7

Menerbitkan Buku Sendiri, Siapa Takut! (+3)

Sri Sugiastuti January 3, 2014

 

Postingan ini adalah bagian dari sesi 2 di hari ke 2 tanggal 29 Desember 2013. Yang pertama bicara adalah Pak Alpiyanto  dan sudah saya posting hasilnya. Nah sekarang giliran materi Pak Thamrin Sonata yang saya kupas di Guraru kali ini. Saya mengikuti pemberian materi ini dengan sangat antusias, karena ada hubungan psikologis dengan Pak Thamrin. Hayo kira-kira apa ya? Ada yang tahu?

 Baik saya kasih bocorannya. Pertemuan ini sudah saya dambakan sejak saya daftar di TWC 3, karena saya melihat ada nama Pak Thamrin sebagai pembicaranya. Saya begitu antusias ingin berjumpa Pak Thamrin, karena sebelum Om Jay woro-woro tentang TWC 3, Pak Thamrin lewat inbox di Kompasiana menundang saya untuk ikut kontribusi di nulis kroyokan dengan tema “ Indonesia Merawat” Ada 25 kompasianers wanita yang ikut menulis di naskah kroyokan itu. Alhamdulillah naskah saya sudah lolos sensor dan siap jadi buku dengan editor Pak Thamrin.

Maaf jadi ngelantur nih. Kembali ke Laptop!

Saya ngintip slidenya dulu ah. Ternyata hanya ada 6 slide sederhana, tapi cukup menarik untuk dikupas di postingan ini. Slide pertama keren sekali yaitu tentang “ Menerbitkan buku sendiri. Berani!. Benar Pak Thamrin. “Siapa takut” jawab hati saya. Alasan dan penunjangnya adalah fakta bahwa di era digital saat ini menerbitkan buku sangat mudah. Punya uang searus ribu, punya naskah , maka dalam hitungan minggu sudah punya buku sendiri. Yuk menulis dan menerbitkan sendiri.

 Tralala, slide ke 2, ngintip lagi. Cukup keren gambarnya orang yang keberatan bawa buku terus melangkah ke dua pilihan mau ke warnet atau toko buku? Ya saat ini warnet diasosiasikan sama dengan toko buku. Bentuk tulisan yang bisa dibaca di warnet atau di internet bisa dari blog, sosmed, FB, Twitter, atau portal. Karena ada yang membutuhkan berita di media tersebut maka ada penulisnya di blog atau di sosmed tersebut. Yuk nulis di blog, sosmed dan tempat lain yang bisa jadi wadah menulis.

Slide ke 3,4,5, apa ya? Pak Thamrin memberi semangat pada peserta bahwa di era digital menerbitkan buku itu sangat mudah. Punya naskah, punya komunitas lalu ke penerbit indie yang memberikan jasa editing dan mengurus ISBN nya. Jumlah cetaknya pun tergantung sesuai isi kantong dan kebutuhan. Begitu juga dengan apa yang ingin kita tulis. Mau masuk genre apa? Fiksi, non fiksi, motivasi, buku ajar, atau refeksi pokoknya menurut selera anda, dan selera pasar tentunya. Jadi yang harus diperhatikan dalam menerbitkan buku sendiri adalah pasar, komunitas, anak didik sampai ke pembaca umum.

Penjelasan ini semakin membuat peserta yakin dan termotivasi untuk bisa menebitkan buku sendiri, setelah mampu menulis kroyokan, berpartner ataupun sendiri. Oya perlu saya tambahkan Pak Thamrin juga berbagi pengalamannya sebagai editor, sebagai penulis buku atau novel anak yang dianggapnya cukup rumit, karena harus menurunkan egonya, apalagi ketentuan dibatasinya 16 kata menyesuaikan dengan usia anak-anak. Dan Romo Mangun seorang penulis pun menyatakan bahwa menulis prosa itu gampang, menulis puisi agak sulit tapi menulis novel anak hal yang paling sulit. Pak Thamrin juga memberi info tentang penulis Ahmad Fuadi yang menjadi milyander karena buku best sellernya.  Wisnu wartawan Kompas yang di blognya nguplek-nguplek tentang SBY dan Cikeas, lalu tulisan di blog itu diedit Pepih Nugraha dan dibukukan yang lumayan laris manis. Pak Thamrin yang pernah nyantrik pada Arswendo A. paham benar bahwa kalau menulis dijadikan gaya hidup sejak beliau masih remaja. Sehingga dalam satu hari bisa menulis 2 tulisan.

Jelaskan Guraruers apa yang disampaikan Pak Thamrin selaku praktisi di lapangan yang menggeluti dunia tulisan sejak tahun 1980? Beliau member motivasi dan menyakinkan peserta TWC 3 untuk segra menulis dan menerbitkan buku sendiri. Paling tidak bisa dijadikan bukti bahwa kita pernah menulis dan ada bekasnya. Buka Cuma kumpulan status dan foto narsis di FB. Ichhh ada hubungannya ngga sih?

1,185 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (7)

  1. Pak M.Rasyid. Insyaallah akhir Januari ya..tapi tergantung pengumpulan naskah itu sendiri. alau sudah ada deadlinenya. Banyak faktor yang menyebabkan molor. Semoga sesuai dengan proposalnya. Terima kasih juga untuk apresiasinya.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar