Artikel Pilihan

Tampilan Baru untuk Website Guraru

Guraru, tak terasa website Guru Era Baru (Guraru) hampir menginjak…

Selengkapnya

Artikel Pilihan

Cara Mudah Membuat Aplikasi Android Sendiri

Menjadi tiga besar artikel pilihan di bulan Juni 2014 memotivasi…

Selengkapnya

Artikel Pilihan

Pengumuman Pemenang Artikel Pilihan 3 Besar di Bulan Juni 2014

Assalamualikum Wr. Wb. Selamat siang guraruers, semoga sehat selalu dan…

Selengkapnya

Aktivitas
Home > Aktivitas […] Lain-lain > Pendekatan Dan Strategi Konsep ilmu, Teknologi,dan Masyarakat dalam Pengajaran IPS SD

Pendekatan Dan Strategi Konsep ilmu, Teknologi,dan Masyarakat dalam Pengajaran IPS SD (+1)

Penulis: Bambang Haris
Kategori: Aktivitas […] Lain-lain

Pendekatan Dan Strategi Konsep ilmu, Teknologi,dan Masyarakat
dalam Pengajaran IPS SD

Pada hakikatnya rumusan tujuan pembelajaran IPS di Indonesia banyak kesamaan dengan rumusan tujuan Studi Sosial di AS dan SOSE ( Studies of Society an Enfironment) di Australia.
Dalam kurikulum Standard for Social Studies AS, dikemukakan bahwa tujuan studi sosial adalah untuk membantu para generasi muda untuk mengembangkan kemampuan membuat keputusan yang rasional sebagai masyarakat demokratis di tengah dunia yang bebas. Ruang lingkupnya adalah dari sejumlah disiplin ilmu-ilmu sosial, meliputi Antropologi, Arkeologi, Ekonomi, Geografi, Sejarah, Hukum, Filsafat, Ilmu Politik, Agama, dan Sosiologi bahkan mencakup pula Humanistis dan Ilmu-ilmu Alam.
Dalam Curriculum Standards Framework Australia dikemukakan bahwa tujuan SOSE adalah untuk memberikan pemahaman tentang konsep masyarakat yang dapat diterima oleh semua siswa dengan menekankan kebersamaan dan mengakui keragaman. Ruang lingkupnya meliputi ilmu-ilmu sosial, yakni Politik, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi, Psikologi, dan Ekonomi.
Pengajaran IPS di Indonesia di arahkan pada upaya mempelajari kehidupan sosial yang didasarkan pada bahan kajian Geografi, sosiologi, antropologi, ekonomi, tata negara, dan sejarah. Adapun tujuannya adalah agar siswa mampu mengembangkan kemampuan dan ketrampilan dasar yang berguna bagi dirinya untuk mengatasi masalah sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendekatan yang dilakukan dalam pengajaran IPS adalah interdisipliner atau multidipliner. Artinya dalam kegitan belajar mengajar IPS di kelas, siswa seyogyanya diajak, didorong, dan dibina agar memecahkan masalah dengan sudut pandang dari pelbagai disiplin ilmu.
Philip Heath sebgaimana dipaparkan oleh Richard C Remy (1990) mengemukakan tiga strategi untuk ITM dalam pengajaran IPS, yakni: (1) Infusi IPS ke dalam mata pelajaran yang ada, (2) perluasan melalui topik kajian mata pelajaran yang ada, dan atau (3) penciptaan mata pelajaran yang baru.

A. Infusi ITM ke Dalam Mata Pelajaran yang Ada
Beberapa mata pelajaran yang mendasari bidang IPS, misalnya Geografi, Sosiologi, Antropologi, Ekonomi, Tata Negara, dan Sejarah memberi peluang sebagai wadah untuk pembelajaran konsep ilmu teknologi dan masyarakat (ITM). Ditemukannya mesin uap misalnya telah membuka era baru dalam kehidupan masyarakat di Eropa, dan berdampak pula bagi negara-negara lain termasuk di Indonesia. Keuntungan dari pendekatn Infusi adalah bahwa pembelajaran IPS dapat meningkatkan integritas dan koherensi kurikulum yang ada sehingga model pembelajaran ini dapat diterima sebagai bagian dari misi sekolah. Kelemahannya dalam hal kesulitan memilah materi mana saja yang akan dikesampingkan.

