13

Paradigma Baru Bimbingan dan Konseling (+4)

AKHMAD SUDRAJAT October 23, 2013

Paradigma Baru Bimbingan dan Konseling”. Itulah tema yang saya bawakan pada kegiatan pertemuan MGBK SMA/SMK/MA Kabupaten Kuningan, Selasa, 22-10-2013, bertempat di Ruang Auditorium Madrasah Aliyah Negeri Kabupaten Kuningan.

Dengan merujuk pada ikhtisar Carol A Dahir dan Carolyn B. Stone (Moh. Surya, 2012), saya berusaha menjelaskan kepada peserta bahwa Bimbingan dan Konseling dari waktu ke waktu telah, sedang dan akan terus mengalami perubahan secara signifikan, dengan arah sebagaimana tampak dalam tabel di bawah ini:

 Masa lalu

Masa kini

Masa depan

Layanan konseling sekolah di abad 20:  Transformasi konseling sekolah dengan visi baru praktik proaktif: Program konseling yang intensional dan bertujuan, terpadu dengan program pendidikan:
  • Counseling
  • Counsultation
  • Coordination:
  • Counseling
  • Consultation
  • Coordination
  • Leadership
  • Advocacy
  • Teaming and Collaboration
  • Assesment and use of data
  • Technology
  • Counseling
  • Consultation
  • Coordination
  • Leadership
  • Social justice advocacy
  • Teaming and collaboration
  • Assesment and use of data
  • Technology
  • Acountability
  • Cultural mediation
  • Systemic change agent

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa pada abad ke-20, pelayanan konseling lebih terarah dan memfokuskan pada tiga bentuk pelayanan, yang dikenal dengan sebutan 3C, akronim dari: (1) Counseling, (2) Counsultation dan (3) Coordination. Dari ketiga bentuk pelayanan tersebut, tentu intinya terletak pada layanan konseling, yaitu layanan yang bertujuan membantu mengatasi masalah konseli melalui melalui proses komunikasi timbal balik antara konselor dengan konseli. Untuk menunjang efektifitas pelayanan konseling ditunjang oleh pelayanan konsultasi dan koordinasi. Pada periode ini, pelayanan konseling lebih kental dengan pendekatan klinis-terapeutis yang bersifat reaktif.

Selanjutnya, memasuki akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 sekarang ini, arah dan bentuk pelayanan bimbingan dan konseling pun mengalami perubahan yang dipicu oleh bergesernya faktor-faktor yang melandasi pelayanan bimbingan dan konseling [ lihat: Landasan Bimbingan dan Konseling ]. Pada periode sekarang ini, pelayanan bimbingan dan konseling tidak lagi berkutat dengan pendekatan klinis-terapeutis, tetapi lebih menekankan pada pendekatan pengembangan (developmental) yang bersifat proaktif. Kendati demikian, pelayanan 3C yang mewarnai periode sebelumnya masih dipertahankan, dengan dilengkapi dengan 5 komponen baru, yaitu: (1) kepemimpinan; (2) advokasi; (3) kerja tim dan kolaborasi; (4) asesmen dan pemanfaatan data; dan (5) pemanfaatan teknologi.

Perjalanan profesi pelayanan Bimbingan dan Konseling ke depannya akan terus bergerak mengikuti perkembangan jaman, dengan tetap melanjutkan arah pelayanan pada periode sebelumnya. Menurut Carol A Dahir dan Carolyn B. Stone, setidaknya terdapat 3 komponen baru yang diperlukan melengkapi pelayanan Bimbingan dan Konseling di masa mendatang, yaitu: (1) akuntabilitas; (2) mediasi kultural; dan (3) agen perubahan sistemik.

MGBK SMA/SMK/MA Kabupaten Kuningan

pertemuan MGBK SMA/SMK/MA Kabupaten Kuningan

pertemuan MGBK SMA/SMK/MA Kabupaten Kuningan

Begitulah, saripati materi tentang Paradigma Baru Pelayanan Bimbingan dan Konseling, yang dapat saya sampaikan pada kesempatan pertemuan MGBK ini. Penjelasan materi ini juga dikaitkan dengan kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia, dengan merujuk pada Permendikbud No. 81A tentang Implementasi Kurikulum, yang di dalamnya memuat tentang Konsep dan Strategi Bimbingan dan Konseling.

Pada kesempatan ini, saya pun mengajak dan menegaskan kepada peserta untuk mengembangkan program layanan Bimbingan dan Konseling yang sejalan dengan paradigma baru di atas. Oleh karena itu, guru BK seyogyanya terus berusaha belajar untuk memperkokoh kompetensi yang dibutuhkan. Saat ini dan ke depannya, Guru BK harus mampu menjadi konselor, konsultan, koordinator, pemimpin, advokat, kolaborator, asesor, mediator, dan agen perubahan yang handal dan efektif serta mampu bekerja secara akuntabel.

Selain itu, Guru BK juga harus akrab dengan teknologi yang sedang berkembang saat ini, khususnya dalam teknologi komputer dan informasi. Dalam upaya mengkondisikan teman-teman Guru BK agar lebih akrab dengan teknologi, maka para peserta pun bersepakat untuk selalu membawa laptop/netbook pada setiap pertemuan MGBK. Begitu juga, saya mendorong seluruh peserta untuk bergabung secara online dengan Komunitas MGBK SMA Kabupaten Kuningan, yang telah saya siapkan dalam situs jejaring FaceBook.

Bagi saya, pertemuan MGBK kali ini menjadi terasa istimewa karena ini adalah pertemuan resmi pertama saya dengan teman-teman, setelah sekian lamanya berkecimpung dengan dunia Pengawasan BK SMP. Kendati demikian, berada bersama-sama teman Guru BK SMA, bagi saya sesungguhnya bukan hal yang asing, karena sebelum menggeluti dunia pengawasan, saya juga pernah menjabat ketua MGBK SMA.

Selamat berkarya dan jangan pernah lelah untuk terus belajar dan belajar …

4,591 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (13)

  1. @ Pak Dwi Atmaja: Alhamdulillah, adikku yang energik dan kreatif ini ternyata bergabung juga di GURARU, Mudah-mudah blogger BK lainnya bisa ikut bergabung dan berkolaborasi disini.
    @ Bu Etna: Saat ini upaya membimbing siswa di sekolah sangat membutuhkan kerjasama sinergis dengan berbagai pihak, terutama dengan rekan-rekan guru pengampu mata pelajaran.
    @ Pak Hoiri: Semoga bermanfaat …

  2. apa pun suara panjenengan bapak Bos … panjenegan adalah inspirasi dalem jadi penulis. Mengajak teman-teman untuk menulis dalam blog sangat sulit. tapi alhamdulillah hari ini saya berhasil mengajak guru-guru BK di Surabaya berjumlah 60 orang mengikuti pelatihan membuat website guru di UNAIR

  3. @ PaK Botasakti: Ha… ha… saya ini mungkin blogger tipe “Ikan Paus”, lebih banyak menyelam di dasar lautan dan hanya sekali-kali muncul ke permukaan.

    Dalam hal apapun merubah paradigma tampaknya tidak gampang. Kalaupun ada isu dan sinyalemen bahwa merubah paradigma guru BK jauh lebih sulit , boleh jadi mengingat sampai sejauh ini, khususnya di Indonesia perjalanan profesi BK itu sendiri masih dilalui secara tertatih-tatih, jumlah SDM yang terbatas, dukungan kebijakan (sistem) yang tampaknya masih belum optimal.

  4. Tantangan guru BK memang tambah berat ya Pak, karena anak-anak kita juga menghadapi dunia yang semakin dinamis dan penuh tantangan dan tak dipungkiri membebani mereka. Semoga Pak Akhmad bisa semakin menginspirasi teman-teman di Indonesia. Terima Kasih.

  5. terimakasih bos pandhita, insyallah jejak panjenengan akan dalem ikuti. sekarang dalem juga mengajukan mutasi ke pengawas mengikuti jejak panjenengan. Dalem mau jadi pengawas Bimbingan Konseling. Blogger yang paling jossss adalah blogger sang bos pandhito. ringkas padat penuh makna tapi penuh kerendahan hati… sungguh luar biasa. Semoga dalem bisa menjadi blogger seperti panjenengan … allahumma amin.

  6. @ Pak Philipus Sarono: Di tengah-tengah dinamika kehidupan yang semrawut ini tampaknya tidak mudah menjadi guru BK, Di sisi lain, jumlah tenaga BK di sekolah masih sangat kurang dan terpaksa diisi oleh non BK. Berlatar BK atau non BK idealnya tetap mereka dituntut menjalankan tugas-tugasnya secara profesional.
    Ikut bergabung di Guraru dan menulis di Blog mungkin hanya bagian yang sangat kecil saja, untuk turut serta mewarnai perjalanan panjang profesi BK di Indonesia.

    Pak. Dwi Atmaja: Sangat tepat! sudah seharusnya rekruitment pengawas sekolah diambil dari para guru dan kepsek yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, seperti Adinda.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar