3

Pagar Hati untuk Memagar Diri (+4)

M. Rasyid Nur August 29, 2014

SEBENARNYA tulisan singkat ini adalah untuk konsumsi siswa/ wi di tempat saya mengabdi (sudah dimuat di website sekolah). Jujur saja, kewalahan menerapkan disiplin sekolah tersebab belum adanya pagar sekolah, menyebabkan saya selalu ‘cerewet’ ke siswa/ wi sekolah ini untuk mampu memagar diri sendiri sebelum sekolah mampu memagar lingkungan/ tanah sekolahnya. Hanya dengan pagar diri, disiplin sekolah semakin meningkat.

Tapi saya berpikir, esensi catatan ini akan berguna juga buat siswa/ wi sekolah lain yang karakteristiknya kurang lebih sama dengan sekolah tempat saya bertugas: belum berpagar keliling dan atau belum lengkap pagar sekolahnya. Saya harapkan ada manfaatnya bagi rekan-rekan lain yang bertugas di sekolah seperti tempat saya bertugas.Itulah sebabnya saya posting lagi di blog guraru tercinta ini. (pengantar)

SELAIN membutuhkan beberapa fasilitas pendukung pembelajaran seperti Lab. Biologi, Lab. PAI (Pendidikan Agama Islam) yang saat ini masih menggunakan ruang kelas, serta beberapa fasilitas pendukung lainnya, SMA Negeri 3 Karimun memerlukan pagar sekolah. Ini yang sangat penting. Saat ini, dari hampir 700 m keliling tanah sekolah yang berluar 1.8 H, baru terpagar sepanjang 150-an meter saja. Masih diperlukan 520-an meter keliling sekolah lagi untuk terpagar secara keseluruhan.

Konsekuensi belum berpagarnya sekolah, menyebabkan sekolah sangat kesulitan dalam mengatur dan mengawasi keluar-masuk siswa ke luar pekarangan sekolah. Walaupun tata tertib siswa melarang setiap siswa keluar pekarangan tanpa izin, kenyataannya mereka dengan mudah dapat keluar pekarangan karena belum adanya pagar. Bahkan ketentuan yang mewajibkan setiap siswa untuk melapor jika akan keluar pekarangan sekolah, juga kurang dipatuhi siswa. Mereka sangat mudah untuk keluar pekarangan karena belum adanya pagar.

Keluar-masuknya siswa dari dan ke luar pekarangan sekolah disebabkan oleh adanya kedai/ warung tetangga yang menjual makanan-minuman yang dibutuhkan siswa. Dengan berbagai alasan, para siswa lebih menyukai berbelanja (jajan) ke rumah-rumah yang membuka warung di sekitar sekolah itu dari pada pergi ke kantin sekolah. Alasannya juga bermaca-macam mengapa tidak ke kantin sekolah. Itulah sebabnya persoalan sulitnya mengatasi keluar-masuknya siswa ini belum juga teratasi.

Untuk itu, sekolah mencoba mengampanyekan istilah ‘Pagar Hati’ bagi setiap warga sekolah. Sekolah hanya bisa berharap kepada warga sekolah, terutama para siswa untuk mampu memagar dirinya masing-masing agar tidak keluar pekarangan sebelum meminta izin ke guru/ piket. Dengan pagar hati, setiap orang diharapkan akan mengendalikan dirinya masing-masing untuk mematuhi ketentuan dan peraturan sekolah. Walaupun sekolah sangat berharap agar Pemerintah dan atau masyarakat segera membangun pagar sekolah, namun usaha dengan kampanye ‘pagar hati’ ini akan terus dilakukan hingga yang sebenarnya terbangun.

Jika setiap siswa atau warga sekolah mampu menerapkan ‘pagar hati’ bagi setiap dirinya, insyaallah keterbatasan pagar sekolah secara pisik dapat diatasi masing-masing pribadi. Tidak diperlukan pagar secara pisik (sekurang-kurangnya untuk sementara waktu) dalam usaha mengatur dan mengawasi siswa. Secara ikhlas sejatinya warga sekolah mampu memagar dirinya jika itu sudah ditekadkan di dalam hati. Di sinilah makna pagar hati untuk memagar diri.

Namun, sekali lagi, sekolah tetap sangat berharap agar Pemerintah dan atau masyarakat pendukung sekolah dapat segera membangun pagar sekolah secara keseluruhan. Ini penting, demi keamanan sekolah dari gangguan pihak lain.Jika pun warga sekolah dapat menerapkan pagar hati demi disiplin sekolah, tapi keamanan sekolah dari gangguan pihak luar tetap akan dipengaruhi oleh ada-tidaknya pagar sekolah yang kuat dan aman.***

Sudah diposting di: http://www.sman3-tbk.sch.id/component/content/article/1-terbaru/606-pagar-hati-.html

1,175 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

About Author

Avatar of M. Rasyid Nur
M. Rasyid Nur

Menjadi guru (honorer) sejak tahun 1980, ketika masih mahasiswa. Selanjutnya menjadi PNS (aktif) sejak 1985 dengan SK TMT 01.03.1984 dan terus menjadi guru hingga sekarang. Insyaallah akan purna bakti pada 11.04.2017. Obsesi, "Berharap kehebatan murid melebihi kehebatan gurunya."

View all posts by M. Rasyid Nur →

Comments (3)

  1. Avatar of Moh Saleh

    Bismillah pak M. Rasyid Nur ,memang tepat pak apa yang bapak tulisan disiplin memang perlu kita terapkan sedini mungkin ,saya sangat mendukung semuga pemerintah setempat cepat turun tangan .kalau di sekolah saya mungkin pemerintah atau pihak sekolah mau buat pagar bingung sebab di lereng gunung yang miring posisi kelas 1,2,3,dan kantor lurus memnajang diatas ditengah-tengahnya ada jalan raya dibawah jalan raya ada kelas 4,5,6, dan perpus bingung karena miring kalau tak haiti-hati turunnya saja bisa terjatuh. besok -besok saya muat gambarnya.tetep semangat pak

  2. Avatar of M. Rasyid Nur

    Asalamualaikum, Pak Moh Saleh. Terima kasih atas kunjungan dan catatan tambahannya. Kita pasti ingin anak-anak kita menunjukkan disiplin diri yang bagus di sekolah. Tapi sekolah (guru) memang tetap wajib ada usaha untuk melaksanakan disiplin siswa itu. Fasilitas seperti pagar sekolah adalah salah satu saja yang dapat membantu penerapan disiplin itu. Sayangnya di sekolah saya belum lengkap pagarnya. Makanya saya meminta/ mempopulerkan istilah pagar hati itu. Mudah-mudahan warga sekolah mau mendisplinkan dirinya secara suka-rela. Salam, Pak.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!