2

Mengimbangi Sivilisasi (+3)

Muslim May 31, 2017

By Khairul Muslim Nasution

Penetrasi gadget ke Nusantara menjadi sebuah kemajuan teknologi termutakhir abad ini. Bila secara iseng kita mau lebih jeli memperhatikan lingkungan sekitar kita maka akan sangat mudah mendapati kesibukan-kesibukan yang sudah terganti kan dalam sebuah layar ( computer atau handphone). Masyarakat yang beberapa dekade lalu masih terbiasa hidup secara manual, berbaur dan bersosial kemudian menjelma menjadi masyarakat instan yang egosentris dan berbasis konsumerisme.
Deras nya gempuran arus perkembangan teknologi memaksa kita untuk rethink bagaimana seharusnya kita mengimbangi kepungan pesatnya teknologi dengan kesiapan untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu dalam kehidupan sehari-hari. Melejitkan nilai-nillai positif teknologi daripada sekadar mencari alasan akan dampak negatifnya dengan berupaya ikut memahami peran teknologi dalam pergumulan sehari-hari.
Dunia pendidikan seharusnya adalah institusi pertama yang memainkan peran mereka seiring penetrasi teknologi abad milenial ini. Pendidikan sebagai pilar utama dalam membangun kearifan bangsa dan kecerdasan konstitusional harus menjadi garda terdepan dalam menaklukkan gempuran teknologi. Institusi pendidikan harus lebih mawas dan kreatif dalam mengelola teknologi sehingga akumulasi manfaat nya dapat terhimpun baik ketimbang beban buruknya.
Guru sebagai pelaksana sekaligus pahlawan pendidikan seyogyanya menjadi konsultan akan peran teknologi bukan nya malah asyik dipermainkan dan dipermalukan oleh teknologi yang lebih dikuasai peserta didik. Paradoks memang bila melihat peran pendidikan yang dikaitkan dengan lemahnya pengetahuan teknologi para guru di abad canggih ini. Bukan bermaksud mendiskreditkan profesi mulia guru, tapi bila kita analogikan terlihat seperti penumpang telat yang tertinggal cepat nya kereta api teknologi. Dimana semua orang sudah mampu merformulasikan berbagai aplikasi dan daya fungsi teknologi dalam mengejar ketertinggalan nya. sementara, banyak dari guru-guru kita masih belum mampu mengoperasikan berbagai kejeniusan alat yang kita sebut gadget.
Masalah yang timbul kemudian adalah tidak tersalurnya dengan baik peran guru dan peserta didik secara edukatif. Murid mulai mengungguli guru dalam beberapa hal yang pada akhirnya berdampak pada proses belajar mengajar. Murid mulai sedikit ceroboh dalam menilai teknologi dan menjadikan teknologi dunia mereka dalam mencari hal apapun dengan sekali klik. Guru mulai ditinggalkan dan mulai dianggap sudah kampungan karena murid leluasa belajar dari teknologi yang mereka kuasai.

Peradaban Baru
Peradaban baru yang terbangun saat ini memaksa kita untuk mulai berbenah diri dan mempersiapkan amunisi – amunisi yang terbarukan dalam mengalahkan dunia digital. Lingkungan juga sudah mulai berubah dan mulai berpindah tempat ke ranah yang lebih luas, tidak terjangkau dan dinamis ( lingkungan digital).
Jauh sebelum peradaban baru ini berkembang sebenarnya hal ini sudah diprediksi oleh kelompok Marxisme yang meramalkan berdasarkan akumulasi kapital mengakibatkan tekanan kepada kelompok buruh dan menggantikan kinerja manusia dengan mesin. Menurut penulis itulah asal muasal teknologi mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Ramalan itu seperti nya sudah mulai menunjukkan keeksisan nya dengan banyak nya robot-robot dan sistem komputerisasi yang menggantikan peran manusia di zaman robotik ini. Juga dikhawatirkan akan menggerus keberadaan guru yang mungkin akan segera tergantikan dengan sebuah sistem atau robot dalam beberapa tahun ke depan.
Menyongsong peradaban baru ini dunia pendidikan wajib memberikan perhatian lebih dalam memerangi rigiditas dan keprimitifan guru dalam mengoperasikan teknologi. Guru sebagai arsitektur dalam pembentukan pribadi susila yang cakap dan berpengetahuan luas harus kembali memulihkan peran nya dalam interaksi edukatif. Sebagai informator sudah semestinya guru harus lebih paham akan teknologi beserta fungsinya serta mempengaruhi peserta didik untuk lebih bernas dalam penggunaannya.
Peradaban baru juga harus diimbangi dengan kreatifitas guru yang baru pula. Brand new of teacher mungkin layak menjadi istilah guru yang kreatif dan inovatif dalam menjalankan sistem pendidikan yang lebih arif, bijaksana, dan berkarakter. Kreatifitas guru dalam mengungguli teknologi sangat bermanfaat untuk membantu proses belajar mengajar dan memperlancar interaksi edukatif.

Sebagai guru penulis mencoba sedikit berbagi pengalaman tentang penggunaan teknologi dalam merancang kelas yang lebih asyik tapi berterima. Pengunaan media komputer dan proyektor dalam menyajikan pelajaran ternyata sangat diminati dan menggugah rasa penasaran peserta didik. Tujuan dari pembelajaran ini adalah merangkai cerita berdasarkan gambar gambar yang akan ditampilkan di layar proyektor. Murid dituntut untuk berpikir kreatif dalam menyelesaikan puzzle gambar menjadi sebuah cerita yang menarik. Beberapa potongan gambar yang sudah disediakan dalam komputer ditampilkan satu persatu yang akhirnya akan terangkai sebuah cerita. Peserta didik menaruh antusias besar terhadap gambar yang akan muncul selanjutnya serta koneksi nya dengan gambar berikutnya. Rasa penasaran murid menciptakan suasana kelas yang edukatif. Asyik , seru dan berterima yang akhirnya mereka mampu mengoptimalkan daya pikir mereka lebih kreatif dalam menyusun sebuah cerita berdasarkan gambar-gambar yang sudah disediakan.
Merekonstruksi pelajaran berbasis teknologi ternyata sangat menyenangkan bagi kedua pelaksana edukatif baik guru maupun murid. Guru dituntut rajin untuk mengembangkan informasi dan merangkum nya menjadi ide dan kreatifitas. Di lain sisi, murid disugestikan untuk mengoptimalkan daya pikir serta melejitkan potensi potensi yang ada dalam diri mereka.
Mengimbangi sivilisasi ( peradaban baru) akan memantik semangat untuk bersaing bersama teknologi atau malah memungkinkan untuk mencipta satu karya (teknologi). Perkembangan teknologi harus diiringi dengan perbaikan mutu dan kualitas pendidikan yang akan mencipta pribadi susila yang cakap dan berpengetahuan luas yang diharapkan akan mampu memberikan kontribusi dalam membangun peradaban yang lebih baik.

Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guru Era Baru.

872 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar