1

Menyiapkan Digital Citizen Yang Beradab (+2)

R Yogie Prawira W May 31, 2017

Gambar 1. Panduan Digital Citizenship

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menciptakan dunia baru yang disebut dengan dunia maya atau dikenal pula sebagai dunia digital. Penduduk dari dunia digital dikenal dengan sebutan digital citizen. Menurut Mossberger, et al (2008: 1) digital citizen adalah “individuals who use the Internet effectively and regularly” (warga digital yang dapat menggunakan internet dengan efektif dan reguler. Digital citizen berasal dari berbagai Negara dan kewargaan mereka disebut dengan digital citizenship.

Digital citizenship is a concept related to establishment of healthy and safe relationships and interactions in the Internet environment with conscious use of digital technologies. Moreover, digital citizenship is also a concept regarding what could or could not be done by using digital technologies (Mossberger, et al , 2008).

(Kewargaan digital adalah konsep yang berkaitan dengan upaya membangun hubungan dan interaksi yang sehat dan aman di lingkungan internet dengan menggunakan teknologi digital yang berkelanjutan.  Selain itu, kewargaan digital juga sebuah konsep yang berkaitan dengan apa yang dapat dan yang tidak dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital).

Dalam digital citizenship terdapat 9 komponen yang dapat menjadi panduan untuk berinteraksi dan berkomunikasi di dunia digital atau yang biasa disebut dengan konsep T.H.I.N.K. Akronim dari komponen tersebut adalah:

  • Is it True (Benarkah)? Benarkah posting Anda? Atau hanya isu yang tidak jelas sumbernya?
  • Is it Hurtful (Menyakitkankah)? Apakah post Anda akan menyakiti perasaan orang lain?
  • Is it lnspiring (Menginspirasikah)? Menginspirasikah post Anda?-
  • Is it Necessary (Pentingkah)? Pentingkah post Anda? Karena post yang tidak penting akan mengganggu orang lain
  • Is it Kind (Santunkah)? Santunkah post Anda? Tidak menggunakan kata-kata yang dapat menyinggung orang lain?

Dari paparan tersebut, seyogyanya warga digital secara umum sudah mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam mengoperasikan teknologi informasi sebagai media untuk berkomunikasi dan mengekspresikan sebuah ide atau gagasan dengan mempertimbangkan norma perilaku yang tepat dan penuh tanggung jawab. Namun faktanya masih banyak orang yang mengaku sebagai digital citizen tapi tidak bertanggung jawab, mengabaikan norma-norma kesopanan, dan hilangnya etiket dalam berkomunikasi.

Sebagaimana yang terjadi baru-baru ini dimana seorang siswa di salah satu SMP di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung diamankan oleh Kapolsek Tulang Bawang Tengah, Lampung karena posting-an status di facebook yang mengandung SARA dan memicu kemarahan warga.

Gambar 2. Posting berbau SARA http://translampung.com/terpicu-status-facebook-kelurahan-mulyo-asri-nyaris-memanas/

 

Melihat fenomena yang menghebohkan ini, apakah siswa SMP tersebut dapat dikatakan sebagai bagian dari digital citizenship? Jika iya, bukankah siswa tersebut telah melanggar komponen dan konsep digital citizenship yang mengedepankan nilai-nilai untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan sehat dan aman serta mengetahui apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan? Namun jika tidak, lalu disebut apa siswa SMP tersebut?

Terlepas siswa tersebut dapat disebut sebagai digital citizenship atau tidak, yang patut kita sadari saat ini adalah mayoritas digital citizen saat ini dan yang akan datang adalah generasi yang lahir pada periode yang sama dengan siswa SMP tersebut atau disebut dengan generasi  dan Z. Generasi Z adalah generasi yang lahir dan besar ditengah dominasi perkembangan teknologi mulai tahun 1995an, sehingga memiliki kepribadian, pola pikir dan perilaku dari generasi yang sebelumnya (Wood, 2013). Pertanyaan yang kemudian timbul adalah, ada apa dengan generasi Z? apa yang salah dari mereka? Tidak ada yang salah dari mereka, namun lingkungan dan orang sekelilingnya lah yang menjadikan mereka sebagai generasi yang kurang beretiket, tidak memiliki sikap sopan santun. Bagaimana hal itu terjadi?

Sebagai generasi yang lahir dengan kecanggihan teknologi di tangannya, Generasi Z terbiasa untuk hidup di dunia maya sehingga seringkali mereka lupa akan bagaimana cara hidup di dunia yang sebenarnya, dan cara bertutur kata yang sopan. Parahnya lagi kondisi ini di perbolehkan oleh sekitarnya dengan mengatakan bahwa mereka berbeda dengan generasi dulu tanpa menunjukkan bagaimana seharusnya yang lebih baik. Orang tua juga agak kesusahan untuk mengontrol perilaku anaknya karena anaknya lebih fasih mengunakan teknologi daripada orang tuanya.

Solusinya apa? Solusinya adalah dengan turut serta melibatkan guru disekolah. Guru sebagai pendidik di sekolah diharapkan dapat berperan serta dalam menyiapkan generasi Z untuk menjadi digital citizen yang beradab. Beberapa strategi yang dapat diaplikasikan oleh guru dalam mendidik siswa di sekolah untuk menjadi bagian dari digital citizenship yang beradab adalah:

Pertama, guru hendaknya membimbing dan mengarahkan siswa untuk menggunakan internet secara bijak dengan menjelajahi situs yang tepat, aman, dan bermanfaat untuk kegiatan pembelajaran. Guru juga dapat menentukan situs-situs yang sebaiknya dikunjungi oleh siswanya. Siswa juga diajarkan untuk mengenali dan mengevaluasi situs yang valid dan kredibel. Menurut Pinkham, Wintle, dan Silvernail: 2008), mendidik siswa untuk mampu mengevaluasi sebuah situs dengan cara yang bertanggung jawab dan etis membantu menyiapkan masa depan mereka.

Kedua, guru harus memberikan pemahaman tentang penggunaan materi yang memiliki hak cipta. Fase ini penting untuk mencegah terjadinya plagiarisme dalam berkarya mengingat siswa di zaman sekarang lebih banyak beraktifitas di dunia digital.

Ketiga, guru hendaknya mampu mengajarkan siswa untuk tidak melalukan cyberbullying dengan cara mendiskusikan alasan mengapa cyberbulying merupakan hal yang negatif, perilaku yang dapat dikatakan sebagai cyberbullying, cara menangani ketika terkena cyberbullying, dampak pada korbannya, seperti dapat mengakibatkan orang stres hingga bunuh diri, dan juga akibat bagi pelaku cyberbullying. Hal-hal tersebut penting untuk diberikan kepada siswa untuk mengatasi dan mencegah perilaku online yang mengancam dan bersifat negatif.

Keempat, guru menekankan bahwa citra diri positif itu penting dengan menjelaskan kepada siswa bahwa apa yang akan mereka posting dapat diakses oleh banyak orang dan terdokumentasi. Kemudian mengajak mereka berdiskusi dan berpikir terhadap beberapa hal yaitu, bagaimana dengan penilaian orang tua? keluarga? teman-temannya? Bagaimana jika postingan tersebut merusak sekolah dan karir masa depannya? Permasalahan ini sangat esensial bagi siswa karena masa sekarang perusahaan akan mencari tahu calon karyawannya secara online (Oxley, 2010).

Kelima, ingatkan siswa untuk selalu mematuhi netiquette (aturan untuk berkomunikasi online). Salah satunya caranya adalah dengan mengajak siswa untuk praktek secara langsung baik melalui media sosial, email, blog dsb, sehingga dapat membuka kesempatan untuk memperoleh model netiquette yang baik. Beberapa norma yang umum digunakan di dunia maya adalah, mengetahui siapa lawan bicara atau audiens dari kegiatan komunikasi tersebut, menjaga privasi orang lain, penggunaan gaya tulisan yang tepat, menghindari mengirim pesan yang tidak penting, menerapkan norma-norma kesopanan di dunia nyata, dan mencegah berperilaku tidak senonoh.

Keenam, biasakan dan ingatkan siswa untuk selalu mencantumkan sumber asli ketika menggunakan karya orang lain dengan cara mengajarkan cara mengutip yang benar.

Mari kita bersama-sama mendidik generasi penerus bangsa menjadi digital citizen yang beradab dan mencerminkan nilai-nilai kebangsaan!

Referensi :

Mossberger, K., Tolbert, C.J., & McNeal, R.S. (2008). Digital Citizenship: The Internet, Society, and Participation. London: The MIT Press.

Oxley, C. (2010). Digital Citizenship: Developing An Ethical And Responsible Online Culture. Diunduh dari  files.eric.ed.gov/fulltext/ED518512.pdf. Diakses pada 26 Mei 2017.

Pinkham, C., Wintle, S. E., and Silvernail, D. L. (2008). 21st Century Teaching And Learning: An Assessment Of Student Website Evaluation Skills. pp., 1-40. Diunduh dari https://maine.gov/mlti/resources/21st_Century_Teaching_and_Learning_Website.pdf. Diakses pada 26 Mei 2017.

Wood, S . (2013). Generation Z as Consumers: Trends and Innovation. Institute for EMERGING ISSUES: NC State University, pp., 1-3, Diunduh di https://iei.ncsu.edu/wp-content/uploads/2013/01/GenZConsumers.pdf. Diakses pada 26 Mei 2017.

*Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

131 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!