11

Nilai Adalah Tujuanku! (+4)

heriyanto nurcahyo December 6, 2013

Membacalah saya status salah satu anak didik pagi ini.” Nilai tergantung pada siapa penjaga ruang ujian kita hari ini. Jika penjaganya baik, baiklah nilai kita, namun jika ketat, mampuslah kita!, begitu bunyi status di wall facebooknya. Sudah semenjak senin kemarin sekolah kami mengadakan Ujian Akhir Sekolah (UAS). Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan kali tidak banyak berubah. Satu bangku satu siswa, dengan berbagai macam tipe soal. Beragamnya tipe soal inilah yang mungkin menjadi momok tersendiri bagi anak didik. Mereka berupaya sekuat dan secanggih mungkin mendapat nilai baik. Pengalaman saat menjaga ujian, masih sering didapati anak berkirim jawaban lewat HP, bertukar kertas soal yang telah terisi, atau berlempar kode tangan untuk membagi jawaban. Saya juga sering mengamati, sekumpulan siswa berdiri di depan pintu kelas sesaat sebelum bel masuk ujian. Mereka harap-harap cemas dengan pengawas ruangannya. Jika mereka mendapati pengawas yang longgar, serentak seluruh kelas berjingkrak kegirangan. Namun tidak demikian jika penjaganya ketat, wajah-wajah mereka sontak menjadi lesuh dan patah arang. Sebegitu parahkah siswa kita?.
Kondisi disekolah ini semakin memprihatinkan jika menengok hasil PISA 2013 yang masih menempatkan negara kita didasar perankingan.Bahkan dengan bahasa guyon sebuah artikel menulis ” Pelajar Indonesia Tidak Menyadari Betapa Bodohnya Mereka”. Artikel lengkapnya bisa dibaca disini
http://portraitindonesia.com/indonesian-kids-dont-know-how-stupid-they-are/
Saya meyakini bahwa salah satu “kebodohan” ini disumbang oleh keyakinan sebagian besar masyarakat Indonesia jika nilai lebih penting dari proses pendidikan itu sendiri. Mereka berlomba-lomba mengejar nilai yang tinggi, namun melupakan proses sejati dari pendidikan itu sendiri. Budaya nyontek berjamaah, memilih meminta jawaban teman dari pada belajar sendiri adalah bagian penting penyumbang kualitas pendidikan kita yang rendah. Disisi lain, orang tua cenderung peduli terhadap hasil belajar anak (nilai di raport dan sejenisnya) tetapi, mereka tidak perduli terhadap proses belajarnya.Bagaimana menurut sahabat guraru?

1,407 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (11)

  1. Avatar of heriyanto nurcahyo

    Muhammad Riadi: tidak tahu pasti, tapi menurutku kebahagiaan itu muncul dari anggapan sederhana tentang hidup. Yang penting bisa makan, kumpul sama keluarga sudah cukup. Tidak sempat berfikir bagaimana ketatnya persaingan global di kemudian hari

  2. Avatar of Mudofar Efendi

    Skor kebahagiaan siswa Indonesia paling tinggi tu jangan-jangan malah menunjukkan bahwa yang bisa bersekolah memang baru anak-anak bahagia, dan kebetulan pula terpilih sebagai responden. Kalau demikian keadaannya, skor tersebut tetaplah belum menggambarkan kebahagiaan ANAK Indonesia. Sebagian siswa; mungkin.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!