam matematika dan urutan kesebelas pada bidang sains. Teknologi pada pendidikan di Korea juga dikembangkan hingga ke seluruh daratan Korea dengan membuat jaringan akses internet berkecepatan tinggi di sekolah dasar dan lanjutan. Pemerintah Korea melalui Kementerian Pendidikan juga memberikan beasiswa bagi siswa-siswi yang berasal dari luar Korea hingga mencapai 100.000 siswa pertahun. Sedangkan menurut economiest Intelligent Unithttp_e learning_readiness_rankings.pdf) korea selatan menduduki peringkat ke lima dari 60 negara yang menggunakan ICT dalam bidang pendidikan dimana penerapan ict mereka yang menyeluruh serta tanpa batasan apapun sehingga kegiatan pendidikan berjalan maksimal serta berbasis full ICT. Dimana setiap rumah diadakan jaringan internet ultra high-speed dan jumlah pemakainya melebihi 10 juta pada November 2002.

761 total views, 6 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

About Author

Avatar of wijaya kusumah
wijaya kusumah

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Wijaya adalah Dosen STMIK Muhammdiyah Jakarta, dan Guru TIK SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". Hp. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com

View all posts by wijaya kusumah →

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!