0

Mari kembalikan semangat dan fungsi MOS (+1)

tutuk jatmiko August 13, 2015

11692488_1584304898502463_8863009105199402440_n

Sudah menjadi agenda rutin setiap awal tahun pelajaran baru, seluruh peserta didik baru akan melalui suasana yang dulu disebut dengan Masa Orientasi Siswa (MOS). MOS atau istilah baru menjadi Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB) secara umum bertujuan untuk mengenalkan budaya disekolah bagi para siswa baru. Berbagai kegiatan dilakukan pihak sekolah dengan melibatkan segenap unsur disekolah untuk memberi “kesan pertama” kepada siswa baru. Memang dengan pengenalan awal atau masa orientasi akan membuat siswa lebih mengenal kondisi lingkungan sekolah mereka yang baru. Dengan pengenalan awal ini pula siswa diharapkan lebih akrab dengan sesama siswa baru maupun dengan warga sekolah lainnya.

Tetapi tidak jarang kegiatan ini disadari atau tidak menimbulkan beberapa kejadian yang sangat tidak diharapkan. Dengan dalih untuk menanamkan sebuah kedisiplinan dan kesan senasib, kadang para siswa baru menjadi korban “perpeloncoan” atau sejenisnya baik oleh guru terutama “lebih sering” dilakukan oleh kakak tingkatnya. Kagiatan – kegiatan yang kurang produktif ini tanpa disadari oleh pelaku kegiatan sebenarnya akan terekam dalam memori peserta didik dan sedikit banyak mempengaruhi pembentukan karakternya dimasa depan.
Untuk menekan bahkan menghilangkan kegiatan – kegiatan yang tidak produktif pada saat MOS atau MOPDB perlu perhatian serta kesadaran berbagai pihak baik bagi sekolah maupun pihak terkait terutama pembuat kebijakan didaerah. Karena tumbuh kembang generasi muda bergantung juga dari lingkungan, budaya serta sistem yang berlaku disekitarnya.
Peran Pemerintah daerah
Sejak diberlakukannya undang-undang otonomi daerah, maka daerah memiliki kekuatan untuk bertidak lebih cepat menuntaskan masalah krusial ini. Kabupaten Situbondo telah mencanangkan diri sebagai Kabupaten Layak Anak beberapa tahun yang lalu. Berbagai pihak yang turut membantu pemerintah daerah menangani permasalahan anak antara lain Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan (BPMP) yang berpusat di kantor Pemkab Situbondo serta adanya Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Korban Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan yang berpusat di RSUD kabupaten Situbondo. Demikian pula dengan Dinas Pendidikan sebagai satuan tugas yang membawahi sekolah-sekolah didaerahnya memiliki peran untuk merumuskan aturan yang berkaitan dengan tata cara MOS yang lebih bermartabat.

Peran Masyarakat
Selain pemerintah daerah, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk kegiatan pengawasan. Didaerah kami, aksi nyata terhadap masalah anak dan perempuan ditunjukkan dengan dibentuknya Forum Anak Kabupaten Situbondo. Salah satu kegiatan forum ini saat pelaksanaan MOS adalah melakukan pendampingan serta pengawasan disetiap sekolah yang ada. Dengan motto “Siap membentuk karakter dan mengasah kepemimpinan anak sebagai bekal menjadi pemimpin dimasa depan” forum yang beranggotakan banyak pemerhati masalah anak termasuk para alumni dari SMA/SMK/MA di Situbondo ini berkomitmen untuk mengawal kegiatan MOS disetiap sekolah.

Peran Sekolah
Sebagai tempat pelaksanaan MOS berlangsung, praktis sekolah wajib melaksanakan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Selain itu seluruh warga sekolah (pimpinan, dewan guru, tata usaha serta siswa) wajib memahami dan melakukan kegiatan-kegiatan yang produktif serta positif. Saat MOS, kegiatan harus mencerminkan prinsip asah, asih dan asuh. Beberapa kegiatan positif dan produktif yang dapat dilakukan antara lain :
Orientasi lingkungan sekolah dengan kegiatan penjelajahan area sekolah
Memasang poster / tulisan motivasi disetiap sudut ruangan
Mengasah naluri kebersamaan melalui kegiatan outbond ceria
Mempertajam visi dan misi melalui kegiatan menulis serta mempresentasikan visi dan misi tiap siswa
Kegiatan kerohanian melalui kegiatan sholat berjamaah bersama seluruh warga sekolah saat duhur dan waktu dhuha
Memupuk rasa patriotisme dengan melakukan nyanyi bersama sebelum kegiatan MOS dimulai
Memupuk persaudaraan dengan kegiatan mengumpulkan identitas dan tanda tangan sebanyak mungkin warga sekolah yang ditemui
Mengasah kepedulian terhadap sesama dengan melakukan kegiatan bakti social (membagikan paket mie instan / sejenisnya kepada warga sekitar sekolah)
Malatih saling menghargai dengan cara latihan diskusi kelas
Melatih peduli lingkungan dengan melakukan penanaman lingkungan hijau dihalaman sekolah
Mengasah potensi dengan membuat panggung gembira dan malam keakraban saat acara penutupan
290720151406

Pemasangan banner disekolah

11745886_1590877704511849_1548058481380315299_n
SMK Ibrahimy sebagai salah satu Sekolah mitra ramah anak

Selain itu, dalam proses kegiatan perlu diperhatikan cara memperlakukan peserta didik sebagaimana yang ditulis oleh seorang pakar sekaligus pemerhati pendidikan Dorothy Law Nolte berikut :
dorothy

Dorothy Law Nolte
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran

Semoga uraian diatas dapat menyadarkan semua pihak untuk bangkit bersama mengembalikan fungsi Masa Orientasi Siswa menjadi lebih bermartabat dan lebih produktif untuk Indonesia lebih baik. Semoga…….

1,018 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!