1

Menjadi Penulis Pemula (+2)

Usep Saefuddin May 20, 2016

First is hardest” (Felix Siauw)

Memulai sesuatu ibarat melangkahkan kaki awal di saat batita belajar berjalan. Terasa berat dan penuh dengan ketakutan. Bahkan seringkali akibat langkah awal ini, beberapa anak harus terjatuh hebat atau terlempar kuat, yang menimbulkan kekhawatiran orang tuanya. Padahal gerakan tersebut menentukan langkah-langkah selanjutnya. Ingat perjalanan ribuan mil diawali dengan langkah pertama. Kereta api yang mulai berjalan pun, gerakan awalnya memerlukan gaya yang besar hanya untuk berjalan perlahan, namun setelah roda-roda bergerak, tenaga yang dibutuhkan relatif lebih sedikit dan kereta berjalan dengan kelajuan yang normal.

Begitu pun menulis, keterampilan berbahasa ini senantiasa menjadi aktivitas yang mudah diungkapkan namun masih merasa sulit untuk dilakukan. Para guru kadang menganggap akan dengan mudah menuliskan karya tertentu, namun kenyataannya seringkali menjadi gagasan hebat yang mati karena tidak dilaksanakan. Menulis karya ilmiah seperti artikel ilmiah populer, jurnal, best practice, laporan penelitian, buku pendidikan, modul, diktat pembelajaran senantiasa menjadi tuntutan pengembangan keprofesian yang menakutkan. Apalagi jika hal tersebut berkaitan dengan kenaikan pangkat, tunjangan profesi atau penghargaan guru berprestasi.

Lantas, bagaimana menjadi penulis pemula?

Pada suatu kesempatan acara KKG (Kelompok Kerja Guru), dengan narasumber seorang pengamat komunikasi politik, mantan presenter TVRI, kolumnis Pikiran Rakyat sekaligus Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Karim Suryadi, mengungkapkan bahwa, “suatu tulisan ibarat sayur yang berbahan dasar air. Mau itu sop, sayur asem, soto, gulai, lodeh atau sayur-sayur lainnya, pada hakikatnya memiliki bahan dasar air, tinggal bagaimana bumbu dan racikannya. Begitu pun tulisan, apa pun jenis tulisannya, mau itu laporan penelitian, jurnal ilmiah, artikel atau seberapa panjang dan tebalnya suatu tulisan, pada hakikatnya dibangun oleh suatu paragraf”. Dengan demikian, apabila kita sudah mampu dalam membuat suatu paragraf, pada dasarnya akan mampu membuat suatu tulisan apa pun, seiring dengan keseriusan dan latihan yang terus-menerus.

Menjadi penulis pemula, kemampuan dasarnya sangat mudah. Hampir semua manusia Indonesia, dewasa ini menggunakan ponsel. Sebagian besar orang telah memiliki sambungan internet di HP nya. Berjuta orang dalam setiap menit atau detik melakukan komunikasi elektronik, baik sms maupun sosial media atau email. Tanpa kita sadari, dengan membuat pesan singkat via sms, mengupdate status dan mengomentari postingan orang lain via sosial media, sesungguhnya kita telah menjadi penulis pemula yang mampu merangkai kata-kata sendiri berdasarkan buah pikiran kita secara spontan. Dengan modal dasar tersebut, mengapa kita harus enggan untuk menulis?

Menjadi penulis pemula sangat dipengaruhi oleh ide-ide yang berkembang. Secara teoritis menurut Prof. Dr Karim Suryadi, ide itu muncul dari tiga hal, yakni: konsep, pengalaman dan data empirik. Ide merupakan jiwa dari suatu karangan, sehingga ada pepatah yang mengatakan “setiap kata memiliki jiwa”. Dari ide tersebutlah, kita dapat menentukan tema yang akan ditulis, membuat kerangka tulisan dengan menentukan pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas suatu paragraf, sampai dengan mengembangkan pikiran-pikiran tersebut dalam kalimat yang padu.

Salah satu bentuk ide adalah konsep. Pengertian konsep adalah kata-kata yang bermakna. Kaitan dengan menulis konsep artinya menuliskan suatu konsep tertentu dengan tinjauan atau sudut pandang tertentu, untuk memperjelas konsep yang dimaksud atau menghubungkan dengan konsep lainnya. Contoh judul: Pancasila, Demokrasi dan Pendidikan.

Bentuk ide yang lain adalah pengalaman. Pengertian pengalaman adalah suatu ruang, waktu, suasana atau kondisi yang telah dirasakan sebelumnya. Kaitan dengan menulis pengalaman artinya menuliskan hasil kunjungan, perjalanan, pengamatan diri sendiri atau orang lain yang dipercayai kebenarannya tentang suatu kejadian, peristiwa, situasi dan kondisi. Menulis pengalaman juga bisa berarti deskripsi tentang suatu objek yang dilihat, dengar dan rasakan. Contoh judul: Liburan Semester 1, Perjalanan ke Yogyakarta, Keunikan Batu Akik dan judul lainnya.

Satu lagi tentang bentuk ide adalah data empirik. Pengertian data empirik adalah data dan fakta nyata berdasarkan penelitian atau sensus tentang suatu objek. Menulis data empirik artinya menuliskan kenyataan sesuatu hal berdasarkan data yang diterima. Contoh judul: Kepadatan Penduduk Kabupaten Karawang, Pendidikan di Era Otonomi Daerah.

Ketiga ide yang telah diuraikan merupakan gagasan dasar dalam mengembangkan suatu tulisan, yang telah ada dalam diri masing-masing. Intinya adalah menuliskan apa yang ingin kita tuliskan, jangan bunuh ide yang muncul, adapun perbaikan pilihan kata dan ejaan dapat kita lakukan seiring berjalannya waktu. Percayalah, dengan kemauan yang kuat kita akan menjadi penulis pemula yang dapat menghasilkan karya yang bermakna sehingga merangsang kita untuk terus menulis. Meminjam istilah Om Wijayakusumah, founding father Komunitas Guru Sejuta Ngeblog, “Menulislah setiap hari, maka buktikan apa yang terjadi?”

Selamat mencoba…

926 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!