6

Pendidikan Gempa Bumi di Sekolah (+6)

Andi Ardianto May 26, 2015

Sabtu, 25 April 2015 dunia dikejutkan dengan terjadinya gempa bumi di Nepal. Gempa bumi berkekuatan 7,9 skala richter ini meluluhlantahkan pemukiman dan gedung-gedung serta ribuan orang menjadi korban. Ini menjadi peringatan bagi kita untuk selalu waspada menghadapi gempa yang bisa datang kapan saja. Apa lagi sejumlah ahli geologi memprediksi akan ada gempa yang terjadi setelah di Nepal, diantaranya di Padang. Peristiwa sebelumnya juga pernah terjadi di Indonesia. Kita tentu masih ingat peristiwa tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 dan gempa Jogjakarta pada 27 Mei 2006 yang memakan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang tidak sedikit.

 

Indonesia merupakan negara yang terletak di jalur pertemuan tiga lempeng dunia, yaitu lempeng Indo Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Asia Pasifik. Hal ini mengakibatkan posisi Indonesia menjadi begitu rawan terhadap gempa. Peristiwa demi peristiwa gempa bumi yang banyak terjadi bukanlah hal yang asing bagi kita. Gempa bumi adalah suatu peristiwa pelepasan energi gelombang seismic yang terjadi secara tiba-tiba. Pelepasan energi ini diakibatkan karena adanya deformasi lempeng tektonik yang terjadi pada kerak bumi (Hartuti, 2009: 12-13).

 

Gempa yang terjadi selalu diiringi dengan berbagai kerusakan fasilitas umum, harta benda, bahkan nyawa sekaligus. Selain itu, gempa juga dapat membawa trauma yang mendalam bagi siapa saja yang mengalaminya. Korban paling rentan ketika menghadapi gempa adalah orang miskin, orang tua, wanita, dan anak-anak. Gempa bumi memang sulit diprediksi kapan akan terjadi, yang bisa kita lakukan adalah dengan mengetahui indikasi sebelum kejadian terjadi. Indikasi ini dapat diketahui melalui sistem peringatan dini “early warning sistem”. Melalui indikasi ini, paling tidak kita telah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Dengan mengetahui indikasinya pula kita akan bijak menentukan bagaimana cara menghadapinya.

 

Pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggungjawab dalam hal ini harus lebih aktif. Upaya pemerintah dalam menanggulangi korban bencana gempa bumi dapat dilakukan melalui tanggap darurat, mitigasi bencana, dan rekonstruksi, baik rekonstruksi bangunan maupun rekonstruksi pkisis bagi korban bencana gempa bumi. Namun permasalahan gempa bumi tidak hanya masalah pemerintah saja, tapi juga masalah semua individu. Maka pemahaman tentang gempa bumi mutlak diperlukan bagi siapa saja agar korban dapat diminimalisasi. Selama ini kesiapan masyarakat terhadap bencana gempa bumi sangat minim. Hal ini bisa dilihat dari minimnya pemahaman masyarakat tentang bencana gempa bumi, sedikitnya pelatihan tentang mitigasi bencana gempa bumi, sarana dan prasarana yang belum memadai serta kurikulum kebencanaan yang belum banyak terintegrasi di sekolah.

 

Salah satu lembaga yang diharapkan dapat memberi sumbangsih besar terhadap mitigasi bencana gempa bumi adalah lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah. Melalui sekolah, diharapkan pemahaman tentang gempa dan bagaimana menghadapinya, baik itu sebelum, saat, atau pun setelah terjadi dapat tersebar luas di masyarakat. Mitigasi, menurut Noor (2006: 150) pada hakikatnya adalah mengurangi risiko bencana geologi terhadap harta benda maupun jiwa manusia. Mitigasi dapat dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi. Sedangkan bencana, menurut UU No.24 tahun 2007 adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban. Suatu ancaman baru dapat disebut bencana jika menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

 

Penerapan

 

Sekolah merupakan lembaga yang strategis untuk menjadi wadah peningkatan pemahaman tentang mitigasi bencana gempa bumi. Oleh karena itu sekolah harus berperan aktif dalam upaya menanggulangi bencana gempa bumi ini. Beberapa cara yang bisa dilakukan di lingkungan sekolah adalah:

 

Pertama, memasukkan pendidikan bencana gempa bumi dalam pelajaran sekolah. Misalnya dalam materi bentuk muka bumi pada pelajaran IPS, guru bisa menambah informasi kepada anak didik dengan mengidentifikasi daerah mana saja yang rawan gempa. Aceh, Jogjakarta, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur adalah diantara wilayah yang sering terjadi gempa vulkanik atau gempa runtuhan. Sebab dari gempa bumi vulkanik adalah persentuhan magma dengan dinding-dinding gunung api dan tekanan gas pada peledakan hebat. Sebab lain yang mengakibatkan gempa bumi vulkanik ialah perpindahan mendadak dari magma di dalam dapur magma (Katili, 1963: 253).

 

Kedua, melakukan pelatihan tanggap bencana. Pelatihan ini jarang didengar apalagi diterapkan di sekolah padahal memiliki peran penting. Jika para petugas kebakaran sering melakukan simulasi penanganan kebakaran dan polisi pun melakukan simulasi menangani demonstran, sudah saatnya sekolah melakukan pelatihan menghadapi bencana. Hal ini penting dilakukan agar warga sekolah terbiasa menghadapi bencana yang sewaktu-waktu terjadi. Sekolah bisa menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memberi pelatihan kepada warga sekolah. Bentuk pelatihan ini tidak sebatas bagaimana menyelamatkan diri saat gempa terjadi dan bagaimana rekonstruksi setelahnya tapi juga bisa ditambah dengan pelatihan membaca tanda-tanda akan terjadinya gempa. Diantara tanda itu adalah; (a) memperhatikan hewan-hewan. Insting hewan tajam, jika akan ada gempa mereka memperlihatkan perilaku aneh, gelisah atau tiba-tiba menghilang. (b) air tanah tiba-tiba surut tidak seperti biasanya. (c) mengecek medan elektromagnetis, misalnya dengan mengecek suara televisi. Jika ada suara kurang jelas atau brebet itu artinya ada tanda-tanda gempa bumi. (d) memperhatikan langit. Ini adalah cara yang relatif mudah dibanding lainnya. Jika di langit ada awan seperti angin tornado atau pohon itu menandakan akan ada gempa bumi.

 

Ketiga, Membuat jalur evakuasi. Jalur ini semacam denah yang menunjukkan jalan mana yang harus dituju ketika bencana terjadi dan dilengkapi tempat yang aman untuk berkumpul. Pembuatan jalur ini perlu diikuti penyuluhan bagi seluruh warga sekolah agar mereka bisa menyelamatkan diri atau keluar secara aman, tidak berebut, dan tidak panik saat menggunakan tangga darurat. Karena dari jumlah korban gempa bumi, tidak sedikit dari mereka yang meninggal bukan karena tertimpa runtuhan bangunan tapi karena panik saat menyelamatkan diri sehingga terinjak-injak. Jalur ini bisa dipasang pada kelas dan tempat-tempat yang strategis agar semua warga sekolah bisa melihatnya.

 

Dengan adanya peran aktif sekolah dalam pendidikan mitigasi gempa bumi diharapkan wawasan kegempaan akan bertambah sehingga korban bencana bisa diminimalisasi. Semoga.

 

 

Andi Ardianto

Guru SDIT Insan Cendekia, Teras, Boyolali

Artikel ini dimuat di Harian Joglosemar, Rabu, 13 Mei 2015

 

1,779 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (6)

  1. Dari perbincangan antara guru-guru IPS di sekolah saya, ternyata mereka juga berencana ingin mengadakan pelatihan dan simulasi tanggap bencana, tulisan ini sangat bermanfaat. Mudah-mudahan nanti pada tahun ajaran baru, rencana ini bisa terlaksana. Terima kasih, Pak Andi Ardianto.

  2. kelas 6 IPS juga ada materi gempa …. kami praktikumnya sederhana
    jika ada gempa latihan berlari ke luar kelas
    jika guru teriak “GEMPA” anak-anak berhamburan lari ke luar kelas
    bagi yang tidak bisa lari ke luar kelas masuk ke bawah meja
    =====================
    seru anak-anak pada seneng kalau guru bilang “GEMPA” tapi hanya latihan …:)

  3. Saya dulu pernah mendampingi program mitigasi gempa di Klaten kerjasama dengan Usaid, memang perlu pembelajaran tentang gempa bumi dan bagaimana juga simulasi jika terjadi gempa….dan artikel ini lengkap….salut pak. salam kenal

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar