4

Pendidikan ‘Kedelai’ (+1)

Botaksakti July 27, 2012

Negeri kita sepertinya memang ‘luar biasa’! Bagaimana tidak, gara-gara kedelai saja, hebohnya luar biasa. Yang lebih menyedihkan, gara-gara kedelai bahkan sampai berimplikasi pada konflik horisontal. Perajin tempe dan tahu mogok produksi. Stok terhenti, dan pedagang tahu/tempe di pasar terlongong-longong. Rakyat yang mengkonsumsi tahu/tempe kebingungan menentukan pilihan makanan lainnya.

.
Kasus kedelai muncul boleh jadi karena kurang seriusnya bangsa ini mempersiapkan segala sesuatunya. Dengan penduduk yang hampir empat kali lipat dari Thailand, misalnya, justru lahan kedelai kita malah hanya seperempat lahan Thailand. Kita lebih suka melihat pertumbuhan gedung megah, mall, dan berbagai fasilitas ‘modern’ yang tidak lain tidak bukan hanya menjerumuskan kita ke dalam kehidupan konsumtif. Senyampang dengan itu, kita lupa bahwa ketahanan pangan adalah tanggung jawab mutlak kita sendiri. Tidak mungkin mengandalkan ketahanan pangan pada negara lain. Dan kasus kedelai menjadi salah satu bukti mutakhirnya.


Betapa rapuhnya kita soal pangan ini, yang terlihat dari kasus ‘kedelai’ di atas, tiba-tiba membuat saya berpikir. Mungkinkah pendidikan kita juga bisa bernasib sama? Benarkah pendidikan kita ‘hanya’ akan menghasilkan SDM yang rapuh dan selalu bergantung pada pihak lain.


Kekhawatiran tersebut tentunya bukan tanpa alasan. Pengambil kebijakan dan aparatnya masih saja ‘seperti’ bermain-main dalam menentukan arah dan mekanisme pendidikan kita. Keputusan yang diberi nama ‘kebijakan’ kadang dibuat begitu saja tanpa sebuah pemikiran matang. Kesan itu muncul manakala kita menyaksikan betapa sebuah kebijakan bisa berubah-ubah hanya dalam hitungan waktu.


Ambil contoh, misalnya, tentang UKG yang akan segera diselenggarakan. Sudah tahu sejak kebijakan ini dikemukakan banyak pihak menolaknya, ternyata tidak membuat penyelenggara kebijakan ini belajar. Berkali-kali, muncul penjelasan tentang latar belakang kegiatan ini, hanya saja setiap kali selalu berubah. Inilah yang membuat para guru calon ‘sasaran’ menjadi gundah gulana. Kepastian bagi mereka ibarat ruang hampa yang nyata.
Kegundahan para guru calon ‘tersasar’ itu semakin lengkap karena janji pemerintah untuk mengeluarkan kisi-kisi, sampai tadi pukul 6.30 WIB ternyata belum bisa diakses. Jangankan kisi-kisi, UKG yang konon akan dilaksanakan tanggal 1 dan 2 Agustus, bahkan sampai kini daftar pesertanya juga belum dapat diakses, alias belum tersedia.


Nah, dengan kondisi demikian, bukankah wajar bila timbulkeprihatinan dan kekhawatiran dengan pendidikan kita?


 

981 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar