5

Memberikan bimbingan kepada anak untuk mengenal motif diri sendiri (+1)

Lusia Gayatri Yosef October 8, 2013

Sebagai pembimbing anak, beberapa dari kita ingin memberikan kontribusi nyata menjadi motivator atau seseorang yang mampu memberikan motivasi dalam kehidupan anak. Penulis ingin mengajak para pembimbing anak untuk menciptakan dialog dari hati ke hati dengan anak. Khususnya, mengajak dialog anak mengenai mengenal motif diri mereka sendiri. Dalam kesempatan ini motif diartikan sebagai dorongan sebagai suatu tenaga dari dalam diri individu yang menyebabkan ndividu berbuat sesuatu, oleh karena itu kata motif juga diberi arti dorongan yang menimbulkan dan mengarahkan tingkah laku manusia (Handoko, 1992).
Salah satu cara yang lebih tepat untuk mengetahui motif seseorang yang sebenarnya adalah mengamat-amati objek-objek yang menjadi pusat perhatiannya. Objek yang selalu dikejar, dicari, diperhatikan lebih dari yang lain, itulah yang menjadi cermin atas motif yang sedang menguasainya (Handoko, 1992). Berdasarkan pernyataan tersebut maka orang tua, guru, konselor dan pemerhati anak dapat memberikan bimbingan dengan memulai dialog sebagai berikut:

1. Mengajak anak untuk menggambarkan lingkungan sosial mereka (lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan les, lingkungan tempat berlatih olah raga, lingkungan lainnya). Sebagai contoh: Gambarkan lingkungan sekolah, ceritakan kegiatan dalam lingkungan sekolah. Kemudian apa yang ingin kalian capai dibidang akademik, pertemanan, hobi, ekstrakurikuler, dan lain sebagainya. Pertanyaan ini bertujuan untuk memberikan bimbingan dana mengenal objek yang selalu dikejar oleh anak.

2. Mengajak anak untuk menggambarkan objek yang selalu dicari saat di lingkungan sosial (lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan les, lingkungan tempat berlatih olah raga, lingkungan lainnya). Sebagai contoh: Hobi apa sajakah yang kalian butuhkan saat di sekolah? Mengapa kalian menyukai hobi tersebut? Apakah setiap istirahat sekolah kalian bersama teman-teman melakukan hobi yang sama?

3. Mengajak anak untuk menggambarkan subjek yang selalu dicari saat di lingkungan sosial (lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan les, lingkungan tempat berlatih olah raga, lingkungan lainnya). Sebagai contoh: Siapa sajakah yang kalian butuhkan saat di sekolah. Mengapa kalian menyukai seseorang tersebut? Mengapa kalian membutuhkan orang tersebut? Terangkan sifat-sifat yang kalian senangi dari orang tersebut!

Motif seseorang dapat juga dikenal melalui hadiah yang paling mengena baginya. Makin tepat suatu hadiah itu memenuhi kebutuhan seseorang, hadiah itu juga semakin mencerminkan motivasinya. Maka dari itu ada tidaknya motif yang sedang menguasai seseorang dapat disimpulkan dari objek-objek yang menjadi sasarannya dan hadiah-hadiah yang mengena pada dirinya (Handoko, 1992). Berdasarkan dari pernyataan tersebut maka orang tua, guru, konselor dan pemerhati pendidikan anak dapat memberikan sebuah pertanyaan sebagai berikut:

1. Menurut kalian hadiah itu berbentuk apa sajakah? Tujuan dari pertanyaan tersebut untuk mengajak anak mendefinisikan konsep hadiah. Kemudian, orang tua, guru, konselor dan pemerhati pendidikan anak dapat mengarahkan konsep mengenai hadiah. Misalnya: pujian yang positif, semangat positif dari teman termasuk hadiah.

2. Mengajak anak untuk menggambarkan lingkungan sosial mereka (lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan les, lingkungan tempat berlatih olah raga, lingkungan lainnya). Sebagai contoh: Gambarkan lingkungan sekolah, ceritakan hadiah apa yang diharapakan di lingkungan sekolah! Ceritakan hadiah apa yang diharapkan di lingkungan rumah! Ceritakan hadiah apa yang diharapakan dilingkungan les! Ceritakan hadiah apa yang diharapkan dilingkungan hobi!

Ada tidaknya motivasi dalam diri seseorang dapat juga disimpulkan dari beberapa segi tingkah lakunya, misalnya: kekuatan tenaga yang ia keluarkan (usahanya) frekuensinya, kecepatan reaksinya, tema pembicaraannya, fantasinya, impian-impiannya dan lain-lain. Tetapi perlu diingat dan disadari bahwa menyimpulkan motivasi berdasarkan tingkah laku tidak selalu mudah dan bahkan bisa sama sekali salah. Mengapa demikian? Karena tingkah laku manusia tidak semata-mata ditentukan oleh motivasinya, melainkan juga oleh pengalaman masa lampaunya, cita-citanya, situasi sesaat pada waktu terjadinya tingkah laku, dan yang lebih penting lagi adalah bahwa manusia bisa berpura-pura (Handoko, 1992). Berdasarkan pernyataan tersebut maka sebagai orang tua, guru dan konselor sekolah atau pemerhati pendidikan anak dapat memberikan perhatian khusus kepada siswa. Sebagai contoh: seorang siswa menginginkan dirinya berprestasi di kelas. Kemudian, siswa dapat diberi panduan apakah siswa benar-benar ingin berprestasi dibidang akademik (mata pelajaran tertentu dan atau semua mata pelajaran), akademik dan atau dibidang hobi (kegiatan olah raga, kegiatan menulis, kegiatan melukis, memperluas pergaulan dengan mengikuti pertukaran pelajar dan lain sebagainya). Siswa juga dapat diajak untuk menerangkan usaha-usaha yang telah ia lakukan, seberapa sering ia melakukan hal tersebut, kemudian impian-impian yang ia miliki pada kegiatan tersebut.

Harapannya berdasarkan bimbingan yang berupa dialog antara anak dengan orang dewasa disekitarnya adalah anak dapat diarahkan menuju suatu tujuan dengan totalitas. Tentunya disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki anak. Baik berupa soft skills (tekun, rajin, gigih, dan berbagai kata sifat yang dapat mewakili potensi anak) maupun hard skills (apabila bersangkutan dengan akademik maka keterampilan anak dapat dihubungkan dengan kurikulum yang ada; apabila bersangkuntan dengan hobi makan keterampilan anak dapat dihubungkan dengan keterampilan yang perlu dicapai oleh anak).

Sebagai catatan, bimbingan atau dialog yang disampaikan ini dapat dikurangi, ditambah, dikembangkan sesuai dengan kebutuhan yang hendak dicapai oleh anak, orang tua, guru dan pemerhati pendidikan anak. Guna mempermudah proses dialog, orang tua, guru dan pemerhati pendidikan anak dapat memberikan beberapa daftar kosa kata sifat, kosa kata kerja, berbagai macam/jenis kegiatan yang konkrit yang dilakukan oleh anak disetiap lingkungan sosial.

Referensi:
Handoko, M. (1992). Motivasi daya penggerak tingkah laku. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

2,491 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (5)

  1. Dear Pak Ramdhan: Terima kasih atas komentarnya. Ya, benar, pak, bahan dialog ini dapat digunakan untuk mengetahui minat dan bakat anak secara informal.
    Dear Pak Sukani: Terima kasih atas komentarnya. Ya, benar, pak, harapannya dengan anak mampu mengenal motif dirinya sendiri, ia semakin mampu mengenal dirinya.
    Dear Ibu Etna: Terima kasih atas komentarnya. Iya, bu, saya juga sepakan bahwa melalui bimbingan amka banyak hal terungakp (menggali potensi dan bakat kemampuan anak).
    Salam hangat & salam perjuangan 😀

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar