1

Optimalisasi Generasi WA untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan (+2)

Samsiati Uhibbukafillah May 29, 2017

 

Oleh : Samsiati Uhibbukafillah

 

Menurut Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Bab 1 Pasal 1, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswa pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah yang memegang peran utama dalam rangka implementasi fungsi dan upaya mencapai tujuan nasional. Untuk menjalankan tugas utamanya, guru harus memiliki empat kompetensi yaitu pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial.

Keempat kompetensi guru tersebut penting untuk membangun pendidikan yang prima. Sedangkan pendidikan yang prima perlu adanya sinergitas antara elemen-elemen dunia pendidikan yaitu masyarakat umum, pemerhati dan praktisi pendidikan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), pendidikan, dan para pemangku kebijakan. Perubahan dan kecenderungan pembelajaran masa depan telah mengubah pendekatan pembelajaran tradisional ke arah masa depan yang disebut sebagai pembelajaran abad pengetahuan, bahwa orang dapat belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan berbagai media pembelajaran.

Sebagus-bagusnya media pembelajaran jika tidak dipublikasikan manfaatnya maka akan kurang menginsprasi yang lain. Sebagai guru, hal-hal yang positif dalam pembelajaran yang mampu menigkatkan predikat positif dunia pendidikan perlu diposting di zama era WA ini. WA adalah sarana efektif menyampaikan pesan dan video pembelajaran untuk memotivasi siswa meningkatkan belajarnya.

Video yang baru penulis bagikan ke grup orang tua siswa adalah video tentang pembiasaan adab tertib pada aturan dan belajar menerima. Simple sekali pembelajarannya untuk membudayakannya. Menjelang ramadhan penulis meminta siswa membawa kado  maksimal sepuluh ribu rupiah dan dibungkus koran. Kado-kaso tersebut akan ditukar satu sama lain dengan tertib. Agar berjalan dengan baik, tentu ada aturan yang harus ditaati siswa. Tugas guru memahamkan siswa bahwa apa yang akan kita terima nanti itu tidak bisa ditukar lagi dan itu adalah rejeki yang harus disyukuri. Berawal dari membaca surat Ad Dhuha dan dilanjut As Syams. Setiap ganti ayat makan kado harus bergeser ke arah kanan. Sampai ayat terakhir, berarti itu adalah rejekinya. Hal tersebut juga memahamkan bahwa meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu juga yaitu kelas 2 Imam Maliki.

Kegiatan tersebut ternyata direspon baik sama orang tua. Beberapa orang tua mengupload di FB dengan beberapa komentar dan dibagikan ke grup orang tua. Begitu cepatnya Fb ikut mempublikasikan hingga memberikan respon positif terhadap sekolah dan dunia pendidikan.

Berikutnya tentang motivasi belajar. Di SDIT Bina Amal Semarang, sekolah menargetkan siswa lulus dengan hafalan minimal 4 juz yaitu juz 30, 29, 28, dan 27. Siswa kelas 2 Maliki yang penulis ampu memiliki cara tersendiri untuk meningkatkan hafalan. Contoh sederhana adalah masing-masing orangtua harus mengirim video hafalan siswa di rumah. Misalnya Nando menghafal surat Al Mulk dan dikirim via WA grup wali murid. Berikutnya orang tua akan kebakaran jenggot manakala anaknya belum setor video ke guru wali karena video tersebut dilihat seluruh orang tua dalam kelas tersebut. Mau tidak mau orang tua akan mendampingi anaknya belajar agar bisa segera kirim video yang sama. Kegiatan tersebut juga mendorong siswa untuk rajin menghafal agar tidak ketinggalan dengan teman yang lain.

Selanjutnya ekspo bintang kelas. Setiap usai ulangan yang dilakukan penulis sebagai guru wali adalah mengpublish siapa saja yang mendapat nilai seratus. Misalnya, usai ulangan matematika, maka guru mengoreksi dan meminta siswa yang nilainya 100 untuk maju kedepan kelas. Anak-anak tersebut diberi penghargaan sederhana misalnya sebuah penghapus. Dengan menunjukkan nilai seratus dan penghapus, bintang kelas tersebut difoto dan dkirim via wa. Dalam hitungan detik langsung ada yang merespon, “Selamat  Nak, Kamu hebat.” Dari respon tersebut akan memotivasi orangtua untuk rajin mendampingi belajar anaknya.

Setiap hari guru mengirim kegiatan siswanya via WA orangtua. Orang tua akan semakin merasa dekat dengan anaknya walaupun sedang bekerja. Bahkan ada orang tua yang begitu meresponnya sampai-sampai mengingatkan guru untuk mengirim foto anak-anaknya di jam istirahat.

Sekolah tempat penulis bekerja adalah sekolah islam terpadu yang rata-rata orangtuanya mampu secara finansial. jadi orang tua memiliki android yang bisa buat WA dan memiliki kuota untuk mempercepat akses WA. Selain itu, pendidikan mereka juga tinggi sehingga melk dunia pendidikan. Jika ada kegiatan sekolah yang bernuansa peningkatan prestasi siswa, orang tua sangat mendukung. Beberapa orangtua juga menyumbang hadiah untuk siswa yang nilainya seratus. Pernah dalam satu mapel siswa yang nilainya seratus sebanyak 23 dari tiga puluh siswa.

Terlepas dari kegiatan pamer, namun kegiatan aktif upload di WA orang tua memiliki dampak signifikan terhadap hasil belajar siswa. Dari empat kelas 2 secara paralel, kelas 2 maliki memiliki nilai tertinggi rata-ratanya. Semoga orangtua semakin besar perhatiannya kepada putra-putinya. Karena sejatinya pendidikan yang utama adalah dari orangtuanya. Dan akan memberi dampak pada kualitas pendidikan di Indonesia yang semakin maju seiring perkembangan zaman.

Guru sebagai dalang dari pendidikan bisa enjoy memainkan WA tidak hanya sekedar capcus dengan sejawat dan jejaring sosial tetapi bisa mengoptimalkan untuk kegiatan publikasi belajar mengajar. Kegiatan publikasi tersebut bisa meningkatkan mutu pendidikan di kelasnya. Endingnya akan meningkatkan pula mutu pendidikan sekolah dan mutu pendidikan di kancah internasional.

*Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

404 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar