3

Pengetahuan tahap membaca anak untuk orang tua dan guru (+3)

Lusia Gayatri Yosef April 11, 2014

Sebagai seorang guru, orang tua dan pendidik anak tentu kita memiliki keinginan bahwa anak kita dapat memiliki keterampilan membaca yang baik. Penilaian keterampilan membaca tersebut dapat berasal dari penilaian guru atau hasil belajar siswa di kelas atau peringkat keterampilan membaca berasal dari mengurutkan nilai anak dengan teman sekelasnya. Artinya, keterampilan membaca anak dikategorikan baik karena ia mendapatkan nilai membaca tertinggi diantara teman-temannya.

Selain hal di atas, keterampilan membaca dapat dinilai berasal dari penilaian orang tua saat anak latihan membaca di rumah atau peringkat keterampilan membaca anak dibandingkan dengan peningkatan yang ia lakukan. Artinya ketika anak melakukan peningkatan membaca dari waktu ke waktu maka dapat dikatakan keterampilan membaca anak dalam kategori baik apabila dibandingkan dengan dirinya sendiri.

Berdasarkan dua ilustrasi pada paragraf di atas maka penulis memiliki pendapat bahwa definisi keterampilan membaca yang baik ini seringnya dapat subyektif ataupun obyektif. Pada kesempatan ini, penulis ingin memberikan sebuah solusi mengenai cara mengamati keterampilan membaca anak. Salah satunya dengan pengamatan keterampilan membaca anak berdasarkan tahap membaca. Kiranya, melalui pengamatan dan pelaksanaan latihan di sekolah maupun di rumah maka guru, orang tua dan pendidik anak dapat mendukung perkembangan keterampilan membaca anak.
Chall (1979 dalam Kumara, Wulansari, Yosef, 2014) mengemukakan terdapat 6 tahapan dalam perkembangan kemampuan membaca, dimulai dari keterampilan prereading hingga kemampuan membaca yang sangat tinggi pada orang dewasa. Tahap tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tahap 0: Prereading (pattern recognition) adalah tahapan yang dialami anak prasekolah yang ditandai dengan anak berpura-pura membaca. Misalnya, sewaktu diajak ke toko swalayan, anak akan “membaca” label barang yang dibeli ibunya, padahal yang terjadi sesungguhnya adalah anak belum benar-benar membaca, tetapi mengenali pola-pola huruf yang terangkai.

2. Tahap 1: Discovery of Alphabet principle/decoding stage adalah tahapan membaca yang sesungguhnya, yaitu ketika aank menemukan bahwa huruf adalah representasi ungkapan yang disuarakan. Walau demikian, kita belum dapat “mengajarkan membaca” jika anak belum benar-benar siap. Kesiapan ditandai dengan kesiapan orthographic, yaitu kesiapan terlibatan koneksi neural antara bagian otak yang merekam huruf cetakan dan bagian otak yang mengaktifkan fungsi bicara. Misalnya, kata B-O-L-A yang tertulis dibaca: bola.
3. Tahap 2: Development of automaticity (“ungluing from print”). Pada tahap ini anak mulai cukup lancar membaca. Anak belajar menggunakan kemampuan decoding dalam membaca. Anak menjadi penasaran pada bacaannya dan ingin membaca lebih banyak lagi. Pada tahap ini, anak belajar menghubungkan teks bacaan dengan pengucapan, bahkan dari teks ke idea tau pemikiran baru. Kemampuan decoding-nya telah berkembang dan kecepatannya dalam membaca meningkat. Ketepatannya dalam membaca juga ikut meningkat dan menjadi semakin lancar. Pada tahap ini anak seharusnya sudah dapat memberi atensi pada arti dan teks bacaan. Pada umumunya tahap ini dicapai sewaktu anak berusia 8 tahun.

4. Tahap 3: Incorperation of learning subroutines (Reading for learning the new) atau membaca untuk belajar. Pada tahap ini motivasi untuk membaca berubah. Perubahan dari “learning to read” menuju “reading to learn” dimulai pada tahap 3, yaitu ketika pada umumnya anak sudah mampu menguasai informasi dari materi tertulis; yang dapat ditelaah lewat kurikulum sekolah. Pada tahap ini, bagi anak membaca teks adalah untuk memperoleh informasi dan, dengan demikian perbendaharaan kata mereka berkembang pesat. Tahap perkembangan ini biasanya dicapai ketika anak duduk di kelas 4 atau kira-kira berusia 9-10 tahun. Umumnya mereka belajar dari buku-buku yang mereka baca, tetapi jika di kelas 4 anak belum menguasai “how to”-nya membaca maka di kela sselanjutnya keterampilan membaca mereka sulit ditingkatkan.

5. Tahap 4: Taking multiple view points during reading. Karakteristik tahap ini adalah kemampuan untuk membandingkan dua atau lebih sudut pandang berdasarkan perbandinigan artikel yang dibaca. Tahap ini belum muncul sampai anak memasuki usia sekolah menengah atas dan kemampuan ini akan muncul hanya apabila guru memberika latihan berpikir comparative.

6. Tahap 5: Reading for building & testing personal theory. Tahap ini adalah tahapan sempurna yang umumnya dicapai pada masa mahasiswa dan dimanifestasikan melalui berbagai tulisan hasil penelitian. Mahasiswa membaca dengan tujuan membuat formula dan atau untuk menetapkan posisi pendapatnya mengena suatu fenomena, serta melakukan konsolidasi atas apa yang telah
dibacanya. Sambil membaca, individu yang bersankutan sekaligus melakukan konstruksi teori pribadi.

Berdasarkan ilustrasi dan teori pada paragraf sebelum ini, menurut penulis apabila guru, orang tua dan pendidik anak memberikan materi bimbingan belajar sesuai dengan tahap perkembangan anak adalah sebagai dasar guru, orang tua dan pendidik anak dapat melakukan monitor terhadap pengajaran, khususnya menilai apakah materi membaca terlalu mudah atau terlalu sulit untuk anak. Akibatnya, anak dapat mempertahankan semangatnya untuk melatih keterampilan membaca.

Apabila guru dan orang tua dapat melakukan pengamatan kepada keterampilan membaca anak sesuai dengan tahap perkembangan membaca di atas maka keterampilan membaca anak dapat dengan mudah diamati. Selain itu, orang tua dan guru dapat memberikan pendampingan lebih awal ketika menemukan anak yang membutuhkan pendampingan membaca secara khusus.

Daftar Pustaka:
Kumara, A., Wulansari, A. J., Yosef, G. L. (2014). Perkembangan kemampuan membaca. In Kumara, A. Wulansari, A. J., Rustam, A., Andriana, E., Trunodoyo, E. A., Kurniastuti, I., Sessiani, A. L., Yosef, G.L., Jannah, M. Verannika, S. M., Murtini, Santoso, W. S. Kesulitan berbahasa pada anak: Deteksi dan penanganannya (pp 1-25). Yogyakarta: Penerbit PT. Kanisius.

Bacaan lebih lanjut:
Yosef, G. L. (2014). Mengantarkan anak kepada keterampilan pemahaman bacaan. Retrieved from: http://bahasa.kompasiana.com/2014/04/11/-mengantarkan-anak-kepada-keterampilan-pemahaman-bacaan-646232.html.

2,378 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar