2

Kisah Guru Lepas, Hospot dan Charger yang Tertinggal (+3)

Lia Kurniawati May 22, 2017

Ini kisahku yang paling melekat dalam ingatan. Sampai kapan pun mungkin aku tidak akan lupa. Kisah ini bermula dari suamiku, pada 2014 lalu ia mendirikan Rumah Pinus Indonesia sebagai wadah pengembangan minat bakat anak-anak sekolah terhadap dunia baca-tulis. Setiap semester Rumah Pinus punya program keliling Go to School ke berbagai sekolah. Karena aku sudah melepaskan karier dari Home Schooling Kak Seto di Bintaro setelah hamil anak pertama, akhirnya aku memutuskan untuk membantu suami bekerja sosial mengajar dan menyebarkan semangat baca-tulis melalui seminar ke berbagai sekolah di Jabodetabek hingga ke pelosok-pelosok dusun terpencil.

IMG_9218

Sabtu itu kebetulan aku kebagian tugas mengajar di salah satu sekolah negeri di desa di kaki bukit daerah Ciawi-Bogor, Jawa Barat. Walaupun berada di kaki bukit desa ini penduduknya sangat padat. Untuk menuju lokasi kami harus nyasar jauh hingga berkilo-kilo meter ke kampung lain. Namun semua itu terobati ketika melihat wajah ramah anak-anak menebarkan senyum menyambut kedatangan aku dan tim. Kebetulan aku berangkat bersama satu fhotografer dan satu pembicara yang lain. Walaupun hari libur wajah anak-anak itu tampak ceria dan antusias ingin mendengarkan materi yang akan aku sampaikan.

Semua anak-anak sudah masuk kelas. MC sudah membuka acara. Infocus sudah dinyalakan. Aku mengeluarkan leptop Acer jadul tipe 4732Z milikku. Ini leptop paling bersejarah dalam sepanjang kuliah dan karirku. Walaupun beratnya seperti talanan gajah ia selalu aku bawa kemana-mana. Aku pun segera membuka file di dalamnya dan menghubungkan ke Infocus. Tidak lama kemudian aku dipanggil MC untuk memberikan materi. Hari itu aku semangat sekali memberikan wejangan dan motivasi karena antusias anak-anak yang luar biasa. Lelah perjalanan menempuh puluhan kilometer dari Jakarta itu seketika terobati.

IMG_9249

Namun kisah tidak mengenakkan terjadi di sela-sela ketika aku baru 15 menit berbicara, leptop milikku tiba-tiba drop, infocus pun otomatis lansung membiru.  “Yaahhh…” Semua anak-anak spontan bersorak dan terlihat memasang raut muka kecewa. Padahal leptop itu sudah saya cas sampai full sejak tadi malam. Timku pun buru-buru mencari charger di dalam tas. Setelah 5 menit lebih ditunggu-tunggu, charger yang dicari tidak kunjung bertemu. Apa yang terjadi? Ternyata chargernya ketinggalan di rumah.

Untung salah satu guru ada yang membawa leptop merek lain dan akhirnya aku lega kembali bisa presentasi dengan asyik kepada anak-anak, mengenalkan mereka mengenai pentingnya membaca, menulis dan produktif melalui media internet.
IMG_9250
Sebagai guru aku tidak bisa lepas dari leptop dan internet. Apabila era ini sering disebut-sebut sebagai era industri kreatif, maka aku menyebutnya era ini adalah era guru kreatif berbasis digital technology seperti yang diusung oleh guraru.org. Keberadaannya harus kita manfaatkan dengan sebaik mungkin. Toh dengan teknologi anak-anak mampu menangkap pelajaran dengan cepat danhappy. Dengan teknologi para guru mampu mengembangkan kreativitas pembelajaran dengan sangat mudah dan menarik. Dengan teknologi pula guru mampu mengeratkan konektivitas ilmu pengetahuan dan personal menjadi lebih erat dan intens.

Menurutku teknologi sudah membawa perubahan penting dan merevolusi sistem pembelajaran kita saat ini yang dulu bersifat manual, terpusat dan sulit dipahami menjadi pembelajaran yang dinamis, bisa diakses dimana saja dan mudah dipahami. Setidaknya ada empat peran penting teknologi dalam dunia pendidikan, yaitu pertama teknologi mampu mendekatkan akses bahan-bahan pendidikan sehingga para guru dan siswa mampu menemukan bahan pembelajaran yang pas dan kreatif dengan mudah melalui e-book dan internet, tidak selalu berpatokan dengan buku-buku pelajaran. Kedua, teknologi memberikan pilihan-pilihan media pembelajaran yang kreatif kepada para guru, sehingga anak-anak bisa belajar dengan happy dan tidak monoton. Ketiga teknologi memudahkan proses pemberian nilai, tugas siswa, serta mampu memantau perkembangannya sehingga para guru tidak perlu repot untuk memeriksa atau mendatangi satu persatu para siswa yang jumlahnya puluhan atau ratusan. Keempat teknologi mampu menghubungkan konektivitas antara guru, siswa dan orangtuanya, sehingga apabila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terkait masalah pendidikan akan mudah menemukan solusinya dengan objektif.

IMG_9258

Kembali ke cerita, tibalah pada sesi saya ingin mengajarkan mereka cara membuat blog dan menulis secara online. Karena di sekolah itu tidak ada jaringan internet, aku memutuskan untuk memakai jaringan hospot dari smartphone milikku. Aku nyalakan. Lalu koneksi tersambung ke leptop. Namun, apa yang terjadi setelah itu? Leptop yang dipinjamkan ibu guru itu ternyata tidak begitu pintar menangkap signal hospot milikku sehingga ketika aku membuka salah satu situs anak-anak terpaksa harus menunggu bermenit-menit untuk melihat tahapan demi tahapan cara menulis di blog. “Yaahhh…” Lagi lagi respon anak-anak seperti itu.

Saya melihat betul bagaimana antusias anak-anak Madrasah Ciawi ingin belajar mengenai blog dan menulis di internet. Tapi karena karena leptopnya lemot akhirnya perhatian anak-anak terburai, ada yang menggaruk kepala, memainkan pensil, ada yang mengobrol bersama teman sebelahnya, sehingga pada sesi ini anak-anak tidak bisa menangkap materi yang aku jelaskan dengan baik. Aku pun memutuskan untuk menyelesaikan sesi presentasi dengan melakukan kegiatan yang lain yang membuat anak-anak kembali ceria.
acer-chromebook-14-left-sid
Dari pengalaman ini akhirnya aku memahami betul bahwa kebutuhan guru akan leptop yang mendukung dalam proses belajar-mengajar itu sangat penting, terutama ketika ingin menyampaikan pelajaran melalui media digital atau dengan infocus. Andai saja waktu itu aku punya Chromebook 14 besutan Acer, mungkin aku tidak akan mengalami dua kejadian yang sangat mengecewakan itu. Karena Chromebook 14 memang dirancang khusus untuk mendukung pekerja di bidang pendidikan generasi milenial terutama para guru. Gayanya yang modis memungkinkan kita tidak malu menampilkannya dimana saja. Bobotnya yang cukup ringan membuat kita bisa membawanya kemana saja. Selain itu dengan teknologi cloud yang sudah ditancapkan di dalamnya para guru dapat menyebarkan materi pembelajaran kepada siswa dengan lebih mudah. Apalagi teknologi Wifi-nya dapat bekerja lebih cepat dari laptop-leptop merek lain di kelasnya.

Dari keseluruhannya aku pikir Chromebook 14 punya 4 nilai plus yang bisa menggantikan leptop Acer usang yang menemaniku selama ini, pertama bentuknya yang mewah, kedua bodinya yang ringan, ketiga wifi yang kencang dan keempat baterai yang awet hingga 12 jam. Aku pikir Chromebook 14 tidak mungkin bohong sama para guru, karena semua guru adalah mulia. hehe

1,586 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

About Author

Lia Kurniawati

Saya seorang guru lepas. Saya juga seorang ibu dari dua anak yang aktif. Keinginan untuk mengurus anak dengan baik menjadi keputusan saya untuk berhenti sebagai pekerja kantoran. Dari tekad yang kuat, saya memulai membangun sebagai bundapreneur bunda kecee.

View all posts by Lia Kurniawati →

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar