1

Mendongeng Membumikan Kebudayaan (0)

Widarso PEP April 17, 2018

Indonesia adalah negara yang indah yang kaya akan kekayaan alam dan budaya. Lebih dari 250 suku terdapat di Indonesia dan lebih dari 100 budaya ada di Indonesia. Menurut Honigmann (1973, dalam Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud, 2016) membagi kebudayaan kedalam 3 wujud yaitu ide, pola tindakan, dan artefak atau benda-benda. Hal Ini dapat dikerucutkan menjadi 2 kelompok yaitu (1) budaya benda meliputi cagar budaya dan potensi cagar budaya, (2) budaya tak benda; meliputi ekspresi lisan, tari, dan seni lainnya. Tetapi sayangnya, dari tahun ke tahun seiring dengan bertumbuhnya perkembangan gaya hidup dan teknologi, kebudayaan asli indonesia terlihat sangat ketinggalan zaman. Banyak dari warga indonesia yang kurang peduli bahkan ada yang tidak peduli tentang budaya Indonesia.

Penurunan keberadaan budaya Indonesia di rumahnya sendiri disebabkan oleh rakyatnya sendiri yang mengabaikan budaya mereka. Menurut Ketua Dewan Pembina BPPI Hashim Djojohadikusumo (kompas, 30/8/2017) bahwa warisan budaya kita menghadapi beragam ancaman, termasuk dari media internasional yang bebas masuk. Anak-anak sudah memiliki akses informasi melalui telepon seluler, Ipad, dan sebagainya. Kalau semua kalangan tidak proaktif, maka kebudayaan Indonesia bisa ditenggelamkan oleh kebudayaan lain. Mereka terbuai oleh kehidupan modern dan mulai melupakan nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Sebagai contoh, bahasa daerah, upacara budaya, adat dan tradisi Indonesia telah hilang di masyarakat.

Kebudayaan merupakan identitas suatu bangsa yang dapat membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lainnya. Identitas nasional Indonesia merupakan suatu ciri yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang membedakan dengan bangsa lain di dunia ini. Unsur-unsur pembentuk identitas nasional Indonesia tersebut meliputi: suku bangsa, agama, kebudayaan, dan bahasa. Jika salah satu dari unsur itu hilang, maka hilanglah identitas bangsa ini.
Bagaimanakah kebudayaan di negeri kita sekarang? Itulah yang menjadi tantangan kita semua. Salah satu dapat dilakukan untuk memelihara kebudayaan kita dapat dengan melalui dongeng kepada anak.

Kekuatan Dongeng
Mendongeng adalah tradisi yang sangat baik. Hal ini banyak disampaikan analisis pakar kejiwaan anak. Melalui aktifitas mendongeng secara tidak langsung orangtua dapat menanamkan dan membentuk nilai-nilai budi pekerti yang luhur, mengenalkan perbuatan baik dan buruk kepada anak dan pesan-pesan moral. Melalui aktifitas ini juga anak akan tumbuh rasa keingintahuan untuk menggali sendiri berbagai sumber bacaan sehingga minat membaca sebagai kemampuan utama manusia dapat terbentuk melalui kegiatan mendongeng.

Dongeng memiliki kekuatan luar biasa. Di balik bangsa-bangsa besar, ada dongeng dan cerita yang melegenda pula. Contohnya bangsa Yunani dan Romawi dengan dongeng kepahlawanan dan para dewanya. Bangsa India dengan kisah Mahabharata dan Ramayana, bangsa Cina dengan kisah Sam Kok. Begitu halnya dengan bangsa-bangsa lainnya.

Sebuah penelitian (David McClelland) mengungkapkan ada korelasi yang signifikan antara dongeng yang berkembang pada suatu bangsa dengan kejayaan yang diraih bangsa tersebut. David mengatakan suatu negara yang memiliki cerita-cerita anak dengan sikap positif untuk meraih keberhasilan, menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula. Sehingga berbagai negara melalui perpustakaannya membuat program layanan bercerita, contohnya di Amerika dan Singapura.

Di Negeri Paman Sam, orangtua atau lansia meluangkan waktunya untuk bercerita kepada anak-anak yang berkunjung di perpustakaan. Di Singapura ada program Singapura Membaca yang melibatkan 10 ribu orangtua untuk bercerita. Negara kita sebenarnya kaya akan dongeng dan cerita rakyat yang melegenda dengan kearifan lokalnya. Contohnya di Sulawesi Selatan kita memiliki legenda Sawerigading dan cerita kepahlawanan Sultan Hasanuddin. Dibeberapa daerah dengan kebudayaannya, contohnya di Ponorogo Jawa Timur memiliki legenda Reog.


Selain dongeng diakui menjadi cara paling ampuh mengajarkan nilai-nilai moral, budi pekerti, konsep sebab akibat, dan konsep-konsep dunia yang lainnya kepada anak-anak ternyata dongeng mengenalkan banyak kosa kata kepada anak-anak sehingga anak-anak yang sering mendengarkan dongeng lebih banyak menguasai berbagai kosa kata dan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik.

Benar juga ungkapan yang mengatakan bahwa “Ibuku Perpustakaan Pertamaku”. Ungkapan ini memperjelas bahwa kemampuan membaca anak-anak itu sebenarnya lahir dari kemampuan orang tua yang rajin membacakan cerita atau mendongengkan dongeng kepada anak-anaknya.

Kemampuan mendongeng akan lahir jika banyak bahan bacaan yang dibaca. Kebiasaan membaca seyogyanya diperlihatkan juga didepan anak-anak karena mereka sebenarnya suka meniru kebiasaan orang tuanya, jika orang tuanya malas membaca maka jangan kaget jika anak-anak akan jauh dari kebiasaan membaca.
Dongeng dan budaya baca tidak dapat dipisahkan dari sebuah proses pembelajaran karena kemampuan dongeng akan lahir dari kebiasaan membaca. Sedangkan kebiasaan membaca akan melahirkan sebuah dongeng yang melegenda yang sarat makna dan nilai-nilai budaya.

Dongeng menunjang kemampuan akademik anak, mengembangkan imajinasi, melestarikan budaya, semangat kebersamaan dan wujudkan keakraban di tengah-tengah keluarga dan masyarakat.

Dalam melestarikan kebudayaan, para pendidik dan orang tua dapat bercerita (mendongeng) kepada anak didik atau orang tua membacakan dongeng untuk anak menjelang tidur tentang macam-macam kebudayaan Indonesia. Sehingga ada ketertarikan dari diri mereka untuk membaca dan mempelajari kebudayaan Indonesia. Tentunya berakibat kebudayaan akan terjaga ditangan mereka.

Penulis adalah Guru SMP Negeri 1 Sukosari-Bondowoso-Jawa Timur

594 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar