4

Manfaat Teknologi dalam Pendidikan: Mitos atau Fakta? (+2)

Ariska Kamila Raihan May 31, 2017

Siapa yang membantah bahwa revolusi teknologi sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini? Informasi serba cepat merupakan suatu tuntutan yang wajib dipenuhi di era globalisasi ini, dan tak pelak, teknologi telah menjawab kebutuhan tersebut. Revolusi teknologi telah meluaskan jaringannya pada berbagai aspek dalam kehidupan kita, termasuk bidang pendidikan. Kehadiran tablet, laptop, dan tak lupa buku dan permainan edukasi elektronik yang menemaninya dianggap sebagai suatu jawaban akan permasalahan pendidikan yang ada. Namun, apakah pernyataan tersebut benar?

Manfaat Internet Bagi Pendidikan

Sumber: www.areabaca.com

Bukan rahasia umum bahwa besarnya dampak teknologi dalam keseharian kita membawa suatu anggapan bahwa pendidikan berbasis teknologi, atau yang lebih sering disebut dengan E-Learning, akan lebih menarik untuk para siswa dibandingkan pembelajaran konvensional. Terlebih lagi, sebutan “digital natives” atau “natif digital” untuk generasi yang lahir di era globalisasi ini pun menguatkan anggapan tersebut. Katanya, generasi era globalisasi memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya dan mempunyai suatu ketertarikan yang khas terhadap teknologi, sehingga segala sesuatu pun harus didigitalisasi untuk menunjang perkembangannya.

Meski begitu, dalam buku terbarunya yang berjudul Brain Gain, Marc Prensky, yang merupakan salah satu pionir dari populernya sebutan “natif digital” tersebut menyatakan bahwa sebutan tersebut tidak lagi berlaku karena studi yang belum mencukupi. Alih-alih, kepopuleran “natif digital” hanya didasari oleh rasionalisasi beberapa ilmuwan terhadap fenomena-fenomena terkait yang telah terjadi.

Mendukung pernyataan tersebut, dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Canadian Higher Education Associates, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat ketertarikan siswa terhadap adanya E-Learning, sekitar 60% responden menyatakan tidak lebih tertarik terhadap pembelajaran E-Learning dibandingkan pembelajaran biasa, 30% tertarik, dan sisanya abstain. Konklusi yang sama pun didapatkan oleh sebuah studi lain yang mengambil responden para siswa di negara Skotlandia, di mana cara mengajar konvensional lebih menarik daripada cara mengajar dengan E-Learning.

Anggapan lain juga menyatakan bahwa pembelajaran berbasis teknologi dapat menyediakan lebih banyak metode pembelajaran untuk para siswa, sehingga siswa dapat memiliki kebebasannya sendiri dalam memilih metode yang baik untuknya. Anggapan ini pun kemudian dibantah oleh Paul A. Kirschner dalam artikelnya yang berjudul “Is What Learners Say That They Prefer Good For Them?”. Kirschner menyebutkan bahwa teknologi memang bisa menghantarkan penyesuaian metode belajar tersebut, namun pertanyaannya ialah, apakah hal tersebut benar-benar baik? Studi pun menyatakan hal yang sebaliknya, di mana hal tersebut dapat menjadi suatu keburukan untuk beberapa siswa, dan seharusnya hal tersebut tidak digeneralisasikan.

Lalu, apa yang harus dilakukan para guru dalam menindaki revolusi teknologi ini? Sesungguhnya, sudah banyak teori-teori pembelajaran berbasis teknologi, yang saat ini sudah dikembangkan dan dinyatakan berhasil oleh para periset. Metode pendidik yang meliputi pendampingan dari guru dan cara pemberian instruksi, alih-alih media yang digunakan seperti canggihnya internet atau komputer, mengambil peranan penting dalam penentuan apakah pembelajaran berbasis teknologi tersebut benar-benar baik untuk diterapkan.

Menyetujui pernyataaan di atas, pada tahun 2011, Richard E. Mayer dan Ruth C. Clark dalam buku mereka yang berjudul E-learning and the Science of Instruction: Proven Guidelines for Consumers and Designers of Multimedia Learning mengatakan bahwa 60 tahun studi terhadap metode mendidik tidak menyatakan adanya korelasi dari medium pendidikan yang digunakan terhadap keefektifan dari kegiatan belajar mengajar yang berlangsung. Disebutkan juga bahwa canggihnya medium apapun yang digunakan, semuanya tergantung pada kualitas dari si pemberi instruksi sendiri, yakni sang guru.

Suatu studi yang telah dilakukan pada tahun 2009 menyatakan blended learning, di mana pada metode tersebut, digabungkan e-learning dan pembelajaran konvensional dalam satu kelas, sebagai salah satu metode pembelajaran berbasis teknologi yang dianggap berhasil. Murid memiliki kapabilitas, minat, dan individualitas yang berbeda-beda, sehingga diperlukan adanya komunikasi yang baik serta pemonitoran guru yang terakomodir untuk memaksimalkan fungsi pendidikan itu sendiri. Kombinasi dari pembelajaran digital dan pemberian instruksi one-on-one antara guru dan murid yang dilakukan pada blended learning ini pun diketahui dapat meningkatkan efektivitas yang didasari oleh parameter-parameter tersebut.

sumber: osmosis

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan tidak dapat ditentukan hanya dari anggapan-anggapan yang beredar di masyarakat. Studi yang berkelanjutan, teori, data, dan sains patutnya menjadi dasar dari segala keputusan terkait pendidikan ini. Revolusi teknologi memang merupakan karakteristik dari era globalisasi, namun pendidikan, yang notabene merupakan elemen fundamental dari sebuah bangsa, perlu “perancang-perancang” yang berwawasan luas untuk memaksimalkan efektivitasnya.

Disclaimer: Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru.

1,480 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (4)

  1. sangat SETUJU dengan kesimpulan artikel di atas

    Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan tidak dapat ditentukan hanya dari anggapan-anggapan yang beredar di masyarakat. Studi yang berkelanjutan, teori, data, dan sains patutnya menjadi dasar dari segala keputusan terkait pendidikan ini.

    untuk merubah mitos menjadi kenyataan bisa seperti artikel di bawah ini

    salam kenal mbak ariska

    artikelnya sudah sy VOTE UP dan like facebook
    semoga sukses
    bisa lihat juga inovasi pembelajaran berikut ini
    http://guraru.org/guru-berbagi/peningkatan-motivasi-belajar-siswa-saat-liburan-dengan-game-bom-whatsapp/?replytocom=43267#respond

  2. SAYA SANGAT SETUJU MARI KITA MIND SET ITA SEBAGAI SEORANG DI ERA DIGITAL , TERNYATA SAAT INI MASIH BANYAK GURU KITA GATEK TEKHNOLOGI TIDAK MAU BELJAR IT PENGALAMAN SAYA DI SEKOLAH SAYA SUDAH OPERATOR SEKOLAH SEMUANYA DISERAHKAN KPD OPERATOR. TENTU INI TDK AKAN BEROBAH SEMENTARA ANAK DIDIK KITA PINTAR MENGGUNAKAN IT JADI BISA KITA DIKATAKAN OLEH MURID GURU ZAMAN DAHULU ( KUNO ) MARI KITA TINGKATKAN KOMPETENSI KITA SEMANGAT YANG TINGGI JANGAN PESIMIS INI ADALAH KEWAJIBAN KITA SBGI SEORANG GURU YG HRS DIKERJAKAN SEMOGA MENJADI AMAL IBADH AMIIN

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar