2

Peran Orangtua dan Guru Terhadap Karakter Jujur Siswa (+1)

Muhammad Yani July 3, 2015

Pakiban Ue Menan Minyeuk,

Pakiban Ma Ngen Ku Menan Aneuk.

 

Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya

 

Guru kencing berdiri,

Siswa kencing berlari.

 

Pribahasa di atas tentunya sudah sering kita dengar dalam masyarakat, yang mengambarkan tentang keadaan anak atau siswa, baik pengaruh dari orangtua maupun bimbingan guru. Pada pribahasa  yang pertama dan kedua menunjukkan bahwa kelakukan anak tak jauh berbeda dari orangtuanya. Pada pribahasa ketiga jika guru memperlihatkan perilaku yang tidak baik maka siswa akan menampilkan dua kali lipat tidak baik, sehingga diharapkan guru dapat memberi contoh yang baik kepada siswanya. Pribahasa merupakan ungkapan pengalaman hidup yang dapat dijadikan sebagai perbaikan optimis di masa yang akan datang, khususnya bagi orangtua dan guru terhadap karakter kejujuran siswa.

Secara akal sehat bahwa  manusia yang normal tentunya secara teori mengetahui tentang jujur, tujuan jujur dan contoh berperilaku jujur, namun banyak sekali yang masih sulit dalam mempraktikkannya, sehingga tidak sedikit mereka dewasa yang tersandung dengan berbagai persoalan hukum karena tidak jujur dalam menjalankan amanah yang diberikan baik pada lembaga pemerintahan maupun di lembaga swasta. Hal ini juga terjadi dengan siswa mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), namun bentuk ketidakjujurannya yang berbeda. Ketidakjujuran yang ditampilkan oleh siswa baik dalam rumah tangga dihadapan orangtuanya ataupun di depan guru antara lain disebabkan peran orangtua dan guru yang belum berfungsi secara maksimal atau sikap orang dewasa yang tidak sesuai antara ucapan dan perbuatan yang diperbuatnya termasuk orangtua dan guru.

Jujur adalah mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai dengan kenyataan dan kebenaran. Dalam kamus bahasa Indonesia kata jujur berarti: tidak bohong, lurus hati, dapat dipercaya kata-katanya, tidak khianat. Jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai dengan apa adanya, maka orang tersebut dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik dan sebagainya. Jadi jujur adalah suatu karakter yang berarti berani menyatakan keyakinan pribadi, menunjukkan siapa dirinya. Pengertian jujur juga dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 8 yang artinya Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebenaranmu terhadap suatu kaun, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dengan demikian jujur/kejujuran akan tercermin dalam prilaku yang diikuti dengan hati yang lurus (ikhlas), berbicara sesuai dengan kenyataan, berbuat sesuai bukti dan kebenaran. Dengan demikian kejujuran merupakan salah satu unsur kekuatan spiritual, akhlak mulia, serta kepribadian. Untuk itu baik orangtua maupun guru sebagai pihak yang sangat menentukan perannya dalam membangun karakter jujur bagi siswa. Sebagaimana dipahami dari pribahasa di atas bahwa keduanya sebagai pusat perhatian siswa dan sebagai salah satu pengalaman belajar/hidup. Sehingga orangtua dan guru harus menghindari sekecil mungkin kesalahan di depan siswa, apalagi kesalahan nyata yang dipertontonkan, seperti ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan dari orangtua dan guru.

Orangtua dan guru untuk karakter siswa jujur

Kejujuran itu berawal dari rumah dan sekolah. Hal ini mengisyaratkan betapa pentingnya peranan orangtua dan guru dalam penanaman nilai-nilai kejujuran itu. Orangtua dan Guru memiliki tanggung jawab yang sama terhadap pembinaan kepada siswa untuk memiliki karakter jujur

Bagaimana proses penanaman nilai-nilai kejujuran pada anak didik?   sesungguhnya tidak hanya diajarkan secara teoritis, hafallan seperti definisi, pendapat para ahli. Penanaman nilai-nilai kejujuran menuntut tata kehidupan sosial yang merealisasikan nilai-nilai tersebut.

Strategi itu adalah keteladanan, pembiasaan rutinitas, dan disiplin. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan menumbuhkan karakter bukan dilakukan melalui lisan, melainkan perbuatan. Mendikbud mencontohkan, jika orang tua ingin anaknya mematuhi rambu-rambu lalu lintas, maka orang tua juga harus melakukannya dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak melanggar peraturan selama berada di jalan raya. Hal ini sebagaimana Rasulullah Saw telah menggariskan rambu-rambu dengan sabdanya: Mulailah dari dirimu. Keteladanan yang baik dari orangtua dan guru akan mengantarkan seorang  siswa mendapatkan modeling yang tepat untuk dijadikan cermin dalam hidup keseharian. Tanpa menyertakan keteladanan (dalam hal ini kejujuran) pada pribadi orangtua dan guru, boleh jadi siswa akan kehilangan public figure yang bisa membawa mereka menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter.

 

*Penulis Guru PAI SMAN 1 Peukan Bada Aceh Besar

2,105 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar