3

Ketika Ujian atau Ulangan Tidak (Lagi) Menakutkan (+1)

Rusdi Mustapa May 10, 2016

DSCF5705Apa yang terbayang ketika mendengar kata “ujian”? Barangkali yang akan muncul adalah suasana yang mencekam, was-was, bikin deg-degan, dan sejuta perasaan yang bikin baper (begitu kalau anak sekolah sekarang sering bilang). Barangkali kita punya pengalaman yang berbeda-beda ketika menghadapi ujian. Ketika penulis seusia sekolah menengah, manakala menghadapi ujian, yang sering dilakukan adalah membuat catatan/ringkasan sendiri dari materi yang akan diujikan. Memang terkesan buang-buang waktu dan tenaga, karena mesti menulis lagi apa yang sudah ada di buku, namun dengan cara seperti ini ternyata penulis lebih percaya diri.

Nah… bagaimana halnya jika ujian itu dilakukan dalam suasana yang beda?

Beda bagaimana maksudnya?

Beda di sini adalah kemasannya. Kalau biasanya ujian atau ulangan seringkali dilakukan di ruang kelas, di mana guru memberikan sejumlah soal yang harus dikerjakan dalam durasi waktu tertentu, maka ujian yang ini jauh dari semua itu. Yang jelas suasananya sangat menyenangkan dan siswa bisa lebih rileks.

Masih bingung ya?

Nah biar tidak penasaran, penulis akan berbagi pengalaman saat melaksanakan ujian sejarah. Sebagai guru sejarah di MAN 1 Surakarta, mengadakan ujian atau ulangan adalah salah satu tugas guru yang mesti dilakukan sebagai upaya untuk mengukur tingkat penguasaan siswa pada materi yang telah diajarkan. Selama ini di mata siswa, ulangan sejarah identik dengan ulangan yang bikin galau karena mesti menjelaskan, menyebutkan tanggal, yang rata-rata siswa kurang menyukainya. Namun karena ini adalah ciri khas mapel sejarah, mereka mesti mengerjakannya. Berawal dari hal tersebut, penulis mencoba untuk membuat ujian sejarah yang beda dari biasanya. Ujian sejarah yang beda dalam pelaksanaannya. Oya, kebetulan penulis sering berdiskusi dan berbagi dengan salah seorang guru sejarah di SMA Negeri 22 Surabaya. Pak Aries Prasetya namanya. Berawal dari pertemanan lewat media Facebook, kami banyak bertukar pikiran seputar pembelajaran sejarah. Ternyata ada hal-hal baru yang bisa penulis ambil dari beliau. Salah satunya adalah pengalaman mengadakan ujian sejarah. Pak Aries pernah mengadakan ujian sejarah dengan model bermain yang diberi nama “ular-ularan”.

Jadi konsepnya adalah siswa mengerjakan soal secara bergantian mulai dari nomor absen pertama hingga terakhir. Yang sangat beda adalah siswa diberi kepercayaan penuh untuk mengoreksi sendiri jawabannya menggunakan kunci jawaban yang telah diberikan. Selanjutnya mereka dipersilahkan menilai sendiri. Gambar Ulangan dengan “ular-ularan”

Bagaimana Pelaksanaannya?

Untuk melaksanakan ulangan sejarah “ular-ularan”, langkah-langkah inilah yang harus dilakukan:

1. Siswa mengerjakan soal secara urut menurut urutan absen.

2. Soal disusun dalam susunan tertentu (jumlah soal 20).

3. Waktu mengerjakan soal dibatasi 15 – 20 detik.

4. Perpindahan satu soal ke soal yang berikutnya ditentukan dengan bunyi peluit.

5. Setelah selesai mengerjakan, siswa diminta mencocokkan jawaban yang telah dibuat di meja KUNCI JAWABAN sekaligus MENILAI sendiri menggunakan ballpoint yang disediakan oleh guru.

6. Mengumpulkan nilai kepada guru.

Dalam pelaksanaannya, penulis menggunakan lapangan badminton sebagai medianya. Siswa mengerjakan soal yang telah ditempelkan di lantai. Mereka mengerjakan sambil duduk atau jongkok. Mungkin sedikit ribet ya. Penulis mencoba memberi penanaman nilai KESABARAN dan TIDAK MENYERAH saat kita ingin meraih sesuatu.

DSCF5116

Siswa melaksanakan ulangan sejarah dengan “ular-ularan”

Konsep ulangan sejarah dengan “ular-ularan” ini adalah menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa. Apa saja nilai-nilai yang dimaksud?

1. Kejujuran Ketika siswa diberi kebebasan untuk mengoreksi sendiri jawabannya dengan kunci yang telah disiapakan guru, ada kemungkinan mereka akan mengganti jawaban. Namun, penulis menekankan kepada siswa bahwa mereka harus menjunjung nilai-nilai kejujuran.  Siswa mengoreksi soal dengan kunci jawaban yang telah disiapkan.

DSCF5085

2. Budaya Antri Ketika siswa mengerjakan soal, mereka dibatasi waktu yang hanya 15-20 detik untuk satu soal. Ketika guru meniup peluit sebagai tanda waktu mengerjakan soal telah habis, mereka mesti bergeser ke soal berikutnya. Mungkin ada siswa yang tidak sampai 15 detik bisa mengerjakan soal, namun mereka harus tetap menunggu bunyi peluit. Siswa mengerjakan soal secara bergantian.

DSCF5133

Siswa secara bergiliran mengoreksi jawaban

Budaya antri juga berlaku ketika siswa mengoreksi jawaban dengan kunci jawaban dari guru. Mereka mesti menunggu giliran untuk mengoreksi jawabannya. Inilah sepenggal cerita pelaksanaan ulangan sejarah “ular-ularan” yang penulis lakukan. Sebagai bagian dari inovasi, model ini masih banyak kekurangan. Namun bagi penulis kita tidak perlu tampil seksi kalau untuk mencari sensasi. Mari berinovasi dan berkreasi, insha Allah prestasi akan menghampiri. Awali semua dengan hati Semoga Allah SWT meridhoi.

1,129 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!