5

Membangun Kualitas Bangsa dengan Belajar Secara Kreatif (+1)

M Nafiul Haris June 4, 2012

Kreatif, secara umum dapat di artikan suatu usaha untuk mengembangkan kemampuan diri atau ketrampilan berfikir. Sifat kreatif selain merupakan potensi diri juga merupakan tuntutan, karena zaman yang semakin kompleks ini, yang selalu membutuhkan peran serta setiap orang dalam bidangnya masing-masing sesuai dengan tuntutan zaman.

Memang di zaman yang sudah modern ini pelajar cenderung di tuntut tidak hanya pandai saja akan tetapi kreatifitas juga sangat dibutuhkan seseorang. Terlebih lagi seorang pelajar yang pada hakikatnya mereka sedang mengalami masa-masa yang sangat efisien di gunakan untuk mencari ilmu pengetahuan (belajar) dari gurunya,sekolahanlah tempat yang paling utama untuk proses pembelajaran tersebut, di sanalah mereka di didik dan di arahkan agar dapat menguasai lajunya zaman yang semakin kompleks ini.

mereka di cetak sehingga lahirlah gagasan-gagasan yang kritis, kreatif, dan inovatif, langkah Ini sejalan dengan lahirnya kurikulum pendidikan pada saat sekarang ini yang berorientasi pada pengembangan ketrampilan, kompetensi dan pengembangan siswa.

Tingkat kreatifitas

Harus di buktikan terlebih dahulu, apakah model pembelajaran dengan sistem pendekatan Contextual Teaching Learning(CTL) benar-benar bisa meningkatkan kreatifitas siswa atau tidak.

Ada beberapa kata kunci dalam pendekatan CTL ini. Di antaranya adalah mengutamakan pengalaman nyata, berfikir tingkat tinggi yang berpusat pada siswa, agar tercipta siswa yang aktif, kritis, dan kreatif dalam bidang ilmu pengetahuan dan bermakna dalam kehidupan.

Selain itu, beberapa hal lain yang terkait masalah perubahan tingkah laku adalah memecahkan masalah (problem solving), bagi siswa aktif dan guru harus mengarahkan, serta hasil belajar di ukur dengan berbagai cara tidak hanya melalui tes saja namun dengan cara yang berbeda-beda dan dapat menghasilkan prestasi yang unggul.

Berbagai kata kunci di atas lebih banyak menggambarakan bagaimana siswa berbuat dan berfikir dari pada mendengarkan, sehingga siswa terpacu untuk aktif menciptakan sesuatu atas ide dan inisiatifnya.

Secara alamiah, siswa juga akan menemukan dunianya, dan mampu menghadapi masalah yang di hadapi dan menerapkan dalam konteks kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, sebagai siswa,seharusnya mempersiapkan diri dalam menghadapi laju pendidikan yang menuntut siswa selalu bergerak dinamis dan kompetitif.

Sebenarnya tidak ada kesulitan dalam penerapan pendekatan kontekstual untuk mencapai tingkat kreatifitas. Adapun beberapa hal yang dapat dilakukan adalah; pertama, mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,menemukan sendiri(riset), dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.

Kedua, sedapat mungkin siswa dilatih memecahkan permasalahanya sendiri. Ketiga, mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Keempat, menciptakan masyarakat dengan belajar.

Kelima, menghadirkan contoh pembelajaran. Keenam, melakukan refleksi di akhir pertemuan. Ketujuh, melakukan penilaian yang sebenarnya.

Kreatif menurut islam tidak hanya di butuhkan suatu kata kunci saja namun sangat di perlukan berbagai cara untuk mencapai hasil yang sangat optimal adapun di antaranya adalah di butuhkan jasmani yang sehat serta kuat dan trampil, terlebih lagi seorang pelajar perlu memiliki jasmani yang sehat serta kuat terutama dalam proses pembelajaran dan ketrampilan.

Dilihat dari sudut ini maka islam mengidealkan seseorang yang sehat serta kuat jasmaninya dalam proses pembelajaran, tidak jarang di temukan rintangan yang pada akhirnya memerlukan kekuatan dan kesehatan fisik (jasmani) kadang-kadang kekuatan dan kesehatan itu juga di perlukan hanya untuk mencari ilmu pengetahuan lain.

Problem Pendidikan

Barangkali kita tidak hanya bisa menyalahkan masyarakat yang bebal, tidak mau berpikir kreatif dan bagaimana agar bisa mandiri dengan bertumpu pada kemampuanya sendiri.

Tetapi kita juga bisa melihat bagaimana proses pedidikan di Indonesia, itu tidak di ajari bagaimana berfikir kreatif dan mencipta sesuatu. Orientasi dunia pendidikan kita sampai saat ini, lebih di arahkan untuk memasok kebutuhan tenaga kerja baik di perusahaan-perusahaan (pabrik) maupun instansi-instansi swasta dan pemerintah.

Pendidikan kita tidak di arahkan bagaimana menciptakan sesuatu (teknologi baru) yang bisa bermanfaat bagi kehidupan. Ini terjadi di antaranya karena tiadanya budaya meneliti (riset) dalam dunia pendidikan kita. Ini berbeda sekali dengan pola pendidikan yang ada di AS, Jepang, China dan Korea, misalnya.

Di beberapa negara yang saya sebut diatas,sense menjadi seorang peneliti dan untuk mencipta sesuatu sangat tinggi. Tidak hanya mencipta sebuah teknologi tingkat tinggi (high technologie) tetapi juga mainan yang banyak di pasarkan di negara tercinta kita yakni Indonesia ini di antara lain adalah; kartun Naruto, yang populer dengan film (animasinya), dan yang kerap di putar di beberapa stasiun TV nasional dan kini telah di bikin poster, avatar, Barbie, dan berbagai mainan lain yang sangat di gemari anak-anak.

Berbeda jauh dengan Indonesia di banding negara-negara lain yang sudah berkembang, mereka justru menggunakan sistem pendidikan yang hanya mengacu pada teori saja baik yang diajarkan di sekolah maupun instansi pendidikan yang lain.

Pendidikan yang cenderung pada proses yang begitu rumit dan membutuhkan waktu yang relatife lama tidak mengasah kemampuan dan membuahkan hasil melainkan hanya menjadikan masyarakat untuk menjadi bangsa "pesuruh".

Kapan Indonesia akan maju dan berkembang hingga mampu mencipta sesuatu sendiri tanpa harus membeli untuk memenuhi kebutuhan masyarakat? kalau tidak di mulai sekarang lalu kapan lagi?

Indonesia adalah Negara yang bisa di bilang cukup besar, kaya akan budaya dan baru berevolusi. Maka dari itu sangat di butuhkan bangsa yang siap, bangsa yang tanggap dan tidak hanya tergantung pada kemampuan orang lain.

Kita harus mampu menunjukkan bahwa Indonesia mampu dan bisa. Karena indonesia mempunyai beragam kebudayaan yang mana Negara lain belum tentu punya apa yang kita miliki.

Di era globalisasi ini yang kita butuhkan dan perlu kita tingkatkan adalah mutu dalam pengembangan siswa (SDM) yang mana peran siswa adalah bukan hanya sekedar pelajar saja, namun siswa juga memegang tanggung jawab yang besar.

Mereka di tuntut bagaimana caranya bisa mengharumkan bangsa sendiri dengan berbagai prestasi, maka dari itu sangat di perlukan sekali kreatifitas seorang siswa baik dalam bidang akademik maupun dalam bidang pembelajaran untuk menggapai apa yang bangsa ini harapkan.

Pengirim,

M Nafiul Haris, pemerhati pendidikan dari Universitas Wahid Hasyim Semarang

1,180 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (5)

  1. Artikel menarik pak..!! Membangun Kualitas Bangsa dengan Belajar Secara Kreatif. Benar sekali pak. Belajar secara kreatif mampu membangun kualitas bangsa, khususnya di bidang pendidikan. Sebagai guru, kita harus menciptakan pemebaljaran yang kreatif dan menyenangkan. betul kan pak..?

    Silahkan kritik dan komentar juga di artikel saya :

    1. Pembelajaran berbasis E-learning KMO di
    http://www.guraru.org/news/2012/05/20/536/klinik_matematika_online.html

    2. Cara praktis memasukkan video pembelajaran dari youtube ke powerpoint di
    http://www.guraru.org/news/2012/06/03/720/bagaimana_cara_memasukkan_video_pembelajaran_dari_youtube_ke_powerpoint_untuk_presentasi.html

    3. Cara praktis mendownload video pembelajaran di Youtube dengan Video Download Helper di
    http://guraru.org/news/2012/06/03/716/bagaimana_cara_mendownload_video_pembelajaran_di_youtube_dengan_menggunakan_video_downloadhelper

    4. Memanfaatkan Youtube sebagai media pembelajaran di
    http://www.guraru.org/news/2012/05/31/639/memanfaatkan_youtube_sebagai_media_pembelajaran_yang_interaktif_menarik_dan_menyenangkan.html

    Maturnuwun…!!!

  2. tengkyu Mr. Sukani
    ya memang persoalan belajar saat ini kurang dapat perhatian khusus, padahal disanalah proses pendidikan (pendalaman-pemahaman materi), tapi pemerintah hanya berkutat bagaimana mengembangkan pendidikan sebagai institusi dengan menihilkan proses untuk menciptakan siswa (benar-benar siap bersaing), belajar (membaca) dan itu belum menjadi budaya masyarakat kita. orientasi sekarang maunya hasil bagus (nilai) tanpa melihat-melakukan proses untuk mencapai bagus dalam arti yang berkualitas bukan hanya bersandar pada nilai dan didukung dengan kehadiran

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar