6

PELATIHAN GURU SOSIOLOGI DALAM MENYUSUN PERANGKAT PEMBELAJARAN MELALUI TEKNIK PARTISIPATIF DI SMA SWASTA WIYATA DHARMA KOTA MEDAN (+3)

JR Siregar May 16, 2015

Pelatihan Guru Sosiologi di SMA Wiyata Dharma Medan (2013) Pelatihan Guru Sosiologi di SMA Wiyata Dharma Medan (2013) Pelatihan Guru Sosiologi di SMA Wiyata Dharma Medan (2013)

ABSTRAK

Setiap proses kegiatan pasti selalu meliputi tiga kegiatan utama yakni perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Demikian pula yang terjadi dengan proses belajar mengajar di sekolah. Seorang guru diharuskan melakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran yang kesemuanya itu terkandung dalam perangkat pembelajaran yang wajib dimiliki oleh seorang guru. Proses perencanaan pembelajaran yang harus dilakukan oleh seorang guru meliputi kegiatan utama sebagai berikut: (1) Membuat Program Tahunan; (2) Mengembangkan Silabus; (3) Membuat Program Semester; (4) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran; (5) Menyusun Bahan Ajar; dan (6) Membuat instrumen evaluasi hasil belajar. Dari keenam unsur tersebut di atas, silabus dan RPP merupakan persiapan paling minimal seorang guru ketika hendak mengajar. Berdasarkan pada hasil pengalaman sebagai pendidik dan survei awal di SMA Swasta Wiyata Dharma, muncul permasalahan rendahnya guru yang membuat perangkat pembelajaran khususnya penyusunan silabus, RPP dan bahan ajar. Untuk meneliti lemahnya kinerja guru dalam hal tersebut, dilakukanlah penelitian untuk melihat sejauhmana langkah pelatihan manajemen sumber daya manusia dapat meningkatkan kompetensi guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran.

Kata Kunci : sosiologi, perangkat pembelajaran,dan partisipatif.

 

PENDAHULUAN

Guru sebagai tenaga pendidik adalah orang yang paling banyak berinteraksi dengan kegiatan proses belajar-mengajar di sekolah. Guru memegang peranan yang sangat vital didalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Dengan usaha dan upaya yang dari merekalah tujuan pendidikan nasional dapat terwujud. Kita mungkin semua setuju seberapa bagus pun sistem, kurikulum, peraturan, serta sarana dan prasarana yang dipersiapkan oleh pemerintah akan bernilai sia-sia jika kualitas guru yang melaksanakan proses pembelajaran tidak berkualitas atau tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Karena sangat vital nya peranan dan fungsi guru pada dunia pendidikan sehingga tenaga pendidik atau guru dewasa ini telah dianggap sebagai suatu profesi. Tenaga pendidik dianggap sebagai profesi karena telah memenuhi kriteria yang terpenuhi untuk dianggap sebagai suatu profesi seperti yang dijelaskan oleh Stinnet, dkk, (1963) bahwa jabatan guru telah dianggap memenuhi kriteria profesi karena mengajar pasti melibatkan potensi intelektual, dapat diamati, sebagai dasar dari semua jabatan profesional lainnya bahkan sebagai induk dari segala profesi. Orstien, et al (1984) seperti yang dituangkan dalam buku “Profesi Keguruan” oleh Sutjipto, dkk, menyebutkan bahwa pengertian profesi disebutkan kira-kira (1) tugas tersebut dilakukan sebagai karier yang akan dilakukan sepanjang hidup; (2) sebelum melakukan pekerjaan diperlukan ilmu dan keterampilan tertentu; (3) memiliki otonomi dalam mengambil keputusan yang terkait dengan tugasnya, tidak diatur oleh pihak lain termasuk atasan; (4) mempertangungjawabkan segala sesuatu yang diakibatkan oleh keputusan profesional yang diambilnya; (5) memiliki komitmen terhadap jabatan dan klien, dan dilakukan dengan mengunakan administrasi yang jelas dan mudah; (6) memiliki organisasi profesi dan asosiasi yang sepenuhnya diatur sendiri oleh anggotanya; (7) memiliki kode etik tersendiri untuk membantu memberikan penjelasan riil yang meyakinkan kepada khayalak ramai; dan (8) mempunyai status sosial dan gaji yang tinggi bila dengan jabatan lain. Dengan dimasukkannya Tenaga pendidik (guru) sebagai suatu profesi maka konsekuensi logisnya jabatan tenaga pendidik akan memiliki beberapa kewajiban yang harus dipenuhi didalam melaksanakan tugas profesionalnya.
Guru sebagai tenaga profesional mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan sangat penting dalam mencapai tujuan pendidikan nasional dalam rangka menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Karena itu, profesi guru harus dihargai dan dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 14 Th.2005 pasal 8 tentang Guru dan Dosen menyatakan guru wajib memiliki kualifikasi kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki visi untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya pada pasal 10 ayat 1 Undang-undang tersebut dinyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Usman dalam Sagala (2008) menyatakan bahwa kompetensi profesional guru meliputi: (1) penguasaan terhadap landasan pendidikan; (2) menguasai bahan pengajaran; (3) kemampuan menyusun program pengajaran; (4) Kemampuan menyusun perangkat penilaian hasil belajar dan proses pembelajaran. Ukuran atau standar guru yang profesional seperti dipaparkan di atas diharapkan akan lahir guru-guru yang memiliki kemampuan yang komplit untuk menghasilkan out-put pendidikan yang bermutu yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Dalam pelaksanaan proses pendidikan, guru banyak menemukan kendala, sehingga membutuhkan bantuan, dalam upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru adalah melalui supervisi pendidikan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah/ Pengawas Sekolah. Oleh karena itu sebagai penegasan dan dasar hukum, pemerintah menginstruksikan pelaksanaan supervisi tersebut melalui surat-surat keputusan, yang salah satunya adalah: Permendiknas RI Nomor 12 Tahun 2007, tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, yaitu pada kompetensi supervisi Kepala sekolah. Salah satu faktor yang penting dan strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah guru, karena guru inilah merupakan pelaksana terdepan dalam proses pendidikan yang berhadapan langsung dengan peserta didik. Oleh karena itu berhasil dan tidaknya mutu pendidikan tergantung pada profesionalisme guru.
Namun berdasarkan survei dan pengamatan sementara yang ditemui di lapangan dewasa ini masih banyak dari para guru belum mampu melaksanakan tugas pokok mereka sesuai dengan standar profesi yang ditetapkan. Dan rendahnya kemampuan guru dalam menyelenggarakan proses belajar-mengajar yang bermutu berdampak langsung terhadap kualitas siswa yang dihasilkan. Penyelenggaraan proses kegiatan belajar-mengajar yang tidak berkualitas yang dilakukan oleh seorang guru tidak akan mungkin menghasilkan hasil belajar yang berkualitas. Masih banyak dari para guru di sekolah saat ini yang belum mempunyai kemampuan yang memadai untuk melaksanakan tugas pokok mereka terutama yang berhubungan dengan kegiatan belajar-mengajar di kelas. Baik yang berhubungan dengan kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan, menilai, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Indikasi ketidakmampuan para guru melaksanakan tugas profesional mereka bisa dilihat dari banyaknya perangkat pembelajaran yang dimiliki guru adalah bukan hasil dari karya mereka. Kebanyakan perangkat pembelajaran guru tersebut bisa diperoleh dari berbagai cara seperti melalui internet, penerbit buku, atau teman seprofesi yang memungkinkan mereka untuk mendapatkannya. Tidak semua perangkat pembelajaran guru tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi peserta didik sehingga ketika mereka mengimplementasikannya, perangkat pembelajaran tidak bisa membawa dampak yang maksimal terhadap keberhasilan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Perilaku yang kurang baik ini merupakan indikasi bahwa kemampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran masih dalam kategori rendah. Ketidakmampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran ini akan berpengaruh terhadap kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Guru terjebak dengan konsep-konsep atau skenario pembelajaran yang ada dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang belum tentu memiliki standar yang baku, yang cocok dengan karakteristik peserta didik dan situasi dan kondisi kelas yang dimiliki guru.
Mengacu pada permasalahan yang telah dipaparkan di atas maka perlu ada upaya yang sungguh-sungguh dan terencana untuk mengembangkan kemampuan profesional guru dalam melaksanakan tugas mulia mereka. Ada banyak alternatif yang bisa ditempuh untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang dikemukakan tersebut seperti melalui workshop, focus group discussion, seminar, bimbingan teknis, pelatihan, pendampingan, supervisi klinis, sharing of experience, on the job training, off the job training, coaching clinic, dan sebagainya. Tentunya harapan dari kegiatan tersebut diantaranya adalah untuk meningkatkan kinerja dan profesionalisme guru dalam mengajar.
Salah satu usaha penulis memberi kontribusi atau solusi terhadap permasalahan yang dikemukakan tersebut, penulis bermaksud untuk melakukan pendampingan terhadap guru Sosiologi di SMA Swasta Wiyata Dharma Kota Medan. Pelatihan dilaksanakan melalui teknik partisipatif dalam menyusun perangkat pembelajaran dan melaksanakan proses pembelajaran.

Tujuan Pelatihan
Tujuan kegiatan pelatihan ini adalah untuk memperbaiki berbagai masalah yang timbul dalam proses pembuatan dan penyusunan perangkat pembelajaran. Adapun tujuan secara rinci sebagai berikut:
a. Untuk membantu guru dalam meningkatkan kemampuan guru dalam membuat dan menyusun silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar, dan evaluasi hasil belajar mata pelajaran yang diampunya.
b. Untuk memberikan pemahaman kepada guru dalam mengenali dan mengaplikasikan model, metode, strategi dan pendekatan dalam proses pembelajaran.
c. Untuk memberikan pemahaman kepada guru dalam membuat bahan ajar dan media ajar sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.

Manfaat Pelatihan
Hasil pelatihan diharapkan dapat memberi manfaat:
a. Bagi kepala sekolah, dapat memecahkan masalah guru dalam meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran sehingga lebih profesional, dengan demikian pada akhimya dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan berdampak pada peningkatan mutu sekolah.
b. Bagi guru, dapat lebih memahami proses pembuatan dan penyusunan perangkat pembelajaran sehingga akan menghasilkan kreativitas dan inovasi dalam proses kegiatan belajar-mengajar sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.
c. Bagi peserta didik, dapat memperoleh layanan belajar yang lebih berkualitas.
Ruang Lingkup Pelatihan
Adapun fokus pelatihan terhadap guru mata pelajaran Sosiologi ini diharapkan pelaksanaannya dalam bentuk:
a. Menyusun silabus.
b. Menyusun RPP.
c. Menyusun bahan ajar.
d. Menyusun instrumen evaluasi hasil belajar.
e. Mengimplementasikan satu RPP didalam kegiatan pembelajaran.

Kriteria keberhasilan pelatihan
Adapun kriteria atau patokan dari keberhasilan pelatihan ini akan didasarkan pada:
a. Terjadinya peningkatan kemampuan guru dalam memahami tentang cara penyusunan perangkat pembelajaran secara benar.
b. Terjadinya peningkatan kemampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran berdasarkan pada produk-produk perangkat pembelajaran yang dihasilkan guru selama kegiatan pelatihan.
c. Terjadinya peningkatan kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang dibuat.

 

PEMBAHASAN

Tahap perencanaan dan persiapan kegiatan
Perencanaan adalah langkah awal yang dilakukan oleh peneliti saat akan memulai tindakan. Agar perencanaan mudah dipahami dan dilaksanakan oleh peneliti yang akan melakukan tindakan, maka peneliti membuat rencana tindakan dan jadwal tindakan sebagai berikut :
a. Merumuskan masalah yang akan dicari solusinya, dalam penelitian ini masalah yang akan dicari solusinya adalah masih banyaknya guru yang belum memahami dalam pembuatan perangkat pembelajaran yang meliputi silabus, RPP, bahan dan media ajar serta model/metode/strategi pembelajaran.
b. Dalam penelitian ini peneliti mengambil rencana untuk melakukan tindakan memberikan kegiatan pelatihan penyusunan dan pembuatan perangkat pembelajaran menggunakan teknik pelatihan partisipatif kepada guru Sosiologi sehingga dapat meningkatkan kemampuan guru tersebut dalam menelaah dan membuat perangkat pembelajaran.
c. Menyiapkan contoh-contoh silabus, RPP, bahan ajar dan media ajar yang sudah sesuai dengan ketentuan penelitian berdasarkan standar ISSN/ISBN.
d. Menyiapkan instrumen-instrumen seperti instrumen silabus, instrumen telaah RPP, instrumen observasi bahan ajar, lembar telaah butir soal, instrumen telaah media pembelajaran, dan lembar observasi yang sudah sesuai dengan ketentuan penelitian berdasarkan standar ISSN/ISBN. Berikut disajikan aktivitas yang disesuaikan dengan jadwal kegiatan pelatihan tersebut.

1. Tahap pelatihan partisipatif dan pendampingan
Pada pertemuan I (Selasa, 14 Mei 2013) terjadilah pertemuan fasilitator dengan guru Sosiologi yang telah ditunjuk oleh pihak sekolah, dalam pertemuan ini guru tersebut telah menyiapkan perangkat pembelajaran yang telah ada yang meliputi silabus, RPP, bahan ajar dan media pembelajaran. Kemudian fasilitator melakukan diskusi awal dengan guru mengenai permasalahan dalam proses penyusunan perangkat pembelajaran. Diperoleh dari diskusi awal guru mengakui bahwa perangkat yang dirinya buat merupakan perangkat yang sifatnya berasal dari “sumber” yang beraneka ragam ada yang diperoleh dari internet dan ada yang berasal dari sekolah lain. Selain itu proses penyusunan perangkat pembelajaran cenderung dibuat hanya untuk sebagai “pelengkap” saja tanpa adanya proses kreativitas dan inovasi dari beberapa orang guru.
Setelah dilakukan diskusi peneliti melakukan telaah perangkat pembelajaran yang telah diserahkan guru kepada peneliti yang meliputi silabus, RPP, Program Tahunan, Program Semester, bahan ajar, media ajar serta evaluasi hasil belajar. Telaah dilakukan berdasarkan instrumen yang peneliti siapkan. Berikut disajikan hasil telaah silabus dari perangkat pembelajaran dari guru yang bersangkutan.
Dari hasil telaah yang fasilitator lakukan terlihat bahwa pada telaah silabus mata pelajaran yang diampu oleh guru tersebut sudah dinilai baik dan sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Kemendikbud, ini tercermin pada rubrik penilaian di atas diperoleh skor nilai 70 atau 76 %, namun demikian fasilitator tetap memberikan informasi penting mengenai hal-hal apa saja yang perlu ada dalam penyusunan silabus tersebut. Sedangkan untuk telaah RPP masih memiliki banyak kelemahan dalam setiap tahap-tahap yang disajikan dalam RPP tersebut. Berikut disajikan penilaian RPP hasil telaah yang dilakukan oleh fasilitator.
Dari data yang telah dianalisis kualitas RPP yang dibuat guru hanya mencapai 62 atau 57,41 %, artinya secara umum kemampuan guru dalam menyusun RPP dapat dikatakan kurang baik. Data yang ditemui juga bahwa RPP tersebut memiliki banyak kelemahan diantaranya masih menggunakan format lama dan tidak original (mengcopy), belum terlihatnya tahapan-tahapan seperti Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi dan Evaluasi, padahal sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No.41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses, yang menyatakan bahwa dalam penyusunan RPP tersebut sebaiknya ada tahapan-tahapan tersebut dan juga belum ditemukannya penggunaan model/metode/strategi pembelajaran pada RPP tersebut.
Pada pertemuan II (Selasa, 21 Mei 2013), peneliti melakukan pendampingan/ pembimbingan secara intensif kepada guru dengan cara memberikan pemberian materi tentang perangkat pembelajaran yang meliputi pengembangan silabus mata pelajaran, pembuatan dan penyusunan RPP, pembuatan bahan ajar, pembuatan media ajar dan pembuatan instrumen evaluasi hasil belajar. Sedangkan kualitas RPP yang dibuat guru setelah pelaksanaan pelatihan seperti yang tergambar pada tabel di bawah ini:
Dari hasil analisa penilaian yang diperoleh terhadap kualitas RPP setelah diadakan pelatihan didapat bahwa skor penilaian RPP yang dibuat guru sudah dinilai sangat baik, ini terlihat telah mencapai 93 atau 86,11 %, jadi dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan kualitas RPP yang dibuat guru sebelum dan sesudah pelatihan dan telah terjadi peningkatan sekitar 28,7 %.
Khusus dalam penyusunan RPP fasilitator melakukan pemberian informasi bagaimana membuat RPP yang ideal dalam pembuatannya, fasilitator juga mengenalkan bermacam-macam model/metode/strategi pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru sebagai contoh model cooperative learning, model direct instruction ataupun model ekspository yang sering muncul dan digunakan dalam proses pembelajaran IPS. Setelah fasilitator memberikan pelatihan kepada guru mengenai penggunaan aneka model/metode pembelajaran fasilitator memberikan contoh media pembelajaran yang berbasis power point yang peneliti pernah buat, kemudian membantu guru tersebut untuk dapat membuat dan menerapkan multimedia power point tersebut. Khusus untuk bahan ajar fasilitator memberikan contoh modul pembelajaran yang telah fasilitator susun, sehingga guru tersebut mampu menyusun bahan ajar sendiri yang dapat digunakan oleh siswa-siswanya.
Untuk telaah bahan ajar dan media ajar di SMA Swasta Wiyata Dharma Kota Medan tidak dilakukan karena keberadaan bahan ajar dan media ajar belumlah ada, oleh karena itu fasilitator memberikan informasi serta menyediakan contoh bahan ajar dan media ajar yang diharapkan nantinya guru tersebut dapat membuat dan mengembangkan bahan ajar dan media ajar tersebut. (contoh terlampir).

Tahap observasi
Pada kegiatan ini ada dua kegiatan besar yang meliputi observasi kelas dan demontrasi mengajar, kegiatan ini dilakukan secara berkesinambungan dan diharapkan akan mendapat manfaat yang baik. Kegiatan observasi ini dilakukan atas dasar bagaimana guru tersebut melakukan proses pembelajaran sedangkan demontrasi mengajar adalah kegiatan pemberian contoh bagaimana mengajar sesuai dengan RPP yang disusun dan bagaimana proses penggunaan model/metode ataupun strategi yang telah dibuat di RPP tersebut.
Menurut Sagala (2010) observasi kelas dilakukan bersamaan dengan kunjungan kelas adalah suatu kegiatan yang dilakukan supervisor untuk mengamati guru yang sedang mengajar di suatu kelas. Tujuan observasi kelas ingin memperoleh data dan informasi secara langsung mengenai segala sesuatu yang terjadi pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Data dan informasi ini digunakan sebagai dasar bagi supervisor untuk melakukan pembinaan terhadap guru yang diobservasinya. Selama berada di kelas, supervisor melakukan pengamatan yang teliti, dengan menggunakan instrumen tertentu, terhadap suasana kelas yang diciptakan dan dikembangkan oleh guru selama jam pelajaran berlangsung dengan tujuan untuk memperoleh data yang objektif. Sebelum supervisor melakukan pengamatan, lebih dahulu supervisor menjelaskan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk membantu guru menemukan titik-titik lemah melalui kegiatan observasi, yang temuannya nanti dijadikan dasar untuk bersama-sama memperbaikinya.
Jadi, observasi yang dilakukan bukanlah untuk mencari kesalahan, dan jika ada kesalahan akan dilakukan tindakan disiplin. Hal ini harus jelas bagi guru, bahwa manfaat observasi adalah untuk meningkatkan kualitasnya dalam mengajar setelah ditemukan berbagai titik lemah. Hal yang paling penting dalam melakukan observasi ini adalah kesepakatan bahwa ada manfaat yang besar bagi supervisor dan bagi guru meningkatkan kualitas pendidikan melalui proses belajar mengajar.
Demontrasi mengajar adalah suatu upaya supervisor membantu guru yang disupervisi dengan menunjukkan kepada mereka bagaimana mengajar yang baik (Sagala, 2010). Pada awalnya yang melakukan demontrasi mengajar ini adalah fasilitator/ pengawas, dengan memberikan demontrasi mengajar ini supervisor dapat memberikan contoh bagaimana mempraktikkan penggunaan metode-metode mengajar yang tepat, atau metode mengajar yang baru atau penggunaan alat-alat bantu mengajar, penggunaan alat evaluasi dan sebagainya. Selama demontrasi mengajar berlangsung guru yang sedang berlatih mencatat dengan teliti apa yang ditampilkan oleh supervisor (demonstran).
Dalam aplikasinya, setelah dilakukan pembimbingan dalam pembuatan RPP, bahan ajar dan media ajar oleh guru yang berkolaborasi dengan pengawas maka dilakukan tahap penampilan hasil melalui kegiatan observasi kelas dan demontrasi kelas yang dilakukan pada pertemuan III (Kamis, 23 Mei 2013). Pada tahap ini guru melakukan observasi kelas tempat guru biasa mengajar, pada hari itu guru tersebut mengajar dikelas XI (sebelas) khusus pada konsep Kelompok Sosial dalam Masyarakat multikultural. Dalam tahap ini guru dan peneliti menyiapkan situasi dan kondisi untuk proses kegiatan belajar dan mengajar (KBM) pada konsep yang telah disusun sesuai dengan RPP.
Langkah awal dalam kegiatan ini adalah dimulai dengan cara demonstrasi mengajar yang dilakukan oleh fasilitator, pelaksanaan pembelajaran pada materi ini menggunakan metode pembelajaran cooperative learning, model S.T.A.D, serta mengadakan pertunjukkan empati budaya, aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh fasilitator ternyata mampu menarik perhatian siswa, sehingga membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Setelah proses pembelajaran yang dilakukan oleh fasilitator selesai, fasilitator dan guru kembali mendiskusikan hal-hal apa saja yang perlu ditekankan dalam proses pembelajaran berlangsung. Tahap selanjutnya guru tersebut bergantian menjadi guru model dalam menjelaskan materi yang sama tetapi diterapkan di kelas lain, hasil observasi pembelajaran menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru tersebut cukup berhasil dalam meningkatkan aktivitas siswa. Berikut hasil lembar observasi pembelajaran yang dilakukan guru tersebut.
Dari hasil penilaian terhadap observasi proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru tersebut terlihat telah mencapai 101 atau 78,91 %, jadi dapat disimpulkan bahwa aktivitas KBM yang dilakukan oleh guru tersebut dapat dinyatakan dengan baik, hal ini diduga bahwa guru sudah cukup memahami proses KBM yang dilaksanakan ditambah lagi sudah diberikan contoh oleh fasilitator bagaimana cara mengaktifkan serta menggunakan model /metode /strategi belajar dalam pembelajaran.
Aktivitas observasi kelas dan demontrasi mengajar ini mampu membuat siswa mendapatkan pengalaman yang cukup menyenangkan, yang pada awalnya proses kegiatan belajar mengajar bersifat monoton hanya ceramah berubah menjadi menyenangkan. Setelah kedua kegiatan ini dilaksanakan, guru dan fasilitator kembali mendiskusikan temuan-temuan apa yang diperoleh dalam proses pembelajaran itu. Dalam hal ini fasilitator mengenalkan dan menjelaskan proses pembelajaran yang dikenal dengan nama istilah PAIKEM GEMBROT yang merupakan akronim dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Menyenangkan, Gembira dan Berbobot.

Tahap refleksi
Pada pertemuan IV (Sabtu, 25 Mei 2013) dilakukan tahap refleksi, pada kegiatan ini dilakukan diskusi secara langsung dengan guru untuk melakukan evaluasi dan mencari solusi dalam mengatasi masalah yang ditemukan pada beberapa kegiatan yang telah dilakukan. Menurut Sagala (2010) bahwa refleksi adalah suatu teknik dalam pemberian layanan kepada guru dengan mengadakan pembicaraan tentang masalah yang dihadapi oleh guru. Pertemuan pribadi antara supervisor dengan guru untuk membicarakan masalah-masalah khusus yang dihadapi guru. Umumnya materi yang dibicarakan adalah hasil-hasil kunjungan kelas dan observasi kelas yang telah dilakukan oleh fasilitator. Dalam pembicaraan tersebut fasilitator berusaha memberikan pendapat tentang kelebihan dan kekurangannya. Kemudian, guru memutuskan dan menilai dirinya sendiri apakah sudah melakukan hal yang benar atau belum, terlihat dari hasil kegiatan ini guru mampu menerima saran dan kritik dari fasilitator, bahkan guru tersebut berkeinginan untuk lebih baik nantinya. Terutama dalam proses penyusunan bahan ajar dan pembuatan RPP yang dapat menumbuhkan siswa yang aktif.
Dari hasil kegiatan pelatihan dengan menggunakan teknik pelatihan partisipatif ini terlihat peningkatan kemampuan guru dalam memahami dan menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan observasi pembelajaran, namun untuk bahan ajar, media ajar dan evaluasi pembelajaran fasilitator belum dapat melakukan penilaian tetapi hanya memberikan informasi tentang kriteria dan hal-hal penting dalam membuat dan menyusun bahan ajar, media ajar dan evaluasi pembalajaran.
Khusus untuk pelaksanaan RPP fasilitator menemukan kendala oleh guru dalam menyusun RPP terutama mengintegrasikan berbagai model/metode/strategi pembelajaran, oleh karena itu fasilitator memberikan penguatan kepada guru tersebut dalam menyusun RPP yang di dalamnya memuat sintaks model-model pembelajaran,dengan harapan guru juga mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran di kelas.

 

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis pembahasan yang telah dilakukan, maka diperoleh beberapa simpulan yaitu sebagai berikut :
1. Pelaksanaan pelatihan dengan menggunakan teknik partisipatif dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru Sosiologi dalam menyusun Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mata pelajaran Sosiologi pada kelas XI (Sebelas) di SMA Swasta Wiyata Dharma Kota Medan.
2. Proses penilaian hasil belajar, media ajar serta penilaian hasil belajar belum dapat dilaksanakan, dikarenakan guru yang mengajar belum membuat ketiga elemen, oleh karena itu fasilitator hanya melaksanakan pemberian informasi (sharing) mengenai beberapa kriteria, syarat dan teknik dalam membuat dan menyusun bahan ajar, media ajar serta instrumen evaluasi hasil belajar.
3. Penggunaan pelatihan teknik partisipatif ini dapat meningkatkan kemampuan guru Sosiologi dalam membuat, menyusun dan mengaplikasikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang terintegrasi dengan model/metode/strategi pembelajaran yang dipilih.

Dari hasil kesimpulan tersebut, dapat diberikan beberapa saran untuk lebih dapat mengoptimalkan kegiatan pelatihan tersebut, yaitu :
1. Bagi pihak sekolah, agar lebih dapat mengoptimalkan proses penyusunan perangkat pembelajaran yang dilakukan oleh guru sehingga proses KBM akan lebih teratur dan lebih baik.
Bagi pihak guru, agar lebih dapat membuat dan menyusun perangkat pembelajran yang juga terintegrasi dengan aneka model/metode/strategi pembelajaran sehingga proses KBM dapat lebih baik.

 

DAFTAR BACAAN

Anonim. 2013. Pengembangan Silabus. Dalam http://www.pabk-4you.com/2013/01/pengembangan-silabus.html. diakses tanggal 23 Februari 2013
Belawati, Tien. 2003. Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta. Universitas Terbuka
Djuhardi. 2007. Profil Kompetensi Guru Madrasah Diniyyah. Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Dan Keagamaan. Vol. 4 No. 2 April-Juni 2007.
Johnson, T. 1998.Vocational Educational. Dalam [http://docs. google. com/view.petra.ac.id]. 22 Februari 2013
Jerris, W. 1999. Quality in Higher Education. Dalam [http://docs.google.com/view.petraac.id]. 22 Februari 2013
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Permendiknas RI Nomor 12 Tahun 2007, Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi dan kompetensi guru
Prosser, C.A. and Quigley,T.H.1949. Vocational Educational in a democracy. Chicago: American Technical Sosiety. Dalam [http://road.www.edu/road/ja-mesr], 12Maret2010)
Sulistyowati, E. 2009. Bahan Ajar, (Online), (endahsulistyowati.wordpress.com/ …/apakah-perbedaan-bahan-ajar-dan-sumber-belajar/, diakses 10 April 2012).
Sagala, Syaiful. 2009. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Zulkarnaini. 2009.Pembelajaran dengan Bahan Ajar Guru (online). Dalam
http://www.id.wordpress.com/tag/pembelajaran/trackback (23 Februari.2013)

2,941 total views, 4 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar