13

Nonton Bareng “Les Choristes” di TWC3 Bersama Bu Dhitta (+3)

Lilis Juwita January 1, 2014

Acara TWC kali ini agak berbeda, di tengah waktu istirahat kita menyempatkan diri nobar atau nonton bareng, rasa kantukku bahkan mengalah setelah sehari tadi mengikuti Teacher Writing Camp. Bu Dhitta memang punya cara yang unik dalam menyampaikan materinya, ya tentang resensi film atau menulis opini tentang film.

Ternyata bukan hanya pertandingan bola saja yang terasa seru bila ditonton bersama. Les Choristes adalah Sebuah film Perancis yang berlatar pasca perang dunia kedua tepatnya Perancis di tahun 1949. Asyik buat ditonton bersama.

Les Chorites

Cerita berawal ketika Pierre Morhange seorang konduktor ternama usai menghadiri pemakaman ibunya dikunjungi seorang kawan lama bernama Pépinot Pertemuan itu mengajaknya kembali ke masa kecilnya di Sekolah Asrama Fond de L’Etang.  Melihat bangunan tua dengan jeruji besi sekolah itu nyaris lebih mirip penjara anak-anak. Dan memang Fond de L’Etang adalah sekolah untuk anak bermasalah.

Di sekolah ini ada sosok Rachin merupakan kepala sekolah Fond de L’Etang dengan pola pendidikan yang sangat keras untuk usia anak-anak dan terkenal dengan kalimat yang sering dia teriakan “Action, Reaction!” setiap kali siswanya melanggar peraturan yang kemudian diikuti jeritan siswa terdengar di sepanjang koridor sekolah saat mendapat hukuman kurungan dan pukulan atas pelanggaran yang dilakukannya. Hasilnya justru membuat siswa semakin nakal dan liar.

Sampai suatu hari datang seorang guru dengan penampilan lugu bernama Clément Mathieu seorang musisi yang merasa gagal mencapai impiannya menjadi musisi terkenal. Awalnya Clément Mathieu pun tak luput dari kenakalan siswa di sana, tapi caranya mengajar dengan pola yang bertolak belakang dengan pola pendidikan di Fond de L’Etang secara sembunyi-sembunyi mulai memperkenalkan musik kepada siswa. Clément Mathieu menyentuh siswanya yang liar dengan kelembutan musik.

Dalam film ini dikisahkan bagaimana Clément Mathieu memberi sanksi kepada siswanya ketika mencelakai salah satu guru di sana dengan memberi tugas merawat guru tersebut hingga sembuh, atau bagaimana mendekati Pépinot dan berusaha menjelaskan kepadanya bahwa orang tuanya sudah meninggal dunia saat perang dunia II setiap siswa termuda di Fond de L’Etang itu selalu berdiri di pintu pagar setiap hari sabtu dengan harapan bapaknya segera datang menjemput dia. Kemudian bagaimana saat menghadapi Morhange seorang siswa yang selalu mengganggu siswa lain dan seringkali membuat ulah tetapi suka menyendiri. Bahkan ketika menghadapi sosok Mondain seorang siswa yang bisa dikatakan kenakalannya melebihi semua siswa di Fond de L’Etang karena Mondain adalah siswa yang dikirim oleh seorang Psikiater karena kenakalan dan tindak kriminal yang seringkali dilakukan Mondain sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

Kesukaan Clément Mathieu terhadap seni ternyata tidak bisa dihilangkan, meskipun berada di tengah sekolah sekeras Fond de L’Etang. Dengan penuh keyakinan Clément Mathieu bercita-cita membentuk Paduan Suara dan mulai melatih siswa-siswanya dengan susah payah. Hampir putus asa ketika mendapati siswanya tidak memiliki suara yang bagus untuk paduan suara. Tapi Clément Mathieu tidak berhenti begitu saja, dengan tekun dia melatih siswanya. Hingga suatu malam dia mendengar seseorang menyanyikan lagunya nyaris sempurna. Ternyata  Pierre Morhange siswa pembangkang yang selama ini menolak bergabung dalam Paduan Suara asuhannya diam-diam menyanyi dengan suara soprannya. Lagi-lagi dengan alasan berkeliaran di malam hari Clément menghukumnya dengan mengharuskan Morhange menjadi anggota Paduan Suaranya.

Konflik pun terjadi saat Mondain mengatakan bahwa Violette ibu Morhange yang merupakan pelayan restoran adalah seorang pelacur, dugaan Morhange diperkuat saat melihat Clément dan sebenarnya memang menyukai Violette menemui ibunya. Mondain pun mengajak Morhange untuk mengacaukan sekolah. Tapi Morhange menolaknya. Morhange pun berhenti berlatih Paduan Suara, tetapi akhirnya saat pementasan Paduan Suara Morhange diberi kesempatan menyanyikan bagian Solo dengan suara yang sangat menggetarkan seluruh penonton termasuk Pejabat Kota yang menghadiri acara itu. Clément hanya tersenyum saat Rachin sang kepala sekolah Fond de L’Etang mengakui Paduan Suara itu adalah inisiatif nya.

Sebuah tragedi terjadi, gedung sekolah Fond de L’Etang terbakar beruntung semua siswa selamat karena saat kejadian mereka sedang bersama Clément di tepi hutan. Karena kejadian itu Clément diberhentikan Rachin yang dianggap melakukan kelalaian pada waktu dia mengajar. Karena terbakarnya gedung sekolah terungkap juga bagaimana pola pendidikan yang penuh unsur kekerasan yang dilakukan Rachin selama memimpin Fond de L’Etang setelah semua siswa diwawancara. Dan pada akhirnya Rachin pun diberhentikan sebagai Kepala Sekolah Fond de L’Etang.

Pierre Morhange dewasa baru mengetahui kemana Clément Mathieu dan Pépinot menghilang setelah kebakaran gedung itu dari buku harian Clément Mathieu yang dibawa Pépinot sejak mengikuti perjalanan gurunya dan juga sebagai ayah angkatnya setelah membawanya pergi saat hari pemecatan  Clément Mathieu. Dan Clément Mathieu memenuhi janjinya kepada Pierre Morhange dan ibunya dengan mendaftarkan Morhange untuk mendapat Beasiswa pada sebuah Sekolah Musik.

Sebuah akhir cerita yang manis meski tidak untuk semua tokohnya.

Pesan yang diperoleh setelah menonton film ini adalah sekecil apa pun yang kita lakukan untuk seseorang, akan memberikan pengaruh yang sangat besar untuk kehidupan seseorang di masa depannya kelak. Seperti Clément Mathieu yang merasa dirinya sebagai musisi gagal, ternyata mampu melahirkan Pierre Morhange seorang konduktor ternama.

Dan saya sendiri bingung apakah ini Review Film atau Story Telling ya ?  Saya tunggu kritik dan sarannya :)

c.c : Bu Dhitta Puti Sarasvati

2,148 total views, 5 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (13)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!