6

MOS: Merubah Ritual Kekerasan dengan Pendidikan Karakter (+5)

widarso pep August 3, 2015

ritual1

omrendy.blogspot.com

 Ritual Kekerasan

MOS tahun ini diramaikan dengan meninggalnya seorang calon siswa baru di  SMP Flora Pondok Ungu Permai di Bekasi saat mengikuti kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS). Diberitakan di media Kompas (1/8/2015) bahwa  siswa baru yang bernama Evan Christopher Situmorang, 12 tahun mengalami sakit di bagian kaki setelah berjalan hingga 4 kilometer atas perintah seniornya saat hari terakhir MOS di sekolahnya. MOS menjadi “ritual kekerasan” sehingga terjadi ajang perploncoan, balas dendam kakak kelas, luapan amarah kakak kelas kepada siswa baru dan kegiatan seperti ini secara turun menurun dilakukan. Sebenarnya Mendikbud telah melarang aksi perpeloncoan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 55 tahun 2014 dan surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pencegahan Praktik Perpeloncoan, Pelecehan dan Kekerasan pada Masa Orientasi Peserta Didik Baru di Sekolah.

mos1mos2

smansabayunglencir.wordpress.com                               www.antarabengkulu.com

 

children-learn-what-they-liveSekolah dan lingungan baru untuk belajar harus mampu menghapuskan segala bentuk “ritual” kekerasan terutama saat MOS. Menurut Dorothy Law Nolte dalam buku Children Learn What They Live.

Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki Jika anak dibesarkan dengan permusuhan/kekerasan, dia belajar membenci Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diri Jika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diri, Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia pun belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

MOS bertujuan untuk melatih ketahanan mental, disiplin dan mempererat tali persaudaraan dan juga dipakai sebagai sarana perkenalan kepada siswa baru terhadap lingkungan baru di sekolah tersebut. Namun yang terjadi di negeri ini malah kebanyakan tidak sesuai dengan tujuan dari kegiatan MOS tersebut dan tentunya sangat berbeda sekali jika dibandingkan dengan MOS di luar negeri.

Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan MOS antara lain :

  1. Memperkenalkan siswa pada lingkungan sekolah yang baru.
  2. Memperkenalkan siswa pada seluruh komponen sekolah terutama aturan, norma, tata tertib yang berlaku didalamnya.
  3. Memperkenalkan siswa pada suatu organisasi.
  4. Memperkenalkan siswa dengan lagu-lagu hymne dan mars sekolah tersebut.
  5. Memperkenalkan siswa dengan semua kegiatan di sekolah.
  6. Mengarahkan siswa dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan bakat mereka miliki.
  7. Menanamkan sikap mental, spritual, budi pekerti yang baik, rasa tanggung jawab, toleransi maupun berbagai nilai positif lain dari diri siswa tersebut sebagai implementasi penanaman konsep iman, ilmu dan juga amal.
  8. Menanamkan berbagai wawasan dasar pada siswa sebelum masuk dalam kegiatan pembelajaran secara formal didalam kelas.

 Kegiatan MOS ditanamkan pendidikan Karakter

Dalam buletin Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership dijelaskan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.

Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi (EQ), dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya.

Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.

Pada kegiatan MOS, pendidikan karakter dapat dilakukan dengan.

102_7293

 Pembacaan surat-surat pendek Al-Quran sebelum mulai aktivitas pembelajaran

DSC09833

Bakti sosial

DSC09817

DSC06418

 

 

 

 

 

Sholat berjamaah                                                                                                                  OutBoand

DSC04328DSC04218

 

 

 

 

 

 

Kerja Bakti                                                                                                          Latihan baris berbaris

DSC04392DSC09814

Penyuluhan dari dinas kesehatan                                                                         Penyuluhan dari Kepolisian

DSC04349DSC04417

Penyuluhan dari Koramil                                                                                            Penyuluhan dari KUA

DSC04198

Diskusi Guru dan Siswa

carakterDengan adanya MOS mari kita bangun generasi muda agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.

 

Penulis adalah guru SMP Negeri 1 Sukosari Bondowoso Jawa Timur

2,680 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!