5

Mengenali kebutuhan manusia sebagai langkah awal pendidikan karakter bagi guru (+1)

Lusia Gayatri Yosef November 27, 2013

Seringnya kita membaca mengenai pendidikan karakter bagi anak didik, sementara itu dalam proses belajar mengajar di kelas terdapat guru dan murid yang sama-sama perlu dibekali pendidikan karakter. Pada kesempatan ini, penulis hendak membahas mengenai pendidikan karakter kepada guru. Terdapat metode pendidikan karakter yang perlu diperhatikan oleh para guru. Penulis mengutip dua metode pendidikan karakter yang diungkapkan oleh (Koesoema, 2012) yakni olah pikir, olah hati (olah rasa). Olah pikir, individu diajar untuk dapat memahami nilai-nilai dan keutamaan secara benar. Individu mengetahui mengapa ia melakukan sebuah tindakan dan mengapa tindakan yang dilakukan itu dapat dibenarkan secara moral (Koesoema, 2012). Moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; Keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan (Setiawan, 2013). Berdasarkan pernyataan tersebut maka penulis membuat dua kesimpulan mengenai hubungan olah pikir dan moral. Pertama, olah pikir merupakan keterampilan berpikir yang dapat mengevaluasi suatu perilaku dari segi baik dan buruk. Kedua, olah pikir merupakan keterampilan berpikir individu dalam hal menanggapi kesesuaian antara perasaan yang terungkap dalam perbuatan. Olah hati merupakan sisi kemanusiaan yang menghayati nilai sebagai bagian penting dalam hidup. Olah hati juga termasuk didalamnya olah rasa, situasi saat hati memiliki kekaguman terhadap ciptaan, kebesaran Ilahi, keindahan alam, serta berbagai dimensi estetika yang dapat hadir dalam ekspresi manusia (Koesoema, 2012).

Penulis memiliki pendapat bahwa guru perlu mengenal kebutuhan manusia guna mendukung proses olah pikir dan olah hati. Kebutuhan manusia yang hendak dibahas adalah kebutuhan manusia menurut Maslow. Menurut Santrock (2009) dalam bukunya yang berjudul Educational Psychology menyatakan bahwa hirarki kebutuhan manusia berdasarkan Maslow meliputi:

1. Kebutuhan fisiologi (physiological needs). Kebutuhan ini berupa rasa lapar, haus, kebutuhan untuk tidur. Dalam konteks ini guru dapat mengenal mengenai kebutuhan untuk makan, minum, kebutuhan istirahat. Contoh aplikasi konkrit pendidikan karakter pada guru dari segi olah pikir adalah perilaku guru dalam hal menjaga kesehatan. Guru memiliki kedisiplinan dalam hal makan pagi, makan siang untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah. Contoh pendidikan karakter pada guru dari segi olah hati adalah harapannya setelah guru mengaplikasikan tertib atau disiplin dalam hal makan, guru dapat menyampaikan pesan kepada siswa mengenai makna manusia yang perlu menjaga keteraturan dalam hal makan. Sebagai manusia kita memiliki peran untuk merawat kondisi tubuh.

2. Keamanan (safety) seperti perasaan aman. Dalam konteks ini guru dapat terbuka terhadap diri sendiri mengenai kebutuhan perasaan aman berbentuk perasaan nyaman, senang pada diri sendiri dan orang lain. Contoh aplikasi konkrit pendidikan karakter pada guru dari segi olah pikir guru bersedia memberikan tanggapan jujur kepada pertanyaan siswa. Apabila isu siswa bertanya seputar isu sensitive maka guru dapat memberikan respon dari berbagai sudut pandang. Contoh aplikasi konkrit pendidikan karakter pada guru dari segi olah hati adalah guru merasa aman dengan pertanyaan yang akan atau sedang atau telah diugkapkan oleh siswa. Sehingga, guru dapat menciptakan suansana kelas yang aman bagi siswa dalam hal bertanya.

3. Dicintai dan dimiliki (love and belongingness). Kebutuhan tersebut berupa kebutuhan kasih sayang, perhatian dari orang lain. Guru dapat mengenal bentuk perasaan mencintai dan memiliki, rasa menghargai dan dihargai. Dalam konteks ini anak dapat dikenalkan secara konkrit mengenai bentuk perasaan mencintai dan memiliki pada diri sendiri dan orang lain. Contoh aplikasi konkrit pendidikan karakter pada guru dari segi olah pikir adalah guru mengucapkan maaf, ketika berbuat salah; terima kasih, ketika menerima sebuah pemberian; tolong, ketika meminta tolong sesuatu baik kepada teman sejawat maupun kepada siswa. Contoh aplikasi konkrit pendidikan karakter pada guru dari segi olah hati adalah guru menerima ucapan maaf dari teman sejawat dan/atau perilaku para murid yang mungkin berbuat kurang tepat. Guru bersedia menolong teman sejawat dan/atau para murid yang membutuhkan pertolongan. Apabila guru tidak dapat menolong maka guru hendaknya berterus terang. Guru bersedia menerima ucapan terima kasih dari teman sejawat dan/atau para murid. Guru bersedia berpegang teguh kepada makna dasar bahwa manusia saling mengasihi.

4. Kebutuhan akan penghargaan. Kebutuhan untuk menghargai. Contoh aplikasi konkrit pendidikan karakter pada guru dari segi olah pikir adalah guru bersedia menerima penghargaan atas kerja keras yang telah ia lakukan, baik kerja keras membantu sekolah, teman sejawat, murid. Contoh aplikasi konkrit pendidikan karakter pada guru dari segi olah hati adalah guru bersedia untuk jujur kepada hatinya bahwa ia membutuhkan penghargaan dan membutuhkan untuk menghargai sesama. Sehingga, guru mampu merasa bebas untuk berprestasi menjadi penulis, membimbing siswa untuk mengembangkan karunia/kepandaian pada bidang studi tertentu guna mengikuti lomba atau meningkatkan peringkat di kelas.

5. Kebutuhan akan aktualisasi diri. seperti perkembangan yang paling maksimal dalam diri seseorang. Aktualisasi diri ini dapat dicapai oleh guru apabila kebutuhan no 1-4 sudah terpenuhi. Contoh aplikasi konkrit pendidikan karakter pada guru dari segi olah pikir adalah guru bersedia mencantumkan prestasi atau kerja keras yang telah diciptakan di sebuah bukuh arian. Contoh aplikasi konkrit pendidikan karakter pada guru dari segi olah hati adalah guru bersedia berbagi pengalaman hidup dari awal memulai suatu kerja keras, proses kerja keras, hingga hasil kerja keras kepada siswa.
Beberapa langkah di atas mengenai olah pikir dan olah rasa dari sudut pandang kebutuhan manusia dapat dimodifikasi dan dikembangkan oleh guru saat melakukan refleksi diri. Tujuannya adalah untuk pengembangan soft skills sebagai pendukung keahlian mendidik diri sendiri dan para murid.

Daftar Pustaka:
Ebta, S. (2013). KBBI Offline 1.5.1. Retrieved from http://ebsoft.web.id/kbbi-offline-1-5-1-perbaikan-masalah-suara-beep-di-windows/.
Koesoma, D. A. (2012). Pendidikan karakter utuh dan menyeluruh. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Santrock, J. W. (2009). Educational Psychology (4th ed.). New York: Mc Graw Hill.

Informasi lebih lanjut pendidikan karakter untuk anak berdasarkan kebutuhan manusia menurut Maslow:
Peran Anak Sebagai Warga Negara Yang Aktif
Peraturan Kelas Berdasarkan Kebutuhan Maslow Untuk Siswa Kelas 2 SD

2,458 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (5)

  1. Dear Pak Botaksakti:Iya,betul, pak. Sama-sama, pak 😀
    Dear Ibu Etna:Iya,betul sekali, bu. Sama-sama,bu. Iya, bu Saya setuju dengan pendapat bu etna bahwa pendidikan karakter dimulai dari diri sendiri, keluarga, baru anak didik.
    *Salam perjuangan & salam hangat juga Ibu & Bapak 😀

  2. Dear Pak Rudy,
    hehe..terima kasih, pak Rudy 😀
    saat ini, saya juga sedang studi independen untuk lebih menghayati mengenai makna pendidikan karakter kepada anak, guru, orang tua, petugas administrasi sekolah sebagai komunitas sekolah, pak 😀
    jadi, saya sedang mencoba mempraktikkan untuk menulis mengenai seputar tema pendidikan karakter 😀
    ya, semoga tulisan tesis pak rudy (monggo, pak,kalau misalnya berkenan mungkin bisa share tesis pak rudy dalam bentuk artikel) dan tulisan artikel ini bisa berguna untuk pengembangan pendidikan karakter kepada komunitas di sekolah, pak.
    Salam hangat juga Pak Rudy 😀

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar