Artikel Pilihan

PRESENTASI MENARIK DENGAN PREZI

Salah satu daya tarik mengajar antara lain dengan performance penyampaian…

Selengkapnya

Artikel Pilihan

Tampilan Baru untuk Website Guraru

Guraru, tak terasa website Guru Era Baru (Guraru) hampir menginjak…

Selengkapnya

Artikel Pilihan

Cara Mudah Membuat Aplikasi Android Sendiri

Menjadi tiga besar artikel pilihan di bulan Juni 2014 memotivasi…

Selengkapnya

Aktivitas
Home > Kategori: > Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra

Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra (+1)

Penulis: Nunung Nuraida
Kategori:

Mengawali tahun 2013, akhirnya IGI Bekasi kembali menunjukkan taringnya. Hari ini, 27 Januari 2013, perdana di tahun 2013, IGI Bekasi mengadakan seminar yang bertajuk "Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra". Pembicara kali ini adalah Bapak Yudhistira Massardi beserta istri, Ibu Siska Yudhistira Massardi. Mereka adalah penulis buku dengan judul yang sama.

Metode sentra ini pertama kali diperkenalkan oleh ibu Wismi, pendiri Sekolah Al Falah di Ciracas. Ibu Wismi sendiri mengadopsi metode ini dari buku karya Dr. Pamela Phelps yang berjudul "Beyond Center and Circle Time". Dengan mendatangkan langsung Pamela dari USA, Sekolah Al Falah mendapatkan pelatihan langsung mengenai metode sentra ini. Setelah hampir satu tahun pelatihan dan percobaan, barulah Sekolah Al Falah siap menerapkan metode sentra ini di sekolah mereka.

Sebenarnya apa yang membedakan metode sentra dengan metode yang banyak digunakan saat ini di banyak sekolah?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita menilik dulu berbagai hasil penelitian mengenai perkembangan anak-anak.

Dalam bukunya "All I Really Need To Know I Learned in Kindergarten", Robert Lee Fughum mengumpulkan beberapa hal yang ia dapat selama menjalani proses belajar di taman kanak-kanak, yaitu:
berbagi, jujur, tidak pukul teman, kembalikan barang-barang ke tempat semula, buang sampah pada tempatnya, minta maaf, cuci tangan sebelum makan, siram WC, kue hangat dan susu dingin, hidup seimbang, tidur siang, kelak kamu keluar dunia berpegangan tangan.

Golden Age, atau masa emas anak-anak terjadi pada usia anak 0 hingga 7 tahun. Menurut penelitian, tingkat kecerdasan anak-anak dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang dialaminya saat ia masih di dalam kandungan. Besaran pengaruhnya bisa mencapai 3 kali lipat dibandingkan ketika anak sudah keluar dari rahim.

Untuk itu banyak sekali para ibu hamil yang menstimulus hal-hal positif terhadap janin yang dikandungnya dengan memperdengarkan musik klasik, lantunan ayat-ayat suci al quran, dll. Tentu emosi ibu sangat mempengaruhi emosi anak selama dalam kandungan.

Menurut, Charles Wolfgang, dalam bukunya "Child Guidance Through Play", ada 3 jenis permainan yang mampu merangsang kecerdasan anak, yaitu: (1) Main Sensorimotor atau Fungsional, (2) Main Peran (makro dan mikro), (3) Main Pembangunan (Bersifat cair dan terstruktur).

Maka, sebenarnya, orang-orang jaman dahulu telah sangat mempertimbangkan kebutuhan bermain bagi perkembangan jiwa anak-anak, dengan banyak jenis permainan yang diciptakan. Mulai dari main galasin (geroba sodor), main karet, main petak umpat, dll. Sayangnya, permainan-permainan ini dianggap kuno dan modern dan tergeser oleh perkembangan teknologi mutakhir dengan game komputer dan sejenisnya.

Menilik dari beberapa penelitian di atas, maka kita harus bisa menemukan metode yang tepat untuk bisa mengembangkan kecerdasan anak sesuai porsinya. Metode sentra merupakan salah satu yang bisa kita lakukan. Sebenarnya, metode ini tidak jauh berbeda dengan metode tematik yang saat ini digunakan di banyak sekolah. Bedanya terletak pada pengkhususan masing-masing sentra, ketimbang menyatukannya dalam satu waktu.

Ada 6 pakem dalam pelaksanaan metode sentra ini, yiatu:

1. Tema

Materi ajar dikemas dalam satu tema, agar: (a) seluruh materi dapat diberikan secara penuh, (b) pembelajaran menjadi efektif dan efisien dimana proses dapat terukur secara waktu, terukur secara materi, materi dapat dipilih yang dekat dengan anak dan diberikan secara kongkrit.

Merupakan fitrah anak memiliki sifat eksploratif. Mereka belajar menemukan sesuatu dengan trial dan error. Misalnya: anak menumpahkan air dari botol, lalu air itu disentuh dan diacak-acaknya. Disini anak sedang belajar merasakan air secara nyata dengan sentuhannya. Tapi apa yang umumnya dilakukan oleh para orang tua, terutama ibu, mereka akan bilang "adek, koq airnya ditumpahin, basah deh meja/lantainya!" Dan dengan sigap bak pesulap, si ibu langsung mengambil lap, dan "voila" air disulap menjadi kering. Padahal, dibandingkan menjadi pesulap, ibu akan lebih baik mengajarkan anak dengan berkata "adek, kalau meja/lantainya basah, dikeringkan dengan lap ya?" Maka disini, anak akan belajar bahwa untuk mengeringkan sesuatu yang basah itu butuh lap, dan juga belajar bertanggung jawab bahwa setelah ia menumpahkan air, ia harus mengelapnya.

Jadi dalam proses belajar itu, pondasi utamanya adalah HAPPY. Ini berlaku kepada seluruh jenjang pendidikan. Anda perhatikan ketika siswa anda tidak respon terhadap apa yang anda lakukan, dipastikan pelajaran kita pasti membosankan.

KIta pun harus sudah mulai mengubah kebiasaaan pikiran kita yang berkata "hari ini ngajar apa ya?" dengan ucapan "kita belajar apa dari anak-anak hari ini?"

2. Sentra

Setelah tema, kita harus memiliki sentra-sentra sebagai inti dari pembelajaran dengan metode sentra ini. Ada tujuh sentra yang sebaiknya diterapkan. (Di sekolah Batutis sendiri, sekolah gratis asuhan Bapak Yudhistira dan Ibu Siska ini, baru enam yang bisa diterapkan).

Ketujuh sentra tersebut adalah:
(a) Sentra Persiapan (keaksaraan dan calistung), (b) Sentra Seni (kreatifitas, imajinasi, motorik halus dan kasar), (c) Sentra Bahan Alam (sains, sensori motor), (d) Sentra Balok (konstruksi, geometri, akurasi, keseimbangan), (e) Sentra Imtaq (ritual, dasar-dasar keberagamaan), (f) Sentra Main Peran Besar (profesi), (g) Sentra Main Peran Kecil (menjadi dalang).

Dalam setiap menyampaikan materi, perhatikan bahasa dan suara guru. Kita wajib menggunakan bahasa baku yaitu yang mengandung susunan subjek, predikat, objek, keterangan (SPOK). Hal ini untuk menumbuhkan kecintaan pada bahasa Indonesia dan membentuk karakter bangsa yang cinta bahasanya sendiri. Suara guru pun perlu diperhatikan.

Guru tidak boleh berteriak. Karena suara yang melebihi batas normal, akan memicu syaraf otak untuk bereaksi dengan keras juga. Pada kasus anak-anak tertentu, bisa terjadi tantrum. Untuk itu suara harus selalu stabil. Dan yakinlah bahwa anak mendengar suara stabil kita.

Prinsip-prinsip pelaksanaan kegiatan di sentra adalah: SAY (guru menjelaskan – anak merespon), SHOW (guru memperlihatkan gambar, benda, dll), CHECK (guru memastikan konsep-konsep yang diterima anak itu BENAR melalui penuturan ulang (recalling) dan pengamatan hasil karya anak.

3. Circle Time

Semua kegiatan dilakukan dalam posisi duduk melingkar, agar tercipta suasana sejajar antara anak dengan guru. Dengan circle time ini juga kita dapat menatap anak satu per satu dengan leluasan tanpa ada batas dan jarak.

4. Non-Direct Teaching

(a) Guru tidak berdiri di depan kelas dengan kapur dan papan tulis (=> guru duduk di lingkaran bersama anak-anak), (b) Guru tidak memberikan informasi secara langsung dan satu arah (=> guru bercerita dan membangun interaksi aktif dengan anak), (c) Guru tidak bersikap sebagai "pengajar" bagi anak.

5. Discipline with Love

Guru dilarang melakukan 3 M: Dilarang "Melarang", Dilarang Menyuruh, Dilarang Marah. Tentu hal ini dilakukan sesuai peraturan, dan setiap peraturan dilaksanakan dengan tegas disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.

Guru dilarang Melarang => Agar anak menjadi berani bertindak dan berpendapat.
Guru dilarang Menyuruh => Agar anak memiliki inisiatif.
Guru dialarang Marah => Agar tidak kehilangan akal sehat.

6. Kurikulum Individu.

Anak dinilai berdasarkan perkembangan diri masing-masing.
Itulah sekilas tentang pendidikan karakter dengan metode sentra.

Sesuatu yang sekilas tentu belum bisa dijadikan ilmu mendalam yang bisa membuat kita puas. Untuk itu pelatihan yang mendalam dan menyeluruh sangat diperlukan untuk bisa mendalami metode sentra ini. Sekolah Batutis terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk mengadopsi metode ini dengan fee yang terjangkau bagi para peminat.

Semoga sedikit tulisan ini mampu membuka mata hati kita tentang pentingnya pendidikan karakter dan mencari metode yang paling tepat untuk bisa membentuk karakter anak bangsa yang baik.

 

 

 

 

 


 

526 total views, 1 views today



Harap login untuk Vote UP postingan ini.


  1. Avatar of Pengelola Guraru

    Seminar ini penting sekali, untung ada bu @missnunung yang menuliskan di sini… Terima kasih ya Bu :)

    Pengelola Guraru Komentar pada January 28, 2013 5:14 am

  2. Avatar of Nunung Nuraida

    kembali kasih Pak/Bu Pengelola :)

    Nunung Nuraida Komentar pada January 28, 2013 8:26 am

  3. Avatar of Botaksakti

    “sentra” itu apa sih?

    Botaksakti Komentar pada January 28, 2013 2:23 pm

  4. Avatar of Nunung Nuraida

    sentra ini diambil dari center mas sakti, diartikan pusat atau bidang. jadi anak belajar secara moving. misalnya hari (jam) ini mereka belajar di sentra balok, maka hari (jam) berikutnya mereka belajar di sentra imtaq.

    Nunung Nuraida Komentar pada January 28, 2013 2:54 pm

You must be logged in to post a comment.

Panduan

Mari bergabung dengan Guru Era Baru! Baca panduan disini.

Panduan Bergabung

Klik Disini
Dr. Acer

Punya pertanyaan seputar komputer dan produk Acer lainnya?

Tanya Dr. Acer

Submit