0

Makmum Boleh Kita, Tapi Imam Perlu Kriteria (+1)

Muhammad Yani June 27, 2015

Istilah makmum dan imam hanya dijumpai pada shalat berjama’ah tentu tidak pada shalat sendirian. Almarhum K.H. Zainuddin MZ atau  da’i sejuta umat pernah menyampaikan dalam salah satu ceramahnya “Makmum itu boleh siapa saja namun sebagai imam ada aturannya, tidak sah seorang makmum yang fasih dalam membaca al-Qur’an mengikuti imam yang kurang benar dalam membaca al-Qur’an secara tajwid, artinya menjadi imam memiliki karakteristik dan kriteria yang wajib dipenuhi sebagai imam”. Makmum artinya yang dipimpin, menjadi seorang makmum tidak mesti memiliki syarat sebagaimana menjadi imam. Namun, agar para makmum di dalam shalat berjamaah dihukumi sah dan nilainya tinggi di sisi Allah swt, ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi dan dilaksanakan oleh para makmum. Ketentuan itu dimulai ketika salat berjama’ah berlangsung dan setelah shalat berjama’ah selelsai

Sebagai makmum atau orang yang akan mengikuti setiap instruksi dan gerakan imam tentunya wajib mengikuti imam dan tidak boleh mendahuluinya, hal ini sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadist rasulullah saw yang artinya “Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Bila dia bertakbir maka bertakbirlah kalian. Bila dia ruku’ maka ruku’lah kalian. Bila dia mengucapkan “sami’allahu liman hamidah” maka ucapkanlah “rabbana wa lakal hamd”. Bila dia sujud, maka sujudlah kalian.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadist di atas bahwa  dalam shalat berjama’ah terdapat konsep-konsep pemerintahan yang sangat baik. Kaidah-kaidah inilah yang harus coba kita perhatikan dan lakukan dalam kehidupan bernegara. Imam pada shalat jama’ah diibaratkan sebagai pemimpin dan makmum sebagai rakyat. Perlu ditekankan bahwa konsep  ini adalah keadaan yang sangat ideal jika semua orang sudah memiliki pemahaman yang sama dalam kaidah ini. Shalat ini sanggup mengakses semua lini dalam kaidah kepemimpinan, mulai dari pemilihan pemimpin sampai kaidah menurunkan seorang pemimpin. Kompetensi pada rukun dan syarat sah shalat dapat kita analogikan dengan kemampuan memahami sistem.

Ketika pemimpin menyalahi sistem, maka akan ada konsekuensi berupa terlepasnya sang pemimpin dari tampuk kekuasaannya. Dalam shalat, meyalahi rukun sama dengan membatalkan shalat, misalnya ketika shalat dhuhur imam pada ra’at ke tiga langsung duduk tahyatul akhir, maka makmum wajib mengingatkan imam, namun cara mengingatkan imam tentu melalui cara-cara yang sudah baku diajarkan dalam fiqh khususnya tentang shalat, yaitu mengucapkan subhanallah bagi laki-laki dan menepuk tangan bagi perempuan. Begitu juga halnya ketika dalam shalat imam keluar angin (kentut) maka imam tersebut langsung geser kesamping dan shalat diteruskan oleh makmum lain yang berada dekat dibelakang makmum. Shalat selalu mengajarkan kita untuk mengikuti semua gerakan imam.

Disamping mengikuti, kita juga diwajibkan untuk tidak mendahului ataupun tertinggal jauh dari gerakan imam. Ketika kita sedang membaca bacaan yang panjang, maka kita harus menghentikannya segera ketika imam sudah memulai gerakan yang lain. Bahkan, ketika imam sudah salam, kita wajib langsung salam walaupun bacaan tahiat kita belum selesai ataupun doa kita belum selesai. Mengikuti gerakan imam bukan berarti mengikuti gerakan semuanya, melainkan hanya gerakan yang benar dan bukan gerakan-gerakan tambahan.

Perspektif mengenai tanggung jawab seorang pemimpin, pemimpin akan bertanggung jawab atas apa yang dia pimpin. Maka dosa bawahan ketika mengikuti perintah pemimpin adalah tanggung jawab pemimpin. Yang dipimpin hanya bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Etika menasehati pemimpin juga diatur dalam shalat sebagaimana telah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya. Ketika imam salah dalam gerakan, yang harus makmum lakukan adalah mengingatkan imam dengan membaca subhanallah untuk makmum laki-laki dan tepuk tangan untuk perempuan. Ketika imam salah membaca surah, yang harus dilakukan adalah membenarkan bacaannya. Kemudian kalau imam tidak mengindahkan semua yang telah makmum ingatkan, maka makmum wajib tetap mengikuti gerakan dan bacaan imam selama tidak melanggar rukun shalat.

Kriteria Imam Shalat

Terkait dengan pemimpin yang baik ibarat imam pada shalat berjamaah. Memilih pemimpin yang baik sama halnya ketika memilih imam shalat berjama’ah, beberapa kriteria sebagai imam shalat, yaitu:

a). Seorang imam shalat haruslah orang yang ilmunya paling tinggi.

Ibarat memilih imam shalat, Ketika memilih pemimpin yang baik diharapkan memilih seorang yang paling tinggi ilmunya dibandingkan yang lainnya, jadi memiliki intelegensi question (IQ) yang tinggi itu perlu. Hal tersebut dikarenakan seorang pemimpin diharuskan cerdas mencari jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi. Selain itu agar tidak ada pembodohan dari berbagai pihak yang menginginkan jatuhnya kekuasaan. Karena itu seorang pemimpin harus ahli sehingga dapat dipercaya. Fathanah ialah cerdas. Seorang pemimpin tidak hanya perlu jujur, dapat dipercaya, dan dapat menyampaikan tetapi juga cerdas. Karena jika seorang pemimpin tidak cerdas maka ia tidak dapat menyelesaikan masalah rakyatnya dan ia tidak dapat memajukan apa yang dipimpinnya.

b). Seorang imam shalat berada dibarisan paling depan.

Seorang pemimpin yang mengaca pada imam shalat akan siap menyerahkan segala hidupnya untuk membela kepentingan rakyatnya. Pemimpin tersebut akan berada pada garis depan perjuangan demi segala kebaikan rakyatnya. Artinya pemimpin memiliki kekuasaan penuh serta berwibawa dalam menjalankan fungsinya serta dalam mengeluarkan segala kebijakan tanpa ada perasaan takut dengan banyang-banyangan yang menghantuinya dibelakang.

c). Seorang imam shalat siap diingatkan makmum ketika salah gerakan ataupun bacaannya.

Begitu juga seharusnya pemimpin yang baik. Tidak marah ketika diingatkan untuk kebaikan. Besar hati menerima masukan serta pendapat dari berbagai pihak demi kebaikan kepemimpinannya. Ibarat makmum pada shalat berjama’ah disaat imam lupa dan salah maka makmum wajib menegurnya serta memperbaikinya, selanjutnya imam juga wajib memahami kealpaan dan kesalahannya, sudah kewajiban rakyat untuk mengingatkan ketika pemimpinnya salah, apabila pemimpin marah ketika dikritik maka belum layak menjadi pemimpin.

d). Seorang imam shalat siap digantikan jika terdapat hal yang mengharuskan untuk membatalkan shalat.

Seorang imam shalat selalu rela digantikan makmumnya ketika imam tersebut mendapatkan halangan. Misalnya ketika jatuh pingsan maupun ketika batal. Begitu pula seharusnya seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak memaksakan. Baik tidak memaksakan keputusan yang berat sebelah maupun tidak memaksakan diri untuk memimpin ketika sudak tidak memungkinkan lagi. Seorang pemimpin harus rela kepemimpinannya digantikan dengan pemimpin yang baru yang mempunyai visi baru pula.

Memilih Pemimpin

Setiap warga Negara memiliki hak untuk memilih dan juga dipilih, persoalan memilih tentu bukanlah hal yang sulit juga bukan masalah rumit, apalagi Pemilu Celeg beberapa bulan yang lalu dapat menjadi pelajaran berharga dalam memilih. Sebenarnya memilih itu memiliki tanggung jawab besar terhadap keberlanjutan suatu daerah atau wilayah menuju kepada kebangkitan dan kemajuan bagi negara, bangsa dan agama Islam pada khususnya. Untuk itu dalam memilih pemimpin sebagai umat islam kiranya dapat berpijak sebagaimana hadist saw yang artinya “Selayaknya untuk diketahui siapakah orang yang paling layak untuk posisi setiap jabatan. Karena kepemimpinan yang ideal, itu memiliki dua sifat dasar: kuat (mampu) dan amanah.”

Selanjutnya dalam menentukan pilihan selain dua sifat dasar sebagaimana hadist di atas, juga perlu melihat pada kriteria imam shalat jama’at sebagaimana penjelasan di atas, sehingga nantinya pilihan itu berdasarkan tuntunan agama yang membimbingnya bukan karena emosional dan tanpa pertimbangan yang matang. Akhirnya kepada para pemimpin saat ini semoga selalu dapat mengambil pelajaran dari berbagai teori kepemimpinan yang baik. Imam shalat berjamaah adalah salah satu teori kepemimpinan yang tersirat dalam islam. Membutuhkan pemikiran yang lebih mendalam untuk memecahkan ilmu – ilmu yang tersirat dari berbagai sumber agar kiranya mendapatkan kemanfaatan yang lebih banyak.

 

Penulis adalah Guru PAI SMAN 1 Peukan Bada

 

2,021 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!