3

Percepat Revolusi Pembelajaran melalui Dot-Com (+2)

L.GRAFURA May 22, 2017

Oleh: Lubis Grafura

Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guru-guru yang yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai rata-rata di atas 80 (betapapun stresnya mereka) dan memandang rendah terhadap murid aktif, namun tak menguasai semua subjek[1].

Kegelisahan Renald Kasali tersebut bukannya tanpa alasan. Mari kita cermati sejumlah tokoh yang pernah gagal, drop out, tidak naik kelas atau dicap sebagai murid yang nakal selama di sekolah. Sebaliknya, mereka justru sukses di dunia nyata. Mereka adalah Matt Mullenberg (perintis WordPress), Bill Gates (pendiri Microsoft), Mark Zuckerberg (Facebook), Steve Jobs (pendiri Apple), George Washington (Presiden Amerika), Ted Turner (Pendiri CNN), Peter Jakson (Sutradara), Danny Oei Wirianto (Pendiri Kaskus), Tri Wibowo (Pendiri Insan Medika), Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan) dan daftar itu masih terus berlanjut.

Dari kasus di atas, tentunya guru harus melakukan sebuah revolusi, terutama untuk pembelajaran di tingkat menengah ke atas. Revolusi yang dimaksud adalah perubahan yang signifikan dalam proses pembelajaran. Perubahannya tidak hanya sekadar dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa saja atau dari yang biasanya guru menerangkan/ceramah sekarang lebih banyak berdiskusi.

Pembelajaran saat ini pun memang harus menggunakan teknologi. Namun, bukan sekadar pembelajaran menggunakan LCD atau PowerPoint saja. Bukan pula anak-anak sekadar mengumpulkan tugas via email. Bukan seperti itu.

Perubahannya harus lebih ekstrim dari itu. Perubahan yang dimaksud adalah guru harus berani melakukan kombinasi teori serta mengejawantahkannya di dunia nyata. Jadi, anak-anak sekolah tidak hanya mendapatkan pengetahuan saja, tapi juga pengalaman yang sinkron dengan kehidupan nyata. Dengan kata lain, teori yang ada di papan harus diterapkan secara waktu-nyata (real-time) di kehidupan.

Apapun materi yang Anda ajarkan, apapun matapelajarannya, semua harus terhubung dengan kehidupan nyata. Jika Anda mengajarkan kalkulus, untuk apa itu semua dalam waktu dekat? Jika Anda mengajarkan sejarah nusantara, apakah tujuannya hanya agar anak-anak mengetahui tentang peradaban nusantara lalu setelah itu dinilai dan selesai? Anak-anak kita tidak perlu menunggu waktu selama satu semester hanya untuk mengerti candi-candi bukan? Jika Anda mengajar puisi, di mapel bahasa Indonesia tingkat SMA/K, untuk apa? Setelah mereka bisa dan mampu menulis puisi lantas untuk apa? Bukankah teori-teori itu cukup diketik di Google dan anak-anak tidak perlu membuang waktu cukup lama hanya untuk mengetahui apa itu puisi?

“Saya perlu kalkulus kalau saya seorang ilmuwan roket, tapi saya tidak perlu kalkulus untuk jadi kaya. Matematika tingkat dasar – penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian – sudah cukup.” Tulis Robert Kiyosaki.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pembuat kurikulum dengan berbagai spektrumnya yang njlimet, kita para guru perlu memilah apa saja yang dibutuhkan anak-anak untuk bekal hidup mereka kelak. Terutama yang menginspirasi mereka. Guru juga dituntut untuk bisa menyelipkan inspirasi-motivasi di kurikulum yang saya sebut njlimet tadi. Dengan demikian, langkah pertama apa yang bisa dilakukan guru dalam merevolusi pembelajaran?

 

Melibatkan Dot-com

papan

Terdapat begitu banyak ruang yang bisa digunakan oleh guru dalam mempublikasikan karya anak-anak. Dengan kata lain, jangan sampai tugas anak-anak hanya berhenti di meja dan berakhir dengan sebuah nilai kuantifikasi yang sebenarnya tidak benar-benar mengukur daya saing mereka di masyarakat. Lantas, dengan cara “menjual” tugas (baca: karya-karya) mereka di internet tentu akan membuat mereka sangat bahagia, bersemangat, termotivasi, menginspirasi, dan sekolah akan benar-benar menjadi replikan kehidupan yang bermakna bagi mereka. Perhatikan konsep di atas yang saya tulis di papan saat pembelajaran di kelas.

ranjakuHasilnya, anak-anak di SMKN 1 Nglegok memiliki sejumlah karya. Contoh lainnya, saya mengajarkan matadiklat bahasa Indonesia kelas X SMK Semester genap materi Puisi. Saya tidak mengajarkan mereka terlalu panjang lebar tentang puisi. Setelah dirasa cukup, saya segera meminta mereka berkarya dan berkarya. Lantas, saya minta mereka mengirimkan puisi ke basabasi.co. Selain itu, saya juga meminta mereka mengirimkan ke ebooku.id. Tidak hanya di sana, Majalah Media Pendidikan Provinsi Jatim versi cetak juga menjadi serbuan anak-anak. Tidak luput juga dari serbuan karya mereka, penerbit yang menerbitkan buku secara cetak. Hasilnya benar-benar melampaui ekspektasi saya. Lihatlah sampul kumpulan karya Novi Nawangsari Saatku Pergi Mencari Ranjhaku di atas. Itu salah satu contoh hasilnya.

Peranan Youtube.com juga jangan disepelekan. Mereka bisa mencari uang dengan memperbanyak subscribe. Ketika mereka praktik di bengkel, akan sangat menarik untuk direkam kemudian diunggah ke Youtube. Saya memberi mereka contoh melalui kanal Youtube di MOTIVAslide.

Kalau kita cermati, melibatkan dot-com dalam pembelajaran akan memberikan makna sebuah pembelajaran secara holistik. Artinya, di dalam proses mengirim tugas [atau naskah atau sebut saja karya] ke dot-com, mata pelajaran tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Semuanya saling berkaitan dan terjalin kelindan menjadi satu kesatuan yang disebut dengan “kekuatan kombinasi”.

 

Kekuatan Kombinasi

Untuk mendapatkan dampak yang maksimal, seperti karya Novi di atas, sang anak akan mulai mengerti bahwa mereka memerlukan pelajaran desain untuk membuat sampul itu. Ia memerlukan pelajaran bahasa Indonesia agar tata bahasa dan judul menjadi menarik. Agar postingannya dibaca banyak orang, ia menggunakan ilmu kewirausahaan. Saat ia mengunggah ke internet mereka menggunakan ilmu Simdig. Dan jika ia ingin karyanya bisa tampil secara internasional ia harus menerjemahkan ke bahasa Inggris dan tentu saja ini adalah wilayah bahasa Inggris. Itulah “kekuatan kombinasi”.

Lihatlah di Youtube dan ketikkan kata kunci MTV Chart 2016-2017. Anda akan menemukan Justin Bieber feat Mayor Lazer, Lana Del Rey feat The Weeknd, Dipha Barus Feat Kallula, G-Eazy feat Kehlani, dan sederet tangga lagu hampir dikuasai oleh kolaborasi-kolaborasi. Apa yang bisa kita simpulkan dari tangga lagu itu? Kekuatan Kombinasi!

Di Indonesia, nyaris tidak ada legenda musisi yang masih bertahan layaknya Iwan Fals. Ia bertahan dari era ayah saya sampai generasi terbaru saat ini karena kekuatan kombinasinya. Dan sekarang, Iwan Fals masih didengar oleh generasi-generasi Nidji, Geisha, d’Masiv dan sebagainya.

Di dunia otomotif, lihatlah Toyota berkolaborasi dengan Daihatsu. Apa hasilnya? Xenia-Avanza, Agya-Alya, Sigra-Calya. Tentu saja itu adalah hasil peleburan dua konsep yang berbeda menjadi satu kesatuan yang utuh serta orisinal. Itu juga disebut kekuatan kombinasi.

Di dunia teknologi, mari kita lihat perkembangan Microsoft Office yang diluncurkan oleh Windows. Apa yang ditawarkan oleh MS. Office tahun 2016? Ia lebih menekankan pada kolaborasi. Jadi, pengguna satu dengan yang lain akan mampu membagi file dan mengedit bersama. Bukankah itu juga dari bagian kombinasi?

Jadi, kenapa pembelajaran kita selalu terlambat membaca perubahan? Kita masih saja menjejalkan pengetahuan ke otak anak-anak? Kita memberikan harapan semu kepada mereka. Kita harus berubah. Harus melakukan sebuah revolusi dalam pembelajaran dan ini adalah urgen! Itulah barangkli yang menjadi dasar Robert Kiyosaki menulis buku Why “A” Students Work for “C” Students?

Salah satu jawabannya mungkin sudah disampaikan oleh Renald Khasali dalam bukunya Self Driving: Menjadi Driver atau Passengger?: “Hanya 2% dari seluruh guru yang benar-benar menjadi pendidik, yaitu guru kreatif yang membentuk manusia. Sekitar 3% di antaranya sibuk menjadi administrator, dan sisanya adalah “guru kurikulum” yang hanya menjalankan perintah dengan menyelesaikan kurikulum yang diwajibkan. Apa isi buku, itu yang diberikan.”

Tentu saja, ini sangat mengenaskan!

 

Sekolah Bukan untuk Mencari Pengetahuan, namun Berkaya

Sebagaimana sudah saya sampaikan di muka bahwa pengetahuan itu paling mudah dicari melalui Google. Maka, guru-guru harus bisa meyakinkan anak-anak untuk berkarya dengan memanfaatkan Google. Mendorong mereka untuk terus menggali potensi dalam diri mereka. Dot-com adalah sebuah gerbang pembuka untuk menuju langkah-langkah berikutnya.

Buat mereka untuk terus berkaya dan menemukan hal-hal yang menjadikan mereka bangga. Itulah konsepsi nyata dari pembelajaran. Jangan sita waktu mereka dengan duduk memandang Anda. Jangan bebani dengan tugas dan PR yang tidak bermakna, namun buat mereka terpacu untuk menemukan sebuah karya yang kelak memang sangat mereka butuhkan.

candraJika mereka senang menggambar, ajak mereka menulis buku sebagai ilustratornya lalu jual di dot-com. Tugas-tugas mata pelajaran lainnya diberi sampul ilustrasi yang menarik, lalu jual di internet! Perhatikan gambar ilustrasi berikut yang hanya ditulis menggunakan spidol hitam.

Jika mereka pandai matematika, instruksikan untuk membuat blog yang secara khusus membahas matematika, tingkatkan rating dan hasilkan uang. Jika pandai menulis, jual juga karya-karyanya di dot-com. Jika suka bereksperimen, cari lomba karya ilmiah dan hasilnya seperti siswa kami bernama Alfindra. Ia memenangkan penelitian dengan baterai organiknya, yaitu baterai yang terbuat dari bahan-bahan organik yang pengisian ulangnya cukup dengan menyuntikkan air. Perhatikan koran di bawah ini.

Jika mereka punya karya terbitkan dalam bentuk buku. Promosikan di dot-com. Lihatlah buku berjudul Selendang yang Berkalung pada Nisan Tak Bernama tersebut. Dengan dot-com, kita bisa mendaratkan makna dari sebuah pembelajaran. Tepat di depan peserta didik kita!

koranGambar: temuan yang berhasil diliput media

leutikaGambar: buku anak-anak yang bisa dilihat di leutika.com

Tentu saja di dalam melakukan aktivitas tersebut tidak terlepas dari perangkat. Kita membutuhkan perangkat yang terkoneksi ke wifi. Semua laptop saat ini sudah dilengkapi dengan layanan itu. Namun, memang ada sejumlah laptop yang memiliki kinerja yang baik untuk terhubung ke internet. Saya rasa, kita semua yang ada di sini telah sepakat laptop merk apa yang mumpuni untuk mendukung itu semua!

Pada akhirnya, menggunakan perangkat teknologi yang mumpuni, melibatkan dot-com, serta pedagogi adalah kombinasi sempurna untuk sebuah revolusi pembelajaran. Dari sana, Anda telah menciptakan sebuah pemantik di dada peserta didik. Ketika kita memiliki tujuan yang sama dalam mendidik anak-anak, insyaAlloh, apa yag diharapkan oleh Dr.M.sastrapratedja, S.J. [2]  akan terwujud:

“Kalau guru dan dosen berani menggali kekuatan-kekuatan yang ada dalam peserta didik dan membantu untuk memperkembangkannya, akan muncul lebih banyak manusia Indonesia yang unggul.“ []

 

Referensi:

[1] Renald Kasali. Self Driving: Menjadi Driver atau Passengger? (Bandung: Mizan Media Utama; 2016) Hal 50.

[2] J.I.G.M. DROST, S.J. Sekolah: Mengajar atau Mendidik. 2008. Kanisius: Yogyakarta. Vi

 

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru”

 

 

 

1,280 total views, 3 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar