12

Mengajak Siswa Berlatih Bertanya (+2)

Siti Mugi Rahayu January 13, 2014

Kurikulum 2013 menekankan sasara pengembangan pada ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Cara memperoleh ketiga ranah inipun berbeda. Semisal sikap, bisa diperoleh dengan cara mengajak siswa menghargai pekerjaan temannya, atau menerima keberadaan teman yang tidak mereka sukai dalam satu kelompok. Pengetahuan diperoleh dengan cara siswa menganalisis suatu masalah yang kita berikan. Keterampilan bisa diperoleh siswa dengan cara mencoba, menyajikan hasil diskusi dan sebagainya. Yang pasti terlihat di dalam penerapan kurikulum 2013 adalah adanya perhatian pada proses pembelajaran yang mereka alami.

Proses pembelajaran yang diterapkan di K13 adalah menggunakan pendekatan ilmiah. Diharapkan terjadi keseimbangan pada sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa. Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran ini menerapkan langkah-langkah: mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk jejaring. Sesuatu yang biasa dilakukan banyak guru. Tapi, kadang prosesnya terlalu bertumpu pada guru. Semisal, harusnya yang bertanya adalah siswa, bukan guru. Harusnya yang mempresentasikan lebih banyak adalah siswa, bukan guru.

Ternyata mempraktikkan K13 dalam proses pembelajaran itu tidak sulit. Yang sulit adalah mengubah kebiasaan guru dan menciptakan paradigma baru dalam proses belajar mengajar. Salah satu yang paling sulit dilakukan siswa adalah : bertanya. Mengapa ya siswa begitu berat melakukannya ? Kalaupun mereka bertanya, pertanyaan yang terlontar hanya sebatas pertanyaan level rendah, semisal “apa, siapa, apa saja”. Tapi tentu saja kita tidak boleh pesimis.

Saya sampai sempat mengandaikan, “Andai saja saya hari ini membawa buaya ke kelas ini, hal apa yang ingin kalian tanyakan ? Bertanyalah apapun yang kalian ingin tahu tentang apa yang saya bawa.” Akhirnya pertanyaan mulai berkembang pada “mengapa dan bagaimana”. Pertemuan-pertemuan berikutnya siswa mulai terpancing untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang agak berat, dan ternyata itu tergantung dari apa yang kita bawa untuk mereka amati.

Untuk materi yang sama sekali baru untuk siswa, memang sebaiknya guru memberikan “sesuatu”, entah itu gambar, video, catatan, atau apapun yang sedikitnya memuat tulisan yang menjelaskan apa yang ingin kita sampaikan agar mereka tidak terlalu buta. Bisa juga guru memberikan beberapa petunjuk pada sesuatu yang akan mereka amati.

Woles, kata anak-anak. Guru jangan panik dulu ketika menemukan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa tidak berhubungan dengan apa yang kita siapkan untuk diberikan kepada mereka. Semua kesempurnaan pasti memerlukan proses. Untuk itu, guru bisa belajar dengan cara selalu memperhatikan bagaimana mereka bertanya dan bagaimana arah pemikiran mereka.

Dari pertanyaan-pertanyaan itulah sebaiknya proses pembelajaran berkembang, sehingga apa yang mereka pelajari hari itu bisa menjawab keingintahuan mereka lebih dalam.

2,924 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (12)

  1. Iya ibu benar, menurut teori belajar kegiatan guru sebanyak-banyaknya bertanya dibanding berceramah. Sedang kegiatan siswa lebih banyak bekerja dan berpikir dibanding hanya mendengarkan. Dan ke tiga ranah setiap saat disajikan secara integrasi dan tematik. Thx sharingnya bu, salam sukses.

    Bu Etna @gurutematik.

  2. “mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk jejaring” ini yang harus kita explore dari anak ya Bu. Hmm bahagianya guru ketika jadi artis di depan kelas dan mereka full konsentrasi, tapi kenyataan di kelas kadang tak seindah yang kita bayangkan dari rumah. hehe jadi curhat ala guru SMK yang muridnya cowok semua lebih fokus ke praktek di bengkel

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar