2

MEMBANGUN KARAKTER DI ERA DIGITAL CITIZENSHIP (+1)

Sri Narwanti May 31, 2017

Berbicara tentang karakter  tentu bukan hal yang baru bagi kita. Ir. Soekarno, salah satu pendiri Republik Indonesia, telah menyatakan tentang pentingnya“ nation and character building”  bagi negara yang baru merdeka.  Konsep membangun karakter juga kembali di kumandangkan oleh beliau di era 1960-an dengan istilah ‘berdiri di atas kaki sendiri’ (berdikari).

Pendidikan Karakter

Dalam perjalan pendidikan di Indonesia, sejarah pendidikan moral atau karakter dapat ditelusuri dari keterkaitannya dengan pendidikan kewarganegaraan (citizenship). Pada masa pra-kemerdekaan, yang dikenal adalah pendidikan atau pengajaran budi pekerti yang menanamkan asas-asas moral, etika dan etiket yang melandasi sikap dan tingkah laku dalam pergaulan sehari-hari. Setelah Indonesia memasuki era Demokrasi Terpimpin di bawah presiden Soekarno pada awal 1960-an pendidikan kewarganegaraan muncul dalam bentuk indoktrinasi. Pada masa pemerintahan Orde baru yang dipimpin Soeharto, indoktrinasi itu berganti menjadi Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang bukan saja sebagai pelajaran wajib tetapi juga penataran wajib( Penataran P4). Upaya pembentukan karakter bangsa melalui mata pelajaran berlabel Pancasila ini terus dilakukan dengan pendekatan indoktrinasi sampai pada awal tahun dasawarsa 90-an. Seiring dengan menggemanya reformasi, sekitar tahun 2000 digulirkanlah Kurikulum Berbasis Kompetensi yang membidani lahirnya pelajaran budi pekerti.

Pada tahun 2010 Pendidikan Karakter telah menjadi  Gerakan Nasional yang diimplementasikan dalam berbagai tingkatan sekolah.  Pada tahun 2015 proses pembiasaannya dikuatkan dengan Permendikbud No 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Dan saat ini gaung Penguatan Pendidikan Karakter kembali hangat, dimana secara resmi dituangkan dalam surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 21042/MPK/ PR/ 2017 tentang Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter.

Konsep dasar penguatan pendidikan karakter yang kembali digaungkan pada tahun 2017 ini adalah penguatan lima nilai utama karakter yang saling berkaitan membentuk jejaring nilai yang perlu dikembangkan sebagai prioritas. Kelima nilai utama karakter bangsa yang dimaksud adalah religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Strategi implementasinya dapat dilakukan melaui kegiatan intrakurikuler, kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.

Tantangan dalam digital citizenship

Implementensi penguatan pendidikan karakter saat ini juga mencakup penguatan berbasis kelas, berbasis budaya sekolah, serta berbasais masyarakat. Namun menurut pengamatan penulis, ada celah yang sangat lebar dari proses penguatan pendidikan karakter ini, yaitu apakah penguatan tersebut menyentuh ranah digital citizenship. Karena anak-anak kita saat ini adalah para generasi milenial, dimana akses dan interaksi mereka juga banyak dipengaruhi oleh pergaulan di dunia maya. Generasi millennial dikenal sebagai penggemar teknologi, anak-anak millennial cenderung menjalin ikatan sosial yang kuat di luar sekolah, melalui peningkatan rasa keterhubungan dengan satu sama lain di dunia maya.

Dan sayangnya, kasus-kasus dalam interaksi digital kita banyak sekali menyisakan pekerjaan rumah yang memerlukan sentuhan untuk perubahan. Kasus-kasus bullying, hoax, pornografi, isu politis dan SARA sepertinya selalu riuh dan panas. Reaksi masyarakat digital pun beragam. Ada yang tetap bijak dan tenang, namun tidak sedikit pula yang panas dan penuh aura kebencian. Bukankah ini memprihatinkan, maka ada tantangan besar bagi dunia pendidikan kita, apabila ingin membangun karakter jangan sampai ranah digital ini tidak tersentuh.

Literasi digital

Untuk menyentuh ranah digital dalam membangun karakter bisa dimulai dengan mengenalkan literasi digital. Cornell University menjelaskan bahwa literasi digital adalah kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, berbagi, dan menciptakan konten dengan menggunakan teknologi informasi dan Internet[1].” Berdasarkan pengertian tersebut idealnya anak-anak dan juga kita membutuhkan ketrampilan baik kognitif maupun teknis.

Maka dalam rangka membangun karakter di era digital ini, literasi digital perlu juga disisipi aspek afektif. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana penyisipan itu dilakukan dalam penguatan pendidikan karakter:

Pertama, literasi digital diprogramkan terlebih dahaulu dalam struktur kurikulum di sekolah. Apabila selama ini gerakan literasi sekolah telah digencarkan dengan pembiasaan membaca 15 menit sebelum pelajaran, maka pada waktu yang sama, anak-anak perlu dikenalkan tentang literasi digital untuk variasi kegiatan gerakan literasi. Dan waktunya bisa diatur dengan jadwal, misal dalam satu minggu diambil satu hari khusus untuk literasi digital, hari-hari lainnya baru digunakan untuk membaca buku non pelajaran.

Kedua, penyampaikan materi literasi digital yang sistematis dan terstruktur. Materi- materi dalam literasi digital bisa dimulai dengan bagaimana berperilaku bijak menggunakan sosial media, mengenali berita hoax, mengakses internet sehat, cybercrime dan yang lainnya. Tentu saja agar mampu membimbing anak-anak dalam lietrasi digital, guru pun juga dituntut literate. Jadi pembimbingan literasi digital ini bisa menjadi sarana penting untuk membangun kesadaran anak-anak tentang pentingnya menjaga etika saat berinteraksi di dunia maya.

Oleh karena itu, selain meteri di atas perlu juga anak-anak dikenalkan dengan Good digital citizenship. Good digital citizenship adalah perilaku bertanggung jawab dalam kaitannya dengan penggunaan teknologi.agar berperilaku bertanggunga jawab terbentuk maka anak-anak kita perlu dikenalkan tentang digital citizensh, minimal anak harus tahu tentang 9 kuncinya. Sembilan kunci tersebut antara lain sandi, privasi, informasi pribadi, foto, properti, izin, perlindungan, profesionalisme, dan jejak digital. [2] Kita harus mengajarkan keterampilan terkait 9 kunci tersebut,  membimbing siswa untuk mengalami situasi di mana mereka menerapkan pengetahuan tentang digital citizenship. Karena peran kita sebagai warga digital dimulai begitu kita klik di internet.

Ketiga, kampanye literasi digital juga perlu menggandeng komunitas-komunitas kreatif dan organisasi masyarakat berbasis pendidikan yang dapat menyebarkan gagasan, meningkatkan kemampuan dan mengeksekusi gerakan masif untuk cerdas bermedia sosial.[3] Menggandeng komunitas lain bisa menjadi pembelajaran yang menarik untuk anak-anak kita, selain juga untuk lebih membuat kegiatan literasi mengena.

Keempat, tauladan dari guru. Akan sia-sia rasanya kita membangun literasi ini tapi bapak ibu guru masih belum mampu memberi tauladan yang baik ketika berinteraksi dalam dunia maya.

Nah dengan upaya di atas harapanya akan muncul perubahan. Dan tentu saja perlu tindakan yang serius dan berkelanjutan. Semoga dengan semangat dan kepedulian, kita bisa sedikit berperan dalam upaya membangun karakter.

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru”

 

DAFTAR PUSTAKA

1] http://www.teachthought.com/pedagogy/literacy/the-definition-of-digital-literacy/

[2] https://www.edutopia.org/blog/digital-citizenship-need-to-know-vicki-davis

[3] http://pustekkom.kemdikbud.go.id/literasi-digital-sebagai-tulang-punggung-pendidikan/

 

 

3,694 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (2)

  1. ide baru yang saya dapatkan ada di paragraf ini

    Ketiga, kampanye literasi digital juga perlu menggandeng komunitas-komunitas kreatif dan organisasi masyarakat berbasis pendidikan yang dapat menyebarkan gagasan, meningkatkan kemampuan dan mengeksekusi gerakan masif untuk cerdas bermedia sosial.[3] Menggandeng komunitas lain bisa menjadi pembelajaran yang menarik untuk anak-anak kita, selain juga untuk lebih membuat kegiatan literasi mengena.

    GURARU DOT ORG termasuk di dalamnya ya bu

    SALAM KENAL BU SRI

    artikelnya sudah sy VOTE UP dan like facebook
    semoga sukses
    bisa lihat juga inovasi pembelajaran berikut ini
    http://guraru.org/guru-berbagi/peningkatan-motivasi-belajar-siswa-saat-liburan-dengan-game-bom-whatsapp/?replytocom=43267#respond

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar