Artikel Pilihan

PRESENTASI MENARIK DENGAN PREZI

Salah satu daya tarik mengajar antara lain dengan performance penyampaian…

Selengkapnya

Artikel Pilihan

Tampilan Baru untuk Website Guraru

Guraru, tak terasa website Guru Era Baru (Guraru) hampir menginjak…

Selengkapnya

Artikel Pilihan

Cara Mudah Membuat Aplikasi Android Sendiri

Menjadi tiga besar artikel pilihan di bulan Juni 2014 memotivasi…

Selengkapnya

Lain-lain
Home > Lain-lain […] Teknologi > Mengkritisi Peran Guru dalam Membangun Integritas Diri

Mengkritisi Peran Guru dalam Membangun Integritas Diri (+1)

Isu sekolah gratis adalah isu yang sangat seksi untuk dijual oleh para pencari kekuasaan. Dalam pemilukada (pemilihan umum kepala daerah) isu itu sering menjadi bahan jualan yang sangat gembur. Hal itu tidak saja karena sebagian besar pemilih (baca rakyat) banyak yang mengalami kekurangan secara ekonomi, namun juga mereka akan lebih bersikap dan berpikir praktis, sehingga siapa saja yang memberikan keuntungan bagi mereka akan menjadi prioritas.

Terminologi sekolah gratis yang dinilai sangat menyesatkan oleh sebagian kalangan memang sangat kontras dengan kenyataan di lapangan. Gelontoran pemerintah melalui alokasi dana BOS pada APBN 2012 Rp23,6 triliun, naik Rp6,8 triliun atau 40,5 persen dari pagu anggaran APBN-P 2011 rupanya belum bisa membahagiakan tim pendidikan pada beberapa sekolah.

Beberapa sekolah negeri di beberapa daerah di Indonesia terus menjadi sorotan oleh masyarakat. Sorotan-sorotan itu di antaranya karena sering tidak masuknya guru dengan berbagai alasan, sehingga banyak siswa yang nganggur. Akibat dari itu adalah target materi yang disampaikan tidak terpenuhi. Belum lagi bentuk pungutan nonformal diluar SPP yang dulu harus dibayarkan.

Perselingkuhan guru yang sering dikeluhkan oleh orang tua adalah bentuk les dan bimbingan belajar yang malah menjerat siswa. Informasi yang diperoleh oleh staff lembaga kami, misalnya di sebuah sekolah (SDSN) di kawasan Kota Bekasi yang menarik siswa bayaran Rp. 50.000,00 untuk satu mata pelajaran tambahan. Bila jumlah mata pelajaran yang dianggap penting (Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) harus ditambah dan dikayakan berarti siswa harus membayar Rp. 250.000,00 tiap bulan. Sebuah angka yang luar biasa tentunya.

Sehingga sekolah gratis itu, justru malah lebih mahal dan memberatkan dari pada model sebelumnya, ketika orang tua harus membayar SPP dan BP3.

Tidak hanya itu, apabila anak tidak ikut les pada gurunya, nilainya pasti akan jauh dari yang ikut les. Hal ini logis tentunya, karena siswa yang tidak ikut akan ketinggalan beberapa tahap. Namun bukan karena itu saja, setiap materi yang akan diujikan (ulangkan) soal-soal itu sudah dibahas di tempat les khusus tersebut, sehingga wajar saja siswa yang tidak ikut les tidak mendapatkan bocoran soal. Sehingga dampaknya mereka tidak mendapatkan nilai bagus.

Tentunya kasus ini menjadi kasus menarik. Menariknya tidak semua kepala sekolah di kawasan tersebut memberlakukan hal yang sama. Ada sekolah-sekolah yang masih bertanggung jawab dan tidak bertindak praktis seperti SDSN tersebut.

Guru, kepala sekolah, UPT atau Dinas terkait seharusnya tanggap mendengar keluhan masyarakat itu. Tidak saja ulah sekolah nakal itu merangsang kecemburuan intelektual siswa kita, namun justru itu memperkuat kastasnisasi pendidikan yang ada. Entah kejadian itu kebetulan atau tidak, namun sudah menjadi permakluman orang tua siswa, sehingga karena memburu status SDSN orang tua harus mensikapi ini semua apa adanya tanpa complain kepada pihak terkait.
Selain itu, guru dan kepala sekolah telah menciptakan ketidakadilan pendidikan kepada siswanya. Mereka seharusnya disikapi sama dan tidak dibeda-bedakan hanya karena bisa membayar Rp. 50.000,00 tiap mata pelajaran. Mereka nampaknya juga tidak memiliki kepekaan social, sehingga membuat aturan menyesatkan untuk kepentingan diri sendiri.

Harapan kita semoga pihak-pihak terkait; guru, kepala sekolah, UPT dan dinas terkait cepat mengendus penyelewengan wewenang itu sehingga masyarakat mendapatkan hak-hak yang sama dalam bidang pendidikan.

Bila sekolah sebagai wahana pendidikan telah tidak jujur, ekses yang lebih parah akan menjalar kemana-mana. Orang tua akan pula berpikir praktis dan membangun persepsi bahwa nilai itu bisa dibeli, siswanya pun akan mendapatkan giliran yang sama. “Tak usah belajar susah payah, asal ada duit masalah akan selesai”

Pendidikan yang mengkhawatirkan. Katakan, siapa lagi yang peduli pada pendidikan di negeri ini?
 

126 total views, 1 views today



Harap login untuk Vote UP postingan ini.


  1. Avatar of Botaksakti

    syahwat memang kadang tak kenal tempat, pun syahwat akan materi:D(gitu nggak, Mas Mobit?)

    Botaksakti Komentar pada June 6, 2012 4:04 am

  2. Avatar of Mobit Warsono Atmojo

    Sepakat, Pak Is… Sebetulnya prihatin juga mendengar yang begituan, apalagi mendengar orang tua yang berkata “makanya gurunya bisa kredit mobil” he he he
    Walaupun mengkredit mobil jadi hak setiap orang…..

    Mobit Warsono Atmojo Komentar pada June 6, 2012 4:32 am

  3. Avatar of Okky Fajar Trimaryana

    @mobitovic: Perongatan yang sangat penting Pak!!..trims telah berbagi.

    semoga kita bisa memilih tindakan bijak kita di mata Rabb semesta alam.

    Okky Fajar Trimaryana Komentar pada June 6, 2012 6:09 am

  4. Avatar of Mobit Warsono Atmojo

    Semoga saja, Mas Tri..
    Salam sukses..selalu

    Mobit Warsono Atmojo Komentar pada June 6, 2012 7:33 am

  5. Avatar of hermanto

    belajra di Home School az,,,

    hermanto Komentar pada June 6, 2012 9:10 am

  6. Avatar of Pengelola Guraru

    Memang menyedihkan… Pendidikan masih sering digunakan sebagai salah satu komoditas untuk mencapai kekuasaan… :(.

    Pak @mobitovic ikut lomba penulisan artikel Guraru kan? Jangan lupa isi form pendaftar di http://bit.ly/FormGuraru ya

    Pengelola Guraru Komentar pada June 6, 2012 12:35 pm

  7. Avatar of Sigit Suryono

    mudah-mudahan kita terhindar dari hal-hal yang negati itu pak….

    Mohon kritikan dan komentar di artikel saya pak: Cepat, Mudah, Akurat, dan Sederhana membuat Penskoran evaluasi pada media presentasi menggunakan Microsoft PowerPoint
    http://guraru.org/news/2012/06/04/724/tips_and_trik_mudah_cepat_dan_akurat_membuat_penskoran_untuk_evaluasi_dengan_microsoft_powerpoint.html

    Sigit Suryono Komentar pada June 6, 2012 9:07 pm

  8. Avatar of Pak Sukani @gurumelekIT

    Artikel menarik pak..!! Mengkritisi Peran Guru dalam Membangun Integritas Diri. Guru memang memberikan peran penting tetapi jangan disalahgunakan. sukses pak..!!! salam

    Silahkan kritik dan komentar juga di artikel saya :

    1. Pembelajaran berbasis E-learning di
    http://www.guraru.org/news/2012/05/20/536/klinik_matematika_online.html

    2. Cara praktis memasukkan video pembelajaran dari youtube ke powerpoint di
    http://www.guraru.org/news/2012/06/03/720/bagaimana_cara_memasukkan_video_pembelajaran_dari_youtube_ke_powerpoint_untuk_presentasi.html

    3. Cara praktis mendownload video pembelajaran di Youtube dengan Video Download Helper di
    http://guraru.org/news/2012/06/03/716/bagaimana_cara_mendownload_video_pembelajaran_di_youtube_dengan_menggunakan_video_downloadhelper

    4. Memanfaatkan Youtube sebagai media pembelajaran di
    http://www.guraru.org/news/2012/05/31/639/memanfaatkan_youtube_sebagai_media_pembelajaran_yang_interaktif_menarik_dan_menyenangkan.html

    Maturnuwun…!!!

    Pak Sukani @gurumelekIT Komentar pada June 9, 2012 9:53 am

You must be logged in to post a comment.

Panduan

Mari bergabung dengan Guru Era Baru! Baca panduan disini.

Panduan Bergabung

Klik Disini
Dr. Acer

Punya pertanyaan seputar komputer dan produk Acer lainnya?

Tanya Dr. Acer

Submit