4

Mimpi itu (+3)

Af'ida Ahmad January 25, 2014

Membuat kelas selalu menyenangkan bukanlah keahlian guru usia setengah tahun macam saya. Ditambah persepsi pribadi bahwa kelas yang selalu menyenangkan bukanlah sebuah jaminan kelancaran pembelajaran siswa. Banyak hal yang sering membuat seorang guru tekendala ketika menyampaikan materi pelajaran, termasuk menjaga antusiasme belajar siswa dalam rentang waktu tertentu. Terlepas bagaimana metodenya, dua jam pelajaran tidak mungkin diisi penuh dengan penyampaian materi-materi. Atau misalnya mengisi seluruhnya dengan game-game pembangkit semangat belajar, karena materi inti yang disampaikan bisa berkurang dari porsi seharusnya.

Saya, termasuk model guru yang lebih suka melihat siswa-siswinya aktif berfikir dan menganalisa sebuah permasalahan. Meski secara objektif, hal ini tidak dibenarkan dalam kode etika pengajar, tapi justru dari sinilah saya selalu berusaha menemukan model pembelajaran yang pas bagi setiap siswa-siswi saya.

Minggu lalu, saya mencoba mengajak siswa-siswi saya ‘keluar’ dari materi. Keluar total. Di beberapa menit sebelum bunyi bel pergantian pelajaran selesai, saya menanyakan kepada mereka tanggal berapa saat itu. Mereka serempak menjawab tanggal, bulan, serta tahunnya.

“Bagaimana ya keadaan kita pada tahun 2022 nanti, tepat di tanggal, bulan, dan detik yang sama?”
Saya bertanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh kelas.

Sejenak saya rasakan lengang di penjuru kelas, satu sama lain saling berpandangan. Lalu riuh masing-masing bersahutan menyebutkan keadaan yang ada di bayangan mereka. Saya tersenyum simpul dan terus menyimak ‘keadaan-keadaan’ siswa-siswi tercinta.

“Di Kairo bu, diskusi sama Grand Syaikh”

“Serius depan layar, mengamati siklus udara”

“Merancang game paling mutakhir”

“Kairo, di pojok salah satu perpustakaan tertua di dunia”

“Umrah sekeluarga, ibu saya ajak juga deh”

“Jamnya istirahat bu!”

“Di Australia, kampus keren apa ya bu? Sekalian lihat kanguru”

“Bantu ibu di rumah, kan lagi istirahat bu. Jam 10”

Dan masih  banyak lagi suara-suara yang saya tangkap. Kuwalahan saya menyimpan mimpi-mimpi itu di otak saya. Doa dan harap akan selalu menyertai mimpi-mimpi itu.

“Teman-teman boleh menuliskan mimpinya di kertas paling mungil. Ibu akan bawa dan baca satu-satu, Ibu juga akan meminta mesin pengatur doa otomatis sama Allah, setiap kali baca langsung doa.”

Ucapan saya disambut riuh oleh siswa-siswi saya. Ada yang menanggapi, lebih banyak langsung semangat menyobek kertas kecil dan berkutat dengan coretan kecil yang akan membawa mereka menjadi besar.

Administrasi pendidikan terkadang menuntut terlalu besar pada setiap jiwa-jiwa kecil seperti mereka. Namun yang perlu dan penting diingat adalah, sebagai pendidik kita hanya perlu mengantarkan mereka tanpa perlu menentukan jalan apalagi membatasi. Kelas saya tidak pernah menyenangkan, tapi saya selalu berusaha membuat mereka mengucap salam pembuka dan penutup selalu diiringi dengan senyum dan harapan besar.

1,308 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (4)

  1. Salam kenal bu. Selamat bergabung, rasanya saya pernah membaca tulisan ibu, sudah pernah posting ya bu? Nama ibu dan gaya menulis itu yang saya ingat. Salahkah saya bu? Hehehe. Teruslah menulis, tulisan di atas sudah dapat dimegerti apa yang ingin ibu sampaikan. Sebagian kecil potongan kalimat di paragrap terakhir baris akhir kucopy:”Kelas saya tidak pernah menyenangkan, tapi …” Mengapa ibu mengatakan demikian? Tulislah lagi bu, akan menjadi artikel baru yang penting. Saya tunggu ya bu. Kita di sini saling respon bu, silakan kunjungi artikel saya. Thx, salam perjuangan.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar