1

MARI MENULIS! (+1)

May 17, 2012

MARI MENULIS !

 

Berbicara tentang dunia kepenulisan adalah hal yang langka bagi insan pendidik 'guru'. Kelangkaan ini membuat para hanya beraktivitas sebagai pengajar dalam ruangan kelas saja. Sudah seharusnya para pendidik juga bisa menularkan dunia yang di-ampu-nya dengan tulisan yang bisa dibaca oleh semua khalayak dan juga bisa menginspirasi. Dari hal tersebut ada sebuah agenda workshop kepenulisan yang diadakan oleh provisi education pada 25 April 2012. Untuk lebih lengkap hasil dari workshop tersebut. ijinkan penulis menuangkan makalah yang dituangkan oleh pembicara pada acara tersebut. Silakan membaca !

;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

GURU MENULIS
Oleh : St. Kartono

"Menulis itu memanen yang kita tanam dengan membaca" JWM. Bakker, SJ

Susan Sontag, penulis novel The Volcano Lover, menegaskan bahwa menulis dan mambaca merupakan dua hal yang saling berkait. Menulis adalah mempraktikkan kelincahan membaca dengan intensitas dan perhatian istimewa. Membaca biasanya mendahului penulisan dan dorongan untuk menulis hampir selalu dikobarkan oleh kegiatan membaca.

Memulai menulis
Menulis embutuhkan tiga hal yang saling berkait, yaitu kemauan, pengetahuan, dan keterampilan

Kemauan
Kemauan adalah dorongan dari dalam hati yang menggerakkan untuk bertindak. Kemauan atau keinginan menulis bisa disebabkan oleh hal-hal yang berasal dari luar diri, karena ditugasi atau diwajibkan. Kemauan dari dalam diri sendiri bisa berupa keinginan untuk aktualisasi diri, agar diakui,agar dikenal oleh masyarakat. Ketika kemauan atau keinginan telah kuat, seseorang sudah dikatakan memiliki modal besar untuk menulis.

Pengetahuan
Pengetahuan adalah kekayaan mengenai teknik tulis-menulis dan isi tulisan. Pengetahuan menulis seseorang bisa diciptakan dengan banyak membaca, banyak berdiskusi, banyak melihat, mengamati, dan mendengar.

Keterampilan
Keterampilan menulis adalah penggabungan yang harmonis antara daya otak dan daya tangan. Dengan membiasakan diri untuk terus menulis, dengan sendirinya kemampuan menulis akan terasah dengan baik. Keterampilan adalah aksi nyata seseorang yang mau bertindak, tahu yang harus dilakukan, dan tahu cara melakukannya.

Mengapa Menulis?
– Agar pemikiran dapat dipahami oleh orang lain
– Berharap terjadi perubahan
– Iklim intelektual selalu berkembang
– Persoalan dapat terdiskusikan secara sejajar

Apa Manfaat Menulis?
– Secara psiko-sosial, dapat menyuarakan aspirasi yang menggugah perubahan ke arah yang lebih baik. Mampu mendorong terjadinya perubahan atau perbaikan di masyarakat.
– Secara ekonomis, penulis yang telah diakui bisa mendapatkan nafkah dari kegiatan menulis. Honorarium yang diberikan oleh koran, majalah, atau media cetak kian sebanding dengan bobot sebagai karya intelektual.

 

Bagaimana Menemukan ide atau gagasan?
Ide didapat dari mendengar, melihat, membaca, dan melalui pengalaman orang lain. Ide tidak datang dengan sendiriinya, perlu sikap pro-aktif dankritis dalam menanggapi realitas yang didengar, dilihat maupun dibaca. Ide juga dapat ditemukan melalui keggiatan-kegiatan diskusi. Tidak harus berupa diskusi akademis, tetapi diskusi-diskusi ringan pun mampu memunculkan ide atau gagasan, tergantung seberapa peka diri kita menanggap persoalan.

-;-;-;-;-;-;-;-;
* "Benarkah kelulusan ujian nasional 2006 tergolong luar biasa? Badan Standar nasional Pendidikan (BSNP) menyebut kelulusan 92,50 persen pada jenjang SMA sebagai kenaikan yang signifikan dari 80,76 persen tahun sebelumnya (Kompas, 20/6). Ketika BNSP bertepuk dada atas kenaikan persentase kelulusan sebagai peningkatan mutu pendidikan menengah secara nasional, saya sebagai guru melahan ingin meneruskan pertanyaan sejumlah siswa, bagaimana nilai-nilai ujian itu diolah? Benarkah nilai-nilai perolehan siswa merupakan nilai msurni?"
……….
(Kompas, 22 Juni 2006)
-;-;-;-;-;-;-;-;

Ide yang menggerakkan penulis untuk mengolah lebih lanjut selalu ditempatkan pada konteks penulis yang kesehariannya sebagai guru. Refleksi yang dihasilkan tentu saja tidak jauh dari otoritas seorang guru yang mendasarkan pembahasan pada pengalaman dan pengetahuan keguruan.

Bandingkan dengan kalimat-kalimat tanya yang menajdi "jembatan ide" seperti : … lantas, apa yang bisa dilakukan oleh para guru di kelas?; … saya sebagai guru malahan ingin meneruskan pertanyaan sejumlah siswa, bagaimana nilai-nilai ujian itu diolah?; … Benarkah nilai-nilai perolehan siswa merupaka nilai murni?; atau, … apa yang salah dengan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah?; … Tidakkah pengajaran bahasa dan undang-undang kebahasaan sama pentingnya?. Jembatan ide tersebut adalah sebentuk hasil refleksi setelah membaca sebuah teks dan membandingkan dengan pengalaman riil di lapangan atau teori lain yang pernah diungkapkan oleh ahli lain.


Bagaimana merumuskan ide yang menarik dan kritis?
Agar tahu ide yang akan kita kembangkan menjadi tulisan menarik, ada baiknya kita menemukan pembanding terlebih dahulu. Yang dimaksud pembanding adalah karya-karya lalin yang pernah ada. Ide atau gagasan yang sama perlu dicermati perbedaan sudut pandang, perspektif, ataupun argumentasinya. Dengan melakukan perbandingan, kita bisa mengolah ide menjadi lebih menarik dan lain daripada yang lain.


Langkah menulis
kita belajar berjalan dan bicara, tetapi untuk belajar berenang dan menulis merupakan hal yang khusus, tingkah laku yang harus dipelajari. Manusia akan belajar berenang jika ada air yang dapat meredam seluruh tubuh dan biasanya bila ada yang mengajarinya. Belajar menulis jika menjadi anggota komunitas terpelajar dan juga jika ada yang mengajarinya. (brown, 2001)
Langkah memulai menulis:
– Menemukan ide
– menentukan sikap atas ide tersebut (menyetujui, menolak, mengkritik)
– Mencari angle atau sudut pandang yang berbeda dari pembahasan terdahulu
– Mencari argumen untuk mendukung dan menguatkan sikap
– Menentukan judul
– Merumuskan pokok-pokok pemikiran

Menimbang isi tulisan
Selama proses menulis, ada baiknya tulisan dijaga agar tetap tajam, berbobot dan berimbang.
– Tulisan tajam merupakan tulisan yang membahas persoalan tanpa berbelit-belit, ditulis dengan sederhana, lugas, tidak menimbulkan multitafsir sehingga pihak-pihak yang dikritik tahu serta para pembaca mampu mencerna dengan baik.
-Tulisan berbobot biasanya menimbulkan reaksi dan efek yang cukup signifikan, mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi siapapun yang membacanya, memiliki dampak perubahan dan diperhitungkan oleh pihak-pihak yang dikenai dalam tulisan. Indikatornya adalah adanya tanggapan dari pembaca.
– Tulisan berimbang haruslah memberikan pencerahan dan berpihak pada kebaikan, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, tulisan harus memperhitungkan pihak-pihak yang dibahas sehingga tidak menimbulkan konflik atau dampa negatif.
-Bagaimana agar tulisan tetap fokus?
Batasi persoalan agar ide awal tidak melebar kemana-mana. Buang yang tidak berkaitn, bahan atau data pendukung yang tidak terkait dengan gagasan. Selain itu, argumen-argumen yang tidak mendukung tulisan sebaiknya juga tidak perlu dipakai. Pilih topik yang memiliki cukup data.
-Bagaimana agar tulisan menarik?
Memperkaya kosakata dengan jalan banyak membaca, kemudian memilih kosakata yang sederhana, mudah dipahami siapa saja, tidak harus menggunakan kosakata yang tinggi dan rumit.

Memublikasikan Tulisan
-Koran, majalah, media cetak akan menghargai tulisan yang spesifik. Artinya, si penulis memiliki ciri tersendiri sesuai kompetensinya. Seorang St. Kartono yang seorang guru tidak akan menulis tema-tema bisnis atau teknologi, tetapi akan mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan kpndidikan.
-Melihat visi dan karakter media yang dituju. Penulis perlu mengetahui segmentasi pembaca media massa yang dituju. hanya dengan membaca dan mengikuti terus-menerus perkembangan sebuah media, seorang penulis akan kian memahami kualifikasi tulisan yang biasa dimuat dan juga genre serta tema besar yang diusung media tersebut (apakah koran umum, ekonomi, majalah perempuan, dan sebagainya)

Evaluai
Dimuat atau tidaknya tulisan sama-sama memerlukan evaluasi. Ada beberapa faktor penyebab sebuah tulisan tidak dimuat : Memang kurang bagus, isinya tidak aktual, tema tulisan tidak sesuai dengan genre media massanya, tema tulisan tidak cocok dengan segmentasi pembaca.
Untuk tulisan yang tidak dimuat, pada umumnya akan dikembalikan oleh redaksi disertai dengan catatan yang menjelaskan alasan tulisan tidak dimuat. Catatan dari redaksi tersebut menjadi bahan evaluasi yang utama bagi penulis.

}

;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

 

Dari pembahasan yang tertuang dalam tulisan makalah tersebut maka bersiaplah untuk menjadi seorang penulis handal. Menjadi penulis?  SIAPA TAKUT!

919 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar