5

Pahala Snowball Para Guru (+4)

Nur Islah May 21, 2015

Saya bukan seorang guru yang bekerja langsung dilembaga pendidikan. Saya bukan guru TK, SD, SMP, SMU ataupun lembaga kursus manapun. Saya seorang karyawan swasta. Dulu saya bercita-cita menjadi guru. Saya bahkan sempat mengikuti pendidikan akta 4 agar bisa memiliki kesempatan menjadi guru. Tapi memang nasib berkata lain.

Mulianya pekerjaan guru; didunia bekerja, mengajar, akhir bulan dapat gaji. Diakhirat Insya Allah dapat pahala. Pahalanya tidak tanggung-tanggung, pahalanya amal jariyah. Saya selalu memberi istilah pahala amal jariyah sebagai pahala “Snowball”. Snowball atau bola salju bersifat semakin lama semakin besar. Semakin banyak salju yang dilewati dalam perjalanannya turun gunung, bola salju akan semakin membesar dan besarnya itu tidak akan terbendung. Begitulah perumpamaan pahala seorang guru.

Coba bayangkan:
Mengajar 1 orang anak saja, guru sudah dapat 1 pahala. Jika dikelas ada 20 siswa, berarti guru sudah mendapatkan 20 pahala. Mengajarkan 1 materi yang bermanfaat, dapat 1 pahala. Guru mengajar hampir tiap hari, berbagai macam penjelasan dilakukan guru untuk membuat murid dari tidak tahu menjadi tahu. Alangkah besarnya pahala itu. Itu baru hitung-hitungan manusia, mungkin hitungan Tuhan lebih besar lagi. Setelah puluhan tahun mengajar, anak-anak yang diajarnya itu kemudian menjadi orang, dan ternyata jadi guru pula, atau kalau tidak mengajar anaknya apa yang sudah diajarkan gurunya dulu. Sang guru pengajar yang sudah pensiunpun mendapat pahala lagi. Demikian seterusnya, selama-lamanya. Sang guru tenang diperistirahatannya, menikmati pahala snowball yang melimpah ruah. Itulah gunanya menjadi guru yang baik, akan diganjar pahala yang berlipat dari Allah SWT. Bagaimana dengan guru yang jahat dan salah mendidik anak-anak? dosanya pun akan menjadi dosa snowball. Dosanya turun temurun tak terhitung. Naudzubillah.

Karena mengidamkan pahala snowball itulah yang membuatku sangat ingin menjadi guru, walaupun akhirnya menjadi guru hanya kepada anak sendiri.

Awal bulan maret kemarin saya mulai mengajar anak sulung saya yang sebulan lagi berumur genap 5 tahun. Hal ini saya lakukan karena SDIT yang saya incar hanya menerima 20 orang siswa pertahunnya. Dan salah satu tes masuk ke SDIT tersebut adalah tes kemampuan mengenal huruf Hijayyah. Selain itu memang kelihatannya anak saya sudah tertarik membaca Al Quran karena setiap kali saya membaca Al Quran, dia sering bertanya cara bacanya.

Alhamdulillah dalam sebulan, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 5, Naylah, anak saya sudah menguasai semua huruf Hijayyah dan sudah menyelesaikan Iqro 1. Saya memakai metode Iqro. Metode Iqro adalah salah satu metode cara cepat membaca Alquran yang dipelopori oleh K.H As’ad Humam. (sumber Wikipedia)

Dari pengalaman saya mengajar anak sendiri, berikut tips sukses mengajar anak Balita belajar membaca Alquran:

Ciptakan suasana yang menyenangkan

Anak-anak umur 5 tahun kebawah hanya mampu fokus belajar paling lama 5-7 menit. Setelah menit ke-7 biasanya anak-anak akan merasa bosan. Untuk itu, setiap menyelesaikan satu lembar pelajaran, saya akan melakukan selingan menyanyi huruf Hijayyah yang lirik dan lagunya saya tiru dari internet. Bahkan untuk menambah semangat Naylah, saya dan dia menyanyikannya sambil bermain tepuk tangan. Tangan saya dan tangan Naylah saling menepuk mengikuti lagu yang dinyanyikan. Biasanya setelah bernyanyi, Naylah akan kembali belajar dengan semangat lagi.

Fokus keanak dan seringlah memuji

Jangan mengajar anak sambil melakukan hal yang lain. Memang sebagai ibu kadang kita dituntut multitasking, tapi kalau urusan mengajar anak sebaiknya fokus keanaknya. Naylah semangat membaca Iqronya, karena diawal-awal proses belajarnya, setiap kali dia menyebut satu huruf dengan benar, saya akan menimpalinya dengan mengatakan “good” atau “very good”. Walaupun mulut pegal menyebut kata tersebut, tapi sangat efektif menjaga semangat dia untuk terus membaca. Dia menjadi tahu bahwa dia diperhatikan selama belajar dan berusaha menyebut huruf dengan benar.

 Usahakan Rutin

Saya tidak pernah memaksa Naylah belajar. Tapi saya usahakan dia mau belajar Iqro tiap hari. Waktunya flexible, bisa pagi hari, siang hari, atau malam hari. Tergantung kesiapan anaknya saja. Yang rutin saya lakukan adalah mengingatkannya “Eh, Kakak belum baca Iqro ya hari ini”, kalau dia memang mau, dia akan segera mengambil buku Iqronya. Memulai membaca 1 lembar, jika masih ada keliru 1 huruf saja dalam lembaran itu, dia akan mengulanginya 2-3 kali sampai tidak ada lagi yang keliru. Itu sudah saya anggap cukup untuk hari itu. Sekali dalam satu hari lebih baik dari pada berkali-kali dalam sehari tapi tidak rutin dilakukan. Kadangkala, Naylah hanya mau membaca satu kali saja, dan tidak mau mengulanginya lagi, jika ini terjadi, saya tidak memaksanya untuk mengulangnya, lembaran itu akan diulang keesokan harinya.

Gunakan media interaktif

Saya sangat terbantu dengan laptop dan internet dalam proses mengajar ini. Saya akan membuka youtube dan memperlihatkan kepada Naylah cara penyebutan huruf yang benar. Linknya banyak diyoutube. Lagu-lagu huruf Hijayyah diyoutube juga sangat membantu. Pengenalan awal huruf Hijayyah sebaiknya diawali dengan menghapalnya, menggunakan cara menyanyikan lagu, itu sangat efektif.

Jangan memaksa

Jangan pernah memaksa anak-anak. Karena masa kanak-kanak adalah masa bermain. Ketika anak tidak siap belajar, jangan dipaksa, biarkanlah dia bermain. Jika kita memaksa anak, anak-anak akan trauma dan akan merasa proses belajar itu adalah sesuatu yang menjengkelkan. Jika melihat anak mulai bosan dengan permainannya dan butuh ide kegiatan apa selanjutnya yang sebaiknya dilakukan, segera berikan saran dengan nada riang untuk belajar Iqro.

Sekarang Naylah sudah hampir menyelesaikan Iqro-2nya. Saya tetap mengusahakan tiap hari dia mau belajar Iqro. Ada kalanya dia merajuk karena dia tidak suka kalau ada bacaannya yang keliru. Tapi saya selalu memastikan dia menjalaninya bukan dengan terpaksa. Dan sepertinya usaha saya berhasil, karena kadangkala dialah yang mengingatkan saya untuk mengajarnya Iqro.

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10.

Nur Islah

Parepare, 20 Mei 2015

visit my blog : www.nurislah.com

2,247 total views, 2 views today

Tagged with:

Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar