0

Mau ketagihan membaca? Buat buku kreatif, yuk! (0)

Luh Putu Cakrawati October 15, 2017

“Asyik! Yes..yes..!!” Sorak siswa kelas III. Suasana kelas III  SD Negeri 2 Selat Klungkung siang itu seketika menjadi riuh. Ekspresi kegembiraan terpancar di setiap wajah mereka. Seluruh siswa kelas III sangat senang, karena akan membuat sesuatu. Sesuatu yang biasanya hanya bisa dibuat oleh orang-orang yang ahli dan berkompeten. Sesuatu yang biasanya memerlukan keseriusan yang tinggi dalam membuatnya. Sesuatu itu adalah buku. Hari itu siswa kelas III akan membuat buku dengan gaya mereka. Buku yang dibuat sesuai dengan daya imajinasinya.

Sahabat guraru mungkin akan bertanya, bagaimana cara anak yang rata-rata berusia 9 tahun itu bisa membuat buku dalam waktu yang singkat? Ya, waktunya hanya 2 jam pelajaran atau 70 menit. Tenang saja, buku yang akan mereka buat bukanlah buku pelajaran yang tebalnya 100 halaman. Tetapi mereka akan membuat buku kreatif.

Pembuatan buku kreatif ini adalah salah satu kegiatan pada tahap pengembangan dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah.  Sebelum siswa membuat buku ada kegiatan pra syarat yang harus mereka lakukan. Kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan pembiasaan. Biasanya siswa kelas III, melakukan kegiatan wajib baca selama 15 menit. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Buku yang mereka baca adalah buku-buku non teks pelajaran. Mereka juga bisa membawa buku dari rumah.

Sebelum siswa membaca bahan bacaan yang mereka bawa dari rumah, penulis biasanya menyeleksi bahan bacaan tersebut. Bacaan yang dibaca siswa disesuaikan dengan tingkat perkembangannya. Selain itu penulis sebagai guru kelas III juga kadang-kadang membacakan cerita atau mendongeng untuk siswa saat wajib baca. Dengan membaca buku yang disukai dan mendengar dongeng dari guru, semua siswa sangat senang dan tanpa beban saat melaksanakan wajib baca.

Sahabat guraru, pertanyaan yang mungkin muncul berikutnya adalah apa tindak lanjut dari kegiatan wajib baca itu? Nah, kegiatan yang penulis lakukan adalah mengajak siswa membuat buku yang memuat informasi tentang bacaan yang sudah mereka baca. Buku yang dibuat siswa adalah buku non teks. Biasanya saat membaca buku, siswa kelas III sangat tertarik pada gambar-gambar. Sehingga penulis menyuruh mereka menggambar kemudian merangkainya menjadi buku.

Seperti siang itu saat pelajaran seni budaya dan prakarya, semua siswa duduk di kelompoknya masing-masing. Mereka mengeluarkan semua peralatan yang diperlukan dari dalam tasnya. Ada yang mengeluarkan kertas karton, ada yang mengeluarkan kertas manila, buku gambar, pensil, krayon, gunting, dan lem. Penulis memang sengaja menyuruh siswa untuk membagi tugas dalam menyiapkan peralatan untuk membuat buku. Selain untuk efisiensi, berbagi tugas dapat melatih kebersamaan, kerja sama dan tanggung jawab siswa.

WhatsApp Image 2017-10-15 at 14.47.50

“Ayo, Bu! Beritahu bagaimana cara membuat bukunya!” seru salah satu murid yang bernama Marlita. Dia terlihat sangat tidak sabar untuk membuat buku.

“Sabar, sebentar ibu akan perlihatkan cara membuatnya”. Jawab saya sambil menekan tombol LCD proyektor. Saya memang sudah menyiapkan video tutorial yang saya unduh dari situs berbagi video.

Saat video mulai tayang, siswa pun bersorak dengan kompak. “Ye….” Senyum sumringah menghiasi wajah mereka yang penuh semangat. Mereka terlihat sangat memperhatikan contoh cara membuat buku pop up. Saat video yang berdurasi 6 menit 46 detik itu selesai ditayangkan, mereka pun meminta agar video itu diputar lagi.

Setelah menonton video, saya mengarahkan mereka untuk mengingat kembali tentang buku yang mereka baca. Saya menyuruh siswa untuk menggambar apa yang mereka ingat tentang buku yang dibaca. Semua siswa terlihat sibuk menggambar pada buku gambar. Kemudian mereka mewarnai gambar yang sudah mereka buat.

“Saya sudah selesai menggambar, Bu! Seru Indah sambil mengacungkan tangannya. Saya kemudian mendekatinya. Dan memang benar Indah sudah selesai menggambar.

“Bagaimana, anak-anak yang lain? Apakah sudah selesai menggambar?” tanya saya kepada siswa yang lain.

Setelah seluruh siswa selesai menggambar, kegiatan dilanjutkan dengan mengukur dan menggunting karton sebagai dasar buku.

Tiba-tiba, dari bangku kiri belakang, Komang Agus bertanya. “Bu, bagaimana cara menggunting kertas manila berwarnanya? Saya tidak bisa.”

“Saya juga tidak bisa, Bu!” sahut Karina.

Pertanyaan yang sama diajukan oleh siswa yang lain. Maklum mereka baru pertama kali saya tugaskan untuk membuat buku.

Saya kemudian memberikan contoh kepada siswa.

“Anak-anak, kertas manilanya jangan dipotong sembarangan, ya! Sebelum kertas itu dipotong harus diukur dan digaris. Kemudian baru kalian potong sesuai dengan garisnya.” Saya menjelaskan sambil memberikan contoh langsung kepada mereka.

Setelah mendapatkan pengarahan siswa kembali melanjutkan pekerjaannya. Mereka mulai menggunting gambar-gambar yang dibuat. Ada yang membuat gambar tentang kebersihan lingkungan, ada yang membuat gambar tentang binatang, tumbuhan, alat-alat transportasi. Walaupun siswa bekerja secara berkelompok, semua siswa membuat gambar sesuai ide mereka masing-masing. Di antara mereka tidak ada yang menyontek pekerjaan temannya.

“Bu, kenapa kertas dan gambarnya tidak bisa menempel?” tanya Kadek.

Rupanya Kadek dan teman-teman dalam kelompoknya tidak dapat menempelkan dengan baik. Pantas saja kertas karton tidak dapat menempel dengan sempurna, ternyata lem yang mereka gunakan adalah lem kertas biasa. Kemudian kelompok yang lain memberikan mereka lem kayu. Dengan menggunakan lem kayu, daya lekat kertas akan semakin kuat.

Dalam waktu 40 menit, semua siswa sudah dapat menyelesaikan buku pop up mereka. Kegiatan dilanjutkan dengan mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas.

“Siapa yang mau ke depan, mempresentasikan bukunya?” saya bertanya sambil mengarahkan pandangan kepada seisi kelas.

“Saya, Bu!” sahut Indah sambil mengacungkan tangannya.

Buku yang dibuat Indah cukup menarik. Kertas yang digunakan berwarna biru. Ada gambar awan  dan matahari yang ditempelkannya pada bagian atas kertas. Kemudian ada sebuah mobil yang parkir di tepi jalan raya. Saat saya lihat lebih dekat ternyata di sebelah mobil itu ada gambar rambu lalu lintas dilarang parkir.

Saya menerka-nerka, kira-kira apa yang akan disampaikan oleh Indah. Apakah ia mengerti akan rambu lalu-lintas dengan simbol huruf P disilang. Indah kemudian mempresentasikan bukunya dengan penuh rasa percaya diri.

WhatsApp Image 2017-10-15 at 14.47.32

“Teman-teman, saya akan mempresentasikan buku yang saya buat. Buku ini tentang seorang sopir mobil yang parkir sembarangan. Ini adalah tanda dilarang parkir, tetapi ia tetap parkir di sana. Itu namanya melanggar peraturan, kita tidak boleh seperti itu. Itulah presentasi saya, terima kasih.”

Demikian Indah mempresentasikan bukunya. Sungguh presentasi yang singkat padat dan jelas, bagi seorang siswa kelas III SD.

“Siapa yang mau presentasi lagi ke depan.” Saya bertannya lagi kepada siswa yang lain. Ternyata dari 27 siswa di kelas III, sebanyak 21 orang mau maju ke depan tanpa ditunjuk. Sedangkan sisanya lagi 6 orang terlihat masih malu-malu untuk presentasi. Sehingga saya membimbing mereka untuk presentasi. Akhirnya seluruh siswa dapat presentasi di depan kelas. Setelah pembelajaran siang itu selesai semua siswa merasa senang dan mereka ingin membuat buku lagi.

Sahabat guraru, secara keseluruhan ternyata dengan membuat buku dengan cara yang kreatif dapat merangsang siswa untuk menyukai buku. Dengan menyukai buku maka secara langsung maupun tidak langsung mereka akan gemar membaca.

Semoga bermanfaat.

185 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar