1

Menggali Rasa Syukur Murid (+3)

Andi Ardianto May 13, 2015

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengajak salah satu murid jalan-jalan sore. Berhubung tidak ada agenda lain di hari itu, kami pun cukup lama menghabiskan waktu mengitari Kota Solo yang memang tidak terlalu luas. Sempat ke kampung batik Kauman, patung Slamet Riyadi dan kawasan Gelora Manahan. Sepanjang perjalanan kami cukup asyik berbincang apa saja. Cukup banyak pertanyaan yang keluar dari Manto, nama murid itu, seputar Kota Bengawan ini. Maklum dia bukan asli Solo tapi dari Bumi Palapa, Temanggung. Meski saya pun bukan asli orang Solo tapi beberapa tahun tinggal di sana cukup membuatku paham seluk beluk Kota Budaya ini.

 

Tidak terasa hujan mengiringi putaran roda motor kami. Tidak terlalu deras memang, tapi cukup membuat kami menggigil. Hingga kami sampai di perempatan lampu merah Kota Barat. Di sana hanya ada rintik-rintik hujan yang masih setia menyapa bumi. Ketika lampu merah menyala, pemandangan kami tertuju pada sesosok gadis kecil berusia sekitar sembilan tahun. Memakai payung biru lusuh, tangan kanannya tidak luput membawa koran lokal terbitan terkini. Hamparan mobil yang berjajar menunggu pergantian lampu didatangi satu per satu. Niatnya tentu tidak lain kecuali menjajakan koran yang mungkin sudah tidak banyak yang butuh. Maklum hari itu sore sudah menjelang.

 

“Kasihan anak itu ya Pak. Masih kecil sudah bekerja, hujan lagi” Suara pembonceng membuyarkan pemandangan saya. Sembari tersenyum, saya hanya bertanya, “Lalu harusnya bagaimana?” “Ya sekolah” Jawabnya singkat. Selanjutnya saya mencoba menggali apa yang dirasakan jika berada di posisinya. Cukup banyak yang disampaikan.

 

Saya memang tidak tahu apakah gadis penjual koran tadi masih sekolah atau tidak. Tidak pula mengetahui apakah orangtuanya masih ada atau tidak. Namun bukan itu yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini. Ya, meski Manto adalah salah satu murid yatim kami, tapi dia bisa merasakan bahwa ada yang kurang beruntung dibanding dirinya. Ibunya memang telah lama tiada dan beberapa tahun belakangan dia hanya bersama adik dan ayahnya. Namun kesempatan sekolah gratis di salah satu yayasan di Solo yang fokus pada pembinaan anak yatim membuatnya merasa bersyukur.

 

Ibu memang telah tiada, tapi kesempatan hanya fokus sekolah membuatnya tidak fokus pada apa yang tidak dimilikinya. Dia menyadari tidak perlu bekerja di usianya yang sekarang. Yang perlu dilakukan hanyalah belajar dan belajar. Soal biaya, uang saku dan lainnya sudah ada yang menanggung. Ini yang membuatnya tersentuh ketika melihat orang lain mengalami hal sebaliknya.

 

Guru memang perlu mengajarkan anak makna syukur. Makna yang tidak sekedar kognitif karena tidak akan berkesan. Sesekali kita perlu mengajak murid untuk melihat langsung penderitaan orang yang kurang beruntung. Dari situ akan timbul rasa syujur dan empatinya hingga tidak sering mengeluh dengan kondisinya. Juga agar mereka lebih bersemangat atas nikmat lebih yang tidak dirasakan oleh orang lain. Jika ini tertanam dalam diri anak, anak akan mudah berbagi. Tidak hanya saat dirinya punya kelebihan, bahkan ketika mereka juga sama-sama membutuhkan. Semoga.

 

“Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

IMG_1472

 

962 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar