0

MENEMBUS 6.30 (0)

kasmadi August 15, 2017

“Satu-satunya hal yang menjadi milik kita sepenuhnya adalah waktu, bahkan seseorang yang tidak memiliki apapun pasti memiliki waktu”

Noname

*****
Jam belajar di Jakarta berubah! Kini mulai 06.30 ! Wow! Kehebohan atas kebijakan pemerintah dimulai. Berbagai tanggapan atas kebijakan tersebut datang dari orang tua siswa, pemerhati pendidikan tidak terkecuali guru. Sejatinya, kebijakan yang ditandatangani oleh Fauzi Bowo sebagai Gubernur bertujuan untuk mengatsi kemacetan. Apakah kebijakan ini serta merta mengatasi persoalan tersebut. Kita lihat saja !

06.30 menjadi angka time limit bagi guru. Guru Jakarta menjadi tumpuan dari kebijakan tersebut. Guru menjadi cermin keberhasilan kebijakan tersebut apakah efektif kebijakan ini. Lho, mengapa mesti guru yang menjadi tumpuan?

Guru adalah cermin hidup! Jika sebagai guru tidak mampu menjadi cermin yang baik, maka guru itu selesai. Ya, selesailah sudah menjadi guru. Guru tidak boleh terlambat datang ke sekolah! Jadi, 06.30 adalah harga mati.

Sebagian besar guru yang mengajar di Jakarta tinggal di luar ibu kota. Dapat dibayangkan untuk mencapai sekolah dengan deadline waktu tersebut penuh perjuangan luar biasa. Sahabat-sahabat guru saya ada yang tinggal di Bogor, Gungung Sindur, Tangerang, Tigaraksa dan Bekasi Timur. Sebuah perjuangan yang melelahkan, menguras keringat dan membuat deg-degan mereka mencapai sekolah tercinta. Jangan cuma dibaca dong, standing aplaus buat guru!

Menerjang kemacetan lalu lintas Jakarta, ada yang mengendarai motor, naik bus, commuter line, atau mobil pribadi. Semuanya berusaha demi menembus 06.30. Sebelum subuh sudah harus meninggalkan rumah berjuang bertaruh nyawa di jalan raya dengan motor. Bagaimana dengan keluarga mereka, anak-anak mereka? Nah, persoalan turunan muncul. Tentu sebagai guru harus cerdas menyiasatinya.

Kebijakan penetapan awal belajar lebih pagi ini menyisakan banyak persoalan, pasti. Tetapi tulisan ini lebih menyoroti sikap guru sebagai salah satu pilar penyangga keberlangsungan proses belajar mengajar. Problematika yang dihadapi guru dengan segala resiko yang ditanggungnya. Masyarakat tentu tidak mau melihat itu semua. Bagi mereka, guru harus menjadi cermin kedisiplinan bagi siswa dan masyarakat. Jadi, apapun resiko yang dihadapi datang ke sekolah tepat waktu bahkan kurang dari yang telah ditetapkan adalah sebuah keniscayaan.

Tepat waktu menjadi salah satu bukti integritas karakter yang kuat dari seorang guru. Keteladanan yang pantas untuk diperlihatkan kepada siswa dan orang tuanya serta rekan seprofesi.

Menembus 06.30 tidaklah mudah. Namun bukan berarti menyerah! Sebuah nilai kejuangan tersirat di dalamnya. Karakter tangguh sebagai guru menjadi sebuah cerita tersendiri untuk diungkap. Bagaimana seorang guru sekaligus ibu harus berjuang sejak sebelum subuh meninggalkan dua anaknya menerjang asap kendaraan, antrian kendaraan yang mengular dari parung menuju Lebak Bulus, berebut masuk ke dalam KOPAJA, kadang harus bersitegang dengan sesama penumpang. Belum lagi menghadapi tangan jahil mengais rezeki haram dari dompet atau tas orang lain. Semua itu menjadi seni tersendiri yang hampir setiap hari dilalui oleh mereka, guru Jakarta.

Persoalan tersebut diabaikan demi tepat waktu. Demi menembus 06.30. Apakah pemerintah memperhatikan hingga sedetil itu? Jawabannya dapat mungkin atau tidak. Tak peduli, orang lain memperhatikannya. Guru jakarta adalah bagian dari guru-guru Indonesia yang tangguh dalam berjuang dan mencerdaskan anak bangsa. Cukup!

596 total views, 3 views today

Tagged with:

Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar