8

Mengkritisi Peran Guru dalam Membangun Integritas Diri (+1)

Mobit Warsono Atmojo June 6, 2012

Isu sekolah gratis adalah isu yang sangat seksi untuk dijual oleh para pencari kekuasaan. Dalam pemilukada (pemilihan umum kepala daerah) isu itu sering menjadi bahan jualan yang sangat gembur. Hal itu tidak saja karena sebagian besar pemilih (baca rakyat) banyak yang mengalami kekurangan secara ekonomi, namun juga mereka akan lebih bersikap dan berpikir praktis, sehingga siapa saja yang memberikan keuntungan bagi mereka akan menjadi prioritas.

Terminologi sekolah gratis yang dinilai sangat menyesatkan oleh sebagian kalangan memang sangat kontras dengan kenyataan di lapangan. Gelontoran pemerintah melalui alokasi dana BOS pada APBN 2012 Rp23,6 triliun, naik Rp6,8 triliun atau 40,5 persen dari pagu anggaran APBN-P 2011 rupanya belum bisa membahagiakan tim pendidikan pada beberapa sekolah.

Beberapa sekolah negeri di beberapa daerah di Indonesia terus menjadi sorotan oleh masyarakat. Sorotan-sorotan itu di antaranya karena sering tidak masuknya guru dengan berbagai alasan, sehingga banyak siswa yang nganggur. Akibat dari itu adalah target materi yang disampaikan tidak terpenuhi. Belum lagi bentuk pungutan nonformal diluar SPP yang dulu harus dibayarkan.

Perselingkuhan guru yang sering dikeluhkan oleh orang tua adalah bentuk les dan bimbingan belajar yang malah menjerat siswa. Informasi yang diperoleh oleh staff lembaga kami, misalnya di sebuah sekolah (SDSN) di kawasan Kota Bekasi yang menarik siswa bayaran Rp. 50.000,00 untuk satu mata pelajaran tambahan. Bila jumlah mata pelajaran yang dianggap penting (Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) harus ditambah dan dikayakan berarti siswa harus membayar Rp. 250.000,00 tiap bulan. Sebuah angka yang luar biasa tentunya.

Sehingga sekolah gratis itu, justru malah lebih mahal dan memberatkan dari pada model sebelumnya, ketika orang tua harus membayar SPP dan BP3.

Tidak hanya itu, apabila anak tidak ikut les pada gurunya, nilainya pasti akan jauh dari yang ikut les. Hal ini logis tentunya, karena siswa yang tidak ikut akan ketinggalan beberapa tahap. Namun bukan karena itu saja, setiap materi yang akan diujikan (ulangkan) soal-soal itu sudah dibahas di tempat les khusus tersebut, sehingga wajar saja siswa yang tidak ikut les tidak mendapatkan bocoran soal. Sehingga dampaknya mereka tidak mendapatkan nilai bagus.

Tentunya kasus ini menjadi kasus menarik. Menariknya tidak semua kepala sekolah di kawasan tersebut memberlakukan hal yang sama. Ada sekolah-sekolah yang masih bertanggung jawab dan tidak bertindak praktis seperti SDSN tersebut.

Guru, kepala sekolah, UPT atau Dinas terkait seharusnya tanggap mendengar keluhan masyarakat itu. Tidak saja ulah sekolah nakal itu merangsang kecemburuan intelektual siswa kita, namun justru itu memperkuat kastasnisasi pendidikan yang ada. Entah kejadian itu kebetulan atau tidak, namun sudah menjadi permakluman orang tua siswa, sehingga karena memburu status SDSN orang tua harus mensikapi ini semua apa adanya tanpa complain kepada pihak terkait.
Selain itu, guru dan kepala sekolah telah menciptakan ketidakadilan pendidikan kepada siswanya. Mereka seharusnya disikapi sama dan tidak dibeda-bedakan hanya karena bisa membayar Rp. 50.000,00 tiap mata pelajaran. Mereka nampaknya juga tidak memiliki kepekaan social, sehingga membuat aturan menyesatkan untuk kepentingan diri sendiri.

Harapan kita semoga pihak-pihak terkait; guru, kepala sekolah, UPT dan dinas terkait cepat mengendus penyelewengan wewenang itu sehingga masyarakat mendapatkan hak-hak yang sama dalam bidang pendidikan.

Bila sekolah sebagai wahana pendidikan telah tidak jujur, ekses yang lebih parah akan menjalar kemana-mana. Orang tua akan pula berpikir praktis dan membangun persepsi bahwa nilai itu bisa dibeli, siswanya pun akan mendapatkan giliran yang sama. “Tak usah belajar susah payah, asal ada duit masalah akan selesai”

Pendidikan yang mengkhawatirkan. Katakan, siapa lagi yang peduli pada pendidikan di negeri ini?
 

241 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (8)

  1. Avatar of Pak Sukani @gurumelekIT

    Artikel menarik pak..!! Mengkritisi Peran Guru dalam Membangun Integritas Diri. Guru memang memberikan peran penting tetapi jangan disalahgunakan. sukses pak..!!! salam

    Silahkan kritik dan komentar juga di artikel saya :

    1. Pembelajaran berbasis E-learning di
    http://www.guraru.org/news/2012/05/20/536/klinik_matematika_online.html

    2. Cara praktis memasukkan video pembelajaran dari youtube ke powerpoint di
    http://www.guraru.org/news/2012/06/03/720/bagaimana_cara_memasukkan_video_pembelajaran_dari_youtube_ke_powerpoint_untuk_presentasi.html

    3. Cara praktis mendownload video pembelajaran di Youtube dengan Video Download Helper di
    http://guraru.org/news/2012/06/03/716/bagaimana_cara_mendownload_video_pembelajaran_di_youtube_dengan_menggunakan_video_downloadhelper

    4. Memanfaatkan Youtube sebagai media pembelajaran di
    http://www.guraru.org/news/2012/05/31/639/memanfaatkan_youtube_sebagai_media_pembelajaran_yang_interaktif_menarik_dan_menyenangkan.html

    Maturnuwun…!!!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!