B. Perluasan Mata Pelajaran yang Ada
Topik-topik dan materi ITM dapat ditambahkan pada materi pelajaran yang sudah ada atau pada materi IPS tradisional. Misalnya kasus kebijakan pemerintah pusat tentang kegiatan kelompok kepentingan yang bertujuan mengubah perundang-undangan tentang praktik pengelolaan hutan. Dalam pembelajaran dapat digunakan metode bermain peran, kemudian ditugasi untuk menjadi pejabat atau pemimpin kelompok yang harus mengambil keputusan. Hal ini dilakukan agar mempermudah pemahaman materi ITM.
Keuntungan dari pendekatan ini adalah peluang untuk mengkaji topik ITM secara mendalam. Sedangkan kelemahannya adalah keterbatasan dalam hal topik-topik ITM yang sederhana untuk diangkat.

C. Pembuatan Mata Pelajaran yang Baru
Mengacu dari pengalaman sejumlah sekolahdi AS dan Australia yang telah memisahkan materi ITM ke dalam mata pelajaran tersendiri, yang diberikan sejak SD, hingga SLA. Di AS umumnya mata pelajaran ini digunakan sebagai mata pelajaran pilihan di SLA. Di Australia sebagai mata pelajaran wajib yang sejajar dngan mata pelajaran lainnya. Di Indonesia kajian ITM belum secara khusus diberikan terpisah tetapi merupakan sisipan pada mata pelajaran tertentu.
Keuntungan dari pendekatan ini adalah dapat memberi kesempatan untuk mengembangkan kajiansecara terkait antar ilmu, teknologi dan masyarakat secara mendalam dan berkelanjutan. Heat (1990) berpendapat bahwa pembelajaran dapat memberikan visibilitas dan legitimasi yang tinggi terhadap topik kajian baru, tetapi kelemahannya adalah kurang tersusun secara sistematis seperti pada pembelajaran IPS secara tradisional.
Karakteristik dari program integrasi ITM yang berhasil menurut Heath (1990) adalah sebagai berikut:
1. hasilnya dinyatakan secara jelas
2. strategi organisasi
3. sistem dukungan
4. strategi instruksional.

1. Hasilnya Dinyatakan Secara Jelas
Program ITM yang berhasil dimulai dengan mengembangkan raional dengan merumuskan program ITM secara jelas, mempunyai manfat bagi siswa, serta berhubungan dengan disiplin ilmu lainnya.
Beberapa tujuan yang relevan dalam pembelajaran ITM meliputi: (1) melek ilmu dan teknologi dalam arti memahami dan mengapresiasi bagaimana ilmu itu terbentuk; (2) membuat keputusan rasional yang dapat digunakan untuk penelitian dan memecahkan masalah krusial masa kini dan masa datang; (3) mampu memahami informasi dari sejumlah disiplin dan menerapkan sesuai kondisi masyarakat; (4) memahami bahwa kemajuan IPTEK merupakan warisan masyarakat terdahulu; (5) menyadari semakin banyaknya peluang untuk bekerja di bidang IPTEK.

2. Mengembangkan Organisasi yang Efektif.
Menurut Bybe(1987) mengembangkan organisasi yang efektif meliputi definisi dari cakupan bidang studi, dengan pedoman itu maka para penggunanya dapat mengenal kurikulum dan membedakan mata pelajaran yang tidak memuat konsep ITM.
Dari berbagai hasil penelitian salah satu tujuan para guru untuk memberikan pengajaran ilmu dan teknologi adalah menempatkan anak langsung dengan obyek utama yang dapat dikembangkan. Memberikan kesempatan pada anak untuk menyentuh langsung obyeknya tetapi perlu dibimbing melalui percobaan yang relevan.
Strategi organisasi pembelajaran ini meliputi: (a) bisa menjelaskan isu-isu dan mengambil keputusan dengan identifikasi kejadian; (b) pengumpulan data

lapangan dan data yang berkaitan dengan nilai; (c) pertimbangan alternatif tindakan dan akibat-akibatnya; (d) identifikasi tindakan; (e) rencana tindakan.
Proses infusi keterampilan dan konsep dari ilmu dan teknologi serta kemasyarakatan masih berlangsung. Pendekatan dari guru-guru mata pelajaran lain kepada guru ITM akan meningkatkan pembelajaran dengan memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan.
3. Sistem Dukungan.
ITM menguntungkan siswa karena memberi kesempatan bagi mereka untuk memperlajari berbagai mata pelajaran dari macam-macam disiplin ilmu yang ditetapkan oleh kurukulum. Infusi ITM ke dalam kurikulum memerlukan kerjasama antara guru dengan pihak tata sekolah.
Tahap yang sangat menentukan keberhasilan sistem dukungan ini adalah keterlibatan orang-orang kunci di sekolah dan sistem sekolah dalam pengembangan dan pengajaran model ITM.
Hubungan timbal balik dengan pihak luar misalnya perusahaan dan industri merupakan sumber penting bagi siswa untuk memperoleh karir dan lapangan kerja di kemudian hari.
Sistem dukungan merupakan sarana penting untuk pembelajaran ITM dan IPS karena daat membantu memecahkan masalah atau konflik dan melayani siswa dalam proses belajar mengajar.
4. Strategi Instruktusional
Unsur yang paling penting dalam pengintegrasian IPA ke dalam IPS adalah strategi pembelajaran yang diharapkan akan meningkatkan kemampuan berpikir siswa dan belajar antar disiplin ilmu serta bermacam-macam isu sosial yang berhubungan dengan mata pelajaran IPS. JA. Winter menekankan bahwa pemberian pelajaran lebih baik berupa proses daripada materi, siswa harus dapat menikmati pelajaran IPS dengan mencari bahan bacaan yang berhubungan dengan IPS dan mengembangkan kemampuan serta keterampilan. Penggunaan topik-topik kunci harus dapat menjawab kebutuhan dan keinginan siswa.
Kegiatan seperti diskusi, belajar kelompok, merupakan sarana latihan bagi siswa tetapi harus memprioritaskan metode yang dapat mengembangkan pemahaman siswa terhadap dampak ilmu, teknologi dan masyarakat sejak dulu hingga sekarang.

Disarikan dari modul Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Terbuka
 

419 total views, 3 views today



Harap login untuk Vote UP postingan ini.


  1. Avatar of Subhan

    Saya baru tahu, IPS itu luas sekali sedangkan guru IPS di sekolah waktu kuliahnya hanya 1 cabang ilmu IPS, Selamat belajar guru IPS, anak-anak kita di kelas gak tahu itu kurikulum model apa, tahun berapa, mereka menerima saja, yang penting bagi mereka kita hadir di kelas dengan materi yang sesuai dan mereka paham intisari dari Tulisan di atas karena kompetensi guru yang mampu mengorkestrakan pembelajaran

    Subhan Komentar pada August 13, 2012 10:25 am

  2. Avatar of Pengelola Guraru

    Wah, banyak sekali materi-materi ilmu-ilmu sosial yang dapat memanfaatkan teknologi IT dan sosial media, pak @mataramans

    Pengelola Guraru Komentar pada August 13, 2012 1:56 pm

You must be logged in to post a comment.

Panduan

Mari bergabung dengan Guru Era Baru! Baca panduan disini.

Panduan Bergabung

Klik Disini
Dr. Acer

Punya pertanyaan seputar komputer dan produk Acer lainnya?

Tanya Dr. Acer

Submit