4

Menemukan asal kesukaan anak terhadap pengetahuan (+5)

Lusia Gayatri Yosef April 19, 2014

Halo ibu & bapak guru, orang tua, pendidik anak!

Apa kabar?

Semoga selalu dalam semangat untuk memberikan yang terbaik bagi anak.
Pada kesempatan ini, saya ingin membagikan mengenai pengalaman saat memberikan bimbingan kepada anak-anak di sekolah. Saya menemukan bahwa anak-anak memiliki keanekaragaman kesukaan terhadap pengetahuan. Sebagai contoh: Terdapat anak yang menyukai matematika karena ia selalu belajar matematika bersama orang tua; Terdapat anak yang menyukai ilmu sosial seperti sosiologi karena ia selalu membahas mengenai situasi masyarakat dengan orang tua; Terdapat anak yang menyukai kegiatan seni karena ia selalu melukis bersama orang tua dan lain sebagainya.

Ilustrasi di atas merupakan bentuk proses interaksi sosial tersebut merupakan bentuk sosialisasi dalam interaksi sosial. Definisi interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dengan individu yang lain, individu satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, jadi terdapat adanya hubungan yang saling timbal balik (Walgito, 1994). Lebih lanjut, hubungan tersebut dapat antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok (Walgito, 1994). Kemudian, definisi sosialisasi menurut Fisher (1982:43 dalam Shinta, 2002:71) adalah suatu proses kompleks yang mana individu mampu mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap tertentu, agar ia dapat sukses berpartisipasi (bergaul) dalam masyarakat di sekelilingnya.

Seperti pada ilustrasi di atas mengenai bimbingan belajar dari orang tua kepada anak merupakan bentuk interaksi sosial. Bimbingan belajar mengenai pengetahuan tertentu secara terjadwal dengan orang tua merupakan proses sosialisasi, khususnya pemberian pengetahuan dari orang tua kepada anak agar anak dapat memiliki keterampilan tertentu. Harapannya, saat di sekolah anak mendapatkan pelajaran matematika/sosiologi/melukis (seperti pada contoh di atas) anak dapat mengikuti proses belajar mengajar di kelas.
Lantas, apakah kontribusi ilustrasi dan teori ini?
Saya memiliki pendapat dengan guru mengetahui proses sosialisasi pengetahuan yang ada di dalam rumah maka akan membantu guru untuk mengetahui secara awal minat/kesukaan/ketertarikan anak pada suatu mata pelajaran.

Jadi, ketika guru menemukan kasus mengapa seorang anak sangat berprestasi pada bidang matematika sementara bidang lainnya tidak/rata-rata? Mungkin saja, hal tersebut ada pengaruhnya dari sosialisasi pengetahuan orang tua kepada anak di rumah.
Berkaitan dengan hal di atas maka guru dapat memberikan kuesioner singkat sebagai berikut:
1. Pelajaran apa sajakah yang sering dipelajari di rumah bersama orang tua?
2. Berapa lamakah waktu yang dibutuhkan untuk belajar di rumah bersama orang tua?
3. Cara belajar seperti apakah yang diajarkan oleh orang tua? (Sebagai contoh: dengan bercerita, dikte, tanya jawab, diskusi, menggunakan gambar, menggunakan film, dan lain sebagainya).

Apabila pendamping belajar anak lebih seringnya anggota keluarga seperti kakak/adik/sepupu/guru les maka tokoh orang tua dapat diganti. Kuesioner di atas dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dilapangan.

Kontribusi dari perolehan data ini adalah:
1. Guru memperoleh gambaran mengenai suasana belajar di rumah.
2. Guru dapat lebih mudah untuk mengarahkan atau memberikan bimbingan kepada orang tua mengenai pelajaran apa sajakah yang perlu diberikan kepada anak, kemudian mengenai waktu belajar yang dibutuhkan di rumah dan lain sebagainya.

Baiklah, ibu & bapak guru, orang tua, pendidik anak, semoga informasi ini dapat berguna dalam hal menciptakan hubungan positif mengenai kegiatan belajar di rumah dan di sekolah.

Salam hangat & sukses selalu!

Referensi:
Shinta, A. (2002). Pengantar psikologi sosial. Edisi ke-2. Yogyakarta: Universitas Proklamasi 45.
Walgito, B. (1994). Psikologi sosial: Suatu pengantar. Yogyakarta: Penerbit ANDI OFFSET.

2,006 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (4)

  1. Malah kadang dalam diri siswa timbul pertanyaan…mengapa kami harus mempelajari pelajaran-pelajaran yang tidak terlalu penting ? Mungkin pertanyaan ini timbul karena mereka belum tahu manfaat dari apa yang mereka pelajari, jadi mereka menganggap pelajaran itu tidak ada manfaatnya untuk mereka nantinya. Jika mereka sudah tahu manfaat/suka terhadap pelajaran tertentu, pasti mereka akan semangat dalam pembelajarannya .

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar