2

Menulis sebagai bagian dari Refleksi Diri Saya (+1)

esti December 1, 2012

( Catatan dari seorang guru yang tidak ingin rabun membaca sehingga tidak membuat guru lumpuh menulis)

Kegiatan menulis sebenarnya sudah saya mulai sejak saya di sma, yaitu menulis buku harian, yang kebetulan juga saya lakukan bersama dengan mantan pacar saya yang akhirnya menjadi suami saya saat ini. Saya melakukannya dikarenakan saya selalu ingin mengetahui apa saja yang dilakukan mantan pacar saya tersebut sehari-harinya, jadi setiap hari kami bertukar cerita melalui media buku harian ( juga dikarenakan saat itu handphone masih jarang dan melalui telepon pulsa maha). Bahkan buku harian itu hingga saat ini masih saya simpan, sebagai bentuk kenangan yang pernah ada pada saat masa-masa pacaran dulu.

Ini sebagian foto yang saya ambil dari buku harian saya, di tahun 2002

Dan kegiatan menulis itu sudah tidak pernah saya lakukan saat saya sudah menikah dengan suami saya, karena saya berpikir saya sudah mendapatkan cerita secara langsung darinya ( bahkan sms sudah sering kami lakukan sebagai bahan untuk bertukar cerita), hingga beberapa bulan terakhir ini. Namun ternyata karier sebagai seorang guru, menuntut untuk tidak hanya melakaukan kegiatan membaca saja, namun juga melakukan kegiatan menulis,serta diharuskan membuat bentuk administrasi silabus, rpp, prosem, prota bahkan penelitian tindakan kelas. Saya berpikir, untung saya pernah suka menulis waktu masih pacaran dulu, sehingga menjadi bekal untuk kegiatan menulis bagi karier keguruan saya.

Namun kegiatan menulis yang harus saya lakukan di sekolah rasanya berbeda, saat saya harus menulis buku harian untuk menceritakan pengalaman saya bersama mantan pacar saya itu dengan menulis di sekolah. Terkesan,saat saya harus menulis di sekolah, saya tidak merasa nyaman, dikarenakan hal itu saya anggap sebagai beban dan tanggung jawab yang saya miliki, bukan karena suka untuk melakukan. Sehingga pada suatu titik tertentu akhirnya saya mulai menyadari bahwa ada ada manfaat yang bisa membuat saya merasa betapa pentingnya menulis itu.

Kebetulan juga saat ini saya menjabat sebagai seorang wali kelas dengan siswa yang memliki keragaman sifat dan karakter, yang mengharuskan saya untuk dapat bersikap sebagai seorang guru atau pendidik, ibu dan sebagai teman. Sementara posisi saya juga sebagai seorang istri dari 2 anak perempuan yang masih balita pun menuntut untuk dapat bersikap hal yang sama. Namun terkadang, saya tidak dapat memposisikan diri saya pada posisi semacam itu karena saya harus berdaptasi dan mampu menyikapi sifat dan karakter mereka dengan cara yang berbeda pula. Hal inilah terkadang yang membuat saya merasa pusing bagaimana cara menjadi wali kelas yang disayangi oleh muridnya dan anak sendiri di rumah. Sempat ini menjadi hal yang membingungkan saya beberapa bulan lamanya.

Akhirnya saya mendatangi sebuah kegiatan seminar yang memotivasi untuk kegiatan menulis, ternyata dari menulis itu banyak hal yang bisa saya dapatkan. Mulai dari membuat buku pelajaran, buku motivasi diri yang diterbitkan penerbit hingga menjadi nara sumber dari buku yang dibacanya. Sempat saya termotivasi karena mengikuti kegiatan tersebut, namun hanya bertahan beberapa saat saja, karena kegiatan saya banyak diisi dengan kegiatan mengajar dan lain sebagainya. Sehingga kegiatan menulis menjadi terlupakan lagi beberapa saat lamanya.

Sehingga akhirnya Minggu tanggal 26 November 2012, saya mengikuti kegiatan Pelatihan menulis di Wisma UNJ Rawamangun, ada suatu hal yang membuat saya terusik dan akhirnya membuat suatu tulisan melalui media ini, saya mendengar ada seorang pembicara yang sempat berbicara bahwa seharusnya kalau orang yang memiliki hobi untuk membaca, harusnya juga memiliki hobi menulis, karena orang membaca, itu artinya diisi dengan sesuatu, dan menulis itu mengeluarkan sesuatu sehingga apa yang diisi harusnya dituangkan. Ditambah lagi ada suatu peribahasa, bahwa gajah mati meninggalkan gading, manusia mati seharusnya juga ada yang ditinggalkan minimal meninggalkan tulisan kita, sehingga masih ada orang yang bisa memanfaatkan apa yang kita tinggalkan meskipun orang yang membuatnya sudah tidak ada.

Ditambah saya berpikir untuk mengaktifkan kembali kegiatan menulis saya melalui internet atau media blog jadi agar terkesan melek internet atau buku harian saya untuk bercerita mengenai kegiatan yang saya alami sehari-hari. Awalnya agak susah memang karena sudah lama saya tidak menulis, karena guru yang harusnya rajin membaca ( kebetulan membaca salah satu hobi saya sedari kecil) dan kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan. Sehingga pada saat kegiatan pelatihan menulis, kamipun diharuskan untuk menuliskan mengenai pengalaman kami saat mengikuti pelatihan menulis, dan ketika saya menuliskannya terlihat lancar sekali saat menulis, yang akhirnya membuat saya jadi merasa flashback dengan kondisi saat sebelum menghadiri kegiatan pelatihan tersebut dan kemudian saat saya membaca tulisan saya, saya mendapat sebuah cerita mengenai diri saya sendiri. Akhirnya sayapun merasa lebih nyaman saat harus merasakan emosi terhadap siswa saya, saya tuangkan melalui tulisan, sehingga hati saya agak lebih lega, karena apa yang saya isi dapat saya keluarkan melalui tulisan. Bahkan melalui tulisan itu, ada beberapa point yang dapat saya rasakan sebagai bahan refleksi untuk diri saya, karena pada saat emosi, saya tidak dapat melihat hal tersebut, semua dilihat dari perspektif saya, akhirnya dapat membuat bahwa ada beberapa hal yang mestinya bisa saya lakukan supaya tidak emosi terhadap siswa saya.

Bahkan pengalaman siswa saya, juga saya terapkan terhadap suami dan anak-anak saya, saya juga merasakan bahwa setelah menulis ada beberapa hal yang akhirnya dapat tersalurkan secara lega dengan cara yang tidak membuat anak atau suami terluka. Saya menuliskan semua hal yang saya rasakan saat saya emosi, kemudian saya baca dan ternyata memang ada beberapa hal yang mestinya tidak saya lakukan saat saya emosi. Itulah yang menjadi bahan refleksi saya.

Bahkan kegiatan menulispun berusaha tidak saya anggap beban, karena akhirnya ada keuntungan yang saya dapatkan pada saat saya menulis, beban yang saya rasakan dapat saya salurkan melalui media tulisan daripada marah atau emosi yang mungkin bisa menyakiti orang lain atau diri sendiri. Dan itu juga bisa saya jadikan sebagai media refleksi bagi diri saya yang ingin menjadi orang yang baik untuk anak dan murid-muridnya. Bahwa dengan membaca apalagi membaca tulisan yang kita buat akan membuat kita terintrospkesi dan semakin ingin untuk menambahnya lagi dengan tulisan-tulisan yang berikutnya, Sehingga bila kita tidak rabun membaca tulisan tulisan yang baik termasuk tulisan kita sendiri kita semakin termotivasi untuk menuliskannya lagi sehingga menjadi tidak lumpuh untuk menulis.

Dan ini adalah salah satu oleh-oleh yang saya dapatkan pada saat pelatihan menulis kemarin dilakukan

Buku karangan Om Jay berjudul “ Menulisalah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi “ yang saya dapatkan pada saat saya kehabisan buku Guru Juga Manusia , namun akhirnya dapat juga memotivasi saya untuk menulis. Terimakasih Om Jay atas buku yang memotivasi ini.

Cikarang, 28 November 2012

 

3,461 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar