1

Mungkinkah Belajar Kitab Kuning Melalui Teknologi (0)

Bagus Sajiwo May 19, 2017
sumbre foto google: kitab klasik karya para ulama terdahulu

sumber foto google: kitab klasik karya para ulama terdahulu

Kitab kuning yang menjadi ciri khas pembelajaran di Pondok Pesantren selalu menjadi yang utama. Sebab, kitab tersebut merupakan rujukan dalam pembelajaran ilmu agama Islam bagi santri, khususnya di bidang ilmu fiqih, tauhid, tafsir, hadist dan lainnya.

Selain kitab kuning, juga disebut kitab gundul karena hurufnya yang tidak berharkat. Kitab tersebut merupakan karya para ulama terdahulu, seperti karya Imam al-Ghozali Minhaj al-‘abidin, dan ihya ‘ulum al-Din, karya Imam Syafi’ie seperti kitab Ar-risalah, Al-umm serta berbagai kitab lainnya.

Semua kitab klasik yang dipelajari pesantren merupakan produk masa lalu. Yakni saat teknologi masih belum canggih seperti sekarang. Menyandingkan belajar kitab kuning dengan teknologi seperti hal yang kontras, antara masa lampau dan sekarang. Apakah mungkin belajar kitab kuning menggunakan teknologi.

Pesantren memiliki kaidah al-Muhafadhotu ‘ala qadimi al- Shalih wa al-akhdu bi al-Jadid al-Ashlah atau menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Mari kita pelajari beberapa pesantren yang menerapkan sistem pendidikan dengan teknologi.

Seperti apa Ceritanya?

Suatu sore, sebut saja Zaidun, salah seorang santri Ponpes Darussholah, Jember bergegas menuju masjid. Dia membawa kitab Riyadlus Sholihin untuk mengaji pada kiai. Dia menyimak kitab kuning sambil memberikan makna dari penjelasan kiai.

Rutinitas itu tak hanya dilakukan oleh Zaidun, tetapi semua santri. Mereka begitu cermat memberikan coretan di bawah tulisan berbahasa arab. Selesai mengaji, mereka pulang ke kamarnya dan membaca kembali pada malam hari. Rutinitas itu berlangsung setiap hari kecuali saat libur.

sumber foto dari google: salah seorang anak membaca kitab kuning

sumber foto dari google: salah seorang anak membaca kitab kuning

Pagi harinya, Zaidun kembali mengaji kitab kuning selama satu jam. Setelah itu, mereka berangkat sekolah dan belajar tentang banyak hal, tak hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, seperti, sains dan teknologi.

Menariknya, pembelajaran yang dilakukan di sekolahnya Zaidun sudah berbasis teknologi. Setiap siswa memiliki satu laptop. Ketika pelajaran dimulai, mereka membuka laptopnya masing-masing. “Belajar menggunakan teknologi  selama tiga tahun, sama dengan belajar 20 tahun,” kata Drs. H. Zainal Fanani,M.Pd kepala sekolah SMP Plus Darussholah.

Fanani tak menyangka bila metode yang diterapkannya dalam kegiatan belajar mengajar di kelas berhasil. Betapa tidak, siswa yang masih SMP sudah bisa membaca kitab kuning. Padahal, ketika dirinya belajar di pesantren dulu, membutuhkan waktu yang lama.

Para siswa yang memasuki kelas dan hendak belajar, sudah membuka laptop masing-masing. Di dalamnya sudah ada panduan untuk belajar. Guru semakin mudah menerangkan, siswa lebih mudah memahami.

Misal, ketika belajar cara membaca kitab kuning, para siswa melihat kitab yang sudah ada di laptop. Mereka tinggal mencerna, mengapa huruf dalam bahasa arab itu dibaca dlommah, kasroh atau fathah. “Kami mengkombinasikan antara teknologi dan kitab kuning,” aku Fanani.

Tak hanya kitab kuning, belajar menggunakan laptop juga diterapkan untuk mempelajari ilmu kaligrafi, bahasa arab dan inggris serta cara membaca al-Quran dan memahami kandungannya. Semua macam khat kaligrafi sudah tersedia di laptop, kemudian menerapkannya dengan praktek. “Lebih efisien dibanding pembelajaran secara manual,” ujarnya.

foto dokumen pribadi: Para siswa SMP Plus Darussholah saat ujian terbuka kitab kuning

foto dokumen pribadi: Para siswa SMP Plus Darussholah saat ujian terbuka kitab kuning

Hasilnya, santri Ponpes Darussholah tak hanya pandai membaca kitab kuning, namun juga fasih berbahasa arab dan lancar berbahasa inggris. mereka juga memiliki keterampilan kaligrafi. Bahkan di bidang sains, juga meraih beberapa prestasi karena menerapkan pembelajaran berbasis teknologi.

Setiap hendak lulus, semua walisantri diundang dalam kegiatan akhirussanah untuk menguji kemampuan anaknya. Sang anak diminta membaca kitab kuning, lalu wali santri bertanya. Ujian publik bagi para santri itu juga meliputi al-Quran, bahasa arab dan inggris.

Ada Yang Menciptakan Kreasi Baru

Selain Ponpes Darussholah, pesantren lainnya yang terbuka dengan teknologi adalah Ponpes Nurul Islam Antirogo Jember. Bahkan, para santri selalu didorong untuk menciptakan teknologi terbaru. Seperti mobil golf nuris, alat peretas telor, aplikasi mencegah kenakalan remaja, aplikasi kesehatan dan lainnya.

Pembelajaran yang memadukan teknologi memiliki peran besar untuk melejitkan potensi dan kreatifitas santri. Mereka semakin tertarik untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki, mulai dari bidang agama, bahasa, sains dan teknologi.

foto dokumen pribadi: Mobil Nuris ketika dicoba oleh Menteri BUMN Rini Soemarno

foto dokumen pribadi: Mobil Nuris ketika dicoba oleh Menteri BUMN Rini Soemarno

“Kami mencoba agar para santri terbiasa melakukan eksperimen dan penelitian,” kata KH Robith Qosidi, pengasuh Ponpes Nurul Islam. Sebab, jika kemampuan melakukan penelitian diterapkan saat menjadi mahasiswa terlalu lama, bahkan terlambat.

Nuris ingin menjadikan para santri sebagai pioner dalam menghadapi tantangan jaman. Sebab, perkembangan jaman sudah pesat, jika tidak disikapi dengan cepat, maka akan tertinggal. Tak heran, para santri Nuris meraih berbagai prestasi tingkat lokal hingga nasional.

Untuk itulah, guru di yang mengajar di lembaga yayasan Ponpes Nuris selalu dilatih agar meningkatkan kemampuannya. Misal, mengikuti pelatihan kelas berbasis teknologi di sejumlah daerah. Hasilnya, mereka bisa mengajar dengan cara yang tak biasa.

Dr. Hj Hodaifah, M.Pd.I, pengasuh santri putri Ponpes Nurul Islam membagi sistem pendidikan pesantren  menjadi Pesantren Salaf atau klasik, Semi Berkembang, Pesantren Berkembang dan Pesantren modern atau khalaf.

Pesantren salaf menggunakan sistem pendidikan salaf, yakni weton dan sorogan dan sistem klasikal (madrasah) salaf. Pesantren semi berkembang menerapkan keduanya dengan kurikulum agama 90 persen dan kurikulum umum 10 persen.

Pesantren berkembang tidak jauh berbeda dengan semi berekmbang, namun jumlah variasi kurikulum lebih beragam. Sedangkan pesantren modern menerapkan semua sistem pendidikan diatas dan dilengkapi dengan sarana yang lebih lengkap.

Saatnya Menerapkan Pembelajaran Berbasis Teknologi

 Didiklah anak-anakmu sesuai dengan jamannya, karena mereka tidak hidup di jamanmu. Perkataan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib tersebut seperti peringatan kepada orang tua, guru dan masyarakat luas bahwa pendidikan tidak boleh kaku. Sebab, setiap detik, jaman selalu berubah dan berkembang.

Kecanggihan teknologi akan menggilas siapa saja yang tidak segera merubah diri, namun tanpa harus kehilangan karakter dan identitasnya. Pesantren menerapkan pembelajaran berbasis teknologi, tanpa harus merubah tradisi baik, seperti mempelajari kitab klasik serta budaya positif lainnya.

Bukankah sudah ada beberapa pesantren yang tetap menggunakan metode lama, namun perlahan mulai tenggelam. Karena kebutuhan dan kepentingan masyarakat era sekarang lebih kompleks dan memiliki tantangan yang lebih luas.

Selain itu, ada konsekwensi yang bakal dialami dalam perubahan pembelajaran di pesantren. Karena teknologi ibarat pisau, jika digunakan untuk memotong buah-buahan, sesuai dengan fungsinya. Sebaliknya, bila digunakan untuk membunuh orang, maka kehilangan maknanya.

Namun semua itu bisa dilakukan dengan menerapkan proses belajar yang baik. Mengontrol santri agar tidak terjerumus pada sisi negatif teknologi serta mengarahkannya pada kreatifitas yang berarti. Ilmu agama tanpa ilmu pengetahuan teknologi (Iptek) akan pincang. Ilmu pengetahuan teknologi (Iptek) tanpa agama, buta. Waallahu A’lam bi as-Showab 

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

315 total views, 4 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!